Perancangan Kontrol Suhu Berbasis Koefisien Muai Panjang Aluminium

WAHANA || Jurnal Ilmiah Sains dan Ilmu Pendidikan
Volume 53 || Nomer 2 || Desember 2009 || ISSN: 0853-4403
Penerbit : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Penulis  : Rony Haendra Rahwanto Fora
PDF VERSI CETAK/ASLI

Abstrak

       Dewasa ini, daerah pemakaian peralatan kontrol suhu memiliki areal sangat luas, terutama di bidang industri, riset maupun skala rumah tangga. Ada berbagai jenis peralatan kontrol suhu dan ada berbagai kriteria yang diperlukan untuk merancang sebuah peralatan kontrol suhu dari yang memiliki harga tinggi sampai rendah.

       Dalam makalah ini, dibuat perancangan relatif terjangkau dari segi harga untuk kalangan mahasiswa dan mudah didapat di wilayah sekitarnya.

       Hasil perancangan peralatan kontrol suhu menghasilkan rentang waktu ON-OFF 1,5 jam, untuk perancangan ON-OFF control action dengan suhu atas 70oC dan suhu bawah 40oC.

Kata kunci : Aksi ON-OFF, rentang waktu.

PENDAHULUAN

       Mahasiswa teknik, khususnya mahasiswa teknik elektro mendapatkan mata kuliah yang membutuhkan penalaran yang tinggi diantaranya kuliah sisitem kontrol, dimana untuk memahami materi kuliah tersebut akan lebih mudah jika diterangkan melalui satu peralatan kontrol yang bisa dipergunakan untuk membantu mahasiswa memahami materi mata kuliah sistem kontrol.

       Peralatan kontrol adalah alat bantu untuk melengkapi materi kuliah sistem kontrol, namun untuk mendapatkan peralatan kontrol ada beberapa kendala yang harus dihadapi.

       Kendala yang pertama kali ditemui untuk memperoleh peralatan sistem kontrol adalah harga yang cukup tinggi. Untuk mengatasi kendala harga yang cukup tinggi maka dirancanglah peralatan kontrol suhu berbasis koefisien muai panjang logam aluminium.

       Kendala yang kedua adalah pemilihan jenis peralatan kontrol, diantaranya bahan sensor.

       Pemilihan bahan aluminium yang dipergunakan sebagai sensor suhu adalah sifat aluminium yang lebih ringan daripada besi namun lebih besar dari pada koefisien muai panjang besi.

       Kendala ketiga yang dihadapi mahasiswa selain harga adalah pemilihan jenis aksi kontrol yang dipakai pada peralatan kontrol berbasis koefisien muai panjang, dimana jenis aksi kontrol proporsional, proporsional integral, proporsional integral derivative yang perancangannya semakin kompleks untuk tipe berbasis koefisien muai panjang ini, sedangkan tipe yang paling sesuai untuk kontrol ini adalah ON-OFF.

Rumusan Masalah

       Dengan mempertimbangkan kondisi harga pemilihan bahan sensor dan pemilihan jenis aksi kontrol maka dirumuskan permasalahan untuk mengadakan pemilihan penelitian.

–    Perancangan alat kontrol suhu berbasis koefisien muai panjang aluminium.

–    Jenis aksi kontrol ON-OFF.

Tujuan

       Tujuan utama ini adalah memberikan pemahaman kepada mahasiswa atau masyarakat ilmiah tentang karakteristik dan kegunaan mata kuliah sistem kontrol melalui pembelajaran perilaku peralatan kontrol dengan salah satu contoh aksi kontrol yang dipilih adalah tipe ON-OFF sekaligus cara merancang peralatan kontrolnya.

METODE PENELITIAN

       Metode penelitian menggunakan perancangan dan pembuatan alat, metode experimental dan analisis data system fisik dilanjutkan pembuatan blok diagram, blok matematika, pembuatan matrik keadaan dan analisis kestabilan, keteramatan dan analisis keterkendalian.

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Teori Dasar

       System kontrol adalah seperangkat peralatan yang bekerja sesuai keinginan kita untuk mencapai dan mempertahankan besaran yang kita inginkan. Suatu contoh sistem kontrol permukaan air 4 m, maka peralatan kontrol akan membuat plant mencapai ketinggian air 4 m dan mempertahankan kondisi tersebut (ketinggian 4 m). Ada satu variabel yang menjadi perhatian adalah waktu yang diperlukan untuk mencapai kondisi 4 m (time setting).

       Begitu pula jika yang kita inginkan adalah suhu 70oC maka peralatan tersebut akan membuat plant mencapai 70oC dan mempertahankan suhu tersebut. Kondisi tersebut dapat  digambarkan secara blok diagram dalam bentuk kanonik berikut ini (gambar 1).

Ganbar 1. Bentuk Kanonik

Input berisi set point atau kondisi yang kita inginkan dalam hal ini suhu 70oC. Signal set point akan menjadi referensi sinyal feed back yang dikeluarkan alat ukur dan hasil penggabungan kedua signal ini akan menjadi masukan controller, dimana controller akan mengatur plant sesuai sinyal masukan untuk dikondisikan pada plant dan akan mengeluarkan sinyal keluaran sesuai yang kita inginkan yaitu suhu 70oC. Keluaran 70oC biasanya tidak tercapai begitusaja, terkadang 70oC , kurang dari 70oC, apapun hasil output akan dibaca oleh alat ukur dan apapun angka yang diperoleh akan dibandingkan dengan referensi selanjutnya sebagai bahan pertimbangan controller untuk melakukan aksinya yaitu mempertahankan kondisi dimana output selalu menunjukkan angka sesuai input yaitu 70oC.

Gambar 2. Aksi Kontrol ON – OFF

Pada controller ON-OFF akan terjadi aksi ON-OFF yaitu saat suhu plant 70oC maka saklar pemanas akan kondisi OFF sehingga pemanas tidak bekerja, sehingga suhu akan turun hingga menunjukkan angka dibawah 70oC, saat suhu dibawah suhu 70oC maka controller akan membuat ON pada pemanas sehingga suhu menjadi naik lagi. Siklus terjadi saat suhu mencapai 70oC maka saklar akan OFF lagi demikian hal ini akan berlangsung terus secara otomatis, yang bisa dilihat pada gambar 2.

Pemodelan

       Pemodelan adalah pembuatan dari sistim fisik sehingga didapat gambaran dan sistim yang sebenarnya. Pemoelan ini bervariasi ragamnya dan harus memperhatikan variabel – variabel apakah yang berpengaruh pada pemodelan tersebut. Kegunaan dari pemodelan adalah mempermudah mempelajari suatu sistim yang nantinya sangat berguna untuk dalam pembahasan lebih lanjut. Dalam menganalisis maupun merancang ulang kita banyak berkaitan dengan pemodelan. Bentuk pemodelan itu sendiri bervariasi namun bentuk yang paling sering digunakan adalah model matematik. Berbagai permasalah sering diselesaikan dengan menggunakan model matematik.

       Pada jurusan teknik Elektro, pembahasan masalah ditekankan pada model matematik, Model matematik diperoleh dari sistim fisik.

       Sistim fisik secara umum dapat dibagi dalam beberapa bentuk yang secara garis besar dapat ditunjukkan menurut sifat-sifat yang dipunyainya maupun besaran-besaran yang mempengaruhinya. Pembagian tersebut dapat ditunjukkan antara lain sebagai berikut :

–      Sistim Mekanik

–      Sistem Hidrolik

–      Sistem Elektrik

–      Sistem Pneumatik

Dari keempat jenis sistim fisik tersebut semuanya dapat didekati dengan pembuatan model matematik.

       Pembuatan model matematik dari sistim pengendalian mempunyai ciri khusus yang mempunyai bentuk umum ditandai dengan munculnya gain konversi dan time constant.

       Yang menjadi perhatian permodelan adalah Gain Konversi dan Time Constant. Gain konversi adalah faktor pembanding signal input dan output sedangkan time constan adalah waktu yang dibutuhkan selama perjalanan signal input dan output sedangkan time constan adalah waktu yang dibutuhkan selama perjalanan signal input sampai dengan signal output.

 Gambar 1. Bentuk umum transfer function

Masing-masing komponen yang membentuk sistim pengendalian dapat dibentuk secara umum menjadi gambar yang tertera diatas.

       Sistem pengendalian secara utuh adalah variasi (gabungan) beberapa komponen tersebut. Gambaran permodelan sistem pengendalian akan didapati pada bab-bab selanjutnya secara lebih jelas. Keterangan gambar 1 adalah dapat dijelaskan sebagai berikut :

–      G =   gain konversi

–      t    =   time konstan

–      S   =   simbol fungsi laplace

Teori Ruang Keadaan

       Teori ruang keadaan adalah suatu teori yang menjelaskan sistim pengendalian dengan menggunakan variabel-variabel keadaan sebagai komponen yang bisa mewakili sistim pengendalian . Pengambilan variabel-variabel keadaan adalah sangat bervariasi sesuai dengan kebutuhan dalam analisis. Teori ruang keadaan ini sangat baik untuk menerangkan (menjelaskan) sistem pengendalian khusus untuk sistim pengendalian multi input output.

       Suatu sistim pengendalian dapat dianalisis dengan berbagai cara, diantaranya adalah menggunakan teori ruang keadaan. Model matematik dan persamaan matematik dan  persamaan matematik yang mendasari teori ruang keadaan adalah bentuk persamaan dalam bentuk matrik. Untuk lebih jelasnya bisa kita lihat bentuk umum persamaan ruang keadaan adalah seperti yang tertera di bawah ini :

                          x   = Ax + Bu

                          y   = Cx

       dengan :

       x, x                  =   variabel keadaan

       A, B, C           =   matriks keadaan

       Y                     =   output

       u                      =   input

Kestabilan

       Kestabilan adalah karakter sistim yang mampu meredam gangguan. Jadi kestabilan tidak hanya dimiliki oleh sistim pengendalian saja namun juga dimiliki oleh sistim yang lain.

       Suatu sistem pengendalian dikatakan stabil bila akar – akar karakteristik dari polynomial karakteristiknya adalah berharga negatif pada bagian nyata, sesuai dengan definisi yang terdapat dalam teori ruang keadaan.

