EFEK PEMBERIAN IRIDOID RUMPUT MUTIARA (Hedyotis corymbossa, Lamk.) TERHADAP TOTAL BILIRUBIN, ALKALIN PHOSPHATASE, DAN GLUTATION KELINCI YANG TERPAPAR ACETAMINOPHEN


SAINTEK || Jurnal Ilmiah Teknik dan Rekayasa
Volume 11 || Nomor 1 || Juli 2007 || ISSN: 1411-5662
Penerbit : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Untag Surabaya
Penulis 1: Wardah
Penulis 2: Tatang Sopandi
Penulis 3: Iwan Setiawan

TEKS VERSI CETAK/ASLI

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek iridoid rumput mutiara terhadap kadar bilirubin total, alkaline fosfatase (ALP) dan glutation (GSH) pada kelinci yang terpapar acetaminophen.

Tanaman rumput mutiara diekstraksi dengan etanol dan difraksinasi dengan aquabides:eter untuk selanjutnya diaplikasi dalam kromatografi kolom. Empat dosis (0, 50, 150 dan 300 mg kg-1 bb) iridoid rumput mutiara diberikan secara oral pada kelici yang telah terpapar acetaminophen500 mg kg-1 bb per hari selama satu bulan. Pengamatanterhadap kadar bilirubin total, ALP dan GSHdilakukan setiap minggu setelah pemberian perlakuan iridoid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian iridoid rumput mutiara dengan dosis 300 mg kg-1 bb setiap hari signifikan (P<O,05) menurunkan kadar bilirubin total dan kadar ALPserta signifikan (P<O,05)meningkatkankadar GSH.Berdasarkanhasil penelitian, dapat disimpulkan  bahwa  iridoid  rumput  mutiara  dapat  bertindak  sebagai antihepatotoksik dengan menurunkan kadar bilirubin total dan ALP serta menstimulasi pembentukan kadar GSH pada kelinci yang terpapar acetaminophen.

Kata kunci: iridoid, acetaminophen, rumput mutiara, bilirubin total, ALP dan GSH

 

ABSTRACT

This research aims to  know the  effect of  iridoid of  diamond flower  on bilirubin total,  alkaline phosphatase (ALP) ang glutation (GSH) at rabbits induced by acetaminophen. Herbs of diamond flower were extracted with ethanol, fractionated in aquabidest : ether and application into coloumn chromatography. Four dosages( 0, 50, 150 and 300.mg kg-1 bb ) of iridoid diamond flower are given orally to that rabbits. Observation of bilirubin total, ALP, and GSH is conducted weekly after giving iridoid treatment. Result of this research shows that treatment iridoid diamond flowers with dosage 300 mg kg-1 ww  per days for  one mount on rabbit induced acetaminophen significant (P<O,05) decreaseslevel of bilirubin total and ALP and significant (P<O,05) increases GSH level. Basedon this research, it comes to a conclusion that iridoid  diamond flower  can  act  as  acetaminophen antihepatotoxic  shown  by decreasing of bilirubin total and ALP and stimulate GSH level  improvement.

Key words: iridoid, acetaminophen,diamond flower, bilirubin total, ALP and GSH

 

PENDAHULUAN

Organ hatl bersama ginjal bertindak sebagai   sistem   detoksifikasi,    namun demikian  organ  hati  dapat  berfungsi secara optimal jika organ tersebut dalam keadaan bersih dan cukup  nutrisi,    ketika toksin banyak dalam sistem, organ hati dan ginjal tidak dapat berfungsi secara optimal dan tubuh mulai menyimpan toksin dalam jaringan. Sejumlah hepatotoksikan dapat menghasilkan  apoptosis pada hati, sebagai contoh acetaminophen (Gujral   JS  et.al., 2002), galaktosamin yang berasal dari lipopolisakarida bakteri (Jaeschke  H et.al., 1998) atau  etanol  (Yacoub LK et.a.l, 1995) dapat menyebabkan apoptosis pada sel parenkim hati.  Luka yang disebabkan hepatotoksikan    dapat berupa kombinasi antara oncosis dan apoptosis tergantung pada jenis toksikan (Copple BL et.al.,  2004).

Acetaminophen (N-4-hydroxyphenyl acetamide)  secara  umum  digunakan  seba­ gai   analgesik   dan   atau   antipiretik    yang dapat  menyebabkan  nekrosis sel sentribular hati  ketika  penggunaannya  berlebih (Bessems JG and Vermeulen   NP,  2001; James LP et. aI., 2003).  Acetaminophen mereduksi produksi prostaglandin yang berperan dalam proses sakit dan demam dengan  menghambat  enzim siklooksigenase (Anonimous,2006).

