PEMETAAN KERUSAKAN HUTAN MANGROVE KAWASAN PESISIR DESA KRAMAT KECAMATAN BUNGAH KABUPATEN GRESIK


PROSIDING || Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan Melalui Pengelolaan Administrasi Pertanahan Yang Baik
Volume 2 || Edisi 1 || 19 November 2015 || ISSN: 2406-9051
Penerbit : Forum Ilmiah Tahunan Ikatan Surveyor Indonesia Malang

Penulis 1: A.A. Sagung Alit W
Penulis 2: Rhenny Ratnawati
Penulis 3: Prasetyo Aji Siswanto

PDF VERSI CETAK/ASLI

ABSTRAK

Kabupaten Gresik merupakan kabupaten yang sebagian utara wilayahnya adalah kawasan pesisir. Aktivitas pendukung transportasi air berupa pelabuhan internasional maupun indutri berat dan ringan terkonsentrasi di kawasan pesisir kabupaten Gresik.

Tingginya tingkat aktivitas sangat melebihi kapasitas daya dukung sehingga menyebabkan pemanfaatan ruang yang tidak sesuai. Hal ini sudah terpapar dan dijelaskan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Gresik tahun 2009-2029. Aktivitas yang sebagian besar terkonsentrasi di kawasan pesisir memberikan kontribusi yang cukup besar pada kerusakan hutan mangrove. Data di Badan Lingkungan Hidup mencatat adanya kerusakan hutan mangrove dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2014 sangat signifikan, dan menurunnya hasil tangkapan ikan laut yang banyak dikeluhkan oleh para nelayan. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan pemetaan kerusakan hutan mangrove di desa Kramat Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik berdasarkan tingkat kerusakannya dan juga keragaman jenis jenis mengrove yang masih ada. Metodologi Deskripsi Kualitatif dengan alat analisis SWOT dan STEEP digunakan untuk arahan konservasi pengembangan hutan mangrove. System overlay dengan alat ArGIS digunakan untuk pemetaan tingkat kerusakan dan juga jenis – jenis pohon mangrove.  Hasil Analisis didapatkan tingkat kerusakan hutan Mangrove dari tahun 2010 – 2014 sebesar 51% yang sebagian besar disebabkan oleh aktivitas pembukaan lahan tambak oleh masyarakat. Hasil pemetaan jenis tanaman Mangrove tercatat terdiri dari 2 jenis yaitu Rhizophora Apiculate dan Avicenia Alba yang banyak tersebar di pematang tambak – tambak masyarakat dan juga tepian perbatasan tambak dengan pantai. Permasalahan yang ada untuk Kawasan pesisir yang berbatasan langsung dengan laut, jenis pohon mangrovenya sudah tidak bisa dipetakkan lagi, karena sudah tercampur menjadi satu dengan lebar 2  – 3 meter dari bibir pantai.

Kata kunci: kerusakan Mangrove, konservasi, pelestarian, jenis jenis mangrove

ABSTRACT
Gresik is the most northern district territory is the coastal region. Water transportation support activities such as international ports as well as heavy and light industries are concentrated in coastal areas Gresik. The high level of activity greatly exceeds carrying capacity, causing improper utilization of space. It has been exposed and explained in the Spatial Plan Gresik years 2009-2029. Activities were largely concentrated in coastal areas provide a substantial contribution to the destruction of mangrove forests. Data on the Environment Agency noted the destruction of mangrove forests from 2010 to 2014 was very significant, and the decline in marine fish catches are many complaints by fishermen. The aim of this study is to map the destruction of mangrove forests in the village Kramat subdistrict Bungah Gresik based on the level of damage and also the diversity of the types of mengrove extant. Methodology Qualitative description with SWOT and STEEP analysis tools used for the development of mangrove forest conservation directives. System overlay with ARGIS tool used for mapping the extent of damage and also the type – the type of mangrove trees. The analysis results obtained Mangrove forest damage level of the year 2010 – 2014 by 51%, mostly due to the clearing of the pond by the community, the activity of heavy industry and small-scale domestic industry. The mapping of mangrove plant species that exist in the village of Kramat recorded consists of two types, namely Rhizophora Apiculate and Avicenia Alba are widely spread in the pond dike – pond edges of society and also borders the pond with beach. The problems that exist for the coastal area immediately adjacent to the sea, mangrove tree species no longer can be mapping, Because it is mixed together with a width of 2 – 3 meters from the beach.

