TUTURAN PEMBANGUN CITRA DIRT POSITIF: KAJIAN BERDASARKAN PENDEKATAN TEORI MAKNA TRIPARTIT

Author: Taufik Nurhadi, S1 – Pendidikan Bahasa Indonesia

Keyword : tuturan, pembangun citra diri, dan citra diri positif
Sumber pengambilan dokumen : Seminar Internasional SETALI 2014, ISBN:978-979-3786-47-6 Program Studi Linguistik SPs UPI bekerjasama dengan Masyarakat Linguistik Indonesia

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh hasil deskripsi dan penjelasan tentang tuturan pembangun citra diri positif. Objek materi kajiannya ialah tuturan yang digunakan oleh motivator. Metode seleksi data digunakan metode simak dengan teknik sadap, teknik SBLC, dan teknik catat. Teknik analisisnya
digunakan metode komparatif konstan dengan teknik pilah unsur penentu,teknik hubung banding menyamakan,teknik hubung banding membedakan, dan teknik hubung banding menyamakan hal pokok Analisis data didasarkan pada teori makna tripartit, yang dimulai dari pendekatan teori makna referensial, teori makna psikologis, dan terakhir teori makna sosial. Konteks dijadikan pertimbangan untuk memahami makna pragmatinya. Hasil yang diperoleh dari pendeskripsian dan penjelasan data ialah ditemukan enam jenis tuturan pembangun citra diri positif. Keenam jenis tuturan itu meliputi (1) tuturan pembangun ambisi berbasis sasaran, (2) tuturan pembangun sikap percaya diri, (3) tuturan pembangun sikap kerja terorganisasi, (4) tuturan pembangun sikap mampu, (5) tuturan pembangun kepribadian menyenangkan, dan (6) tuturan pembangun sikap mampu mengendalikan diri PDF File

MOBILE LEARNING BASED FLASHLITE IN STATISTICS COURSE

Author: Artanti Indrasetianingsih, Permadina Kanah Arieska, S1 – Statistik

Keyword : Flashlite, hypothesis testing, learning outcomes, wilcoxon tes
Sumber pengambilan dokumen : ICCS-13 Vol. 27, Desember 2014 ISBN: 978-969-8858-16-2, 13th Islamic Countries Conference on Statistical Science

The objectives of this research was to create a mobile learning (m-learning) as an alternative of learning in the subjects Statistics. M-learning programs by using mobile devices (mobile phone) will be able to be an exciting learning media, especially for subjects that still abstract and need explanation by simulation. Learning can be done anywhere and anytime. Platform was used to create m-learning applications was FlashLite 3.0. The samples were the students of Mathematics Education of PGRI Adi Buana University that took a Statistics Course at even semester 2013-2014 with a total of 43 students. The difficulties in Statistics Course often exist on Hypothesis Chapter. So this m-learning research discussed the hypothesis testing of the mean and hypothesis testing of two means. Students are given learning to m-learning and learning outcomes tested before and after utilizing m-learning applications. Most of the students stated that the applications could improve the understanding of the subjects and interesting to learn. The result of Wilcoxon test has p-value = 0.000. This shown that the average value of the students before and after using the m-learning was significantly different. It turns out that mobile learning can improve students learning outcomes to be better. pdf file

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DI KELAS X SMA MUHAMMADIYAH 4 SURABAYA

Author: Sunyoto Hadi Prayitno, S1 – Pendidikan Matematika

Keyword : effectiveness, problem-based learning, linier and quadruple equation system
Sumber pengambilan dokumen : Jurnal Penelitian Vol. XXII, Nomor 1, April 2008, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

The present study had its background of the students’ under-achievement in mathematics and lack of the concepts of Linear and Quadruple Equation System. One alternative for mathematics learning that bases itself on the constructvism is the problem-based learning. The study aimed at describing the effectiveness of the Problem-Based-Learning in the Topic of the Linear and Quadruple Equation System at the Tenth Grade of Muhammadiyah 4 Senior-High School in Surabaya. The effectiveness could be shown by the fulfillment of three among the four indicators mentioned below: (1) the students’ effective activities, (2) the teacher’s ability to manage effective learning, (3) the students’ positive responses, (4) the achievement of students’ mastery with the requirement that the fourth indicators is completely fulfilled. The data collection method employed was abservation, questionnaire, and test, whereas the data analysis was the descriptive qualitative and percentage. The results showed that students’ activities were effective, the teacher’s ability in managing the learning was also effective, the students’ responses were positive, and the students’ mastery was achieved. From these results, we can conclude that the psoblem-based-learning is effective to teach the Linear and Quadruple Equation System at the Tenth Grade of Muhammadiyah 4 Senior-High School at Surabaya.pdf file