Di dalam  hati, acetaminophen berkonjugasi dengan sulfat dan glukuronid dan diubah menjadi senyawa inaktif untuk selanjutnya disekresikan oleh ginjal (Anonimous, 2006). Terdapat dua teori mekanisme acetaminophen menyebabkan kematian  sel. Teori  pertama  adalah  teori stress oksidatif yang menyatakan bahwa metabolit acetaminophen menyebabkan stress oksidatif dalam sel yang menuntun terjadinya  kematian  sel. Teori  kedua adalah teori  ikatan kovalen yang  menyatakan bahwa ikatan antara metabolit reaktif acetaminophen dengan makromolekul sel menyebabkan  kematian sel (Mirochnitchenko  0 et.al.,  1999).

Pengurangan glutation  dalam sel yang merupakan  suatu antioksidan  alami menyebabkan sel mudah terkena oksidasi yang disebabkan  kelebihan  dosis acetaminophen. Teori stres oksidatif  memperlihatkan  bahwa pemberian acetaminophen yang berlebih secara langsung atau tidak langsung menyebabkan   terbentuknya senyawa oksigen  reaktif   (ROS)  (Mirochnitchenko 0 et.al., 1999).  Tahap awal dari toksisitas acetaminophen adalah proses  metabolisme sitrokrom P-4S0  yang   menghasilkan senyawa metabolit reaktif yaitu N-acetyl-p­ benzoquinone (NAPQI) (Reid   AB   et.al., 2005).   Dalam dosis normal  acetaminophen dimetabolisme melalui sulfatasi dan glukuronidasi dan secara efisien NAPQI didetoksifikasi  oleh glutation  (GSH) (Reid AB et.al., 2005).  Selanjutnya Reid  AB  et.al. (2005)  rnengemukakan  bahwa pada kondisi normal, hanya sedikit  jurnlah  obat yang masuk ke  dalam sistem sitrokrom  P4S0 yang dimetabolisme menjadi senyawa reaktif NAPQI yang akan didetoksifikasi  oleh glutation.   Pada kondisi  overdosis,  acetami nophen dimetabolisme  oleh sitokrom  P-450 menjadi  NAPQI yang  merupakan  metabolit reaktif   dan  toksik   (Chiu  H  et.al.,   2003). Selanjutnya konjugasi antara metabolit reaktif dengan GSH  menuntun   terjadinya pengurangan  GSH  yang membentuk kantong   atau   ruang   dalam   sel  hati   dan  ikatan  kovalen  antara residu sistein (Cohen SO et.al.,  1997 dan James LP et.al.,  2003a)  yang   selanjutnya    menyebabkan nekrosis hati.  Menurut  Bertholf  RL et.al.  (2003)  dan Hong  RW et.al.  (2003),  dosis hepatotoksis dari acetaminophen menyebabkan pengu rasan cadangan glutation  dan akumulasi NAPQI  yang  akan  berikatan  dengan membran sel hati sehingga menghasilkan nekrosis sel hati. Gejala atau simptom kerusakan hati boleh jadi tidak tampak  pada 24-48   jam    setelah    pemberian    acetaminophen yang  berlebihan  (Bertholf  RL et.al., 2003).

Rumput mutiara merupakan  tanaman gulma  termasuk genus Rubiaceae- (Oldenlandia) berdaun kecil, bunga berwarna putih,  berbatang  dua  atau  lebih berbentuk   panjang,  reproduksi  dengan  biji dan hidup pada tanah yang lembab. Tanaman  ini  dapat  mereduksi  tumor,  anti­ inflamasi   dan   melindungi   hati. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman dari genus Hedyotis banyak mengandung  iridoid.  Peng IN  et.al.  (1997) dan Peng  IN   et.al. (1999), melaporkan bahwa  ekstrak   alkohol   tanaman Hedyotis chrysotricha mengandung 10 senyawa iridoid yaitu asperulosid,   skandosid metil ester, asam asperulosid, asam diasetil asperulosid, logan in, diasil asperulosid, asetil skandosid metil ester, 6 beta-hidroksl­ qenepin, 6′-asetilasperulosid  dan 6′-asetilasperulosid. Sudarsono (1999) melaporkan bahwa herba rumput mutiara mengandung alkaloid,  triterpen, steroid, saponin, dan paling sedikit 5 senyawa iridoid.