       Metoda pencarian akar – akar karakteristik dalam sistim pengendalian multi input multi output adalah dengan menggunakan Eigen Value. Pencarian harga Eigen Value adalah dengan mengurai dari matrik keadaan A yang dapat ditujukan sebagai berikut :

dengan :

    = akar – akar karakteristik

I      = matriks identitas

A    = matriks keadaan

Keteramatan

       Sistim dikatakan teramati sempurna jika setiap keadaan awal dapat ditentukan dari pengamatan output selama selang waktu terhingga. Oleh karena itu sistim teramati sempurna jika setiap transisi keadaan akhirnya mempengaruhi setiap elemen vektor keluaran. Konsep keteramatan berguna dalam menyelesaikan persoalan rekonstruksi variabel keadaan yang tidak terukur.

       Suatu sistim pengendalian dikatakan teramati jika rank dari determinan matriks sama dengan jumlah baris atau lajur matriks dibawah ini :

atau mempunyai harga determinan tidak sama dengan nol.

Respon Dinamik

       Suatu sistim pengendalian mempunyai output yang biasa diamati tingkah lakunya atau dapat diamati penampilannya, penampilan tersebut menggambarkan karakteristik sistim tersebut, selanjutnya dapat diberi istilah penampilan dinamis sistim.

       Respon dinamik adalah penampilan output dengan masukan yang telah ditentukan.

       Dari respon dinamik akan terlihat banyak informasi, antara lain ; peak time, setting time, dan sebagainya.

       Informasi-informasi dari penampilan dinamis seperti setting time, peak time dan sebagainya tersebut adalah gambaran nyata dari sistim pengendalian yang kita bahas.

       Inti dari analisis dalam artikel ini adalah perbandingan setting time yang diinginkan dengan hasil perancangan ulang yang telah dilakukan, sehingga diharapkan muncul penampilan dinamis yang lebih baik.

Analisis Sistem control Suhu

       Tahap analisis adalah tahap pencarian informasi – informasi yang bisa kita dapatkan dari sistim pengendalian yang terdapat pada sistem control dengan melaksanakan metode – metode sebagai berikut :

–      Sistim fisik

–      Blok diagram

–      Model Matematika

–      Matrix keadaan

Sistim Fisik

       Sistim fisik sistim kontrol suhu yang dirancang secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut : Proses dimulai dengan pengisian tangki air yang akan dikontrol suhunya dengan satu liter air yang bersuhu rendah atau bersuhu dibawah 70oC. Tangki air adalah plan yang akan kita perlakukan suhunya, perlakuan suhu tersebut ada dua yaitu menaikkan suhu dan menurunkan suhu. Kedua perlakuan suhu tersebut menggunakan cara yang berbeda; saat menaikkan suhu dilakukan dengan pemanasan air yang nantinya menggunakan pengaktifan heater dan menurunkan suhu dengan cara tidak mengaktifkan heater. Tugas utama yang  akan kita lakukan disini adalah mengontrol suhu yaitu mengendalikan suhu air terjaga pada temperature tertentu sesuai dengan yang kita inginkan, dalam hal ini diambil suatu contoh suhu 70oC; penentuan suhu ini biasanya ditentukan dari kebutuhan plan yang ada di industri atau kebutuhan tertentu yang lain. Proses selanjutnya adalah mengatur suhu air menurut keinginan kita, dalam hal ini mengatur suhu 70oC sebagai contoh. Mekanisme pengaturan suhu di sini banyak sekali dinamikanya sehingga diperlukan teori control untuk menerangkannya, dalam hal ini salah satu dari sekian banyak metode control digunakan control tipe on-off. Tipe on-off bekerja dengan cara mengaktifkan heater sampai suhu air mencapai suhu 70oC, saat proses pemanasan air sampai mencapai suhu 70oC, secara bersamaan sensor suhu juga mengalami pemanasan dan merasakan kenaikan suhu, dalam hal ini ditandai oleh sifat termometrik sensor. Pemilihan jenis sensor memerlukan pertimbangan tertentu sehingga diputuskan oleh penulis untuk memilih salah satu diantaranya adalah memilih sensor koefisien muai panjang aluminium sebagai sifat termometrisnya. Cara kerja sensor ini adalah sensor ini akan bertambah panjang saat dikenai panas atau saat terjadi kenaikan suhu. Dari sifat muai panjang ini, kita dapat mengimplementasikannya sebagai kontrolernya seperti apa? Mekanismenya adalah menghubungkan ketiga variable yaitu suhu yang diinginkan 70oC, muai panjang aluminium dan saklar pengatur  pengaktifan dan penonaktifan heater menjadi suatu kerja sama yang harmonis untuk menjaga agar temperatur air tetap terjaga pada suhu 70oC. Cara yang paling sederhana untuk menjaga suhu tepat 70oC adalah mematikan heater pada suhu 70oC secara otomatis oleh saklar dimana saklar digerakkan oleh sensor pertambahan panjang aluminium dimana pertambahan panjang aluminium ini diatur agar pada saat suhu tercapai 70oC panjang aluminium tersebut sudah mencukupi untuk menggerakkan saklar untuk mematikan heater. Mekanisme gerakan aluminium ini adalah dorongan yang bisa memutus sambungan rangkaian listrik sehingga bisa mematikan heater. Proses selanjutnya setelah heater tidak aktif adalah suhu air akan turun dan dorongan aluminium akan mengendor sehingga proses selanjutnya adalah saklar akan menyambung lagi sehingga heater akan on dan suhu akan naik lagi sampai batas 70oC sehingga terjadi siklus kedua, ketiga dan seterusnya proses pengaturan suhu.

       Gambaran plan yang sebenarnya dapat dilihat dibawah ini.

Gambar 2. Sistim Pengendalian control suhu

Blok Diagram Fungsional

       Dari sistim fisik yang terdapat pada sub bab diatas maka dapat dibuat blok fungsi sebagai berikut :

       Dengan keterangan sebagai berikut :

–      Contoller  =  Berupa mekanisme sensor muai panjang aluminum yang mendorong saklar.

–      Heater      =  Gambaran plan

–      Sensor      =  Muai panjang aluminium

Gambar 3. Blok fungsi sistem pengendalian umpan tanur putar

       Blok diagram diatas menunjukkan sistim pengendalian dengan input dan output, dengan input – inpu set point suhu 70oC dan hasil suhu 70oC.

Blok Diagram

       Blok diagram adalah bentuk fungsi dengan blok matematik.

       Blok diagram adalah sangat penting. Dari sini sudah dapat diinterpretasikan bagaimana bentuk blok matematik yang sebenarnya yang nantinya bisa dirubah ke dalam matrik keadaan.

       Sesuai dengan yang terlihat pada blok fungsi maka dapat dijelaskan beberapa simbol:

Controller = Gc1

Komponen lainnya =  

Sehingga gabungan variasi komponen tersebut adalah berikut Blok diagram sistem control suhu.

Gambar 4. Blok diagram sistim control suhu

       Keterangan dari gambar blok diagram sistim control suhu dapat diketahui secara jelas dari penjabaran pada bagian ini.

Dari data – data fisik dapat dihitung harga gain controller demikian :

Gain    =

            = 6

Gain Heater dan time konstan dapat dihitung sebagai berikut :

Gain    =

         =

            = detik

Gambar 5. Transfer Function heater

       Gain controller dan time constan untuk sensor yang terpasang pada sistim ini adalah sebagai berikut :

Gain    =

            = 0,16

            =

            =

            = 2,58 detik

       Dapat digambarkan secara umum

Gambar 6. Transfer function sensor

       Sehingga secara umum dapat dibuat blok diagram model matematik secara umum adalah berikut ini

 :

Gambar 7. Model matematika sistim control suhu

       Dari blok diagram ini kita sampaikan variabel – variabel keadaan ; x1, x2 kita tempatkan simbol – simbol input ; u1 serta simbol-simbol tersebut akan digunakan lebih lanjut dalam analisis ini dalam pembentukan matrix keadaan.

       Matrix keadaan adalah identik dengan sistim fisik sebenarnya yang bisa digambarkan dibawah ini sehingga dari hasil matrik ini bisa didapat informasi-informasi lebih lanjut yang sangat penting dalam analistis maupun perancangan ulang.

Matrik Keadaan

Dari sub bab model matematika diatas didapat persamaan dalam bentuk :

       X =   X + U

       Y  =   X

Penurunan persamaan matrix keadaan adalah sebagai berikut :

X1  =   0,63 X1 + 2,58 X2

X2  =   Y + 6U

       Persamaan diatas merupakan keadaan awal untuk menentukan apakah suatu sistim stabil atau tidak.

       Dari penurunan persamaan keadaan tersebut diatas dapat dibentuk matrix keadaan dalam A, B dan C berikut dibawah ini :

Bentuk matrik keadaan

A =

       Matrik keadaan A adalah matrik yang menggambarkan keadaan sistim fisik sistim pengendalian umpan tanur putar di PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) khususnya mengenai kestabilan sistim.

Matrik kontrol B

B =

       Matrik untuk signal keluaran adalah dilambangkan berikut

C =  

       Dari hasil-hasil matrik yang kita dapatkan, pengerjaan selanjutnya adalah memasukkan menyiapkan (store) matrik-matrik tersebut sebagai masukan dari program komputer.

       Proses selanjutnya adalah analisis dengan proses komputer untuk memperoleh informasi tentang kestabilan, keteramatan, keterkendalian dan respon dinamis dari sistim yang sudah terwakili oleh matriks keadaan A, B, dan C.

Pembahasan

       Penghitungan kestabilan dapat dilihat dari jenis kontroler yang digunakan. Dalam artikel ini digunakan tipe on-off dimana didapatkan kestabilan dengan rentang waktu 1,5 jam. Penghitungan keteramatan dan keterkendalian system bisa dilihat dari pemakaian matriks dalam bentuk input.

FLOW CHART

 

Keteramatan



       Program yang bisa kita amati pada program dan flowchart di bawah ini nampak bahwa system teramati dan terkendali.