Keywords: Mangrove destruction, conservation, preservation, types of mangrove species

PENDAHULUAN

Perda RT RW Kabupaten Gresik 2009-2019. Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil terdapat Rencana Sub Kawasan Konservasi Mangrove seluas 2.877,11 Ha, yang tersebar pada daerah Sempadan Pantai dari arah Pantai Mangare (Kecamatan Bungah) – Kecamatan Ujungpangkah – Kecamatan Panceng yang masih ditumbuhi dan ditemukan sebaran Mangrove serta keberadaan Pulau Timbul yang juga masih terdapat mangrove. Berdasarkan RTRW Kabupaten Gresik 2010-2030 menyatakan perlunya pelestarian ekosistem hutan bakau sehingga terjadi mekanisme hubungan antara ekosistem bakau dengan jenis-jenis ekosistem lainnya seperti padang lamun dan terumbu karang. Kawasan pesisir berhutan bakau/mangrove di kabupaten Gresik seluas kurang lebih 5.828,628 Ha yang meliputi Kecamatan Manyar, Bungah, Sidayu, Ujungpangkah, Sangkapura dan kecamatan tambak. Kerusakan umumnya diakibatkan minimnya pengetahuan masyarakat. Berdasarkan Kementrian Lingkungan Hidup, sampai dengan tahun 2011 Kerusakan mangrove di pesisir Gresik terjadi di delapan kecamatan, terutama di Kecamatan Bungah dan Kec. Ujungpangkah terjadi kerusakan mangrove sekitar

20,75 Ha dari luas pesisir berhutan bakau/mangrove kabupaten Gresik seluas kurang lebih 5.828,628 Ha. Kerusakan itu antara lain di pesisir pantai Desa Sidomukti, Kecamatan Manyar, dan kawasan Pulau Mengare, Kecamatan Bungah seluas 0,04 % dari luas hutan bakau/mangrove di kawasan pesisir kabupaten Gresik.

Kecamatan Bungah adalah salah satu kecamatan yang ada di kabupaten Gresik. Kecamatan Bungah memiliki kekayaan jenis mangrove yang lebih bervariasi dibandingkan dengan kecamatankecamatan kawasan pesisir lain di kabupaten Gresik. Pulau Mengare merupakan kawasan yang berada di Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik yang menyangkup 3 desa yaitu Desa Watugajah,Desa Tanjungwidoro dan Desa Kramat. Pulau Mengare merupakan penyokong perokonomian Kabupaten Gresik dengan budidaya bandeng dan hasil tangkapan ikan laut.

Masyarakat Pulau Mengare memanfaatkan area pesisir sebagai memenuhi kebutuhan hidupnya, agar pemanfaatan sumber daya wilayah pesisir dapat optimal dengan resiko kerusakan lingkungan yang seminimal mungkin, maka diperlukan pengelolaan pesisir yang terpadu (Dahuri, 2004). Minimnya pemahaman masyarakat mengenai pengolahan pesisir dan hutan mangrove berdampak pada penurunan areal Mangrove. Kerusakan hutan mangrove diakibatkan oleh kegiatan masyarakat pulau Mengare yang pemanfaatan ruangnya tidak sesuai atau melebihi kapasitas daya dukungnya yang disebabkan oleh pemanfaatan laham pertambakan seluas 810 Ha dari luas Desa Kramat dan Desa TanjungWidoro, beberapa pelabuhan perikanan di sepanjang 2,3 Km² garis pantai pulau Mengare yang memberi kontribusi terbesar dalam kerusakan hutan mangrove terdapat di Desa Kramat dan Desa Tanjungwidoro. Aktivitas tersebut menyebabkan terjadinya abrasi pantai, berkurangnya habitat pembenian ikan laut yang menyebabkan penurunan hasil tangkapan ikan nelayan masyarakat setempak, sehingga perlu adanya pemetaan kawasan kerusakan hutan mangrove sebagai dasar membuat arahan pengembangan yang diharapkan mampu mengurangi terjadinya perluasan kerusakan hutan mangrove.

