IDENTIFIKASI SENYAWA AKTIF EKSTRAK ETANOL DAUN SELIGI DAN PENGARUHNYA TERHADAP GAMBARAN SEROLOGI DAN HEMATOLOGI AYAM BROILER YANG DIINFEKSI OLEH VIRUS NEWCASTLE#


Jurnal Obat Bahan Alam || Journal Of Natural Medicine
Volume 6 || Nomor 2 || November 2007 || ISSN: 1412-5986
Penerbit : Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
Penulis 1: Wardah 
Penulis 2: Tatang Sopandi
Penulis 3: Wurlina

TEKS VERSI CETAK/ASLI

ABSTRAK

Penelitian ini mengenai identifikaasi senyawa aktif ekstrak etanol dari daun seligi dan pengaruhnya terhadap gambaran serologi dan hematologi ayam broiler yang diinfeksi oleh virus Newcastle (ND).

Penelitian ini terdiri dari dua  tahap. Pada tahap pertama adalah identifikasi senyawa aktif ekstraksi etanol daun seligi. Pada tahap kedua, untuk mengetahui pengaruh ekstrak etanol daun seligi terhadap gambaran serologi dan hematologi, sebanyak 150 ekor ayam broiler yang berumur satu hari dibagi menjadi 5 kelompok masing-masing 30 ekor pada masing-masing kelompok diberi ekstrak etanol dengan dosis 0, 80, 160, 240, dan 320 mg/kgBB per hari selama  42 hari secara oral. Pada umur 5 hari, semua ayam diinfeksi virus ND (Mukteshwar Strain vaccine) dengan dosis 0,5 cc per ekor. Analisis serologi dan hematologi dilakukan setiap minggu mulai umur satu hari sampai 42 hari. Berdasarkan hasil identifikasi senyawa aktif menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun seligi mengandung alkaloid, flavonoid, tannin, kuinon, dan steroid triterpinoid. Namun demikian hasil analisis serologis dan hematologi menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun seligi tidak berpengaruh signifikan terhadap inhibisi haemagglutinasi titer dan kadar monosit tetapi signifikan meningkatkan limfosit darah ayam broiler. Selanjutnya ekstrak etanol daun seligi tidak menyebabkan perubahan laju sedimentasi eritrosit dan total leukosit. Dengan demikian  ekstrak etanol daun seligi gagal memprovokasi terbentuknya antibodi ayam broiler dalam melawan virus ND dan hanya dapat meningkatkan kandungan limfosit. Ekstrak daun seligi dengan takaran 160-240 mg/kgBB per hari per ekor tidak menyebabkan peningkatan jumlah leukosit dan perubahan laju sedimen eritrosit.

Kata kunci : Daun seligi, Virus ND, Ayam Broiler

 

ABSTRACT : This research is about bioactive substances from ethanol extract of seligi leaf and its effect on the serology and hematology broilers chickens infected by Newcastle disease viruses. This research is done in two steps. The first step is to identify ethanol extract from seligi leaf. The second step is to divide 150 one-day old chickens into 5 groups consists of 30 chickens each. Each group is given ethanol extract of  0, 80, 160, 240, 320mg/kg dosage per day for 42 days, all chicks are infected with ND active viruses (Mukteshwar Strain vaccine) when they are 5 day old. Serological and Hematological analyses are done weekly until all experimental chickens reach 42-day old. The result of identification shows ethanol extract of seligi leaf contains alkaloid, flavonoid, tannin, cuinon, and steroid triterpinoid. However, the results of serological and hematological analyses shows ethanol extract of seligi leaf does not affect significantly to the inhibition of haemagglutinasi titre, monocytes, erythrocyte sedimentation rate, and leucocyte total though it increases lymphocytes level of birds significantly. Thus, it can be concluded that ethanol extract of seligi leaf can provoke chicken’s antibody against Newcastle disease viruses and increase lymphocytes level.

key words : Seligi leaf, ND virus, broiler chicken

 

PENDAHULUAN

Newcastle disease (ND) merupakan salah satu penyakit infeksi utama yang menyerang ayam broiler dengan tingkat mortalitas dan morbilitas yang tinggi (50-100%) (Hashmi, 1999 dan Pedersen et al., 2004). Program vaksinasi telah dilaksanakan untuk menanggulangi penyakit ND dengan berbagai jenis atau macam vaksin serta jadwal waktu vaksin. Namun demikian kematian ayam  akibat virus ND masih terjadi, Menteri Pertanian Republik Indonesia melaporkan bahwa pada bulan Nopember 2003 sebanyak 4,7 juta ayam mati disebabkan oleh 40% virus AI dan 60% oleh virus ND (CBC, 2004). Terdapat beberapa sebab kegagalan program vaksin dalam melindungi ayam dari virus ND. Pertama, vaksinasi gagal untuk memprovokasi terbentuknya antibodi sampai tingkat perlindungan akibat rendahnya antigen, penanganan vaksin yang salah, kesalahan prosedur vaksinasi. Kedua, virus ND menyerang ayam sebelum respon imun terbentuk. Ketiga, adanya penurunan titer antibodi yang cepat, sehingga level imunitas di bawah   tingkat perlindungan terhadap serangan virus ND. Selain itu, dikalangan peneliti pada saat ini terjadi kekhawatiran terhadap peningkatan resistensi dari virus ND. Jeffrey (2003) melaporkan bahwa pada bulan Oktober 2002 telah didiagnosis penyakit virus ND exotic pada peternakan ayam di Souther California dengan mortalitas lebih dari 90%. Pedersen et al., (2004) melaporkan bahwa di beberapa negara bagian di Amerika Serikat telah ditemukan isolat virulensi dari virus ND.

