COOPERATIVE LEARNING WITH MURDER STRATEGY FOR LEARNING ABOUT CONE AT THE NINTH GRADE


ICETA 6 || International Conference on Educational Technology of Adi Buana
9 Mei 2015 || ISBN: 978-979-3870-55-7
Penerbit : Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Penulis  : Hanim Faizah

PDF

Abstact

This research aimed to produce the good quality of learning equipment for topic cones, to know the effectiveness of learning in topic cones with cooperative learning model by using MURDER strategy in the ninth grade, to know the difference of result study betwen students of grade nine who follow the mathematics learning by using MURDER strategy and the student who follow the conventional mathematics learning in topic cones. This research was conducted in two stages, namely the first stage that is preparation which aimed to develop learning equipment that follow developing model by Plomp (1997), then it was continued with implementation stage that use pretest-posttest design.

The results of the research were Lesson Plan, Worksheet, and evaluation test which are developed in this research was already validated and obtained the result in good criteria, meanwhile each of question which is compile has already fulfilled the criteria valid, reliable, and sensitive. To know the effectiveness of cooperative learning with MURDER strategy then conducted implementation for learning equipment that has already compiled in SMPN 3 Candi Sidoarjo and the score of effectiveness was include in very good criteria. Learning result of the students in the experiment class was better than in the control class.

Keywords: Cooperative learning model, MURDER strategy, cones

 

PENDAHULUAN

Nuh (dalam Kompas, 2012) menyatakan bahwa nilai matematika dalam ujian nasional masih cukup rendah, bahkan sebagian besar yang gagal adalah pada mata pelajaran matematika. Hal ini dapat disebabkan karena sebagian besar siswa menganggap matematika adalah mata pelajaran yang sulit untuk dipahami karena banyaknya rumus-rumus yang harus dihafalkan. Siswa juga merasa kesulitan untuk menerapkan konsep-konsep yang telah mereka miliki dan pelajari pada masalah yang diberikan. Akibatnya ketika dilaksanakan evaluasi, nilai yang diperoleh kurang memuaskan.

Soedjadi (1999) menyarankan agar dalam pembelajaran matematika, sebaiknya guru memilih strategi pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa. Strategi tersebut bertumpu pada dua hal, yaitu optimalisasi interaksi antarelemen pembelajaran dan optimalisasi keikutsertaan panca indera, emosi, karya, dan nalar siswa. Slavin (1994) mengemukakan prinsip utama belajar aktif, yaitu adanya keterlibatan mental-intelektual dan emosi siswa dalam setiap proses belajar yang sesuai dengan pandangan teori pembelajaran kognitif. Dalam pelaksanaannya pembelajaran aktif adalah pembelajaran yang menekankan hasil belajar yang akan diperoleh, sekaligus menekankan pada proses pembelajarannya.

Model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dan sesuai dengan tujuan untuk melakukan perubahan agar siswa dapat mengkonstruk sendiri pengetahuannya adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah suatu pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama, yakni kerjasama antarsiswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran (Johnson & Johnson dalam Jaelani, 2006: 4). Dalam pembelajaran kooperatif ini, siswa dapat dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang heterogen dan diarahkan untuk mempelajari materi yang telah ditentukan.

Untuk mengarahkan pembelajaran yang efektif dan efisien, pembelajaran kooperatif dengan strategi MURDER sangat tepat untuk digunakan. Strategi MURDER merupakan singkatan dari kata: Mood (Suasana Hati), Understand (Pemahaman), Recall (Pengulangan), Digest (Penelaahan), Expand (Pengembangan), Review (Pelajari Kembali) (Hayes,1981:721).

Materi Kerucut merupakan sub materi dari Materi Bangun Ruang Sisi Lengkung yang diajarkan pada kelas IX SMP di semester gasal. Materi kerucut ini erat kaitannya dengan lingkungan siswa sehari-hari karena banyak ditemukan bangun yang berbentuk kerucut di lingkungan siswa, seperti cone es krim, nasi tumpeng, topi petani, dan lain-lain.

