STRATEGI KOMUNIKASI DALAM PEMBELAJARAN BAHASA KEDUA ANAK USIA PRASEKOLAH

Author: Luluk Isani Kulup, Rahayu Pujiastuti, Sunu Catur Budiono, S1 – Pendidikan Bahasa Indonesia

Keyword : STRATEGI KOMUNIKASI DALAM PEMBELAJARAN BAHASA KEDUA ANAK USIA PRASEKOLAH
Sumber pengambilan dokumen : Mimbar Pendidikan Indonesia Jurnal Ilmiah
Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia

This study aimed to describe the communication strategy in learning a second language to preschool children. Research question is how the form of the communication strategy in learning a second language generated by preschool children? The data of this research is in the form of utterances produced by preschool children either when they are in the classroom, at home, or when they are playing. The utterances are in the form of words, phrases, clauses, or sentences that can give an illustration of compensatory strategies used by children.
The data sources of this research are the kindergarten students using Bahasa Indonesia as a second language. Data were analyzed with the data in the form of tables. The table is a data analysis instrument when undertake (1) the reduction of the data in order to see the units of the data; (2) presentation of data in order to see the data as a whole. Based on the analysis of the data, it is found the forms of utterances whichare realized in a variety of avoidance strategies and compensatory strategies.
Keywords: avoidance strategy, compensatory strategy, language learning, preschool children.

PDF File

Wangsalan Dalam Budaya Jawa

Author: Sunu Catur Budiono, S1 – Pendidikan Bahasa Indonesia

Keyword : Wangsalan Dalam Budaya Jawa
Sumber pengambilan dokumen : Seminar Tahunan Linguistik Universitas Pendidikan Indonesia 2013 “Pemertahanan dan Pergeseran Bahasa Dalam Bingkai Politik Bahasa”
diselenggarakan oleh Program Studi Linguistik SPs UPI bekerjasama dengan Masyarakat Linguistik Indonesia pdf file

SENI TRADISI IDENTITAS LOKALITAS DALAM ARUS GLOBALISASI

Author: Sunu Catur Budiono, S1 – Pendidikan Bahasa Indonesia

Keyword : SENI TRADISI IDENTITAS LOKALITAS DALAM ARUS GLOBALISASI
Sumber pengambilan dokumen : Prosiding Pelantra 09, Relasi Lokalitas-Globalitas Menuju Modernitas Bahasa dan Sastra Indonesia

Pembicaraan mengenai seni tradisi dal= kaitannya dengan identitas dalam prasaran ini difokuskan pada kasus seni gandrungl Banyuwangi. Setidak-tidaknya terdapat empat alasan utama mengapa seni gandrung yang dipilih sebagai kasus dalam konteks ini: pertama, seni gandrung dijadikan sebagai simbol utama kabupaten Banyuwangi yang berkompetisi di antara seni-seni tradisi lain yang berasal dari etnik yang berbeda. Kedua, keberadaan gandrung sebagai “simbol negara” yang berasal dari etnik tertentu diterima di tengah keragaman etnik dan budaya, yang pada batas tertentu, berupaya untuk mempresentasikan tradisinya sebagai identitas etnik dalam ruang kontestasi bersama. Ketiga, seni gandrung berupaya untuk bertahan melawan arus globalisasi dengan dua cara yang berbeda: (a) ke dalam, melakukan konservasi baik secara kultural maupun state power dan (b) memanfaatkan teknologi industri global dengan mendayakan pasar sebagai wilayah komersial. Dengan demikian, gandrung berada dalam tiga pilar utama dalam arena kapital liberalisme yakni state, market, and civil society. Keempat, gandrung sebagai “simbol negara” berada dalam posisi yang paradoks antara keberterimaan dan ketertolakan oleh state dan civil society.

PDF File

Sastra Yang Menuntut Perubahan

Author: M. Shoim, S1 – Pendidikan Bahasa Indonesia

 

Keyword : Sastra Yang Menuntut Perubahan
Sumber pengambilan dokumen : Diterbitkan CV. Pustaka Ilalang Group. Jl. Airlangga No. 3 Sukodadi Lamongan Jawa Timur, email: pustaka_ilalang@yahoo.co.id, telp. 081330501724