Salah satu strategi alternatif untuk menanggulangi penyakit ND adalah penggunaan komponen bahan alam sebagai imunomodulator yang pada saat ini terus dikembangkan. Perubahan respon imun individu dapat disebabkan imunostimulator dan imunosupresif (Marin, 1996). Imunostimulasi pada unggas dapat menuntun peningkatan produksi antibodi serta peningkatan fagositosis oleh makrofag (Hashmi, 1999).  Gambaran serologi hematologi seringkali digunakan untuk mengetahui respon imun suatu individu.

Tanaman seligi telah dikenal sebagai tanaman obat untuk berbagai macam penyakit. Namun demikian, laporan hasil penelitian mengenai khasiat tanaman seligi sebagai tanaman berkhasiat obat terutama sebagai antivirus masih sangat terbatas. Selanjutnya berdasarkan kebutuhan dalam penyediaan bahan baku obat penanggulangan penyakit ND yang efektif dan teruji secara ilmiah maka seligi menjadi menarik untuk diteliti.

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa aktif ekstrak etanol dari daun seligi dan pengaruhnya terhadap gambaran serologi dan hematologi ayam broiler yang diinfeksi oleh virus Newcastle. Penelitian ini terdiri dari dua tahap : (1) Untuk mengidentifikasi senyawa aktif ekstrak etanol daun seligi, (2) Untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol daun seligi terhadap gambaran serologi dan hematologi ayam broiler yang diinfeksi oleh virus ND. Keberhasilan penelitian ini merupakan landasan penelitian lebih lanjut dalam rangka  mengungkap khasiat daun seligi untuk digunakan sebagai bahan baku obat penyakit ND serta penanggulangan secara efektif.

 

METODE PENELITIAN

Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah rotary evaporator, sokhlet, kjeldahl, spektrofotometer, freezer, shaker, sentrifuge, mikroplate photometer, perkolator, dan lain-lain.

 

Bahan

Daun seligi, etanol 95%, EDTA, Aquabidest, dan bahan-bahan kimia dari Merck, pakan ternak dan DOC ayam broiler, vaksin ND aktif, normal saline.

 

Tahapan Penelitian

Penelitian telah dilaksanakan secara eksperimental di Kandang Percobaan dan Laboratorium Kimia-Biokimia Fakultas Industri Pangan, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya mulai bulan Maret sampai dengan bulan September 2007.

 

Ekstraksi

         Metode ekstraksi daun seligi sesuai dengan yang digambarkan oleh Harbone (1996). Daun seligi, dibersihkan dari kotoran, dikeringkan dan digiling. Daun yang kering dan berbentuk serbuk dimeserasi dengan etanol 95% (1:4) selama 4 hari, selanjutnya disaring dengan kertas Whatman No. 1 dan dievaporasi dalam rotary evaporator sampai memperoleh ekstrak kental yang selanjutnya dikeringkan dalam oven pada suhu 60o C sampai diperoleh serbuk kering.

 

  1. Pemeriksaan alkaloid

Sebanyak 2 g serbuk daun seligi ditambah dengan 5 ml amonia 50%, digerus dalam mortir, ditambahkan 20 ml kloroform dan digerus kembali kuat-kuat dan disaring.  Filtrat ditampung, diambil beberapa tetes filtrat dan diteteskan pada kertas saring yang sebelumnya telah ditetesi pereaksi Dragendorff. Penampakan warna pada kertas saring diamati dan jika terbentuk warna merah atau jingga pada kertas menunjukkan adanya alkaloid. Sisa filtrat diekstraksi dengan larutan asam klorida 10%,  Hasil ekstraksi diambil 10 ml  dan dimasukan ke dalam 2 tabung reaksi masing-masing 5 ml. Selanjutnya ditambahkan pereaksi Dragendroff dan pereaksi Meyer. Terbentuknya endapan merah bata dengan peresksi Dragendorf dan endapan putih dengan pereaksi Meyer menunjukkan adanya senyawa golongan alkaloid.

  1. Pemeriksaan flavonoid

Sebanyak 1 g serbuk daun seligi ditambah 100 ml air panas dididihkan selama 5 menit dan disaring dalam keadaan panas. Filtrat ditampung dan selanjutnya akan digunakan sebagai larutan percobaan.  Kedalam tabung reaksi yang berisi 5 ml filtrat ditambahkan serbuk magnesium, 1 ml asam klorida pekat dan 2 ml amil alkohol selanjutnya dikocok kuat-kuat dan dibiarkan memisah. Terbentuknya warna merah jingga atau jingga pada lapisan amil alkohol menunjukkan adanya flavonoid.

  1. Pemeriksaan saponin

Sebanyak 10 ml dari masing-masing filtrat pada larutan percobaan flavonoid dimasukan ke dalam tabung reaksi dan dikocok secara vertikal kuat-kuat selama 10 detik. Terbentuknya busa setinggi 1 sampai 10 cm yang stabil kurang dari 10 menit dan tidak hilang dengan penambahan 1 tetes HCl 2N menunjukkan adanya saponin.

  1. Pemeriksaan tanin

Sebanyak 10 gr serbuk daun seligi ditambah 100 ml air didihkan selama 15 menit,  didinginkan dan disaring. Filtrat dibagi tiga dan dimasukan ke dalam tabung reaksi. Ke dalam tabung reaksi  pertama ditambahkan larutan besi (III) klorida 1%. Terbentuknya warna biru tua, hijau violet atau hitam menunjukkan adanya tanin.  Ke dalam filtrat tabung kedua ditambahkan gelatin, jika terbentuk endapan menunjukkan adanya tanin. Pada filtrat tabung ketiga ditambahkan 15 ml pereaksi Steansny (campuran formaldehid 30% : HCl pekat = 2:1) dan dipanaskan dalam penangas air. Terbentuknya endapan merah muda menunjukkan adanya tanin katekuat. Selanjutnya endapan disaring, filtrat dijenuhkan dengan natrium asetat dan ditambahkan beberapa tetes besi (III) klorida 1%, terbentuknya warna biru tinta menunjukkan adanya tanin galat.