TINJAUAN PUSTAKA

Hutan mangrove merupakan bentuk ekosistem yang unik, karena pada kawasan ini terpadu empat unsur biologis penting yang fundamental, yaitu daratan, air, vegetasi dan satwa. Hutan mangrove ini memiliki ciri ekologis yang khas yaitu dapat hidup dalam air dengan salinitas tinggi dan biasanya terdapat sepanjang daerah pasang surut (Dephut, 1992). Noor et al., (1999) memberikan batasan hutan mangrove sebagai hutan yang tumbuh pada tanah alluvial di daerah pantai dan sekitar muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut serta ciri dari hutan ini terdiri dari tegakan pohon Avicennia, Sonneratia, Aegiceras, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Lumnitzera, Excoecaria, Xylocarpus, Scyphyphora dan Nypa. Flora mangrove terdiri atas pohon, epipit, liana, alga, bakteri dan fungi. Telah diketahui lebih dari 20 famili flora mangrove dunia yang terdiri dari 30 genus dan lebih kurang 80 spesies. Berdasarkan jenis-jenis tumbuhan yang ditemukan di hutan mangrove Indonesia memiliki sekitar 89 jenis, yang terdiri atas 35 jenis pohon, 5 jenis terna, 9 jenis perdu, 9 jenis liana, 29 jenis epifit dan 2 jenis parasit.

Menurut Sinambela (2014:94). Populasi adalah obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari, dan kemudian ditarik kesimpulan. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga benda – benda alam yang lain. Populasi juga buka sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek itu. Seluruh kawasan hutan mangrove di sepanjang pesisir Desa Kramat dan Desa TanjungWidoro yang menjadi objek penelitian

METODE PENELITIAN

Variabel Metode Pengumpulan Data Metode Analisis Data
Kondisi Kerusakan Hutan Mangrove Survei Primer ( Observasi, Dokumentasi dan Wawancara ) dan Survei Sekunder ( Literatur RTRW dan BLH Kabupaten Gresik ) Overlay dengan ArcGis
Jenis – Jenis Mangrove Survei Primer ( Observasi, dan Dokumentasi) dan Survei Sekunder      ( Literatur Jenis Tanaman Mangrove ) Overlay dengan ArcGis
Arahan Strategi Penanggulangan Kerusakan Kondisi Kerusakan Hutan Mangrove dan Jenis – Jenis Mangrove SWOT dan STEEP

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif kualitatif dengan melakukan pengamatan secara langsung. Penelitian ini akan mengeksplorasi, mengklarifikasi dan 3 mendeskripsikan karakteristik mengenai suatu fenomena kerusakan hutan mangrove dengan menggambarkan sejumlah variabel yang berhubungan dengan masalah dan variabel yang diamati. Teknik pengumpulan data mengunakan kuisioner , obsevasi dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis Argis, SWOT dan STEEP. Matrik kegiatan pengumpulan data dan analisis tercantum pada tabel 1.

Tabel 1 . Matrik Kegiatan Pengumpulan Data dan Analisis

Sumber : Analisi 2015

HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian ini menggunakan beberapa Variabel yang sudah ditentukan pada ruang lingkup materi sehingga menghasilkan beberapa ulasan sebagai berikut :

  1. Analisis Pemetaan Kerusakan Hutan Mangrove Kawasan Pesisir Pulau Mengare berdasarakan kerusakan

Berdasarkan analisis pemetaan, pada tahun 2010 kawasan pesisir Pulau Mengare memiliki panjang pantai 5.884 meter dan luas tanaman mangrove sepanjang garis pantai seluas 9,90 Ha, tanaman mangrove dalam kondisi baik 78 % dari total luas tanaman mangrove kawasan pesisir Pulau Mengare dan tanaman mangrove dalam kondisi rusak 22 % dari total luas tanaman mangrove kawasan pesisir Pulau Mengare. Pada tahun 2014 kawasan pesisir Pulau Mengare luas tanaman mangrove dipesisir Pulau Mengare seluas 4.30 Ha. Tanaman mangrove dalam kondisi baik 49 % dari total luas tanaman mangrove kawasan pesisir Pulau Mangrove dan tanaman mangrove dalam kondisi rusak 51 % dari total luas tanaman mangrove kawasan pesisir Pulau Mangrove. Kerusakan hutan mangrove di pantai Pulau Mengare di jabarkan pada tabel 2.