KATA PENGANTAR
Karya sastra dicipta oleh pengarang bukan merupakan hasil imajinasi semata. Tidak ada karya sastra yang berangkat dari kekosongan. Karya sastra juga merupakan ramuan sekian banyak persoalan yang terdapat dalam kehidupan nyata. Sikap dan pandangan hidup pengarang pun diselundupkan ke dalamnya. Keberadaan karya sastra sebagai medan ideologi talc dapat dihindarkan.
Di samping karya seni, karya sastra adalah wilayah pemikiran pengarangnya. Pada taraf tertentu mungkin pemikiran pengarang tidak mudah ditangkap oleh pembaca. Pembaca tentu ada yang hanya bertujuan menikmati keindahan atau liku-liku cerita, tanpa berpretensi untuk memikirkan lebih jauh isi atau bentuk karya sastra yang dibacanya. Di sisi lain, terutama bagi pembaca kritis, tentu ada pula yang bertujuan untuk mengetahui pemikiran-pemikiran yang dilontarkan oleh pengarang dalam karya sastra. Pada tahap seperti inilah telaah karya sastra dibutuhkan sebagai jembatan atau pembanding bagi pembaca kritis.
Sebagai basil telaah, kajian, apresiasi, atau kritik terhadap karya sastra, tulisan-tulisan dalam buku ini memiliki kaftan sosiologis dan ideologis terhadap dunia yang dibangun oleh pengarang melalui novel, cerpen, serta puisi. Sastra yang Menuntut Perubahan adalah ide dan istilah yang sengaja dipakai sebagai judul buku ini karena menjiwai seluruh tulisan di dalamnya.
Semoga kehadiran bukii ini rnampu menyemarakkan pemikiran dalam dunia sastra Indonesia, khususnya dalam bidang kritik sastra yang dinilai masih kurang. Terimakasih perlu disampaikan kepada berbagai pihak yang telah membantu terbitnya buku ini. Kritik dan saran, urunan pemikiran, baik yang sejalan maupun tidak, tentu sangat diharapkan demi kemajuan dunia sastra.

PDF File

DAPATKAH BAHASA DAERAH SEBAGAI WAHANA PEMBENTUKAN KARAKTER

Author: Sunu Catur Budiono, S1 – Pendidikan Bahasa Indonesia

Keyword : DAPATKAH BAHASA DAERAH SEBAGAI WAHANA PEMBENTUKAN KARAKTER
Sumber pengambilan dokumen : Prosiding Seminar Nasional Dalam Rangka Bulan Bahasa dan Dies Natalis Universitas Widya Dharma Klaten Ke-45
“Pembelajaran Bahasa Untuk Meningkatkan Kualitas Manusia Indonesia yang Berkarakter dalam era Mondial”
diterbitkan oleh: Universitas Widya Dharma Klaten bekerjasama dengan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah

Bahasa bukan hanya alat tetapi kebudayaan itu sendiri. Struktur bahasa merepresentasikan struktur budaya masyarakatnya. Dengan demikian, bahasa mencirikan karakter, nilai, filosofi, maupun estetika masyarakat pendukungnya. Bahasa tidak hanya digunakan untuk mengkonstruksi budaya tetapi juga untuk mewariskan budaya. Pembentukan perilaku (karakter) warga suatu kebudayaan, secara dominan dilakukan melalui bahasa (selain dengan contoh atau aktivitas yang lain). Bahasa menjadi media ungkap terdalam warga kebudayaan tentang suka citanya, kebenciannya, kecintaannya, maupun religiusitasnya. Oleh karena itu, perkembangan bahasa dapat digunakan untuk melihat perkembangan kebudayaan, semakin besar perkembangan kebudayaan suatu masyarakat maka semakin besar pula perkembangan bahasanya, demikian pula sebaliknya.
Kata kunci: bahasa, budaya, karakter

Deskripsi Alternatif :

Language is not just a tool but the culture itself. Language structure represents the structure of society culture. Thus, language is characterizing character, values, philosophy, and aesthetics of its society supporters. Language is not only used to construct the culture but also to inherit culture. To form character of the citizen of a culture, predominantly conducted through language (other than the sample or other activities). Language becomes a media revealer most in the cultural community about its joy, its hatred, its love, and its religiosity.Therefore, the development of language can be used to see the development of culture; the greater the cultural development of a society, the greater the development of language, and vice versa.
Keywords: language, culture, character
pdf file

PEMEROLEHAN BAHASA PERTAMA SECARA DWIBAHASA: SEBUAH UPAYA MEMPERTAHANKAN DAN MELESTARIKAN BAHASA IBU

Author: Rahayu Pujiastuti, Dra., M.Pd. dan Luluk Isani Kulup, Drs, M.Pd., S1 – Pendidikan Bahasa Indonesia