Dalam melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) diperlukan perangkat pembelajaran. Tersedianya perangkat pembelajaran yang baik merupakan salah satu faktor yang menunjang kegiatan pembelajaran yang baik. Yang selanjutnya dapat meningkatkan hasil belajar yang baik pula. Hal ini dikarenakan tersedianya perangkat pembelajaran dapat membantu guru dalam mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas. Oleh karena itu peneliti berpendapat bahwa menyusun perangkat pembelajaran yang baik penting untuk dilakukan sebelum melakukan KBM, serta untuk mempersiapkan KBM yang efektif dan efisien.

 

METODE

Jenis Penelitian

Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian eksperimen dengan menggunakan pendekatan kuantitatif yang diawali dengan pengembangan perangkat pembelajaran. Penelitian pengembangan perangkat pembelajaran yang dimaksud adalah penelitian yang dilakukan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran yang meliputi RPP, LKS, Kuis, dan THB.

 

Lokasi dan Subjek Penelitian

Lokasi yang dipilih pada penelitian ini adalah SMPN 6 Sidoarjo sebagai kelas uji coba perangkat pembelajaran dan SMPN 3 Candi Sidoarjo untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol. Untuk pengambilan sampel, teknik sampling yang digunakan adalah cluster random sampling. Teknik ini digunakan karena sampel yang diambil berupa kelas-kelas yang berisi beberapa siswa dan kelas-kelas di SMP memiliki kemampuan yang sama.

 

Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, angket dan tes hasil belajar.

 

Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dan analisis statistik inferensial dengan metode ANAKOVA.

 

Prosedur Penelitian

Secara garis besar, langkah-langkah dalam penelitian ini meliputi kegiatan sebagai berikut: (1) pengembangan perangkat pembelajaran yang akan digunakan di kelas implementasi menggunakan model pengembangan perangkat yang dikembangkan oleh Plomp, (2) dilaksanakan implementasi perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan, (3) membandingkan hasil belajar di kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional dengan hasil belajar di kelas eksperimen (kelas implementasi) yang menggunakan pembelajaran kooperatif dengan strategi MURDER.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Pengembangan Perangkat dan Instrumen Pembelajaran

Pengembangan perangkat pembelajaran yang dilakukan pada penelitian ini sesuai dengan teori yang dikembangkan oleh Plomp, yang terdiri dari 5 fase, yaitu (1) fase investigasi awal, (2) fase desain, (3) fase realisasi, (4) fase tes, evaluasi, dan revisi, dan (5) fase implementasi. Pada masing-masing fase tersebut diperoleh data-data yang nantinya diperlukan untuk menyusun perangkat pembelajaran yang baik. Perangkat pembelajaran dikatakan baik apabila memenuhi kriteria: valid, praktis dan efektif. Sedangkan yang dikembangkan pada penelitian ini adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dilengkapi dengan Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk membantu guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan langkah-langkah yang ada pada RPP dengan model kooperatif dan strategi MURDER, dan disusun pula Tes Hasil Belajar (THB) untuk mengetahui ketercapaian indikator dalam RPP.

  1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dikembangkan dalam penelitian ini menggunakan model koooperatif dengan strategi MURDER (Mood, Understand, Recall, Digest, Expand, Review) pada Kerucut di kelas IX. Langkah-langkah dalam pembelajaran, dalam RPP ini disesuaikan dengan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif dan strategi MURDER, diadaptasi dari Dansereau (dalam Hayes, 1981: 721). Peneliti menyusun dua RPP yang terdiri dari 2 Kompetensi Dasar (KD), yaitu mengidentifikasi unsur-unsur kerucut dan Menentukan luas dan volume kerucut. Nantinya kedua RPP tersebut dilakasanakan dalam 3 kali pertemuan