PROFIL METAKOGNISI MAHASISWA S-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA UNIPA SURABAYA

Author: Liknin Nugraheni, Sri rahayu, S1 – Pendidikan Matematika

Keyword : profil, metakognisi, pemecahan masalah, teori graph
Sumber pengambilan dokumen : Prosiding Seminar Nasional Pendidikan dan Sains Maret 2013, ISBN: 978-602-18397-1-3, Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Universitas Jember

Tujuan utama dari penelitian ini adalah Mendeskripsikan profil metakognisi mahasiswa S-1 Jurusan Pendidikan Matematika UNIPA Surabaya dalam memecahkan masalah matematika khususnya tentang teori graph. Subjek peneiitian ini adalah mahasiswa S-1 jurasan Pendidikan.Matematika UNIPA Surabaya yang sedang Incnempuh mats kuliah matematika disk: it dengan ‘criteria mahasiswa kelompok berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Analisi data dalam penelitian ini meliputi : (1) analisis data Tea hasil Belajar, (2) Analisis Data Tugas Pemecahan Masalah, dan (3) Analisis Data Wawancara.
Proses metakognisi yang dilakukan subjck berkemampuan tinggi dan sedang dalam memahami masalah adalah dapat menerima informasi secara utuh iidak sepotong-sepotong walaupun masih ada pemahaman tentang definisi sikel yang masih kurang, lengkap; sedangkan subjek berkemampuan rendah, menerima informasi dengan cara hanya membaca saja. menunjukkan, ia tidak menyediakan waktu untuk merenungkan apa yang dibaca, sehingga besar kemungkinan ia beluin memahami masalah.
Proses metakognisi yang dilakukan subjek berkemampuan tinggi den sedang dalam mernilih informasi yang diperlukan baik berupa definisi ataupun teorema dengan tepat, sedangkan subjek berkemampuan rendah informasi yang berupa teorema dan detinisi dengan agak tepat. Pemilihan informasi dan perencarman penyelesaian masalah sangat mempengaruhi basil sehingga subjek yang berkemampuan tinggi dan sedang menyelesaikan masalah iebih lengkap daripada subjek yang berkemampuan rendah.
Ketiga subjek znengecek kembali cara penyelesaian mereka baik selama proses penyelesaian maupun basil dari penyelesaian. Kegitan terakhir dari ketiga subjek adalah mengevaluasi rencana dari tindakan mereka, yaitu untuk subjek berkemampuan tinggi dan sedang merasa kurang teliti dalam memahami dan menyelesaikan tugas tersebut, sedangkan subjek berkemampuan rendah merasa kurang teliti dan masih bingung dalam melaksanakan rencana penyelesaian tugas tersebut.pdf file

LANGUAGE POLITENESS STRATEGIES: TO WIN THE OPPORTUNITY FOR WOMEN IN WORKPLACE

Author: Nunung Nurjati, Wahyu Bandjarjani, S1 – Pendidikan Bahasa Inggris

Keyword : language politeness strategies, female professionals, workplace
Sumber pengambilan dokumen : A National Conference By The English Department, Petra Christian University, 29 & 30 Mei 2012

According to Brown (1980) women are more likely than men to use politeness strategies in their speech. Language politeness strategy can express positive effects in interaction. It can also facilitate a more interpersonal communicative intent. Researchers have reported that women are more likely to apologize, soften criticism or express thanks than men. This study examines language politeness strategy employed by women in workplace. Population is 30 female professionals working in multinational offices in Surabaya-Indonesia. Sample is taken purposively consisting of ten respondents. Data are taken using questionnaire to sort out which type of strategies mostly used, discourse completion tasks to describe the kind of speech act use extensively, and interview is conducted to confirm the politeness strategies elaboratively chosen. The collected data are analyzed quantitatively. The resultt shows that the politeness strategies involved are bald on-record, positive , negative and off-record.pdf file

The True Implementation of One (1) Semester Credit System And Its Impact on Students’ Achievement

Author: ferra dian andanty, nukmatus syahria, wahyu bandjarjani, S1 – Pendidikan Bahasa Inggris

Keyword : True Implementation One (1) Semester Credit System, Impact, Students’ Achievement
Sumber pengambilan dokumen : JOLLT Journal of Languages and Language Teaching, Tahun I vol. 1, Mei 2013 ISSN: 2338-0810, Program Pascasarjana IKIP Mataram.