Keyword : Pemerolehan bahasa secara dwibahasa, pemertahanan dan pelestarian, serta bahasa ibu (bahasa daerah)
Sumber pengambilan dokumen : Seminar Internasional Kerjasama Hari Bahasa Ibu, Balai Bahasa Bandung dan Alqa Print

Banyak orang tua yang mengondisi putra-putrinya untuk menggunakan bahasa pertama berupa bahasa Indonesia. Hal itu berdampak pada ketidaktahuan anak pada bahasa daerah tempatnya berada. Fenomena tersebut sungguh mengkhawatirkan karena akan memiliki dampak lebih lanjut pada kelestarian bahasa daerah.
Salah satu upaya yang perlu dilakukan oleh para orang tua yaitu memajankan bahasa pertama secara dwibahasa yang berupa bahasa Indonesia dan bahasa daerah kepada putra-putrinya. Melalui upaya ini para orang tua dapat melakukan hal positif bagi bahasa daerahnya karena secara tidak langsung para orang tua sebagai bagian dari masyarakat telah menjadi pemertahan dan pelestari bahasa daerah tempatnya berada, tanpa harus meninggalkan tujuan-tujuan yang positif digunakannya bahasa Indonesia

FENOMENA REDUPLIKASI: SEBUAH ANALISIS KRITIS

Author: Rahayu Pujiastuti, Dra., M.Pd., S1 – Pendidikan Bahasa Indonesia

Keyword : Tinjauan Reduplikasi, Konsep Reduplikasi, dan Tata Cara Penulisan Reduplikasi
Sumber pengambilan dokumen : Jurnal Ilmu – Ilmu Sosial dan Humaniora HUMANIS Vol. 1 Nomor 2 Tahun 2009

Salah satu proses morfologik yang banyak digunakan dalam komunikasi sehari-hari yaitu reduplikasi. Meskipun sering digunakan dalam komunikasi, ternyata, kajian tentang reduplikasi tidak banyak dilakukan dibanding dengan proses morfologik yang lain yaitu afiksasi. Padahal, dalam pembahasan reduplikasi banyak hal yang dapat dikemukakan yaitu ketepatan tinjauan, ketepatan konsep, dan ketepatan tata cara penulisannya.
Kenyataannya, ada buku-buku morfologi yang ternyata menggunakan tinjauan hanya secara deskriptif. Padahal, tinjauan seharusnya juga dilakukan secara historis dan komparatif. Untuk konsep reduplikasi, para pengarang ada yang melakukan melakukan pemberian nama dan konsep berbeda. Begitu juga dengan tata cara penulisan reduplikasi, ada pakar yang menyatakan tata cara penulisan tersendiri. Ketiga hal tersebut jelas dapat membingungkan guru bahasa Indonesia.
Pembahasan ini mencoba menganalisis secara kritis ketiga masalah tersebut sehingga diharapkan lebih dapat memberi masukan bagi para pengajar bahasa Indonesia. Dengan demikian, selanjutnya diharapkan mampu memberi masukan pengetahuan yang paling benar kepada siswanya pdf file pdf file

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SECARA PRAGMATIS: BENTUK PENYADARAN KEMULTIKULTURALAN INDONESIA

Author: Rahayu Pujiastuti, Dra., M.Pd., S1 – Pendidikan Bahasa Indonesia

Keyword : #SUBJECT_KEYWORDS#
Sumber pengambilan dokumen : Prosiding Seminar Internasional Pelantra
Relasi Lokalitas-Globalitas menuju Modernitas Bahasa dan Sastra Indonesia