Sebelum dilakukan uji coba, RPP yang telah disusun divalidasikan kepada validator yang merupakan seseorang ahli dan praktisi di bidang pendidikan matematika. Hasil validasi telah disajikan pada bab IV pada tabel 4.4 dan 4.6, diperoleh nilai rata-rata penilain untuk masing-masing RPP adalah 4,742 untuk RPP 1 dan 4,766 untuk RPP 2. setelah dirata-rata penilaian dari keempat validator diperoleh kesimpulan bahwa RPP yang disusun dapat digunakan dengan revisi kecil. Dari hasil validasi tersebut peneliti kemudian melakukan revisi terhadap RPP yang telah disusun sesuai dengan masukan dari para validator. Sehingga RPP yang digunakan dalam penelitian ini dapat dikatakan valid, sehingga dapat dikatakan perangkat yang baik dan dapat digunakan untuk melaksanakan uji coba.

 

  1. Lembar Kerja Siswa (LKS)

LKS yang disusun digunakan untuk membantu guru dan siswa melaksanakan pembelajaran di dalam kelas. Untuk mendukung terlaksananya pembelajaran kooperatif dengan strategi MURDER ini, disusun tiga LKS yang digunakan untuk 3 kali pertemuan. Pertemuan pertama membahas tentang unsur-unsur kerucut, pertemuan kedua membahas tentang luas permukaan kerucut, dan pertemuan ketiga membahas tentang volume kerucut.

Setelah divalidasi, nilai yang telah diberikan oleh keempat validator telah dirata-rata untuk ketiga LKS tersebut secara berturut-turut adalah 4,77; 4,806; dan 4,806. Dari masing-masing nilai rata-rata LKS 1, LKS 2, dan LKS 3 tersebut dapat dikatakan bahwa LKS yang telah disusun dalam kategori baik. Sehingga LKS yang telah disusun dapat dikatakan valid dan dapat digunakan.

 

  1. Tes Hasil Belajar (THB)

Pada fase pengembangan perangkat pembelajaran ini, peneliti menyusun Tes Hasil Belajar (THB), dan dilengkapi juga dengan kisi-kisi soal THB, serta kunci jawaban tiap butir soal. THB yang telah disusun terdiri dari 5 butir soal, dan telah divalidasi dengan nilai-nilai yang diberikan validator setalah dirata-rata diperoleh nilai 4,625. Nilai tersebut masuk dalam kategori baik, dengan sedikit revisi.

THB yang telah divalidasi, kemudian direvisi sesuai dengan kriteria THB yang baik yaitu meliputi materi, konstruksi, dan bahasa. Sehingga THB dapat dikatakan valid dan dapat digunakan.

Tidak hanya itu, setiap butir soal THB yang baik juga harus memenuhi kriteria valid, reliabel, dan sensitif. Untuk itu peneliti melakukan uji coba untuk mengetahui validitas, reliabilitas, serta sensitifitas setiap butir soal. Setelah dilakukan uji coba diperoleh hasil bahwa setiap butir soal yang telah disusun memenuhi kriteria sebagai berikut:

  • Valid, dengan nilai setiap butir soal >4,00
  • Reliabilitas butir soal setelah dihitung dengan menggunakan rumus alpha didapatkan nilai reliabilitas ≥0,400, yaitu 0,704 sehingga semua butir soal reliabel.
  • Sensitif dengan nilai sensitivitasnya ≥0,300Jadi dari penilaian validator telah memnuhi kriteria valid, reliabel dan sensitif, maka THB yang telah disusun dapat dikatakan baik.

Menurut Nieveen, Kriteria perangkat pembelajaran yang baik yaitu jika memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif. Hal ini dapat diketahui dari validasi ahli (untuk mengetahui perangkat tersebut valid), kemampuan guru mengelola pembelajaran baik dan aktivitas siswa efektif (untuk mengetahui perangkat pembelajaran praktis), respon siswa positif dan ketuntasan belajar secara klasikal tercapai (untuk mengetahui perangkat pembelajaran efektif).