Tabel 2 . Kerusakan Hutan Mangrove Sepanjang Garis Pantai  Di Pulau Mengare
No Tahun Luas (Ha) Hutan Mangrove Sepanjang Pantai (Meter) Kondisi Baik (%) Sepanjang Garis Pantai (Meter) Kondisi Rusak (%) Sepanjang Garis Pantai (Meter)
1 2010 9.90 5884 78 4180 22 1704
2 2011 7.10 5884 68 3659 28 2225
3 2012 6.56 5884 62 2490 33 3344
4 2013 5.15 5884 58 1097 42 4790
5 2014 4.30 5884 49 795 51 5089

Sumber : Analisis tahun 2015

Berdasakan hasil pemetaan, pada 5 tahun terakhir hutan mangrove kawasan pesisir Pulau Mengare Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik seluas 4.30 Ha mengalami kerusakan sebesar 51 % dari total luas mangrove pesisir Pulau Mengare, sedangkan kondisi hutan mangrove dalam kondisi baik sebesar 49 % dari total luas mangrove pesisir Pulau Mengare. Untuk lebih jelasnya lihat pada gambar peta 1, gambar peta 2, gambar peta 3, gambar peta 4 dan gambar peta 5 yang menggambarkan tentang perbuabahan – perubahan luasan hutan Mangrove dibawah ini :

Gambar 1. Peta sebaran hutan Mangrove tahun 2010
Gambar 3. Peta sebaran hutan Mangrove tahun 2012
Gambar 6. Peta Sebaran Jenis tanaman Mangrove tahun 2015
  1. Analisis Jenis Tanaman Mangrove

Berdasarkan data sekunder dan hasil pemetaan zonasi jenis tanaman mangrove, jenis tanaman mangrove dan zonasi tanaman mangrove Pulau Mengare memiliki 6 jenis yaitu : 1. Rhizophora mucronate, 2. Rhizophora apiculate, 3. Avicenia alba, 4. Cariops tagal, 5. Bruguira cylindrica, 6. Bruguira gymnorrhiza. Berdasarkan hasil Observasi dan pemetaan jenis tanaman mangrove, zonasi tanaman mangrove Pulau Mengare mengalami kerusakan sangat parah hingga zonasi tanaman mangrove tercampur bahkan zonasi tanaman mangrove sepanjang garis pantai tidak bisa dipetakan. Jenis tanaman

mangrove yang bisa dipetakan hanya di area tambak, jenis tanaman mangrove di area tambak sebagai berikut : Avicenia alba dan Rhizophora apiculate yang dapat dipetakan. Hal ini lebih jelaskan pada gambar peta 6 .

  1. Analisis SWOT dan STEEP
  2. Analisis SWOT

kuadran III dengan Turn Around Strategy, kondisi ini tidak menguntungkan karena terdapat berbagai kelemahan dari dalam yang menghambat, akan tetapi ada peluang dari luar yang positif untuk arahan pengembangan hutan mangrove. Untuk jelasnya stragegi yang dapat dilakukan bisa dilihat pada tabel 3 berikut :

 

Tabel 3. Matrik analisis SWOT

  STRENGTH

1.   Kegiatan penelitian mangrove semakin berkembang

2.  Pembenihan ikan laut

3.  Jenis ikan laut bervariasi

4.  Manfaat buah mangrove

5.  Meningkatkan perekonomian

6.  Jenis mangrove bervariasi

WEAKNESS

1.     Banyaknya Limbah Tambak

2.     Fasilitas nelayan belum menggunakan teknologi

3.     Limbah sampah

4.     Pelebaran Tambak

5.     Tingkat Pendidikan Masyarakat

6.     Aktivitas Masyarakat Tambak

OPPORTUNITY

1.     Kerjasama pengembangan potensi mangrove

2.     Kawasan pariwisata

3.     Pembenihan biota laut

4.     Produksi pemanfaatan buah mangrove

5.    Peningkatan pendapatan masyarakat

SO

Membentuk hutan lindung Mangrove di kawasan pesisir pulau Mengare guna menjaga kelestarian jenis – jenis tanaman mangrove bermanfaat sebagai peningkatan perekonomian masyarakat pulau MEngare

WO

Pelatihan kepada masyarakat memanfaatkan potensi tanaman mangrove

TREATH

1.     Abrasi

2.     Berkurangnya produksi Ikan

3.     Investor pengembangan industry baru

4.     Pelabuhan industry

 