       Flow chart adalah diagram alir dari program komputer. Dari flow chart diperoleh gambaran secara global dan dapat ditelusuri algoritma-algoritma yang berlaku pada program komputer.

       Flow chart untuk kestabilan dapat diterangkan sebagai berikut :

–      Proses pertama adalah mulai. Eksekusi program mulai dijalankan.

–      Proses kedua adalah penyiapan variabel – variabel yang akan dieksekusi dalam hal ini variabel – variabel yang disiapkan adalah orde matrik A.

–      Proses ketiga adalah decision, untuk menanyakan berapakah harga variabel ‘det’, jika variasi det = 0 maka proses akan menghitung determinan matrik keadaan A.

–      Proses keempat adalah decision, untuk menanyakan berapakah harga ‘inv’, jika inv = 0 maka proses dilanjutkan dengan menghitung invers matrik keadaan A, dalam hal ini yang menghitung invers matrik adalah sub program SIMEQ.

–      Proses kelima adalah decision untuk menanyakan berapakah harga ‘err’, jika harga err = 0  maka proses dilanjutkan dengan penghitungan resolvent matrik dan akar-akar karakteristik dalam bentuk eigen value. Dalam hal ini proses dilakukan oleh sub program CHREQ dan sub program PROOT.

–      Proses terakhir adalah decision, untuk menanyakan berapakah harga ‘stm’, jika harga stm = 0 maka proses dilanjutkan dengan penghitungan matrik transisi dalam hal proses dilakukan oleh sub program STMST.

–      Selesai.

Flow chart untuk program keteramatan adalah sebagai berikut :

–      Proses pertama adalah mulai.

–      Proses kedua adalah penyiapan variabel – variabel. Dalam hal ini adalah orde matrik, matrik A dan matrik C.

–      Proses dilanjutkan dengan penghitungan rank matrik, dalam hal ini proses dilakukan oleh sub program HERMIT.

–      Proses dilanjutkan oleh sub program MULT untuk mengalihkan matrik A dan C.

–      Selesai.

Percobaan dan Analisis Data

       Pada bab ini akan dibahas perancangan dan pembuatan alat, dimana pembuatan alat dibagi 2 yaitu controller dan pemasak air (heater). Pemasak air (heater) tidak dibuat disini namun alat kontrol tetap dibuat seperti terlihat pada gambar 3.

Gambar 8. Perancangan alat cara kerja controller

       Bagian sensor yang terbuat dari aluminium bagian kaki akan tercakup pada pemanas air sehingga dengan bertambahnya suhu akan membuat aluminium memuai sehingga mendorong jarum saklar. Kondisi ini dibuat agar saat suhu 70oC maka dorongan saklar ke jarum akan membuat saklar terpanas sehingga heater akan berhenti memanaskan air sampai suhu turun dari 70oC.

       Begitu suhu turun dari 70oC maka sensor aluminium akan menyusut lagi sehingga saklar akan tertutup (tersambung lagi). Hal ini akan terus menerus secara otomatis pada kondisi ON-OFF.

       Pada percobaan dilakukan pemanasan air sebanyak 2 liter yang diisikan pada heater yang menghasilkan data. Data yang akan dianalisis urutan percobaan dikerjakan teliti dan serapi mungkin untuk mendapatkan hasil yang tepat sehingga membentuk pemahaman kita tentang perilaku sistem kontrol yang sudah dijabarkan pada teori dasar sistem kontrol. Urutan pekerjaan yang mempertimbangkan tujuan pemahaman sistem kontrol tersebut adalah sebagai berikut :

1.    Pembuatan alat kontrol

2.    Persiapan percobaan

       –    Menyiapkan air dingin 2 liter ke dalam heater.

       –    Mengatur peralatan percobaan sehingga mudah diamati.

3.    Pelaksanaan percobaan.

4.    Pengamatan

5.    Analisis perbandingan antara teori dan praktek.

Keterangan 1 : Pembuatan alat kontrol kegiatan merangkai sensor (aluminium), jarum saklar dan pengkabelan menuju heater.

Hal yang perlu diperhatikan disini ada dua yaitu sistem mekanik dan sistem listrik dan rangkaian mekanik harus kokoh tidak goyang sedangkan listrik harus kuat terutama penampilan kabel ke jarum saklar dan tiang penyangga saklar semuanya harus dibuat serapi mungkin.

Keterangan 2 : Persiapan percobaan adalah menyediakan air dua liter kedalam heater dan menyambung pengkabelan kerapian sehingga memudahkan kita untuk mengamati percobaan tanpa diganggu oleh tidak bekerjanya alat dengan baik.

Keterangan 3 dan 4 : Pelaksanaan percobaan dilakukan dengan cermat dan percobaan dilakukan selama dua kali dan dihasilkan pengamatan dengan seksama untuk memperoleh hasil optimal.

Keterangan 5 : Hal terpenting dari analisis adalah membandingkan teori dengan praktek yang telah dilaksanakan seperti dikatakan pada teori dasar bahwa sistem kontrol akan mencapai dan mempertahankan suhu 70oC. Pada praktikum suhu 70oC bisa dicapai selama rentang waktu sekitar 1,5 jam dan suhu akan turun menjadi 40oC selama sekitar 1,4 jam. Begitu seterusnya keadaan ini terjadi.

No Akhir Suhu Waktu
1 70oC 1,5 jam
2 40oC 1,4 jam
3 70oC 1,51 jam
4 40oC 1,42 jam

       Dari hasil ini didapat data rentang suhu tinggi 70oC dan suhu rendah 40oC hasil ini menunjukkan rentang yang cukup jauh dan waktu 1 siklus berkisar 1,5 + 1,4 = 2,9 jam ini juga rentang yang cukup lama. Kedua hasil diatas menunjukkan rentang yang jauh dibanding dengan kontroler berbasis listrik yang mempunyai rentang lebih pendek 10% terhadap rancangan berbasis koefisien muai panjang aluminium ini.

KESIMPULAN DAN SARAN

       Rancangan alat kontrol berbasis koefisien muai panjang aluminium sudah bisa mengatur kondisi suhu yang diinginkan 70oC dengan rentang.

*     40oC – 70oC

*     Waktu 1,4 jam s/d 1,5 jam

       Rancangan alat ini sudah bisa membantu pemahaman tentang sistem kontrol dan dapat dibuat dengan harga terjangkau.

SARAN

       Rentang suhu dan waktu yang cukup tinggi ini bisa diperbaiki dengan memperpendek rentang dengan cara :

–      Akurasi engsel

–      Ketegangan saklar dipertinggi

–      Mengganti basis dengan basis elektronika.

DAFTAR PUSTAKA

Ogata, Teknik Kontrol Automatric, Erlangga, Jakarta, 1997.

Higdon, D. T and R. H Cannon, Jr. “On the Control of Unstable Multiple – Output Mechanical System”, ASME Paper No. 63 – Wa 148, 1963.

Kalman, R. E., “When is a Linear Control System Optimal?” ASME J. Basic Engineering, ser. D, 86 (1964), pp 596 – 600.

LaSalle, P.P and S. Lefshetz, Stability by Liapunov’s Direct Method with Applicanous. New York : Academic Press, Inc, 1961.

Melbourne, W. G. and C. G Sauer, Jr. “Optimum Interplanetary Rendezvous with Power – Limited Vehicles, AIAA I, 1 (1963), PP. 54 – 60.

PENAJAMAN PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING PADA JALUR PENDIDIKAN FORMAL

JURNAL PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
Desember 2009 || ISSN: 1411-3376
Penyelenggara : Universitas Negeri Surabaya
Penulis : Hartono

PDF
VERSI CETAK/ASLI

Abstrak:

Naskah model pengembangan diri yang diterbitkan Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas tahun 2006, setidaknya bisa membuahkan pengaburan eksistensi bimbingan dan konseling di tanah air yang sejak tahun 1975 dinyatakan sebagai bagian integral dalam keseluruhan praksis pendidikan di sekolah. Artikel ini memaparkan permasalahan bimbingan dan konseling di sekolah serta solusi cerdas yang diamanatkan naskah penataan pendidikan profesional konselor dan layanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal yang diterbitkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas tahun 2007. Pelayanan bimbingan dan konseling pada jalur pendidikan formal yang memandirikan peserta didik, ditata ke dalam empat komponen, yakni komponen pelayanan dasar, komponen pelayanan responsif, komponen pelayanan perencanaan individual, dan komponen pelayanan dukungan sistem.