The implementation of Semester Credit System (Ind: Sistem Kredit Semester=SKS) in the education administration in Higher Education has actually been carrying on for almost three and a half decades (starting from around late 1970s). Nevertheless, the true essence of this system has not been fully comprehended and appreciated by the actors of education practices including the lecturers, the stadents, the administration officials, and the policy makers in a Higher Institution including Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. This is shown by the fact that there are extremely very few lecturers who apply rigidly the true meaning of one SKS, which is a measurement value towards learning experience within one semester through scheduled activities per week covering one hour of lecture, or two hours of practicum, or four hours of field work, each of which is complemented by one up to two hours of structured assignment and about one up to two hours of independent learning activities. The inappropriateness of SKS implementation may cause the students’ lack of exercises or practices which eventually results in their unsatisfactory performance and achievement. This paper aims at sharing the report of a study on the topic above conducted in Pronunciation classes of batch 2012. The participants consisted of 20 students chosen randomly. The data were collected from documentation of the scores of their structured assignments, information of students independent learning activities in their weekly journals, the scores of students mid and final semester examination. Based on the descriptive quantitative data analysis, it was proved that the true implementation of one SKS had a good impact on students’ achievement. This was relevant to the assumption that lots of exposures or practices in the course materials at hand he it through structured assignments or relevant independent learning activities, result in students’ high achievement. pdf file

PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FOLKLOR

Author: Rarasaning Satyaningsih, S1 – Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Keyword : pendidikan, karakter, folklor, nilai, implementasi
Sumber pengambilan dokumen : International Conference On World Class Education 2011, Dewan Tunku Cancelor, University of Malaya Kuala Lumpur Malaysia

Pendidikan karakter merupakan pembicaraan hangat dalam dunia pendidikan di Indonesia. Hendaknya pendidikan karakter ditanamkan pada siswa sejak usia dini. Penanaman nilai-nilai karakter pada siswa sebaiknya tidak hanya melalui teori-teori saja, melainkan dapat melalui media folklor. Folklor dapat berupa legenda, pepatah, takhayul, mitos, dongeng maupun sejarah lisan. Pada umumnya folklor merupakan budaya lama yang sudah dikenal secara turun temurun, sehingga dapat diambil nilai-nilai yang baik maupun yang buruk. Melalui media forklor siswa diajak untuk mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupannya, sehingga nilai-nilai yang baik dapat dijadikan surf tauladan sedangkan nilai nilai yang buruk dapat dihindari oleh siswa. pdf file

PERMAINAN TRADISIONAL DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DI INDONESIA ERA GLOBALISASI

Author: Made Ayu Anggreni, S1 – Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini

Keyword : Permainan Tradisional, Pendidikan Anak Usia Dini, Era Globalisasi
Sumber pengambilan dokumen : Proceeding International Conference of All Care For Children on Early Childhood Development,ICACCED 2015, Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya

Mengkaji tentang permainan tradisional dalam pendidikan anak usia dini di Indonesia era globalisasi. Permainan tradisional telah ditinggalkan beralih ke modern menggunakan teknologi/gadget dan anak mulai kehilangan ruang/halaman yang dapat mereka jadikan tempat bermain dengan leluasa dan aman, terlebih bagi anak-anak yang tinggal di perkotaan. Dalam penulisan artikel ini digunakan metode deskriptif melalui studi kepustakaan. Semua pihak baik guru, orang tua, masyarakat ataupun pemerintah sebagai pengambil kebijakan berkepentingan untuk mensosialisasikan dan mengembangkan secara bersama-sama serta mempertahankan kekayaan budaya Indonesia dalam hal permainan tradisional. Kebudayaan Indonesia harus digunakan sebagai dasar mendidik anak jika menghadirkan budaya asing, diseleksi dan yang diterima wajib disesuaikan dengan kebudayaan nasional. Karakteristik permainan tradisional membuat anak dekat dengan alam dan peduli lingkungan, biayanya murah mudah untuk dimainkan serta bagus untuk kesehatan tubuh

Deskripsi Alternatif :

Review about traditional games in early childhood education in Indonesia the era of globalization. Traditional games have been turned to the modern use of technology/gadgets and children begin to lose space/page that can them play freely and safely, especially for children who live in urban areas. In the writing of this article used a descriptive method through the study of librarianship. All the good teachers, parents, community or Goverment as policy makers interested to socialize and develop together as well as maintaining the cultural wealth of Indonesia in terms of traditional games. Culture of Indonesia to be used as the basis of educating the child if presents a foreign culture, selected and received compulsory adapted with national culture. The characteristics of the traditional games make children is close to nature and care about the environment, the cost is cheap is easy to play and good for the health of the bodypdf file pdf file