Suatu bangsa merupakan suatu lembaga sosial yang tumbuh akibat dan pengalaman sejarah (perjuangan dan penderitaan) yang sama sehingga menimbulkan keinginan untuk tetap memiliki kebersamaan, baik pada masa sekarang maupun masa akan datang. Keinginan untuk bersatu meski ada keanekaragaman, mendorong keinginan suatu bangsa untuk memiliki alat pengikat atau pemersatu agar dapat terus membina rasa persatuan bangsa itu.
Salah satu alat pengikat atau alat pemersatu bangsa yaitu bahasa. Melalui bahasa, hubungan sosial budaya antaranggota masyarakat dalam suatu bangsa akan terjalin. Bahkan,. dalam lingkup yang lebih luas yaitu hubungan antarbangsa dapat terjalin pula. Hal ini sesuai dengan pernyataan Oka (1999:112) dan Ardiana (2003:176), bahwa bahasa memiliki tiga fungsi pokok, yaitu 1) alat komunikasi antarbangsa (alat komuikasi luar), 2) alai komunikasi antaranggota masyarakat dalam suatu bangsa (alat komuikasi dalam), dan 3) alat pembentuk pandangan hidup atau pandangan keduniaan dan suatu bangsa.
Sehubungan dengan fungsi kedua, bahasa Indonesia jugs digunakan untuk `alat komunikasi dalam’ karena komunikasi antaranggota masyarakat di Indonesia dilakukan dengan menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini sesuai dengan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Kridalaksana (1984:22-23) menyatakan bahwa sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia menjadi bahasa standar atau lingua franca di negeri yang multilingual karena perkembangan sejarah, kesepakatan bangsa, atau ketetapan perundang-undangan. Sedangkan, sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia cenderung digunakan dalam komunikasi resmi.
Halim (1980:17) menyatakan bahwa sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia merupakan 1) lambang kebanggaan nasional, 2) lambang identitas nasional, 3) wahana pemersatu bangsa, dan 4) wahana perhubungan antarbudaya dan daerah. Sedangkan, sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia merupakan 1) bahasa resmi kenegaraan, 2) bahasa pengantar resmi di lembaga pendidikan, 3) bahasa resmi dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan dan pemerintahan, serta 4) bahasa resmi dalam pembangunan kebudayaan dan iptek.
Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara hams selalu disadari oleh setiap warga Indonesia, termasuk para insan di dunia pendidikan. Hal ini dikarenakan dunia pendidikan dianggap sebagai wadah pencetak generasi muda penerus bangsa. Sebagai pencetak generasi muda bangsa, pendidikan harus dapat lebih menumbuhkan kesadaran para generasi muda bangsa akan keanekaragaman bangsa.pdf file

PENERAPAN TEKNIK CARD SORT DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Author: Rahayu Pujiastuti, Dra., M.Pd., S1 – Pendidikan Bahasa Indonesia

Keyword : card sort technique, Indonesian learning
Sumber pengambilan dokumen : Humanis, Jurnal Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora LPPM Universitas Islam Darul Ulum Lamongan

The learning of Indonesian is aimed to reach the whole competence, namely knowledge, skill and affective. To achive the goal, curriculum (2006) states that the learning is done by using communicative approach that is hoped to be applied throught active, innovative, effective, and enjoyable learning. It is felt that the card sort technique can fulfill such a demand because it provides a place for the goal of Indonesian learning in the curriculum 2006. In the implementation of card sort technique the activity of learning that asks students along with their groups to sort card occurs. The card sort technique can be used to achieve the competence, knowledge, skill, and affective. It can be done in the understanding of concepts, the classification of traits, facts of an object, procedures, the repetation of the information, and application. In the implementation of the card sort technique, student get involved actively physically and mentally, both individually or in group. Students and their peers will communicate to construct understanding and finally can apply concretely.gdlhub–rahayupuji-677-1-cover pdf file

CONSUMING GREEN AND CLEAN: THE CONSTRUCTION OF THE ENVIRONMENT AMONG SANTRIS IN URBAN PESANTRENS

Author : Rahmat Hidayat, S1 – Pendidikan Bahasa Inggris

Keyword : Green and Clean, Surabaya, isu lingkungan, masalah perkotaan, santri, pesantren

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara santri atau masyarakat pesantren di Surabaya mengkonsumsi ‘Green and Clean’, slogan terkenal di Surabaya dalam upaya menghijaukan dan membersihkan Surabaya. Berbeda dengan masyarakat pedesaan atau di daerah terpencil, pesantren perkotaan
akses yang lebih luas ke media dan dengan demikian lebih peka terhadap fenomena perkotaan dan tren. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur kepada para santri serta para pengasuh pondok pesantren di Surabaya. Peneliti mencoba untuk mengungkapkan berbagai praktik ‘hijau’ leh santri dalam dan di luar pesantren untuk mengetahui cara mereka membangun makna lingkungan. Makalah ini juga membahas cara Ulama / Kyai sebagai pusat pesantren menanggapi isu ‘hijau’ dan sejauh mana mereka memberikan dukungan kepada para santrinya, baik dalam bentuk fatwa (hukum Islam yang dikeluarkan oleh Ulama) atau bentuk lainnya, seperti media atau sarana lain untuk santri untuk mengekspresikan ide-ide ‘hijau’ mereka. Argumen yang akan dikemukakan disini adalah bahwa pesantren perkotaan melakukan ‘upaya hijau’ dan membangun lingkungan berdasarkan peran mereka sebagai santri PDF File

1 3 4 5 6