A. Pendahuluan
Mungkin terusik pada pikiran kita, mengapa kita kesekian kali masih perlu membahas tentang pelayanan bimbingan dan
konseling pada jalur pendidikan formal, yang mestinya sudah tidak perlu dibahas lagi, dalam arti kita seharusnya sudah mampu mewujudkan tugas ini di lapangan. Berbagai faktor penghambat penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling dewasa ini di tanah air, bila dicermati setidaknya dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu: (1) penghambat yang bersumber dari SDM (sumber daya manusia), (2) penghambat yang bersumber dari kerancuan materi pelayanan, dan (3) penghambat yang bersumber dari dukungan sistem. Penghambat yang bersumber dari SDM, selama ini semakin dirasakan bahwa kualitas tenaga konselor sekolah (guru BK) pada jalur pendidikan formal dalam tataran nasional masih jauh dari harapan sebuah lazimnya suatu profesi. Profesi merupakan pekerjaan yang bersifat pelayanan bantuan keahlian dengan tingkat ketepatan yang tinggi untuk kebahagiaan pengguna berdasarkan norma-norma yang berlaku (Johnson & Johnson,
2002). Pelayanan profesi bimbingan dan konseling khususnya pada jalur pendidikan formal seharusnya mampu menjadikan kepercayaan pengguna yaitu konseli (peserta didik), bahwa pelayanan ini sebagai salah satu pelayanan yang sangat dibutuhkan di sekolah. Penegasan pelayanan yang dibutuhkan konseli dapat didasarkan pada kemanfaatan dalam
tataran proses perkembangan peserta didik (konseli) sebagai individu yang berada dalam tahapan perkembangan. Namun bila disimak secara mendalam, berapa persen peserta didik yang dengan sukarela datang sendiri untuk meminta pelayanan konseling kepada konselor sekolah (guru BK) dalam setiap hari. Jangan-jangan yang terjadi, tidak ada satu pun peserta didik yang melakukan hal ini. Penghambat yang bersumber dari materi pelayanan bimbingan dan konseling yang 1 Staf Pengajar Prodi BK FKIP Universitas PGRI Adi Buana Surabaya Hartono, Penajaman Pelayanan Bimbingan dan Konseling 89 dirancukan dewasa ini semakin dirasakan. Beberapa konselor sekolah (guru BK) sempat bertanya kepada penulis tentang penerapan model pengembangan diri melalui pelayanan bimbingan dan konseling yang diterbitkan oleh pusat kurikulum, Balitbang Depdiknas akhir tahun 2006 yang lalu, yang seharusnya program ini sudah tidak berlaku lagi karena telah dilakukan penataan dalam tahun 2007 oleh Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Depdiknas bekerja sama dengan ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia) sebagai organisasi profesi bidang bimbingan dan konseling, ke dalam naskah penataaan pendidikan profesional konselor dan layanan bimbingan dan konseling dalam jalur
pendidikan formal (Depdiknas, 2007).
Masalah ini terjadi, mungkin disebabkan karena belum tersosialisasikannya naskah penataan pendidikan profesional konselor dan layanan bimbingan dan konseling dimaksud, kepada seluruh jajaran sekolah-sekolah di tanah air. Dengan demikian, belum dipahaminya materi bimbingan dan konseling ini dapat menimbulkan kerancuan di lapangan. Penghambat yang bersumber dari rendahnya dukungan sistem yaitu kegiatan manajemen, tata kerja, infra struktur dan pengembangan kemampuan profesional konselor sekolah (guru BK) secara berkelanjutan, yang seharusnya dalam ranah profesi lazimnya diposisikan sebagai faktor pendukung terselenggaranya pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan konseli (peserta didik). Pelayanan profesional bimbingan dan konseling membutuhkan dukungan sistem yang kuat dan handal berupa sistem manajemen dan tata kerja yang kondusif, infrastruktur yang baik dan adanya upaya pengembangan kualitas konselor profesional yang berkelanjutan dan tak pernah berhenti. Bila dicermati dari biblio bimbingan dan konseling saja, sebagian besar diduga masih tahap pajangan (kamuflase) yang harus difoto untuk kepentingan dokomen portofolio sertifikasi guru BK dalam jabatan, belum pada tahap pentingnya referensi sebagai dukungan eksistensi profesi lazimnya seperti profesi
pengacara, dokter, akuntan dan yang lainnya, di mana pengampunya dalam sehari-hari harus banyak membaca referensi profesi untuk meningkatkan dan mempertahankan profesinya di dalam kehidupan masyarakat. Layak diakui, profesi bimbingan dan konseling saat ini di tanah air belum dapat menyamai, apalagi mengungguli beberapa contoh profesi yang disebutnya tadi. Dengan kondisi-kondisi seperti ini, profesi bimbingan dan konseling saat ini dan ke depan harus selalu ditingkatkan, baik dari aspek kualitas konselor (guru BK), pelayanan maupun dukungan sistemnya,
karena hal ini saling berkaitan. Berdasarkan paparan di atas, kiranya konselor sekolah (guru BK) sebagai pengampu ahli pelayanan bimbingan dan konseling (Depdiknas, 2007) hendaknya memiliki komitmen dan upaya yang kuat untuk mengembangkan profesi bimbingan dan konseling melalui berbagai aktivitas pengembangan yang dapat meningkatkan citra profesi bimbingan dan konseling sebagai pelayanan yang dibutuhkan masyarakat dan tetap tegak berdiri kokoh di tengah peradaban dunia.
B. Kedudukan dan Landasan Pelayanan Bimbingan dan Konseling
Sejak diberlakukan kurikulum tahun 1975 pada semua jalur dan jenjang pendidikan, bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dalam keseluruhan praksis pendidikan di sekolah. Saat itu, bimbingan dan konseling disebut sebagai bimbingan dan penyuluhan. Perbedaan peran konselor sekolah (guru 90 Jurnal Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, Vol.10 No.2, Desember 2009, hlm. 88-94 pembimbing) dengan peran guru pelajaran (guru mapel) sebagaimana tampak pada gambar 1. Berdasarkan gambar 1, dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dalam keseluruhan sistem pendidikan di sekolah; (2) konteks tugas konselor sekolah (guru BK) berbeda dengan konteks tugas guru mata pelajaran (guru mapel); (3) konselor sekolah (guru BK) sebagai pengampu ahli pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan konseli (peserta didik); dan (4) guru mata pelajaran (guru mapel) sebagai mengampu pembelajaran yang mendidik. Walaupun keduanya memiliki perbedaan dalam hal konteks tugasnya, namun haruslah dipahami bahwa pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan dan pembelajaran yang mendidik yang diberikan kepada peserta didik dengan dukungan sistem manajemen sekolah yang kondusif, dimaksudkan agar setiap peserta didik dapat mencapai perkembangan optimal.
Gambar 1
Kedudukan Bimbingan dan Konseling dalam Sistem Pendidikan di Sekolah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 butir (6), dinyatakan bahwa keberadaan konselor sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, dan fasilitator yang berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Pasal 12 ayat (1b) menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya. Berdasarkan Pasal 39 ayat (2), tugas konselor harus diartikan secara cerdas sebagai pendidik yang merencanakan dan melaksanakan pelayanan bimbingan
dan konseling, mengevaluasi hasil pelayanan bimbingan dan konseling yang telah diberikan kepada konseli (peserta didik), serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dasar legal tersebut memperkuat posisi konselor sebagai pengampu pelayanan ahli bimbingan dan konseling yang memandirikan konseli (peserta didik).
C. Bimbingan dan Konseling yang Memandirikan Manajemen & Supervisi Pembelajaran Bimbingan dan Konseling Wilayah Manajemen dan Kepemimpinan Wilayah Pembelajaran yang mendidik Wilayah Bimbingan dan Konseling yang memandirikan Tujuan Perkembangan optimal setiap peserta didik Hartono, Penajaman Pelayanan Bimbingan dan Konseling 91 Pelayanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan pada setting persekolahan merupakan bagian integral yang tidak bisa dipisahkan. Pelayanan ini memfasilitasi individu konseli (peserta didik) dalam mencapai tingkat perkembangannya, pengembangan perilaku efektif, dan peningkatan keberfungsian individu dalam lingkungannya (PB ABKIN, 2008). Bimbingan dan konseling pada hakikatnya adalah proses layanan perkembangan individu, tidak hanya berorientasi pada pemecahan masalah sekarang ini, tetapi juga berpusat pada pengembangan perilaku jangka panjang. Searah dengan konsep ini, kedudukan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi yang bergerak di dalam bidang pendidikan, dimaksudkan untuk membantu konseli (peserta didik) dalam mencapai kemandirian (autonomy). Kemandirian peserta didik sebagai autcome bimbingan dan konseling mencakup kemandirian dalam aspek pribadi dan sosial, di antaranya dalam aspek belajar, pergaulan, dan karier. Kemandirian (autonomy) individu merupakan suatu kebebasan dalam melakukan perbuatan atau aktivitas yang bermanfaat baik bagi dirinya maupun bagi orang lain yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab.
Kemandirian dalam belajar merupakan kebebasan peserta didik untuk melakukan berbagai aktivitas belajar yang mendukung masa depannya. Kemandirian dalam pergaulan merupakan kebebasan peserta didik untuk memilih teman pergaulan yang baik yang mendukung kegiatan belajarnya. Kemandirian dalam memilih karier merupakan kebebasan
peserta didik untuk memilih karier, meraih karier dan mempertahankan kariernya dalam kehidupan di masyarakat. Peserta didik yang memiliki perilaku mandiri ditandai oleh lima ciri, yaitu: (1) menunjukkan rasa percaya diri, (2) memiliki tanggung jawab, (3) mampu mengarahkan dan mengembangan diri, (4) menunjukkan perilaku tekun, inisiatif dan kreatif, dan (5) memiliki keinginan kuat untuk mengerjakan sesuatu tanpa bantuan orang lain (Guay, Senecal, Gauthier & Fernet, 2003; Harre & Lamb,
1986; Knights & Willmott, 2007; McGrath dalam Smith, 2007). Secara visual kelima ciri kemandirian tersebut ditunjukkan pada gambar 2.

Gambar 2
Ciri-Ciri Perilaku Mandiri Individu. Elaborasi dari Guay, Senecal, Gauthier & Fernet (2003), Harre dan Lamb (1986), Knights & Willmott (2007), dan McGrath (dalam Smith, 2007) Percaya Diri Tanggung Jawab Mengarahkan & Mengembangkan Diri Tekun, Inisiatif, & Kreatif Ingin Mengerjakan Sesuatu Tanpa Bantuan Orang Lain 92 Jurnal Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, Vol.10 No.2, Desember 2009, hlm. 88-94 Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: (1) bimbingan dan konseling merupakan pelayanan pendidikan di sekolah untuk membantu konseli (peserta didik) dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal, (2) pelayanan bimbingan dan konseling yang diberikan kepada konseli (peserta didik) bertujuan untuk memandirikan mereka dalam aspek pribadi dan sosial, dan (3) perilaku kemandirian konseli (peserta didik) ditunjukkan dengan rasa percaya diri, tanggung jawab, mengarahkan dan mengembangkan diri, berperilaku tekun, inisiatif dan kreatif, dan berkeinginan untuk melakukan sesuatu aktivitas produktif tanpa bantuan orang lain.
D. Program Bimbingan dan Konseling Program bimbingan dan konseling pada setting persekolahan berisi pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling yang dikelompokkan menjadi empat komponen, yaitu (1) komponen pelayanan dasar, (2) komponen pelayanan responsif, (3) komponen pelayanan perencanaan individual, dan (4) komponen pelayanan dukungan sistem (Depdiknas, 2007).