ST

Pemberdayaan masyarakat memanfaatkan tanaman mangrove serta menjaga kelestarian hutan mangrove guna peningkatan perekonomian masyarakat pulau Mengare

WT

Sosialisasi kepada masyarakat tentang manfaat tanaman mangrove dan pengelolaan limbah sampah

Sumber : hasil analisis tahun 2015
  1. Analisis STEEP

Faktor yang terdapat dalam analisis STEEP, hasil identifikasi terhadap masing-masing factor STEEP dikombinasikan dengan hasil dari analisis SWOT. Secara detail analisis STEEP dikombinasi

dengan SWOT sebagai tabel 4 berikut ini :

Tabel 4. Analisis STEEP
  Strenght Weakness Opportunity Treath
Social Pemberdayaan masyarakat dan pelatihan tentang memanfaatkan potensi hutan mangrove dan menjaga kelestaruan tanaman mangrove ·    Kurangnya pengetahuan terhadap tanaman mangrove

·    Kurangnya keperdulian masyarakat terhadap tanaman mangrove

·     Meningkatkan sumber pendapatn masyarakat

·     KErjasama pemerintah dengan masyarakat

·  Aktivitas masyarakat

·  Aktivitas pelabuhan

·  Pengembangan kawasan konservasi hutan mangrove

Technological Memanfaatkan teknologi guna mengembangkan potensi yang ada Fasilitas nelayan yang tidak ramah lingkungan Memanfaatkan teknologi guna memaksimalkan potensi yang ada Penggunaan teknologi berlebih
Economic Potensi hutan Mangrove meningkatkan pendapatan masyarakat ·    Aktivitas masyarakat

·    Tingkat pendidikan

·    Tingkat pengetahuan

Menciptakan peluang guna meningkatkan perekonomian masyarakat dan PAD Kurangnya perhatian pemerintah
Enviroment ·   Ekologi biota laut bervariasi

·   Manfaat tanaman mangrove

·    Tidak dapat diperbarui

·    Rentang terhadap perubahan yang terjadi

·     Pelestarian tanaman mangrove berdasarkan jenis mangrove

·     Hutan lindung mangrove

·  Ombak / tsunami

·  Angina

·  Limbah sampah

Political Kebijakan pemerintah tentang rencana kawasan konservasi mangrove ·    Tumpang tindih kebijakan

·    Kurangnya dukungan pemerintah

·    pengawasan

Pemerintah dan masyarakat bersama – sama mendukung pengelolaan mangrove guna meningakatkan kesejahteraan masyarakat dan masukan bagi PAD · Penguasa Tanah

· Pengembangan kawasan pesisir

Sumber : Analisis tahun 2015

Berdasarkan hasil analisis STEEP menghasilkan strategi – strategi pengembangan yaitu :

  1. Sosial
  2. Sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya kerusakan hutan mangrove guna meningkatkan pengetahuan dan keperdulian masyarakat Pulau Mengare pentingnya menjaga dan melestarikan hutan mangrove.
  3. Pemberdayaan masyarakat memaksimalkan potensi hutan mangrove guna meningkatkan Sumber pendapatan masyarakat
  4. Teknologi
  5. Pembatasan penggunaan teknologi berlebihan yang berdampak pemcemaran kawasan hutan mangrove
  6. Pemanfaatan teknologi terhadap potensi yang ada guna mendukung pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan sumber penadatan masyarakat
  1. Ekonomi

Pelatihan masyarakat mengoptimalkan potensi hutan mangrove guna meningkatkan perekonomian masyarakat dan perekonomian daerah

  1. Ekologi
  2. Sosialisasi kepada masyarakat tentang memanfaatkan limbah sampah dan membentuk system pengelolahan limbah sampah untuk menjaga kelestarian tanaman mangrove
  3. Menbentuk hutan lindung mangrove guna menjaga hutan mangrove dan jenis tanaman mangrove supaya ekologi biota laut tetap bervariasi.
  4. Politik

Penetapan kebijakan pemerintah terhadap  Kawasan hutan mangrove menjadi kawasan hutan lindung mangrove guna menjaga kelestarian habitat hutan mangrove