INDONESIAN COLLEGE STUDENTS’ PERCEPTIONS OF ENGLISH-WRITTEN JOKE-TEXTS

Author: Dyah Rochmawati, S1 – Pendidikan Bahasa Inggris

 

Keyword : Indonesian college students, humor perception, English-written joke texts
Sumber pengambilan dokumen : Connet, Nopember 2014, ISBN: 978-602-8474-29-0, Conference on English Studies Center for Studies on Language and Culture – Atma Jaya Catholic University of Indonesia

The article examines Indonesian college students’ perception of how they understand the funny parts of English-written joke-texts. Understanding English-written jokes will be a problem for EFL learners in Indonesia. The present study attempted to assess the self-perceived level of the students’ competence at performing English skills needed to understand the jokes. It employed a qualitative research method from the phenomenological perspective. It used data obtained from 95 second-year Indonesian university students through questionnaires and semi-structured interviews. The results of the study show that the students tended to perceive the English jokes to be difficult. They lacked of linguistic knowledge, cultural literacy and general world knowledge for the humor perception. This paper concludes with the discussion of implications for the humor processing from the cognitive point of view of the students. This will benefit EFL teachers in Indonesia in guiding their students in underlining the humorous chunks of the texts they are presented with PDF File

 

SASTRA LISAN TEMBANG KENDANG KEMPUL SEBAGAI IDENTITAS DAN RIVALITAS BUDAYA

Author: Sunu Catur Budiono, S1 – Pendidikan Bahasa Indonesia

Keyword : SASTRA LISAN TEMBANG KENDANG KEMPUL SEBAGAI IDENTITAS DAN RIVALITAS BUDAYA
Sumber pengambilan dokumen : Bahasa, Sastra dan Budaya Austronesia ditengah era global dan dinamika multikultural
Penerbit: Program Magister dan Doktor Linguistik, Program Magister dan Doktor Kajian Budaya, Program Pascasarjana Universitas Udayana

Pendahuluan
Salah satu persoalan budaya yang penting dalam era global sekarang adalah masalah identitas. Identitas bagi warga suatu etnis identik dengan eksistensi dari etnik itu sendiri (Barth, 1988:19: Manuati, 2004; Susanto, 2003:8). Melatui identitas ini Pula suatu etnis tertentu mengkomunikasikan “dirinya” dengan warga etnis lain. Sumber penting dari identitas seperti nasionalitas, etnisitas, seksualitas (homosek, heterosek, bisek), gender, bahasa, budaya, dan seni. Walaupun pada dasarnya individulah yang memiliki identitas, tetapi identitas selalu dilihat sebagai kelompok sosial dimana individu termasuk di dalamnya. Meskipun hal ini tidaklah sepenuhnya tepat antara bagaimana seseorang memandang dirinya dan bagaimana orang lain memandangnya. Identitas personal mungkir berbeda dengan identitas sosial.
Konsep identitas berkaitan erat dengan gagasan budaya. Identitas dapat dibentuk melatui budaya dan subbudaya di mana masyarakat berada atau berpartisipasi (Manuati, 2004:25). Kendhang Kempul merupakan salah satu karya budaya yang mampu menjadi identitas bagi kelompok etnis pendukungnya. Dalam hal ini kendhang kempul dipandang sebagai sign, tanda budaya (KledenProbonegoro, 2003: 40; Bergei-,1984: 95). Untuk memahami kendang kempul dari sudut pandang semiotik yang penting adalah pemahaman sebagai bagian semiosis. Dalam signifikansi ini yang menjadi penting adalah interpretan. Interpretan hams mencakup tiga kategori semiotik yakni: (1) merupakan makna suatu tanda yang dilihat sebagai suatu satuan budaya yang diwujudkan juga, melalui tanda-tanda yang lain yang tidak bergantung pada tanda-tanda pertama, (2) merupakan analisis komponen yang membagi-bagi suatu satuan budaya menjadi komponen-komponen berdasarkan maknanya, dan (3) setiap satuan yang membentuk makna satuan budaya itu dapat menjadi satuan budaya sendiri yang diwakili oleh tanda lain yang juga dapat mengalami analisis komponen sendiri dan menjadi bagian .dari sistem tanda yang lain (Hoed, 2000:309-310) Dengan demikian, proses penafsiran makna suatu tanda budaya sebaaai representasi identitas menjadi penting.

PDF File

1 2 3 4 5 6