  1. Komponen Pelayanan Dasar
    Pelayanan dasar adalah proses bantuan kepada seluruh konseli (peserta didik) melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku jangka panjang sesuai dengan tahap dan tugas-tugas perkembangan (yang dituangkan sebagai standar kompetensi kemandirian), yang diperlukan dalam pengembangan kemampuan pengambilan keputusan menjalani kehidupannya. Tujuan pelayanan dasar adalah untuk membantu konseli (peserta didik) agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya. Dengan kata lain pelayanan ini bertujuan untuk membantu konseli (peserta didik) untuk dapat mencapai tugas perkembangannya. Individu yang mampu mencapai tingkat perkembangan ini diwujudkan dalam perilaku (1) memiliki kesadaran dan pemahaman tentang dirinya dan lingkungannya,
    (2) mampu menemukan dan mengembangkan pengetahuan serta keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan, (3) mampu memenuhi kebutuhan hidupnya secara logis dan bertanggung jawab, dan (4) mampu mencapai kesejahteraan hidup. Beberapa pelayanan bimbingan dan konseling yang dapat dikelompokkan ke dalam komponen pelayanan dasar adalah (1) pelayanan orientasi, (2) pelayanan informasi, (3) pelayanan instrumentasi, (4) pelayanan bimbingan kelompok, (5) pelayanan konseling kelompok, (6) pelayanan penempatan dan penyaluran, (7) pelayanan konsultasi, dan (8) pelayanan mediasi. Pelayanan-pelayanan tersebut dikembangkan oleh konselor sekolah (guru BK) di sekolah ke dalam bidang bimbingan pribadi, bimbingan belajar, bimbingan sosial, bimbingan karier, dan bimbingan akhlak mulia/budi pekerti (Depdiknas, 2009) dengan menggunakan metoda, media, dan dukungan peralatan yang memadai.
  2. Komponen Pelayanan Responsif
    Pelayanan responsif adalah proses bantuan kepada konseli (peserta didik) yang menghadapi kebutuhan dan masalah yang membutuhkan penanganan dengan segera, sebab jika tidak segera dibantu akan menimbulkan gangguan-gangguan dalam proses pencapaian tugas-tugas perkembangannya. Tujuan pelayanan ini adalah membantu konseli (peserta didik) agar dapat memenuhi kebutuhannya dan memecahkan masalah yang dialaminya. Dengan demikian pelayanan responsif bersifat pengentasan atau penyembuhan. Beberapa bentuk pelayanan ini adalah: (1) konseling individual, (2) kunjungan rumah, (3) konferensi kasus, (4) referal, dan (5) kolaborasi guru, orang-tua dan ahli lain. Untuk mendukung pelayanan responsif, konselor sekolah (guru BK) harus ahli dalam bidang bimbingan dan konseling, bukan sekedar seorang guru yang ditugaskan oleh atasannya pada ranah bimbingan dan konseling dan lulus PLPG (pendidikan dan latihan profesi guru) Hartono, Penajaman Pelayanan Bimbingan dan Konseling 93 tanpa dukungan kualitas akademik dan profesional yang cukup. Dengan kata lain, pengampu pelayanan konseling yang disebutkan di atas adalah sosok konselor sekolah (guru BK)
    profesional (Johnson & Johnson, 2002; McLeod, 2003).
  3. Komponen Pelayanan Perencanaan Individual
    Pelayanan perencanaan individual adalah proses bantuan kepada konseli (peserta didik) agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa depan, berdasarkan pemahaman diri (kelebihan dan kekurangan diri) dan pemahaman lingkungan (pilihan karier, jurusan program studi, peluang dan kondisi karier yang diminati). Pelayanan ini pada akhirnya bertujuan agar konseli (peserta didik) mampu melakukan pengambilan keputusan karier, meraih dan mempertahankan kariernya pada masa mendatang, sehingga mereka dapat memperoleh kesejahteraan hidup sebagai warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum (the common good). Untuk memenuhi pelayanan ini, konselor sekolah (guru BK) perlu melakukan inovasi yang kreatif yang akhirnya mengkristal menjadi suatu karya model pelayanan bimbingan dan konseling, sebagaimana yang penulis kembangkan saat ini berupa bimbingan karier berbantuan komputer (computerassisted career guidance), merupakan karya penulis yang dapat dikelompokkan ke dalam pelayanan perencanaan individual, meskipun penyelenggaraannya bersifat klasikal, namun membutuhkan pendekatan individual dalam bentuk diskusi/konsultasi untuk membahas hasil asesmen yang dicapai. Dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia, konselor sekolah (guru BK) diharapkan mampu berinovasi untuk mengembangkan pelayanan bimbingan dan konseling.
  4. Komponen Pelayanan Dukungan Sistem
    Dukungan sistem mencakup kegiatan manajemen dan tata kerja serta tersedianya infra struktur seperti berbagai fasilitas yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling, termasuk tersedianya
    teknologi informasi dan komunikasi, dan pengembangan kemampuan profesional konselor sekolah (guru BK) secara berkelanjutan, yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada konseli (peserta didik) atau memfasilitasi kelancaran perkembangan konseli. Dukungan sistem ini meliputi aspekaspek
    (1) pengembangan jejaring (networkking),
    (2) kegiatan manajemen,
    (3) riset dan pengembangan (Depdiknas, 2007).
    Pengembangan jejaring mencakup kegiatan konselor sekolah (guru BK) untuk melakukan konsultasi dengan guru, kerja sama, berpartisipasi melaksanakan program sekolah, kolaborasi dengan pihak/ahli lain yang terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling. Kegiatan manajemen merupakan berbagai upaya untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling melalui kegiatan-kegiatan; pengembangan program, pengembangan staf, pemanfaatan sumber daya, dan pengembangan penataan kebijakan. Sedangkan kegiatan riset dan pengembangan mencakup berbagai upaya pengembangan dengan menggunakan pendekatan ilmiah (McLeod, 2003), yang menghasilkan produk-produk pengembangan pelayanan bimbingan dan konseling. Berbagai aktivitas yang bertujuan mengembangkan materi, teknik, dan media bimbingan dan konseling melalui pendekatan empiris dikategorikan kegiatan riset dan pengembangan.
    Dengan demikian, ke depan profesi bimbingan dan konseling dapat menjadi suatu profesi pilihan masyarakat sebagaimana profesi dokter, pengacara, akuntan, apoteker, sosiolog, psikolog, psikiater, dan lainnya yang tetap eksis di tengah masyarakat global.
    E. Penutup
    Bila dicermati apa yang telah dipaparkan di atas, kiranya kita tergelitik untuk senantiasa
    mengembangkan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah-sekolah, melalui pengembangan
    kualitas diri konselor (guru BK), pengembangan pelayanan, pengembangan 94 Jurnal Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, Vol.10 No.2, Desember 2009, hlm. 88-94 manajemen, dan pengembangan infra struktur yang mendukung pelayanan bimbingan dan konseling.
    Pengembangan kualitas diri konselor bisa dilakukan bila para konselor sekolah (guru BK) sebagai pengampu pelayanan ahli bimbingan dan konseling, sanggup dan merasa memiliki profesi bimbingan dan konseling.
    Tanpa kesadaran itu, kemajuan sumber daya manusia pada profesi bimbingan dan konseling ke depan, hanya merupakan impian belaka (tak ada wujudnya).
    Pengembangan pelayanan bimbingan dan konseling ke depan memerlukan kegiatan riset yang mampu menjawab berbagai kebutuhan yang terkait dengan berkembang IPTEKS. Hasil riset harus mampu menyuburkan kemajuan profesi bimbingan dan konseling.
    Pengembangan manajemen dan infrastruktur merupakan kunci pokok suburnya profesi bimbingan dan konseling, karena hal ini terkait langsung dengan kualitas layanan profesi bimbingan dan konseling. Bila suatu layanan konseling bisa dilakukan secara kondusif, rahasia dan terpercaya, maka konseli (peserta didik) sebagai user pelayanan bimbingan dan konseling akan semakin percaya bahwa layanan konseling bisa memenuhi kebutuhannya.

  5. DAFTAR PUSTAKA
    Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN). Penegasan Profesi Bimbingan dan Konseling: Alur Pikir Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Bandung: PB ABKIN. Depdiknas. 2007. Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan
    Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Depdiknas. 2009. Sertifikasi Guru dalam Jabatan: Panduan Penyusunan Portofolio. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
    Guay, F., Senecal, C., Gauthier, L. & Fernet, C. 2003. Predicting Career Indecision: A Self-Determination Theory Perspective.
    Journal of Counseling Psychology, (Online), 50, 2, 165-177, (http://wwwpsych. rochester.edu, diakses tanggal 25
    November 2008 pukul 09.10 WIB).
    Harre, R. & Lamb, R. (Eds.). 1986. The Dictionary of Personality and Social Psychology. Oxford: Basil Blackwell
    Ltd.
    Johnson, C.D. & Johnson, S.K. (Eds.). 2002. Building Stronger School Counseling Programs: Bringing Futuristic Approaches into the Present. Greensboro: CAPS Publications.
    Knights, D. & Willmott, H. 2007. Autonomy as A Narrative of Oppression and of The Oppressed, (Online), (http://www.nngt.waikato.ac.nz, diakses tanggal 16 Februari 2008 pukul 14.20 WIB).
    McLeod, J. 2003. Doing Counseling Research (2nd Edition). London: Sage Publications.
    Smith, R.C. 2007. Teacher Education for Teacher-Learner Autonomy, (Online (http://www.warwick.acuk/~elsdr/teacher_autonomy.pdf, diakses tanggal 16 Februari 2008 pukul 23.43 WIB).
    Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bidang Dikbud
    KBRI Tokyo.

FIGURES OF SPEECH AND THEIR CONNOTATIVE MEANING IN SONG’S LYRICS KILLING ME SOFTLY WITH HIS SONG

Author : Endang Mastuti Rahayu

Email : endangrahayu@unipasby.ac.id

Abstrak

The study is an analysis of figures of speech used in song lyrics. The writer chooses the topic because the figures of speech are used as one of the tools to deliver the messages of lyrics to the listener. They also make the lyrics more attractive for the listeners and attracted the listener to buy the album of the songs. This what make the writer interest in conducting a research about the figure of speech used in song lyrics. She wants to find out what figures of speech used in the lyrics. The lyrics that the writer analysis are song by Roberta Flack. The approaches of this study are qualitative and descriptive. To collect the data, the writer uses the documentation. The writer uses the Perrin’s theory to describe the figures of speech of the song’s lyrics. She also uses the theory of connotative meaning to explain the meaning beyond the used of figures of speech. From this analysis, the writer believes that there are many figures of speech occur in song’s lyrics. They are: metaphor, personification, symbolism, synecdoche, and hyperbole. And metaphor is figures of speech which is used most in song’s lyrics.