Berikut ini adalah penjelasan tentang hasil uji coba terhadap perangkat pembelajaran untuk mengetahui kepraktisan dan keefektifannya.

  1. Pada tahap uji coba diperoleh data nilai pengamat tentang kemampuan guru mengelola pembelajaran di ketiga pertemuan adalah 4,44 yang masuk dalam kategori “baik”.
  2. Pengamatan yang dilakukan untuk aktivitas siswa pada kelas uji coba diketahui bahwa semua kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan rentang waktu ideal dengan toleransi 10%.
  3. Setiap pernyataan dari angket respons siswa memenuhi kriteria “kuat” dan “sangat kuat”. Hal ini berarti siswa memberikan respons positif terhadap pembelajaran. Setiap pernyataan mendapat persentase lebih dari 80%.
  4. Sedangkan dari hasil postes yang telah dilakukan, ≥80% siswa di kelas uji coba mendapatkan nilai ≥ 75. Di mana kriteria ketuntasan minimal (KKM) ini disesuaikan dengan KKM di sekolah tempat uji coba dilaksanakan, yaitu SMPN 6 Sidoarjo.

Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran yang digunakan di kelas uji coba dikatakan praktis dan efektif.

Dari hasil analisis, tentang pelaksanaan uji coba dan diperoleh hasil bahwa perangkat pembelajaran valid, praktis, dan efektif, maka perangkat pembelajaran yang telah disusun baik.

 

  1. Keefektifan Pembelajaran Kooperatif dengan Strategi MURDER pada Materi Kerucut

Untuk mengetahui keefektifan pembelajaran kooperatif dengan strategi MURDER, dilaksanakan implementasi untuk perangkat pembelajaran yang telah disusun. Implementasi perangkat pembelajaran ini dilaksanakan di sekolah yang berbeda dengan kelas uji coba, yaitu di SMPN 3 Candi Sidoarjo. Implementasi dilaksanakan selama 5 kali tatap muka dengan rincian yaitu tatap muka pertama untuk memberika pretes, tatap muka kedua, ketiga, dan keempat untuk pelaksanaan RPP yang telah disusun, dan pertemuan kelima yaitu untuk memberikan postes kepada siswa.

Dari pelaksanaan implementasi yang telah dilaksanakan, diperoleh data tentang hasil observasi kemampuan guru mengelola pembelajaran, aktivitas siswa, angket respons siswa, dan hasil ketuntasan belajar siswa yang diketahui dari hasil postes. Masing-masing data yang telah diperoleh tersebut akan dibahas secara lebih rinci sebagai berikut ini:

  • Hasil Observasi Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran

Sebelum dilaksanakan pembelajaran di kelas dengan menggunakan perangkat pembelajaran kooperatif dengan strategi MURDER, peneliti dan guru mitra melaksanakan uji coba terbatas untuk mengetahui kesesuaian langkah-langkah yang dilakukan oleh guru mitra dengan langkah-langkah pada RPP. Sehingga nantinya pada saat pelaksanaan di kelas tidak terjadi kendala yang berarti.

Pelaksanaan pembelajaran di kelas, dilakukan oleh guru mitra, yakni Siti Farichah, S.Pd. dan diobservasi oleh dua pengamat yaitu Hanim Faizah (peneliti) dan Achwalul Nikmah, S.Pd.. Dari hasil pengamatan dua orang pengamat tersebut diperoleh nilai rata-rata total kemampuan guru mengelola pelajaran adalah 4,4375 pada pertemuan pertama, 4,25 pada pertemuan kedua, dan 4,35 pada pertemuan ketiga. Nilai tersebut masuk dalam kategori sangat baik.

Guru mitra melaksanakan pembelajaran di kelas dengan sangat baik. Beberapa kriteria yang dapat dilaksanakan dengan baik yaitu guru dapat membentuk kelompok-kelompok belajar yang heterogen, mengawasi serta membimbing siswa dalam kelompok-kelompok belajar.