  1. Pemeriksaan kuinon

Sebanyak 5 ml larutan percobaan pada pemeriksaan flavonoid dimasukan ke dalam tabung reaksi. Ditambahkan beberapa tetes natrium hidroksida 1 N. Terbentuknya warna merah menunjukkan adanya kuinon.

  1. Pemeriksaan steroid triterpinoid

Sebanyak 1 g serbuk daun seligi dimeserasi dengan 20 ml eter selama 2 jam kemudian disaring. Sebanyak 5 ml filtrat diuapkan dalam cawan penguap hingga kering, residu ditambah 2 tetes asam asetat anhidrat dan 1 tetes asam sulfat pekat. Terbentuknya warna merah yang berubah menjadi hijau kemudian menjadi ungu dan akhirnya biru menunjukkan golongan steroid  triterpenoid.

  1. Pemeriksaan iridoid

Untuk mengetahui iridoid pada ekstrak dan fraksi dilakukan uji warna Trim-Hill  sesuai petunjuk Harborne (1996). Sebanyak 1 g simplesia kering dimasukan ke dalam tabung reaksi dengan 5 ml HCl 1%. Setelah 6 jam, maserat dienaptuangkan  ke dalam tabung lain yang berisi 1 ml pereaksi Trim-Hill yang terdiri dari 10 ml asam asetat, 1 ml larutan CuSO4.H2O 0,2% dalam air, dan 0,5 ml HCl pekat. Tabung yang berisi campuran dipanaskan 1 menit pada nyala api dan diamati perubahan warnanya.

 

Hewan uji

Sebanyak 150 ekor ayam broiler yang berumur satu hari dibagi menjadi 5 kelompok masing-masing 30 ekor, pada masing-masing kelompok diberi ekstrak etanol daun seligi dengan dosis 0, 80, 160, 240, dan 320 mg/kgBB per hari selama  42 hari secara oral. Pada umur 5 hari, semua ayam diinokulasi dengan virus ND aktif (Mukteshwar Strain vaccine) dengan dosis 0,5 cc per ekor. Setelah umur 7 hari ayam dipelihara dalam kandang baterai, masing-masing 6 ekor per sangkar (cage).  Pemberian pakan dan air secara ad libitum, dengan ransum komersial CP 511 (Charoen Phakphan). Analisis serologis dan hematologis dilakukan setiap minggu mulai dari umur satu hari sampai 42 hari.

 

Pengambilan darah

       Pengambilan darah pada 5 ekor dari setiap kelompok perlakuan ayam dilakukan dengan cara disembelih. Sampel darah dari setiap ayam dikumpulkan dalam dua botol. Salah satu botol diisi dengan EDTA (2,5 mg/5 ml darah) yang akan digunakan untuk uji hematologi yaitu ESR, TLC dan DLC. Sampel darah tanpa antikoagulan disimpan selama 1-2 jam dan selanjutnya disentrufuge pada 2500 rpm selama 10 menit. Bagian sera dipisahkan dan dimasukkan dalam vial plastic steril untuk selanjutnya disimpan pada suhu 20oC sampai akan digunakan.

 

Analisis Serologi

Penentuan inhibisi haemagglutinasi titre

      Uji inhibisi haemagglutinasi dilakukan sesuai dengan yang dijelaskan Hashmi (1999), sebanyak 8 ml darah ayam sehat tanpa antikoagulan disentrifuge pada 2000 rpm selama 10 menit. Supernatan diambil dengan pipet steril dan dimasukkan ke dalam tabung yang berisi 5 ml normal saline. Tabung kemudian disentrifuge pada 2000 rpm selama 10 menit, pekerjaan tersebut diulang sebanyak tiga kali sehingga menjadi suspensi RBC. Pada vial vaksin virus ND dengan dosis 100 tambahkan 1 ml normal saline. Selanjutnya sebanyak 50 µl normal saline dipipet ke dalam 1-12 well plate dan tambahkan 50 µl antigen pada setiap well dan dihomogenkan. Setelah homogen, tambahkan 50 µl suspensi RBC 1% dan dicampur. Well plate diinkubasi pada suhu ruang dan dilakukan pengamatan setiap 10-15 menit. Dilusi virus yang tinggi akan menyebabkan haemagglutinasi

Penentuan inhibisi hemagglutinasi titre sesuai dengan yang dijelaskan Alan et al. (1978) sebelum dilakukan pengujian, sample serum dithawing pada water bath pada suhu 56oC selama 30 menit untuk menghancurkan agglutinin nonspesifik. Dengan menggunakan multichanell dispenser, 50 ml normal saline didispensi pada 1-12 plate mikrotitre dan tambahkan 50 µl sample serum pada setiap plate dan dilakukan pengenceran dua kali. Selanjutnya 50 ml antigen (vaksin) ditambahkan pada well plate kecuali 1 plate dan tambahkan 50 µl suspensi RBC. Plate dinkubasi pada suhu ruang selama 15-30 menit sampai pada bagian bawah terbentuk formasi.

 

Analisis Hematologi

Parameter hematologi yang dianalisis adalah laju sedimentasi eritrosit (ESR), hitungan total leukosit (TLC) dan hitungan deferential leukosit (DLC). Prosedur analisis untuk ESR adalah sebanyak 0,4 ml larutan natrium sitrat 3,8% ditambahkan ke dalam 1,6 ml darah segar dan dicampur sempurna. Campuran dimasukan ke dalam tabung dan tabung westergen dibiarkan dalam keadaan berdiri selama 1 jam selanjutnya dibaca.