Iridoid  diketahui  mempunyai   efek biologis yang bervariasi seperti antimikrobial, antitumor, antihepatoksik, dan emetik (Konno K et.al., 1999).   Kerry B (1997) melaporkan bahwa iridoid yang terdapat   Picrorhiza kurroa dapat bertindak sebagai hepatoprotektor.   Schuppan D et.al. (1999) melaporkan   bahwa  iridoid  glikosida kutkoside dan  picroside dapat bertindak sebagai  antioksidan  dan  memperbaiki  efek hepatotoksik dari karbontetroklorida, tioacetamide, galaktosamin, dan  paracetamol.  Luper 5 (1998)    mengemukakan bahwa  iridoid dapat bertindak sebagai antioksidan karena dapat menghambat pembentukan anion O2 non-enzimatik, menghambat pembentukan  malonaldehid oksidatif,  menghambat   pembentukan   anion superoksidase.  Hashmi K (1999) mengemukakan bahwa iridoid glikosida dapat meningkatkan sistem immunitas. Dharmananda S (2002) melaporkan bahwa secoiridoid  menunjukkan aktivitas sebagai antihepatotoksik dan immunomodulator. Singh AP  (2004) melaporkan iridoid dari Picrorhiza  kurroa   menunjukkan aktivitas sebagai  hepatoprotektif yang diduga melalui dua mekanisme yaitu (1)   kutkin (picrosides dan  kutkoside  yang  merupakan iridoid)  dapat  meningkatkan  struktur  mernbran  luar  dari  sel  hati  sehingga  mencegah penetrasi  toksin  ke dalam  membran  dalam sel dan (2) kutkin    menstimulasi aksi nukleolar polymerase A menghasilkan sintesis protein ribosomal sehingga menstimulasi   kemampuan regenerasi hati dan pembentukan  sel  hati  baru. Penelitian  ini bertujuan   mengetahui   efek  iridoid rumput mutiara  terhadap   bilirubin,   ALP dan  kadar GSH  hati   kelinci   yang   terpapar   acetaminophen.

 

MATERI DAN METODE

Ekstraksi

Metode ekstraksi  dan fraksinasi  iridoid dilakukan  sesuai dengan  yang digambarkan  oleh    Franzyk H   et.al.    (1997)  dengan beberapa modifikasi.  Herba rumput  mutiara dibersihkan dari kotoran, dikeringkan dan digiling. Rumput mutiara yang kering dan berbentuk  serbuk dimeserasi  dengan etanol 90%  selama  4  hari,  setelah  disaring  dan dievaporasi dalam rotary evaporator, residu dipartisi dengan akuabides-eter (1:5). Fraksinasi dilanjutkan   dengan  kromatografi kolom dengan fase diam silika gel dan pengembang campuran pelarut akuabides­ metanol dengan polaritas meningkat.

 

Hewan  uji

Setelah dilakukan adaptasi terhadap lingkungan selama 4  minggu,  sebanyak 60 ekor kelinci yang mempunyai  berat rata-rata 1,5 kg dipelihara  dalam  kondisi  lingkungan yang  sama  dan  diberi  pakan  serta  minum secara  ad-libitum.  Jenis pakan yang diberikan terdiri   atas   konsentrat,   rumput grinting,    jagung, wortel dan daun ubi dengan  proporsi  sama  untuk  tiap  individu kelinci.   Setelah   diadaptasi   dan sebelum diinduksi  acetaminophen,  sebanyak  12 ekor kelinci diambil  darahnya  secara acak untuk mengetahui   keadaan  parameter   penelitian sebelum diberi  perlakuan.  Enam puluh ekor kelinci tersebut  kemudian dibagi 5 kelompok perlakuan  masing-masing   12 ekor.  Pada 4 kelompok  kelinci  diberi  acetaminophen (Harsen Laboratories)  dengan dosis 500 rng/kg bb per  hari  secara oral  selama satu bulan sedangkan satu kelompok  (PO) tanpa perlakuan  (kontrol).   Pada 4 kelompok  kelinci yang diberi acetaminophen,  kelompok pertama (P1) diberi iridoid rumput mutiara dengan dosis 0 mg/kg  bb, Kelompok kedua (P2) diberi  iridoid  rumput  mutiara  50 mg/kg bb,   kelompok   ketiga   (P3)   diberi   iridoid rumput     mutiara     150    mg/kg     bb    dan kelompok  keempat  (P4) diberi  300 mg/kg bb setiap hari selama  satu  bulan  secara cekok   (per   oral).    Pengamatan   terhadap kadar total  bilirubin,  ALP dan GSH dilakukan sebelum pemberian acetaminophen, satu bulan setelah pemberian   acetaminophen dan setiap minggu setelah pemberian iridoid rumput  mutiara.