Keyword : Figures of speech, connotative, denotation, song’s lyrics Killing Me Softly with his song

File

PDF File

BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM KONTEKS PENDIDIKAN FORMAL: SUATU KAJIAN AKADEMIK

JURNAL PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
Juli 2009 || ISSN: 1411-3376
Penyelenggara : Universitas Negeri Surabaya
Penulis : Hartono
PDF VERSI CETAK/ASLI

Abstrak: Dilihat dari perspektif profesi, perkembangan bimbingan dan konseling di tanah air belum menunjukkan kemajuan lazimnya sebagai profesi yang mandiri. Permasalahan bimbingan dan konseling selalu menghadang dinamika profesi ini. Bimbingan dan konseling yang diamanatkan sebagai salah satu komponen pendidikan di sekolah yang memandirikan konseli (peserta didik), belum mampu mengemban amanat tersebut. Kontribusi konselor sekolah (guru BK) yang diwarnai kemampuan mengembangkan kompetensinya belum menjadi kenyataan dalam praksis pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.  Di pihak lain, kebijakan birokrasi menimbulkan peluang lebar dalam mengerdilkan profesi ini. Sebagai profesi, unjuk kerja bimbingan dan konseling seyogyanya memenuhi empat unsur, yakni teori pokok, praktik baku yang tervalidasi, otonomi profesi, dan organisasi profesi yang kredibel. Beberapa kegiatan ilmiah yang diusung dalam kajian ini untuk meningkatkan kompetensi konselor sekolah (guru BK) adalah penelitian, seminar, lokakarya, workshop, pelatihan, diskusi panel, dan kegiatan sejenis yang berskala lokal, nasional, regional, maupun internasional, untuk menyongsong masa depan bimbingan dan konseling sebagai profesi mandiri.

Kata kunci: Bimbingan dan konseling, konteks pendidikan formal, dan kajian akademik.

A.  Pendahuluan

Bila kita melihat perkembangan bimbingan dan konseling di tanah air sampai saat ini dilihat dari perspektif profesi, belum menunjukkan kemajuan lazimnya sebagai suatu profesi yang mandiri. Banyak permasalahan yang menghambat perkembangan profesi bimbingan dan konseling dewasa ini, seperti permasalahan yang bersumber dari aspek birokrasi, budaya masyarakat, maupun kualitas konselor sebagai aktornya pelayanan bimbingan dan konseling.

Pada setting persekolahan, pengakuan formal bimbingan dan konseling sebagai bagian integral dalam keseluruhan praksis pendidikan di sekolah dimulai sejak diberlakukannya kurikulum tahun 1975. Sementara itu, kurikulum tahun 1984 lebih menegaskan bahwa layanan bimbingan karier sebagai salah satu dari pelayanan bimbingan dan konseling. Sejak itu telah dikembangkan paket / modul bimbingan karier untuk SMA secara nasional yang diterbitkan oleh Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan, BP3K Depdiknas Jakarta (1984). Selanjutnya pada tahun 1985 telah diterbitan pedoman pelaksanaan bimbingan karier, kemudian kurikulum tahun 1994 dan kurikulum tahun 2004 memberlakukan petunjuk pelaksanaan bimbingan dan konseling serta buku panduan pelayanan bimbingan dan konseling berbasis kompetensi untuk SMA (Depdiknas, 2005), yang selanjutnya dipertajam dengan kurikulum tahun 2006 yang disebut kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).

Dalam kurun waktu tahun 2006, terjadi pemaknaan pengembangan diri secara sempit yang didasarkan pada Permendiknas Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Pengembangan diri dimaknai sebagai kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran yang merupakan bagian integral dari kurikulum sekolah/madrasah–sebagai upaya pembentukan watak dan kepribadian peserta didik  yang dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan pengembangan karier, serta kegiatan ekstra kurikuler (Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas, 2006), yang berdampak mencederai integritas layanan bimbingan dan konseling sebagai layanan ahli yang memandirikan peserta didik dalam jalur pendidikan formal (Raka Joni, 2007a).

Integritas bimbingan dan konseling sebagai layanan ahli yang memandirikan peserta didik tersebut, lazimnya mendapatkan dukungan positif baik dari dalam maupun luar profesi. Dukungan dari dalam profesi, dapat berupa pengembangan profesionalitas bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi yang memiliki kemandirian dan jati diri profesi yang siap memberikan pelayanan ahli khususnya kepada konseli (peserta didik) dan umumnya kepada masyarakat luas (counseling for all). Pengaruh dari luar profesi, terutama yang bersumber dari kebijakan birokrasi yang tidak mengaburkan eksistensi dan peran profesi bimbingan dan konseling, sangatlah diharapkan.

Di sekolah, beberapa kali terjadi kebijakan birokrasi yang justru mengaburkan eksistensi dan peran bimbingan dan konseling sebagai layanan ahli, Seperti adanya penugasan menjadi guru pembimbing (konselor sekolah) bagi seseorang guru yang tidak memiliki kompetensi bimbingan dan konseling tanpa pendidikan dan pelatihan yang memadai, yang bisa menimbulkan pembelokan pelayanan ahli bimbingan dan konseling ke arah polisi sekolah (school police), sehingga guru pembimbing–konselor sekolah bisa semakin dijauhi oleh peserta didik, karena mereka takut dengan guru pembimbing yang setiap hari banyak disibukan oleh urusan kedisiplinan siswa.

Lebih parah lagi adanya kebijakan pemerintah (Depdiknas) yang memberikan opsi bagi para guru yang berlatar belakang pendidikan formal non- BK yang berstatus sebagai kepala sekolah untuk mengikuti bidang sertifikasi bimbingan dan konseling–dalam perspektif bimbingan dan konseling sebagai profesi, kebijakan ini akan merugikan profesi bimbingan dan konseling sendiri. Permasalahan seperti ini yang penulis identifikasikan sebagai pengaruh dari luar profesi bimbingan dan konseling yang rawan menciderai kualitas pelayanan bimbingan dan konseling dalam konteks pendidikan formal–pendidikan pada sistem persekolahan.

Kualitas pelayanan ahli profesi bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh kualitas guru pembimbing–konselor sekolah dalam menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling. Kompetensi ini merupakan keniscayaan (tidak bisa tidak), dan harus dikembangkan terus sejalan dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan Seni (IPTEKS). Demikian pula dalam konteks pendidikan formal, bimbingan dan konseling sebagai bagian integral dalam keseluruhan praksis pendidikan di sekolah merupakan komponen penting untuk memandirikan peserta didik sebagai individu yang kelak memiliki kompetensi sesuai dengan bidang profesinya masing-masing. Melalui pelayanan- pelayanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, eksistensi profesi bimbingan dan konseling semakin kuat dalam konteks pendidikan formal.

B.  Kondisi Obyektif Pendidikan Formal

Dalam acara debat publik mengenai pendidikan nasional yang diselenggarakan oleh kumpulan wartawan pemerhati pendidikan pada tanggal 6 Mei 2006 dalam rangka hari pendidikan nasional, Winarno Surakhmad mengatakan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia sejak proklamasi menurun terus dan telah mencapai titik nadirnya dewasa ini (H.A.R. Tilar, 2006).

Terpuruknya mutu pendidikan di Indonesia juga dapat dibaca dari hasil survei Human Development Index (HDI) tentang peringkat pendidikan Indonesia dengan negara-negara lain di dunia: tahun 1996 peringkat 102 dari 174 negara; tahun 1999 peringkat 105 dari 174 negara; tahun 2000 peringkat 109 dari 174 negara (Raka Joni, 2005b); tahun 2003 peringkat 112 dari 175 negara (M. Joko Susilo, 2007; Gsianturi, 2003); tahun 2005 peringkat 110 dari 177 negara (http://hdr.undp.org, diakses tanggal 15 Februari 2008 pukul 14.30 WIB); dan tahun 2006 peringkat 108 dari 177 negara (http://hdr.undp.org, diakses tanggal 15 Februari 2008 pukul 14.35 WIB). Berdasarkan data ini, sejak tahun 1996 sampai dengan tahun 2003 peringkat Indonesia menurun terus, baru tahun 2005 dan tahun 2006 mulai membaik, walaupun masih jauh bila dibandingkan dengan Malaysia yang mampu menempati peringkat 61 pada tahun 2006.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pendidikan memegang peran yang sangat penting. Dengan pendidikan, kita bisa memajukan kebudayaan nasional dan mengangkat derajat bangsa Indonesia di dunia internasional. Sebagaimana pernah diungkapkan Daoed Joesoef dikutip M. Joko Susilo (2007) “pendidikan merupakan alat yang menentukan sekali untuk mencapai kemajuan dalam segala bidang penghidupan, dalam memilih dan membina hidup yang baik, yang sesuai dengan martabat manusia,”.

Pentingnya peran pendidikan dalam memajukan bangsa dapat kita lihat di beberapa negara maju (developed countries), seperti Amerika, Australia, Inggris, Jerman, Jepang dan negara lainnya. Mereka sangat menghargai pendidikan dan mengeluarkan dana yang sangat signifikan untuk membangun pendidikan sehingga bisa menjadi negara yang berteknologi tinggi.

Bagaimana dengan Indonesia, suatu bangsa yang telah merdeka 62 tahun yang lalu, belum menunjukkan komitmen dalam membangun pendidikannya. Hal ini dapat dilihat dari fenomena belakangan ini, PGRI sebagai organisasi guru telah menggugat pemerintah melalui Mahkamah Konstitusi atas Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2006 tentang APBN 2007 yang hanya mencantumkan anggaran pendidikan sebesar 11,8% dari APBN, yang dianggap bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara RI 1945 pasal 31 ayat 4 dan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 pasal 49 ayat 1 yang menyatakan bahwa anggaran pendidikan dialokasikan minimal 20% dari APBN dan 20% dari APBD. Atas gugatan PGRI, Mahkamah Konstitusi dalam sidangnya pada tanggal 22 Maret 2006 telah memenangkan gugatan PGRI tersebut.