Prosedur analisis hitungan leukosit total adalah 0,02 ml darah diambil dengan pipet dan dimasukan ke dalam tabung yang berisi 0,38% aktif 2% dan dicampur, beberapa kristal KMNO4 ditambahkan dan dicampur lagi. Gelas cover ditempatkan di atas kamar hitung newbar, selanjutnya setelah pengeluaran cairan dari pipet teteskan diatas penutup kira-kara 3 menit jumlah leukosit dihitung dibawah mikroskop.

Prosedur analisis differential leukosit dilakukan dengan cara meneteskan darah di atas preparat ulas  dan dikeringkan. Setelah kering, fiksasi dengan alcohol sampai kering. Beberapa tetes pewarna Giemsa diteteskan diatas preparat dan biarkan selama 10 menit setelah dicuci jenis leukosit diidentifikasi dan dihitung.

 

Analisis Statistika

Data yang diperoleh dianalisis statistika dengan analisis varian satu arah yang dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil menurut petunjuk Steel dan Torie (1999).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Identifikasi senyawa aktif ekstrak etanol Daun Seligi

Identifikasi keberadaan senyawa aktif ekstrak etanol daun seligi dilakukan untuk mengetahui adanya komponen alkaloid, flavonoid, saponin, tannin, kuinon, steroid dan iridoid. Adapun hasil pemeriksaan senyawa aktif daun seligi tertera pada tabel 1.

 

Tabel 1. Hasil identifikasi senyawa aktif ekstrak etanol Daun Seligi

No Senyawa aktif Hasil Keterangan
1 Alkaloid + Terbentuk warna merah/jingga
2 Flavonoid + Terbentuk warna jingga pada lapisan amil
3 Saponin Tidak timbul busa
4 Tanin katekuat + Terbentuk endapan merah muda
Tanin galat + Terbentuk warna biru
5 Kuinon + Terbentuk warna merah
6 Steroid tritepernoid + Terbentuk warna biru tua
7 Iridoid Tidak terbentuk warna biru

Berdasarkan hasil identifikasi terhadap senyawa aktif dari ekstrak etanol daun seligi yang telah dilakukan, maka didapatkan adanya komponen alkaloid, flavonoid, tannin, kuinon, dan steroid triterpinoid. Namun demikian tidak didapatkan adanya saponin dan iridoid di dalam daun seligi. Hasil ini sesuai dengan laporan Sopandi (2006) yang menyatakan bahwa tanaman seligi mengandung flavonoid, alkaloid dan steroid.

 

Hasil Analisis Serologi

Penentuan Inhibisi Haemagglutinasi Titre

Hasil penelitian pengaruh perlakuan ekstrak etanol daun seligi terhadap inhibisi haemagglutinasi titer disajikan pada Tabel 2. Pada tabel tersebut tampak bahwa pemberian ekstrak etanol daun seligi dengan dosis 80-320 mg/kg BB per hari tidak signifikan (P>0,05)  meningkatkan inhibisi haemagglutinasi titer pada ayam broiler yang diinfeksi virus ND.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak seperti tanaman dari genus Phyllanthus yang lain seperti Phyllanthus amarus (Blumberg et al, 1989; Thyagaran et al.,  1996; Notka et al., 2003) dan  Phyllanthus ninuri (Ji XH, 1993; Saputra  et al., 2000; Malhortra dan Singh,(2006) yang menunjukkan aktivitas sebagai antivirus, tanaman seligi sampai dengan pemberian dosis 320 mg/kg BB per hari pada penelitian ini tidak menunjukkan aktivitas sebagai antivirus ND. Hal ini diduga karena kandungan metabolit sekunder sangat bervariasi pada berbagai tanaman, tempat tumbuh, bagian tanaman dan metode ekstraksi.

 

Tabel 2.   Pengaruh Perlakuan Ektrak Etanol Daun Seligi Terhadap Inhibisi Haemaglutinasi  Titer

Perlakuan Rata-rata Haemaglutinasi Titre (log2) per minggu
1 2 3 4 5 6
Kontrol 2,0 2,2 3,0 3,0 3,0 3,0
80 mg/kg bb per ekor per hari 2,2 2,4 3,4 3,4 3,2 3,2
160 mg/kg bb per ekor per hari 2,0 2,4 3,4 3,6 3,8 3,6
240 mg/kg bb per ekor per hari 2,6 3,0 3,8 4,0 4,2 3,8
320 mg/kg bb per ekor per hari 3,0 3,0 4,2 4,2 4,2 4,8
Signifikansi Ns ns ns ns ns ns

Keterangan : angka yang tertera kearah kolom non signifikan pada taraf P>0,05

 

Hasil Analisis Hematologi

  1. Laju Sedimen Eritrosit (ESR)

Hasil penelitian pengaruh  perlakuan pemberian ekstrak etanol daun seligi terhadap laju sedimen eritrosit darah ayam broiler yang diinfeksi virus ND disajikan pada tabel 3. Pada tabel tersebut tampak bahwa pemberian ekstrak etanol daun seligi dengan dosis 80-320 mg/kg BB per hari tidak menyebabkan perubahan laju sedimen eritrosit yang siginifikan (P>0,05) pada ayam broiler. Peningkatan laju sediment eritrosit merupakan  kondisi umum dari adanya infeksi, inflammasi, kerusakan jaringan atau destruksi (Hashmi, 1999). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun seligi merupakan bahan pakan yang aman untuk ternak unggas khsususnya ayam broiler.