Dari tabel di atas diketahui bahwa aktivitas siswa baik pada pertemuan 1, 2, maupun 3 sesuai dengan waktu ideal yang telah ditentukan dengan toleransi 10%. Dan berikut ini adalah gambar-gambar aktivitas siswa di dalam kelas:

 

  • Hasil Angket Respons Siswa

Hasil angket respons siswa setelah pelaksanaan pembelajaran sangat baik, siswa merespons positif pembelajaran kooperatif dengan strategi MURDER ini. Respons positif tersebut dapat diketahui dari jumlah siswa yang memberikan respons dengan kategori sangat kuat sebanyak 94,44%, dan sisanya pada kategori kuat.

Hasil angket respon siswa tersebut menunjukkan bahwa siswa senang ketika dilaksanakn pembelajaran kooperatif dengan strategi MURDER. Hal ini sesuai dengan tujuan dilaksanakannya pembelajaran ini, sebab pada awal pembelajaran siswa diajak untuk melakukan beberapa game, ataupun memperhatikan gambar-gambar yang bekaitan dengan materi yang akan dipelajari dalam tahap Mood. Selanjutnya, guru meminta siswa bekerja secara berkelompok dan meminta siswa agar aktif bekerja dalam kelompoknya. Sehingga siswa tidak merasa bosan selama pembelajaran berlangsung. Selain itu, siswa diminta untuk menemukan berbagai macam aplikasi dari materi yang telah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari mereka (pada tahap Expand), akibatnya siswa akan lebih semangat karena mereka telah mengetahui bahwa materi yang mereka pelajari bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari mereka.

 

  • Ketuntasan Belajar secara Klasikal

Setelah dilaksanakan postes kemudian dilakukan analisis deskriptif untuk mengetahui ketuntasan belajar klasikal di kelas implementasi.

Ketuntasan belajar klasikal telah tercapai karena sudah ≥80% siswa dalam kelas mendapatkan nilai lebih dari KKM yang telah ditentukan, yaitu 75. Ketuntasan belajar klasikal ini digunakan untuk menentukan keefektifan pembelajaran yang telah dilaksanakan.

 

  1. Perbandingan Hasil Belajar Siswa di kelas Eksperimen dengan Pembelajaran di Kelas Kontrol

Sebelum membahas hasil analisis ketuntasan hasil belajar siswa, ditentukan terlebih dahulu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen dalam penelitian ini adalah kelas implementasi yang menerima pembelajaran kooperatif dengan strategi MURDER, yaitu kelas IX-3 di SMPN 3 Candi Sidoarjo. Sedangkan kelas kontrol adalah kelas IX-4 di SMPN 3 Candi Sidoarjo dan menerima pembelajaran sesuai dengan pembelajaran yang telah ditentukan oleh guru mitra, yaitu Siti Farichah, S.Pd.

Untuk menganalisis perbedaan hasil belajar di kedua kelas ini dilakukan analisis inferensial, yaitu dengan menggunakan metode Anakova dan yang bertindak sebagai kovarian adalah nilai pretes di masing-masing kelas tersebut. Sebelum dilakukan analisis kovarian ini ditentukan terlebih dahulu model regresi dari kedua kelas, dan diperoleh model dari masing-masing kelas adalah  untuk kelas eksperimen dan  untuk kelas kontrol.

Kedua model regresi tersebut selanjutnya dijadikan pedoman untuk melakukan analisis, yaitu dimulai dari analisis uji independensi dan diperoleh hasil bahwa pembelajaran baik di kelas eksperimen dan kelas kontrol memberikan pengaruh terhadap hasil belajar siswa. Kemudian dilanjutkan dengan analisis uji linearitas dan diperoleh hasil bahwa model regresi baik di kelas eksperimen maupun di kelas kontrol adalah linear. Dari hasil terebut dapat dijadikan acuan untuk melakukan uji keidentikan kedua model regresi, di mana jika kedua model tersebut tidak identik maka dapat dilanjutkan dengan uji kesejajaran untuk mengetahui pembelajaran mana yang lebih efektif. Dari uji keidentikan kedua model regresi diperoleh hasil bahwa kedua model regresi tersebut berbeda, dan selanjutnya pada uji kesejajaran diperoleh hasil bahwa kedua model regresi tersebut sejajar.