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Kesimpulan

Dari hasil pembahasan pada tujuan penelitian Studi kasus kerusakan hutan mangrove pesisir Pulau Mengare Kecamatan Bungah Kabpaten Gresik, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Berdasarkan hasil analisis pemetaan kondisi hutan mangrove berdasarkan kerusakan, hutan

mangrove kawasan pesisir Pulau Mengare mengalami kerusakan dari tahun 2010-2014 sebesar 51% yang diakibatkan aktivitas masyarakat, alih fungsi tanaman mangrove, aktivitas pertambakan dan limbah sampah yang menyebabkan abrasi di kawasan tambak maupun hutan mangrove sepanjang 5089 meter sepanjang garis pantai Pulau Mengare, kondisi hutan mangrove dalam kondisi baik tinggal 49 % sepanjang 795 meter sepanjang garis pantai.

  1. Pulau Mengare memiliki 6 jenis tanaman mangrove namun pada perkem-bangannya, jenis

tanaman mangrove Pulau Mengare mengalami kerusakan yang sangat parah sehingga pada garis pantai, jenis mangrove mengalami pencampuran sehingga tidak bisa dipetakan lagi. Jenis tanaman mangrove yang masih bisa dipetakan hanya 2 jenis tanaman mangrove terdiri dari Rhizophora Apiculate dan Avicenia Alba.

  1. Arahan rekomendasi pengembangan hutan mangrove di kawasan pesisir Pulau Mengare dapat diterapkan stategi yaitu :
    1. Masyarakat melakukan penanaman berdasarkan potensi yang ada,
    2. Membentuk kawasan hutan lindung mangrove,
    3. Meningkatkan peran masyarakat dan lebih memberdayakan masyarakat,
    4. Sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya kerusakan hutan mangrove,
    5. Pengunaan teknologi dalam pengembangan mangrove, dan
    6. masyarakat dilibatkan dalam setiap pengambilan kebijakan tentang ma
    7. Mangrove serta peningkatan peran pemerintah.

Saran

  1. Perlunya dilakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang manfaat tanaman mangrove dan bahaya kerusakan hutan mangrove.
  2. Perlunya dilakukan penelitian lanjutan terkait manfaat tanaman mangrove guna menigkatkan perekonian masyarakat Pulau Mengare Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik.

Rekomendasi

Pemerintah harus segera melakukankan perananya dalam memberikan penyuluhan atau

sosialisasi kepada masyarakat Mengare tentang manfaat tanaman mangrove dan bahayanya kerusakanhutan mangrove penetapan perda dan RTRW Kabupaten Gresik

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terimakasih kepada BLH Kab. Gresik dan Dinas Perhutanan Kab. Gresik atas bantuannya memberikan Data yang dibutuhkan dalam penelitian dan tidak lupa  Penulis mengucapkan terimakasih kepada DIKTI (SIMLITABMAS) atas dukungan dana yang diberikan untuk keberhasilan penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku

Kordi,. Ghufran. 2012.Ekosistem Mangrove. Rineka Cipta: Surabaya

Rudianto.2014.Analisis Restorasi Ekosistem Wilayah Pesisir Terpadu Berbasis Co-Management:.Studi Kasus di Kecamatan Ujung Pangkah dan Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik VOLUME 01 NO. 01

Sinambela, Lijan Poltak. 2014. Metodologi Penelitian Kuantitatif .Graha Ilmu: Surabaya

Zaitunah, Anita. 2002.Kajian Keberadaan Hutan Mangrove: Peran, Dampak Kerusakan Dan Usaha Konservasi

Sumber internet

www.Perda RTRW Kabupaten Gresik 2009-2019.com

www.perda RTRW Kabupaten Gresik 2010-2030.com

www.BLH Kabupaten Gresik.com

http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-16124-chapter1.pdf

http://download.portalgaruda.org/article.php?

article=23330&val=1392

http://eprints.undip.ac.id/22753/2/369-ki- fpik-06-a.pdf

http://fpk.unair.ac.id/backup/administrator/components/com_jresearch/files/publications/2_Jurnal%20FPK_Pemetaan%20Distribusi%20Ekosistem.pdf

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22046/4/Chapter%20II.pdf

http://salmanisaleh.files.wordpress.com/2013/03/1_dampak-lingkungan-akibat-kegiatan-Manusia.pdf

http://suharno048biologi.blogspot.com

www.coremap.or.id/downloads/1909.pdf

www.freewebs.com/irwantomangrove/mangrove_rusak.pdf