 

Tabel 3.  Pengaruh Perlakuan Ektrak Etanol Daun Seligi Terhadap Laju Sedimen Eritrosit (ESR)

Perlakuan Rata-rata ESR  (mm/jam)
1 2 3 4 5 6
Kontrol 1,62 1,42 1,5 1,58 1,40 1,38
80 mg/kg bb/ekor/hari 1,28 1,38 1,46 1,38 1,46 1,44
160 mg/kg bb/ekor/hari 1,32 1,60 1,56 1,50 1,48 1,40
240 mg/kg bb/ekor/hari 1,40 1,48 1,48 1,48 1,38 1,26
320 mg/kg bb/ekor/hari 1,20 1,44 1,54 1,54 1,42 1,40
Signifikansi ns ns ns ns ns ns

Keterangan : angka yang tertera kearah kolom non signifikan pada taraf P>0,05

 

  1. Total Leukosit (TLC)

Hasil penelitian pengaruh  perlakuan ekstrak etanol daun seligi terhadap total leukosit (TLC) darah ayam broiler yang diberi ekstrak etanol  daun seligi disajikan pada tabel 4. Pada tabel tersebut tampak bahwa pemberian ekstrak etanol daun seligi dengan dosis 80mg/kg BB, 160mg/kg BB, 240mg/kg BB dan 320mg/kg BB per hari tidak menyebabkan perubahan total leukosit (TLC) yang signifikan (P>0,05) pada ayam broiler. Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Sopandi (2006) yang melaporkan bahwa pemberian ekstrak etanol daun seligi menyebabkan peningkatan jumlah leukosit pada kelinci yang diinfeksi E.coli.  Perbedaan tersebut diduga karena perbedaan dalam hewan uji dan mikroorgansime penginfeksi. Namun demikian, tidak adanya peningkatan jumlah leukosit menunjukkan bahwa organisme tidak mengalami infeksi.

 

Tabel 4.  Pengaruh Perlakuan Ektrak Etanol Daun Seligi Terhadap Total Leukosit (TLC)

Perlakuan Rata-rata TLC  (x 1000/dl)
1 2 3 4 5 6
Kontrol 6,40    7,24 9,52 8,20 7,94 7,92
80 mg/kg bb/ekor/hari 6,52  6,98 8,86 8,32 7,70 8,34
160 mg/kg bb/ekor/hari 6,58 7,00 8,54 8,22 7,66 8,18
240 mg/kg bb/ekor/hari 6,64 7,08 8,06 8,34 8,42 8,04
320 mg/kg bb/ekor/hari 7,60 7,14 9,12 9,10 8,12 8,08
Signifikasi ns ns ns ns ns ns

Keterangan : angka yang tertera kearah kolom non signifikan pada taraf P>0,05

 

  1. Deferensial Leukosit (DLC)
  2. Limfosit

Hasil penelitian pengaruh  perlakuan ekstrak etanol daun seligi terhadap limfosit darah ayam broiler yang diberi ekstrak etanol  daun seligi disajikan pada Tabel 5. Pada tabel tersebut tampak bahwa pemberian ekstrak etanol daun seligi dengan dosis 160mg/kg BB, 240mg/kg BB dan 320mg/kg BB per hari pada setiap pengamatan menunjukkan peningkatkan limfosit yang signifikan (P<0,05) pada ayam broiler. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Pentawati (2004) dan Sopandi (2006) yang melaporkan bahwa pemberian ekstrak etanol daun seligi dapat meningkatkan limfosit kelinci.

Limfosit berhubungan dengan mekanisme pertahanan imunitas, pada peningkatan jumlah limfosit mengindikasikan mruapakan reaksi pertahanan antibody yang excessive (Doxey and Nathan, 1989). Daun seligi dapat menstimulasi sumsum tulang, limfa dan kelenjar limfa untuk memproduksi limfosit (Sopandi, 2006).

Tabel 5. Pengaruh Perlakuan Ektrak Etanol Daun Seligi Terhadap Limfosit

Perlakuan Rata-rata  Limfosit  (%)
1 2 3 4 5 6
Kontrol 78,4a 77,4a 76,4a 82,4a 73,2a 80,8a
80 mg/kg bb/ekor/hari 80,0a 84,6ab 86,6b 84,6a 80,8ab 84,0ab
160 mg/kg bb/ekor/hari 91,8b 89,4b 89,0b 67,8b 83,8b 91,4c
240 mg/kg bb/ekor/hari 93,8b 91,0b 87,0b 70,8b 87,4bc 89,0bc
320 mg/kg bb/ekor/hari 91,4b 93,2b 91,6b 92,0c 94,4c 97,0c

Keterangan : angka yang tertera kearah kolom non signifikan pada taraf P>0,05

 

  1. Monosit

Hasil penelitian pengaruh  perlakuan ekstrak etanol daun seligi terhadap monosit darah ayam broiler yang diberi ekstrak etanol  daun seligi disajikan pada tabel 6. Pada tabel tersebut  tampak bahwa pemberian ekstrak etanol daun seligi dengan dosis 80mg/kg BB, 160mg/kg BB, 240mg/kg BB dan 320mg/kg BB per hari tidak menunjukkan adanya perubahan monosit yang signifikan kecuali pada pengamatan minggu kedua yang menunjukkan peningkatan monosit  pada dosis 80 mg/kg BB per hari namun pada pengamatan minggu ke-tiga terjadi  penurunan monosit  yang signifikan pada dosis 80 dan 320 mg/kg BB.