Walaupun upaya meningkatkan mutu pendidikan formal pada satuan pendidikan dasar dan menengah di negara kita, telah dilakukan sejak diberlakukannya kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968 (Munandir, 2001), melalui terapan pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) yang dirintis melalui Proyek Peningkatan Pendidikan Guru (P3G) yang berlangsung dari tahun 1977-1984 (Raka Joni, 2005b). Perkembangan selanjutnya kurikulum tahun 1975 diganti dengan kurikulum 1984 yang bercirikan penerapan sistem kredit semester, kemudian kurikulum 1994, yang terakhir kurikulum 2004 bercirikan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang dipertajam dengan kurikulum tahun 2006 yang diberi label KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan).

Di sisi lain, implementasi KTSP yang didasarkan pada peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, di mana pengembangan diri sebagai salah satu materi kurikulum SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA yang bersifat non-mata pelajaran yang bertujuan memberikan kesempatan kepada subyek didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minatnya melalui kegiatan pelayanan konseling dan kegiatan ekstrakurikuler, mengundang wacana publik pro dan kotra yang berakar pada terjadinya penafsiran makna pengembangan diri sesuka hati. Dampaknya adalah menyemaikan terjadinya kesalahpahaman makna pengembangan diri pada praksis pendidikan di sekolah.

Dalam praksis pendidikan di sekolah, bimbingan dan konseling merupakan suatu komponen pendidikan yang penting, karenanya turut memberikan kontribusi dalam pembentukan dan pengembangan kompetensi lulusan lembaga pendidikan formal yang merupakan pengejawantahan dari terwujudnya tujuan utuh pendidikan sesuai dengan standar kompetensi lulusan masing-masing jenjang dan jenis pendidikan, yang diejawantahkan pada tercapainya sosok lulusan yang memiliki karakter yang kuat serta menguasai soft skills dan hard skill sebagai individu warga masyarakat masa depan yang menghargai keragaman sebagai perekat integrasi bangsa serta pada saat yang sama juga memiliki landasan kemampuan yang tangguh sebagai daya saing yang tinggi, bukan saja di arena lokal dan nasional, bahkan juga di arena regional dan global.

Soft skills merupakan kecakapan-kecakapan hidup (life skills) dalam arti luas di antaranya; analytical thinking, problem solving, creativity and imagination, communicating (written and oral), collaborating, interpersonal skills, English, computer skills, independence of thinking, drive and motivation, and enthusiasm (Raka Joni, 2007b), serta karakter yang kuat yang terbentuk sebagai dampak pengiring pembelajaran yang mendidik (nurturant effects) (Raka Joni, 2007c). Hard skills adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh subyek didik sebagai dampak langsung pembelajaran yang mendidik (instructional effects).

Namun demikian serangkaian upaya tersebut di atas, belum mampu membuahkan hasil yang signifikan, sehingga sangat diperlukan upaya baru untuk mencari solusi cerdas yang bisa memberikan peluang lebar dalam mewujudkan tujuan utuh pendidikan. Bimbingan dan konseling sebagai bagian integral dalam sistem pendidikan di sekolah lazimnya dijalankan oleh tenaga ahli (guru pembimbing-konselor sekolah) yang terlatih sehingga menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta terampil dalam memberikan pelayanan bimbingan dan konseling (Egan, 2002).

C.  Prospek Bimbingan dan Konseling

1.   Bimbingan dan Konseling Sebagai Profesi

Profesi merupakan suatu pekerjaan atau jabatan yang memberikan pelayanan keahlian kepada masyarakat. Profesi bimbingan dan konseling di sekolah adalah suatu pelayanan bimbingan dan konseling yang diberikan oleh guru pembimbing–konselor sekolah yang memiliki keahlian dalam bidang bimbingan dan konseling kepada para peserta didik sebagai konseli.

Upaya untuk menjadikan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi, mulai dilakukan sejak didirikannya IPBI (Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia) di kota Malang pada tanggal 17 Desember 1975 di dalam Konvensi Nasional Bimbingan dan Konseling yang pertama. Dalam perjalanannya, IPBI berubah nama menjadi ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia) dalam Kongres IX dan Konvensi Nasional XII IPBI pada tanggal 15 sampai 17 Maret 2001 di Bandarlampung.

Pada Kongres Nasional X dan Konvensi Nasional XIV ABKIN yang diselenggarakan pada tanggal 13 sampai dengan 16 April 2005 di Semarang, ABKIN lebih memantapkan konsolidasinya sebagai organisasi profesi bimbingan dan konseling di tanah air, dan melakukan kerja sama dengan Himpunan  Psikologi Indonesia khususnya yang berkenaan dengan program testing psikologis untuk pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. ABKIN telah melakukan beberapa kegiatan ilmiah seperti workshop bimbingan dan konseling yang diselenggarakan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung pada tanggal 10 Desember 2003 dengan tema Profesi Bimbingan dan Konseling menuju ke Arah Standar Internasional.

Mengembangkan Standar Kompetensi Konselor Indonesia (SKKI) yang ditetapkan berdasarkan keputusan PB-ABKIN Nomor: 011 Tahun 2005 tanggal 25 Agustus 2005 sebagai upaya penyempurnaan naskah Dasar Standardisasi Profesi Konseling yang diterbitkan oleh Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akademik Ditjen Dikti Depdiknas pada tahun 2004. Dilakukan sosialisasi standardisasi profesi konseling pada skala nasional yang difasilitasi oleh Ditjen Dikti Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi Depdiknas. Mengkaji kembali SKKI dalam Konvensi Nasional XV ABKIN yang berlangsung di Palembang pada tanggal 1 sampai 3 Juli 2007 yang saat ini berkembang menjadi standar kompetensi akademik konselor (baca Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor).

Serangkaian upaya yang penulis paparkan di atas belum bisa menjangkau kepada seluruh jajaran guru pembimbing–konselor sekolah di tanah air, sehingga secara nasional belum mampu mengendalikan unjuk kerja guru pembimbing– konselor sekolah dalam memberikan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah-sekolah. Alih-alih unjuk kerja guru pembimbing–konselor sekolah lebih banyak dipengaruhi oleh kebijakan birokrasi dan budaya sekolah yang sudah mengakar selama ini.

Sebagai profesi, unjuk kerja bimbingan dan konseling  setidaknya  memenuhi empat unsur. Pertama, teori pokok (substantive theory) bidang keahlian yang jelas dengan berbagai teknik aplikasinya dalam mengamalkan profesionalisme di lapangan. Kedua, praktik baku yang tervalidasi (validated practice), yakni sebuah prosedur operasional yang dimonopoli oleh kelompok profesi. Ketiga, otonomi profesi yang berbasis penelitian yang objektif demi tegaknya kebenaran akademik. Keempat, organisasi profesi yang mewadahi anggotanya untuk memperjuangkan hak-hak profesi mereka (A. Chaedar Alwasilah, 2006).

2.   Pengembangan Profesionalitas Bimbingan dan Konseling

Untuk memantapkan unjuk kerja profesi bimbingan dan konseling di tanah air khususnya pada setting persekolahan, perlu dilakukan pengembangan profesionalitas bimbingan dan konseling, yang dilakukan oleh guru pembimbing– konselor sekolah melalui berbagai kegiatan profesi yang bersifat  ilmiah. Beberapa kegiatan ilmiah tersebut, di antaranya: penelitian, seminar, lokakarya, workshop, pelatihan, diskusi panel, dan kegiatan sejenis yang berskala lokal, nasional, regional, maupun internasional, yang secara singkat diuraikan berikut ini.

Penelitian. Kemampuan dan keterampilan guru pembimbing–konselor dalam melakukan penelitian sangat menunjang terhadap kualitas pengelolaan pelayanan bimbingan dan konseling. Hasil-hasil penelitian yang dilakukan guru pembimbing–konselor sekolah yang dipublikasikan dalam suatu jurnal penelitian organisasi profesi bimbingan dan konseling, sangat bermanfaat bagi dirinya dan teman sejawat untuk melakukan perbaikan khususnya pada praksis pelayanan bimbingan dan konseling. Kemampuan dan keterampilan guru pembimbing– konselor sekolah dalam bidang penelitian (research) dapat ditumbuhkembangkan melalui pelatihan penelitian yang lazimnya dapat diselenggarakan oleh organisasi profesi ABKIN dan atau organisasi fungsional MGBK, serta lembaga-lembaga yang relevan.

Seminar. Kegiatan seminar merupakan salah satu bentuk kegiatan ilmiah yang diikuti para pembimbing–konselor sekolah untuk mengembangkan kemampuannya melalui peran serta aktif dalam kegiatan tersebut. Seminar dengan menghadirkan pembicara pakar bimbingan dan konseling dari dalam dan di luar negeri serta unsur birokrasi yang dirancang dan dilaksanakan dengan baik, dapat memberikan hasil perkembangan terbaru dalam aspek pengetahuan dan teknologi, yang sangat dibutuhkan guru pembimbing–konselor sekolah untuk meningkatkan kinerjanya. Kegiatan seminar ini tentunya dibingkai dalam bentuk forum ilmiah yang memungkinkan para pembimbing–konselor sekolah berperan aktif untuk mengungkapkan pengalaman dan gagasannya yang terkait dengan peningkatan profesi bimbingan dan konseling.

Lokakarya dan Workshop. Kegiatan ini cukup populer dilaksanakan untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan guru pembimbing–konselor sekolah dalam beberapa hal, seperti; pengembangan perangkat atau piranti bimbingan dan konseling (pengembangan materi pelayanan BK sebagai konteks, teknik asesmen, multi media atau media digital, dan piranti BK lainnya). Dalam penyelenggaraan lokakarya dan workshop, guru pembimbing–konselor sekolah hendaknya tidak sekedar diperlakukan sebagai peserta, tetapi jauh lebih penting adalah melibatkan mereka sebagai narasumber. Dengan keterlibatan mereka yang memiliki kapasitas yang dibutuhkan, diharapkan kegiatan ini dapat memicu guru pembimbing–konselor sekolah untuk mengembangkan kompetensinya secara berkelanjutan, khususnya untuk meningkatkan praksis pelayanan bimbingan dan konseling pada institusinya masing-masing.