Penjelasan tentang analisis inferensial mengungkapkan bahwa langkah-langkah yang dilakukan tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh skor tes awal siswa terhadap hasil belajar siswa untuk masing-masing kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, model regresi untuk masing-masing kelompok harus linier. Sedangkan model regresi kedua kelompok harus sejajar, jika kedua model telah sejajar  maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Model regresi pada kelompok eksperimen memiliki konstanta yang lebih besar dibandingkan dengan nilai konstanta model regresi pada kelas kontrol, yaitu 48,38 untuk model regresi kelas eksperimen dan 25,84 untuk model regresi pada kelas kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar di kelas eksperimen lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar di kelas kontrol.

 

Di samping beberapa hasil penelitian yang telah dipaparkan di atas, peneliti juga menyadari adanya beberapa kelemahan yang terjadi selama penelitian ini berlangung. Di antara kelemahan-kelemahan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Pembelajaran koopratif MURDER ini masih belum pernah diketahui oleh guru mitra yang nantinya sebagai guru pengajar di kelas. Sehingga guru mitra merasa belum mampu mengajarkan dengan menggunakan model pembelajaran tersebut. Namun kelemahan ini dapat diatasi dengan dilaksanakannya uji coba terbatas sebelum dilaksanakannya pembelajaran di kelas. Sehingga peneliti dan guru mitra dapat saling mengoreksi dan memberikan masukan terhadap pelaksanaan langkah-langkah yang ada dalam RPP.
  • Pengamat aktivitas siswa hanya dilakukan oleh 1 orang pengamat, sehingga dapat dimungkinkan terjadi bias pada hasil yang telah diperoleh terhadap aspek-aspek yang diamati.

 

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. Penelitian ini diawali dengan pengembangan perangkat pembelajaran yang menggunakan Model Kooperatif dengan strategi MURDER pada materi kerucut di kelas IX. Pengembangan perangkat ini menggunakan model pengembangan perangkat yang dikembangkan oleh Tjeerd Plomp. Model yang dikembangkan oleh Plomp ini memiliki 5 fase, yaitu (1) fase investigasi awal; (2) fase fase desain, (3) fase realisasi, (4) fase tes, evaluasi, dan revisi, dan (5) fase implementasi. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah RPP (RPP 1 dan RPP 2), LKS (LKS 1, LKS 2, dan LKS 3), dan THB. Di mana keseluruhan perangkat tersebut telah memenuhi kriteria perangkat pembelajaran yang baik. Kriteria perangkat pembelajaran yang baik meliputi:

  1. Valid karena telah divalidasi oleh 4 orang validator dan telah direvisi sesuai dengan hasil validasi;
  2. Praktis karena kemampuan guru mengelola pembelajaran baik serta aktivitas siswa di kelas efektif,
  3. Efektif karena respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran positif dan ketuntasan belajar klasikal terpenuhi.
  4. THB yang telah disusun telah memenuhi kriteria valid, reliabel, dan sensitif.

Setelah diperoleh perangkat pembelajaran yang baik, maka dilakukan implementasi terhadap pembelajaran kooperatif dengan strategi MURDER pada materi kerucut, dalam hal ini dilaksanakan di SMPN 3 Candi Sidoarjo. Setelah diperoleh hasil implementasi tersebut, kemudian dilakukan analisis deskriptif. Dari hasil analisis deskriptif, diketahui bahwa pembelajaran yang dilaksanakan di kelas implementasi efektif, karena telah memenuhi keempat aspek pembelajaran yang efektif, yaitu:

  1. Kemampuan guru mengelola pembelajaran baik diketahui dari rata-rata penilaian dari dua orang pengamat, diperoleh nilai 4,5 untuk pertemuan pertama, 4,385 untuk pertemuan kedua, dan 4,538 untuk pertemuan ketiga
  2. Aktivitas siswa pada ketiga pertemuan efektif, karena setiap kategori berada pada rentang waktu ideal dengan toleransi 10%.
  3. Respons siswa terhadap pembelajaran positif, dari 18 pernyataan pada angket respons siswa 17 diantaranya masuk dalam kategori “sangat kuat” dan hanya 1 masuk dalam kategori “kuat”.
  4. Yang terakhir yaitu ketuntasan belajar klasikal tercapai, karena dari 33 siswa yang telah mengikuti postes, hanya ada 6 siswa yang belum tuntas, hal ini berarti ketuntasan belajar klasikal mencapai 81,81%.

Setelah dilakukan analisis inferensial untuk membandingkan keefektifan pembelajaran yang dilaksanakan di kelas eksperimen (implementasi) dengan kelas kontrol, diperoleh hasil bahwa pembelajaran di kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan strategi MURDER lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran yang dilaksanakan di kelas kontrol. Analisis inferensial yang dilakukan menggunakan Anakova dengan nilai pretes sebagai kovarian.

 

Saran

Peneliti berharap penelitian ini dapat bermanfaat baik bagi guru pengajar di tingkat sekolah, maupun sebagai bahan acuan untuk melakukan penelitian lain. Sehingga saran yang dapat disampaikan oleh peneliti adalah:

  1. Hasil dari penelitian ini hanya sebatas pada materi kerucut di kelas IX SMP, peneliti berharap dapat dikembangkan untuk materi bangun ruang sisi lengkung secara keseluruhan, tidak hanya terbatas pada materi kerucut tetapi juga pada materi tabung dan bola.
  2. Peneliti yang akan menggunakan strategi MURDER diharapkan dapat meminimalisir kelemahan-kelemahan dari pembelajaran kooperatif dengan strategi MURDER agar didapat hasil yang lebih baik.
  3. Untuk mengetahui keefektifan perangkat pembelajaran yang telah disusun akan lebih baik jika dilakukan implementasi pada beberapa kelas, sehingga hasil yang diperoleh lebih mendekati akurat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2011. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (edisi revisi). Bandung: Bumi Aksara.

                                 . 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rienika Cipta.

Depdiknas. 2008. Panduan Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta Grondlund, E. Norman. Third Edition: Constructing Achievement Tests. London: Prentice-Hall International, Inc.

Hayes, R. John. 1981. The Complete Problem Solver. Pennsylvania: The Franklin Institute Press.

Jaelani, Abdulloh. 2006. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD untuk Topik Segitiga di Kelas VII SMPN 1 Driyorejo Gresik. Tesis. Universitas Negeri Surabaya: Tidak diterbitkan.

Nieveen, Nienke and Plomp, Tjeerd. 2007. An Introduction to Educational Design Research. Netherland: Netzdruk, Enschede

Nuh, Moh.. 2012. Banyak Siswa Tak Lulus Ujian Matematika. Kompas. Online: http://edukasi.kompas.com/read/2012/06/02/10035432/Banyak.Siswa.Tak.Lulus.Ujian.Matematika

Slavin, Robert E. 1994. Education Psychology Theory and Practice. Boston: Allyn and Bacon Publisher

______________. 1995. Cooperative Lerning.Theory, Research, and Practice. Boston: Allyn and Bacon

Soedjadi.1999. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia, Konstanta Keadaan Masa Kini Menuju Harapan dan Masa Depan: Depdiknas, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi

 

BIOGRAPHY

Hanim Faizah is a lecturer in mathematics education department of Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Hanim was born in Sidoarjo on 29th of May 1988. Hanim was graduated from Universitas Negeri Surabaya on 2010, where she received a Bachelor Degree in mathematics. Hanim was also graduated her Master Degree in mathematics education from Universitas Negeri Surabaya on 2014.