 

Tabel 6. Pengaruh Perlakuan Ektrak Etanol Daun Seligi Terhadap Monosit

Perlakuan Rata-rata Monosit (%) setiap minggu
1 2 3 4 5 6
Kontrol 2,0 1,4a 3,2a 1,6 1,6 1,6
80 mg/kg bb/ekor/hari 2,6 2,6b 1,6b 1,6 1,6 1,6
160 mg/kg bb/ekor/hari 2,2 1,4a 2,0a 2,0 2,0 1,6
240 mg/kg bb/ekor/hari 2,0 1,4a 2,0a 1,6 1,6 2,2
320 mg/kg bb/ekor/hari 2,6 2,0ab 1,4b 2,0 2,0 1,8

Keterangan : angka yang tertera kearah kolom non signifikan pada taraf P>0,05

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil identifikasi senyawa aktif, ekstrak etanol daun seligi mengandung berbagai macam komponen seperti alkaloid, flavonoid, tannin (katekuat dan galat), kuinon, dan steroid trirepernoid. Sedangkan pengaruh ekstrak etanol daun seligi terhadap gambaran serologi dan hematologi ayam broiler yang diinfeksi oleh virus ND tidak signifikan terhadap inhibisi haemagglutinasi titer dan kadar monosit tetapi signifikan meningkatkan limfosit darah ayam broiler. Selanjutnya ekstrak etanol daun seligi tidak menyebabkan perubahan laju sedimentasi eritrosit dan total leukosit. Dengan demikian  ekstrak etanol daun seligi gagal memprovokasi terbentuknya antibodi ayam broiler dalam melawan virus ND dan hanya dapat meningkatkan kandungan limfosit. Ekstrak daun seligi dengan takaran 160-240 mg/kgBB per hari per ekor tidak menyebabkan peningkatan jumlah leukosit dan perubahan laju sedimen eritrosit.

 

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai sistem imun spesifik yang muncul pada ayam broiler yang diinfeksi virus ND selain pemeriksaan serologi dan hematologi yang dilakukan dalam penelitian ini.

 

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Proyek Penelitian Fundamental DP2M Ditjen Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional yang telah membiayai penelitian ini melalui Surat Perjanjian Hibah Penelitian NO.196/SP2H/PP/DP2M/III/2007 TANGGAL 29 MARET 2007.

 

DAFTAR PUSTAKA

Alan, W.H., Lancaster, J.E, Toth, B. 1978. Newcastle Desease Vaccines. Food and Agrivulture Organization of the United Nations. Rome, Italy.

Blumberg, BS., Millman I, Venkateswaran PS, and Thyagarajan SP. 1989. Hepatitis B Virus and hepatocelluler carcinoma-treatment of HBV carriers eith Phyllanthus amarus. Cancer Detect Prev. 14(2):195-201.

Harbone. JB. 1996. Metode Fitolimia: penuntun cara moderen menganalisis tumbuhan. Cetakan D. Penerjemah K. Padmawinata dan I. Soediro. ITB-Bandung.

Hashmi, K. 1999. Effect of Bio-immune on ummunoty against Newcastle disease and biochemical parameters of broiler chickens. Nuclear Institute for Agriculture & Biologi (NIAB). Falsalabad.

Jayaram, S, dan Thyagarajan SP.  1996. Inhibition of Hbs Ag secretion from Alexander cell line by Phyllanthus amarus. Indian Journal Pathol Microbiology. 39(3):211-215.

Jeffrey, D. 2003. Pigeons and Exotic Newcastle diseasehttp://animalscience.ucdavis. edu/Avian/cplbackissues.htm. 7. Ji XH, Qin JZ, Wang WY, Zhu ZY, Liu XT. 1993. Effect of extracts from Phyllanthus urinaria on HBsAg production in OLC/PRF/5 cell line (Human hepatoma cell line). Chung-Kao-Chung-Yao-Tsa-chih. 18(8):496-498.

Liu, KC, Lin MT, Lee SS, Chiou JF, Ren S, and Lien EJ. 1999. Antiviral tannins Two Phyllanthus species. Planta med. 65(1):43-46.

Malhortra, S and AP.  Singh. 2006. Hepatoprotective use of Phyllanthus ninuri. Journal Research Ayurveda. 4: 124-127.

Marin, MCP Villegas, J. Bennet, and Seal. 1996.  Virus characterization and                Sequence of fusion protein gene cleavage site of recent Newcastle disease virus field isolates. Avian dis. 40:382-390.

Notka, F, GR. Meier, and R Wagner. 2003. Inhibition of wild-type human                Immunodeficiency virus and reverse transcriptase inhibitor-resistant variants By Phyllanthus amarus. Antiviral res. 58(2):175-186.

Ogata, T, Higuchi H, Mochida S, Matsumoto H, Kato A, Endo T, Kaji A, and Kaji                H. 1992. HIV-1 reverse transcriptase inhibitor from Phyllanthus ninuri. AIDS Res Hum Retroviruses. 8(11):1937-1944.

Ott, M, Thyagarajan SP and Gupta S. 1997. Phyllanthus amarus suppreses hepatitis-B virus by interrupting interactions between HBV enhancer-1 and cellular transcription factors. Eur Journal Clin Invest. 27(11):908-915.

Pedersen,JC., DA. Senne., PR. Woolcock, H. Kinde, DJ. King., MG. Wise, B.                 Panigrahy, and B.S. Seal. 2004. Phylogenic relationship among virulent Newcastle disease virus isolates from the 2002-2003 outbreak in California And other recent outbreak in North America. Journal Clin Microbiol. 42(5): 2329-2334.

Saputra, K., Soeprapto M., Soedoko R. 2000.   Terapi biologi untuk kanker. Airlangga Univ. Pres. Surabaya.

Sopandi, T . 2005. Pengaruh ektraks etanol dari Daun Seligi Terhadap gambaran darah Kelinci. LPPM. UPB. Surabaya.

Steel RGD dan J.H. Torrie. 1996. Prinsip dan Prosedur Statistika, suatu pendekatan biometric, PT.Gramedia Pustaka Utama.Jakarta.

Suprapto Maat. 1997. Phyllanthus ninuri L sebagai imunostimulator pada mencit. Disertasi. Program Pascasarjana Universitas Airlangga.

Suresh K, dan Vasudevan DM.1994. Augmentation of murine natural killer cells And Antibody-dependent cellular cytotoxicities by Phyllanthus emblica, a New immunomodulator. Journal Ethnophamacol. 44(1) : 55-60.