Pelatihan. Kegiatan ini relevan untuk mengembangkan kemampuan guru pembimbing–konselor sekolah dalam bidang penelitian, penulisan karya ilmiah, dan keterampilan-keterampilan lain yang menunjang tugas-tugasnya misalnya kemampuan; memberikan konseling, melakukan kerja sama, melakukan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research), dan tugas lain seperti membina siswa dalam bentuk berbagai kegiatan ekstra kurikuler (pramuka, paskibraka, karya ilmiah remaja, latihan kepemimpinan, jurnalistik, dan lainnya).

Diskusi panel. Kegiatan diskusi panel pada dasarnya sama dengan seminar. Hanya pada diskusi panel, beberapa pembicara / narasumber mengungkapkan pandangan / gagasannya tentang suatu topik permasalahan / isu yang diangkat sebagai topik diskusi panel. Dalam kegiatan ini, peran moderator sangat penting sebagai pengatur jalannya diskusi panel. Di pihak lain para peserta diskusi panel hendaknya juga terlibat aktif untuk memberikan gagasan / pendapat-pendapatnya atas stimuli yang digagas oleh beberapa narasumber.

3.   Bimbingan dan Konseling Masa Depan

Profesi bimbingan dan konseling di tanah air bagaikan anak remaja yang sedang dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, ia sangat membutuhkan bantuan berupa pendidikan yang layak, agar kelak mampu mandiri. Para guru pembimbing–konselor sekolah sebagai tenaga profesional bidang bimbingan dan konseling secara bersama-sama dalam bingkai organisasi profesi (ABKIN) dan organisasi fungsional (MGBK) senantiasa melakukan peningkatan profesionalitas secara berkelanjutan untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai profesi masa depan yang mandiri.

Wickwire (2002) dalam artikelnya yang berjudul Current Trends and Their Implications for Future in the Counseling Profession, telah memaparkan pandangannya tentang profesi konseling ke depan, sebagai berikut: Pertama, Expansion of Electronics, pelayanan bimbingan dan konseling didukung dengan bantuan elektronika sebagai media seperti komputer dan internet, telepon dan televisi yang berlangsung di rumah, di masyarakat, dan di tempat kerja; Kedua, Growth of Distance Learning, belajar tidak dibatasi oleh waktu dan tempat seperti belajar berbasis Web (Web-based learning), pelatihan berbasis Web (Web-based training), intinya penggunaan IT dalam proses belajar untuk meningkatkan profesionalitas; Ketiga, Emphasis on Competencies and Skills, penekanan pada kompetensi dan keterampilan guru pembimbing-konselor sekolah dalam melakukan unjuk kerja, berdasarkan standar profesi yang ditetapkan oleh organisasi profesi; Keempat, Standards-based Education, penyandang profesi bimbingan dan konseling (guru pembimbing-konselor sekolah) harus lulusan lembaga pendidikan yang memenuhi standard dari organisasi profesi; dan Kelima, Inculcation of Lifelong Learning, belajar sepanjang hayat yang harus dilakukan oleh penyandang profesi bimbingan dan konseling (guru pembimbing- konselor sekolah).

Konselor masa depan (the counselor of tomorrow) adalah sosok peribadi yang berkompeten dalam bidang bimbingan dan konseling, yang menguasai beberapa aspek yaitu: (1) Kepemimpinan yang ditunjukkan memiliki perilaku keaslian, visibel, berbudaya, dan pelayanan yang berkualitas; (2) Sistem yang mencakup; program, layanan, materi, struktur proses, sikap bijak, teknik, dan kemampuan melakukan; (3) Domain yang mencakup; afektif, kognitif, akademik- pendidikan, karier, pribadi-sosial; (4) Memberikan bantuan yang mencakup; pencegahan, pengembangan, perbaikan, dan intervensi krisis; (5) pelayanan yang bersifat pencerahan, mencakup; asesmen, diagnostik, perencanaan dan persiapan, implementasi-monitoring, dan evaluasi-pendauran ulang (siklus); dan (6) Evaluasi yang mencakup; formatif, sumatif, tindakan, belajar, tingkah laku, hasil, dan tujuan akhir.

D.  Penutup

Berdasarkan pemaparan di atas, jelas bahwa bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dalam sistem pendidikan di sekolah, akan memberikan kontribusi dalam memandirikan peserta didik bila dikelola dan dilakukan secara profesional oleh seseorang guru pembimbing–konselor sekolah yang memiliki keahlian dalam bidang bimbingan dan konseling. Bila tidak, maka pelayanan bimbingan dan konseling akan menjadi rusak, yang berdampak menurunkan bahkan merusak citra profesi bimbingan dan konseling sebagai layanan ahli di tengah masyarakat.

Untuk mewujudkan keinginan profesi tersebut, guru pembimbing-konselor sekolah senantiasa harus cerdas dalam membangun jejaring dengan semua pihak yang terkait dengan praksis pendidikan pada setting persekolahan, serta melakukan peningkatan profesionalitas secara berkelanjutan dalam bingkai organisasi profesi ABKIN dan organisasi fungsional MGBK. Dengan demikian guru pembimbing-konselor sekolah akan mampu memberikan pelayanan bimbingan dan konseling berdasarkan standar kompetensi akademik konselor serta mengindahkan kode etik pelayanan profesi bimbingan dan konseling.

Eksistensi bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan formal merupakan keniscayaan (harus ada–tidak boleh tidak), sehingga tidak bisa dikelola secara asal-asalan yang justru akan merugikan perkembangan konseli (peserta didik).

DAFTAR PUSTAKA

A. Chaedar Alwasilah. 2006. Redefinisi Profesi Dosen. Pikiran Rakyat, (Online), (http://www.pikiran-rakyat.com, diakses tanggal 21 Februari 2007 pukul 07.47 WIB).

Depdiknas. 2002. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi Sekolah Menengah Pertama, Madrasah Tsanawiyah dan Sederajat. Jakarta: Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas.

Depdiknas. 2005. Panduan Workshop BK Berbasis Kompetensi SMP. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Depdiknas. 2006. Model Pengembangan Diri SD/MI/SDLB-SMP/MTs/SMPLB- SMA/MA/SMALB/SMK. Jakarta: Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas.

Egan, G. 2002. The Skills Helper: A Problem-Management and Opportunity- Development Aproach to Helping. Australia: Brooks/Cole Thomson Learning.

Gsianturi. 2003. Benarkah Kualitas Manusia Indonesia Rendah?. Indonesian Nutrition Network, (Online), (http://gizi.net, diakses tanggal 1 Januari 2008 pukul 11.15 WIB).

H.A.R. Tilaar. 2006. Standarisasi Pendidikan Nasional: Suatu Tinjauan Kritis.Jakarta: Rineka Cipta.

M. Joko Susilo. 2007. Pembodohan Siswa Tersistematis. Yogyakarta: PINUS Book Publisher.

Munandir. 2001. Ensiklopedia Pendidikan. Malang: UM Press.

Raka Joni, T. 2005a. Pembelajaran yang Mendidik. Jurnal Ilmu Pendidikan. Edisi Juni, Halaman 91-127. Malang: LPTK dan ISPI.

Raka Joni, T. 2005b. Pembelajaran Yang Mendidik: Artikulasi Konseptual, Terapan Kontekstual, dan Verifikasi Empirik. Makalah Seminar Paradigma Pembelajaran Yang Mendidik tanggal 28 Mei 2005 di PPS Universitas Negeri Malang.

Raka Joni, T. 2007a. Prospek Pendidikan Profesional Guru di Bawah Naungan UU No. 14 Tahun 2005: Suatu Kajian Akademik. Makalah disajikan dalam Rembuk Nasional Revitalisasi Pendidikan Profesional Guru, Universitas Negeri Malang, Malang, 17 November 2007.

Raka Joni, T. 2007b. Psikologi Pendidikan Lanjut (DIP-711). Malang: Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang.

Raka Joni, T. 2007c. Wawasan Makro Pendidikan DIP 721. Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Surat Edaran Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Jawa Timur Nomor 11/Org/Prov/XIX/2006 tentang Informasi Aktual Organisasi. Surabaya: Sekretariat Pengurus Daerah PGRI Provinsi Jawa Timur.

UNDP. 2005. Statistics in the Human Development Report, (Online), (http://www.hdr.undp.org, diakses tanggal 15 Februari 2008 pukul 14.30 WIB).

UNDP. 2006. Statistics in the Human Development Report, (Online), (http://www.hdr.undp.org, diakses tanggal 15 Februari 2008 pukul 14.35 WIB).

Wickwire, P., N. 2002. Current Trends and Their Implications for Futures in the Caounseling Profession. Dalam Johnson, C., D., and Johnson, S., K. (Ed.), Building Stronger School Counseling Programs: Bringing Futuristic Approaches into the Present (hlm. 3-15). Greensboro: CAPS Publications.

Pengaruh Staphylococcus epidermidis, Streptococcus faecalis, Enterobacter aerogenes and Escherichia coli Terhadap Kerusakan Membran Plasma Sperma Secara In Vitro

STIGMA || Journal Of Science
Volume 03 || Nomor 01 || Juni 2009 || ISSN: 1412-1840
Penerbit : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Penulis  : Sukarjati

» Read more

MAGANG KEWIRAUSAHAAN PENYIAPAN MAHASISWA BERWIRAUSAHA DALAM INDUSTRI BUSANA ANAK DI DANNIS COLLECTIONS SURABAYA

MAJALAH EKONOMI || Telaah Manajemen, Akuntansi, dan Bisnis
Volume X || Nomor 1 || Juli 2009 || ISSN: 1411-9501
Penerbit : Fakultas Ekonomi Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
Penulis 1: Christina Menuk S
Penulis 2: Sulistiami
Penulis 3: Anni Silaban (Alm)
Penulis 4: Martha Suhardiyah

» Read more

1 60 61 62 63 64