Suthienkul O, Miyasaki O, Chulisiri M, Kositanont U, dan Oishi K. 1993. Retriviral reverse transcriptase inhibitory activity in Thai herbs and spices:screening with Maloney murine leukemia viral enzim. Southeast asian Journal Trop Med Public Health. 24)4):751-755.

Thyagaran, SP., Subramanian PH., Thirinalasundari T, Venkateswaran PS. 1996.                 Effect of Phyllanthus amarus on chronic carriers of hepatitis B virus. Lancet. 28614:764-766.

Zhang, LZ, Guo, YJ., Tu, GZ, Guo WB and Miao, F. 2000. Studies on chemical                 Constituents of Phyllanthus urinaria L. Zhongguo Zhong Yao Za Zhi. 25(10):615-617.

 

ABSTRAK : Telah dilakukan penelitian mengenai identifikasi senyawa aktif ekstrak etanol dari daun seligi dan pengaruhnya terhadap gambaran serologi dan hematologi ayam broiler yang diinfeksi oleh virus Newcastle (ND). Penelitian terdiri dari dua  tahap, tahap pertama identifikasi senyawa aktif ekstraksi etanol daun seligi. Pada tahap kedua, untuk mengetahui pengaruh ekstrak etanol daun seligi terhadap gambaran serologi dan hematologi, sebanyak 150 ekor ayam broiler yang berumur satu hari dibagi menjadi 5 kelompok masing-masing 30 ekor pada masing-masing kelompok diberi ekstrak etanol dengan dosis 0, 80, 160, 240, dan 320 mg/kgBB per hari selama  42 hari secara oral. Pada umur 5 hari, semua ayam diinfeksi virus ND (Mukteshwar Strain vaccine) dengan dosis 0,5 cc per ekor. Analisis serologi dan hematologi dilakukan setiap minggu mulai umur satu hari sampai 42 hari. Berdasarkan hasil identifikasi senyawa aktif menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun seligi mengandung alkaloid, flavonoid, tannin, kuinon, dan steroid triterpinoid. Namun demikian hasil analisis serologis dan hematologi menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun seligi tidak berpengaruh signifikan terhadap inhibisi haemagglutinasi titer dan kadar monosit tetapi signifikan meningkatkan limfosit darah ayam broiler. Selanjutnya ekstrak etanol daun seligi tidak menyebabkan perubahan laju sedimentasi eritrosit dan total leukosit. Dengan demikian  ekstrak etanol daun seligi gagal memprovokasi terbentuknya antibodi ayam broiler dalam melawan virus ND dan hanya dapat meningkatkan kandungan limfosit. Ekstrak daun seligi dengan takaran 160-240 mg/kgBB per hari per ekor tidak menyebabkan peningkatan jumlah leukosit dan perubahan laju sedimen eritrosit.

Kata kunci : Daun seligi, Virus ND, Ayam Broiler.

 

ABSTRACT : The aim of this research to known of identification activity of ethanol extract of seligi leaf and serology and hematology…….…newcastle desease viruses  in  broilers chickens effect. Research consist two steps, first step is extraction seligi leaf with ethanol and second step is orally administration of ethanol extract of seligi to broiler chikens. One hundred and fifty head day old chick assigned to 5 group of treatment in 30 respectively. For each group treated 0, 80, 160, 240, and 320 mg kg-1 bw per days for 7 days respectively and the chicks of all the experimental units were inoculated with live NDV vaccine. At dose 0,5 cc per chick. Antibody, serological and hematological analysis and observation of live body weight, feed consumsition and feed conversion did weekly for 42 days. Extract ethanol of seligi leaf detected secondary metabolits are alkaloid, flavonoid, tannin, cuinon, and steroid triterpinoid. However antibody analysis shown that ethanol extract of seligi leaf non significant effect of inhibition of haemagglutinasi titer and monocytes but significant increased lymphocytes level of birds. Ethanol extract of seligi leaf non significant decrease erythrocyte sedimentation rate and total leukocyte count. Base on this research we have conclusion that ethanol extract of seligi leafs failure to provoke chicken antibody against Newcastle disease viruses just increased lymphocites.

 

Lampiran .  Data-data hasil Pengamatan

 

  1. Data Hasil Pengamatan Inhibisi Haemaglutinasi Titer

 

Perlakuan Inhibisi Haemaglutinasi titer  (log 2)
Minggu1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4 Minggu 5 Minggu 6
0 1 1 2 2 3 3
0 2 2 3 2 2 3
0 1 3 3 3 3 4
0 2 2 3 3 4 2
0 4 3 4 5 3 3
80 2 2 3 4 2 4
80 2 2 2 3 4 3
80 2 2 3 3 5 4
80 3 3 4 2 2 2
80 2 3 5 5 3 3
160 1 2 3 3 4 5
160 2 3 5 3 4 2
160 3 2 3 4 4 3
160 2 2 2 4 5 4
160 2 3 4 4 2 4
240 2 3 3 4 4 2
240 4 4 5 5 3 6
240 2 3 4 4 5 5
240 3 2 4 4 5 3
240 2 3 3 3 4 3
320 3 3 4 4 4 5
320 2 2 4 4 4 7
320 3 3 5 5 5 3
320 4 4 4 4 3 4
320 3 3 4 4 5 5

 

  1. Data Hasil Pengamatan Laju Sedimen Eritrosit (ESR)
Perlakuan

 

Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4 Minggu 5 Minggu 6
Laju Sedimen Eritrosit (mm/jam)
0 1.4 1.6 1.5 2.1 1.7 1.3
0 1.6 1.3 1.6 1.6 1.6 1.4
0 1.3 1.2 1.2 1.8 1.2 1.6
0 2.1 1.4 1.3 1.1 1.3 1.5
0 1.7 1.6 1.9 1.3 1.2 1.1
80 1.2 1.5 2.1 1.2 1.5 1.2
80 1.5 1.8 1 1.6 1.6 1.7
80 1.4 1.2 1.3 1.5 1.3 1.5
80 1.2 1.1 1.4 1.2 1.1 1.6
80 1.1 1.3 1.5 1.4 1.8 1.2
160 1.6 2 1.7 1.1 1.8 1.3
160 1.2 1.2 2.1 1.9 1.6 1.5
160 1.7 1.3 1.3 1.5 1.5 1.6
160 1.1 1.4 1.6 1.6 1.2 1.4
160 1 2.1 1.1 1.4 1.3 1.2
240 1.3 1.1 1.2 1.2 1.1 1.3
240 1.5 1.6 1.6 1.4 1.7 1.2
240 1.4 1.7 1.5 1.3 1.5 1.1
240 1.3 1.8 1.8 1.7 1.4 1.3
240 1.5 1.2 1.3 1.8 1.2 1.4
320 1.1 1.6 1.7 1.1 1.2 1.1
320 1 1.4 1.8 2.1 1.3 2
320 1.3 1.5 1.9 1.5 1.5 1.3
320 1.2 1.4 1.2 1.4 1.3 1.2
320 1.4 1.3 1.1 1.6 1.8 1.4
  1. Data Hasil Pengamatan Total Leukosit Count (TLC)
Perlakuan

 

Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4 Minggu 5 Minggu 6
TLC (x 1000/dl)
0 5 7.2 10.7 8.4 8.7 7.7
0 5.1 7.3 9.3 8.4 7.8 7.8
0 9.9 7.4 10.5 7.2 7.9 8.4
0 6.7 7.2 8.6 8.5 7.8 7.8
0 5.4 7.1 8.5 8.5 7.5 7.9
80 6.7 6.8 9.5 7.5 8.5 8.9
80 6 6.9 7.2 7.7 7.3 8.4
80 6.4 7.2 9.3 8.5 7.7 8.9
80 6.7 7.1 9.2 8.5 7.1 7.3
80 6.8 6.9 9.1 9.4 7.9 8.2
160 6.6 7.1 6.1 8.8 7.4 9
160 6.4 7 9.9 7 8.3 8
160 6.7 6.9 9.4 7.6 7.8 8.3
160 6.3 6.8 8.5 9.8 7.6 7.7
160 6.9 7.2 8.8 7.9 7.2 7.9
240 6.9 6.8 8.6 7.4 8.8 8.3
240 7 7.6 8.3 9 7.6 8.2
240 6.1 6.9 8.4 9.1 9.1 7.5
240 6.4 7.4 7.2 7.6 8.8 8.3
240 6.8 6.7 7.8 8.6 7.8 7.9
320 9.5 6.8 6.6 6.9 7.9 8.4
320 7 7.4 9.5 7.2 7.9 8.1
320 8 7.9 9.8 7.7 8.7 7.6
320 6.6 6.7 9.7 8.9 8.1 8.4
320 6.9 6.9 9.9 7.1 8 7.9

 

  1. Data Hasil Pengamatan Limfosit
Perlakuan

 

Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4 Minggu 5 Minggu 6
Kadar Limfosit (%)
0 5 7.2 10.7 8.4 7.7 7.7
0 5.1 7.3 10.3 8.4 7.8 7.8
0 4.9 7.4 10.5 8.2 7.9 7.4
0 4.7 7.2 10.6 8.5 7.8 7.8
0 5.4 7.1 10.5 8.5 7.5 7.9
80 4.7 7 5 5.5 5.5 8.9
80 4.4 6.9 7.2 5.7 5.3 8.4
80 4.9 7.2 6.3 5.5 5.7 8.9
80 4.7 7.1 6.2 5.5 5.1 9.3
80 4.7 6.9 6.1 5.4 5.9 9.2
160 4.6 7.1 6.1 6.8 7.4 9
160 4.4 7 6.9 7 7 9
160 4.7 6.9 6.4 6.6 7.8 9.3
160 4.3 6.8 6.5 6.8 7.6 8.7
160 4.6 7.2 6.8 6.9 7.2 8.9
240 3.9 6.8 8.6 9.4 11.8 8.3
240 3.9 6.6 6.3 9 11.6 8.2
240 4.1 6.9 7.4 9.1 10.1 8.5
240 4 6.4 7.2 9.6 11.8 8.3
240 3.8 6.7 7.8 8.6 11.8 8.9
320 9.5 6.8 6.6 6.9 7.9 8.4
320 9 6.4 5.1 7.2 7.9 8.1
320 8 6.9 5.8 6.7 7.7 8.6
320 9.6 6.7 7.7 6.9 8.1 8.4
320 8.9 6.9 5.9 7.1 8 8.4

 

  1. Data Hasil Pengamatan Kadar Monosit
Perlakuan

 

Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4 Minggu 5 Minggu 6
Kadar Monosit (%)
0 1 2 3 2 1 1
0 2 1 4 1 2 2
0 2 1 3 1 1 1
0 3 2 4 3 3 3
0 2 1 2 1 1 1
80 1 3 1 2 2 2
80 3 2 3 1 1 1
80 4 3 2 3 3 2
80 2 2 1 1 1 1
80 3 3 1 1 1 2
160 2 1 2 2 3 1
160 2 2 3 1 1 2
160 3 1 2 3 1 1
160 2 1 2 1 4 3
160 2 2 1 1 1 1
240 1 2 2 2 2 2
240 2 1 3 2 2 3
240 2 1 2 1 2 1
240 3 2 2 2 1 2
240 2 1 1 2 1 3
320 4 1 2 1 2 2
320 3 2 1 1 2 1
320 3 2 1 3 3 3
320 2 3 2 1 2 1
320 1 2 1 4 1 2