 

Pengambilan darah

Pengambilan darah dari setiap kelompok kelinci dilakukan pada vena  di telinga. Sampel darah selanjutnya  disentrifuge  pada 3000 rpm  selama  10 menit.  Bagian plasma (supernatan)  diambil  dan dimasukan  dalam botol berwarna coklat serta disimpan pada suhu 2-4°C sampai akan digunakan.

 

Pengukuran Alkaline Phosphatase (ALP)

Pengukuran ,ALP dilakukan  sesuai dengan  diagnostic  kit  catalogue.  Sebanyak 5  tablet   reagen   dilarutkan   dalam   15  ml larutan  buffer,  selanjutnya  diambil  3 ml lalu dirnasukan ke   dalam   kupet   dan   ditam­ bahkan 0,05 ml serum sampel. Setelah satu menit absorbansi diukur pada panjang gelombang 405 suhu 37oC.

 

Pengukuran Bilirubin

Pengukuran bilirubin dilakukan sesuai dengan  Cima Scientific  (2005).  Sebanyak 1 mL  reagen   bilirubin   direct   dimasukan   ke dalam tabung,  ditambahkan  0,02 mL reagen bilirubin activator  pada setiap tabung dan dicampur dengan baik. Selanjutnya ditambahkan  0,05  mL sampel (plasma)  lalu dicampur,   setelah  tercampur   dengan  baik didiamkan selama 3 menit. Pengukuran absorbansinya menggunakan spektrofoto­ meter pada panjang gelombang  540 nm.

 

Pengukuran Glutation (GSH)

Pengukuran  GSH dilakukan  meng­ gunakan metode yang dikembangkan oleh Guailquil VH et.al,  (1997).  Sebanyak 200 9 sampel jaringan    hati dihomogenisasi  dalam asam  trikloroasetat    5%   (1:5)   dalam   es. Homogenat disentrifuge pada 3000 g selama 10 menit pada suhu 4oC dan supernatant disaring dengan saringan syringe 0,2  urn, Selanjutnya  sebanyak 50 µl ekstrak jaringan  hati dicampur dengan 17 µl NaP04  1 M pada  pH  7,5  yang  berisi  0,72 DTNB dan 0,4% asam  sulfasalisilik.  Pengukuran  absorbansi dilakukan pada panjang   gelombang    405   nm   selama   2 menit.

 

Analisis Data

Data hasil penelitian dianalisis meng­ gunakan  analisis vanasi, dan  untuk mengetahui letak perbedaan dilakukan uji lanjut   menggunakan   uji  beda  nyata  jujur (Steel RGD dan Torie JH, 1999).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Induksi Acetaminophen

Hasil penelitian menunjukkan  bahwa induksi acetaminophen selama satu bulan dengan   dosis 500 ,mg/kg    bb   per   hari signifikan  (P<O,05)  meningkatkan  ALP,  dan bilirubin seperti yang diperlihatkan pada Gambar 1a dan lb.

 

Gambar 1a. Induksi Acetaminophen terhadap Total bilirubin; Gambar 1b. Efek induksi acetaminophen terhadap ALP

 

Peningkatan  kadar  total   bilirubin  dan ALP tersebut   diduga   karena  adanya  aku­ mulasi metabolit  acetaminophen  yang tidak  terkonjugasi oleh sulfat dan glukuronoid sehingga membentuk  metabolit  reaktif.   Kim YH  et.al,   (2002)    mengemukakan    bahwa ketika  proses  produksi  dan  netralisasi metabolit oksigen reaktif tidak seimbang dapat   menyebabkan  berbagai kerusakan pada  sel.  Menurut  Reid  AB  et.al,   (2004),  dalam dosis normal  acetaminophen dimetabolisme  melalui  sulfatasi  dan  glukuronidasi dan  secara  efisien  NAPQI yang  terbentuk akan  didetoksifikasi  oleh  glutation   (GSH), dan hanya sedikit jumlah  obat  yang  masuk ke dalam sistem sitrokrom  P450 yang dimetabolisme  menjadi  senyawa  reaktif NAPQI yang  akan  didetoksifikasi  oleh glutation.  Pemberian acetaminophen    berlebihan (overdosis) menyebabkan    kerusakan  hati yang ditunjukkan  dengan meningkatnya  kadar SGPT, SGOT, ALP dan total bilirubin  (Bertholf  RL et.al.,  2003; MacNaugton SM, 2003; Chiu H et.al., 2003, Anonimous, 2006). Menurut Mirochnitchenko 0  et   al (1999), pada konsumsi acetaminophen berlebihan jalur detoksifikasi oleh sulfat dan glukuronid menjadi jenuh dan acetaminophen diubah menjadi  NAPQI oleh sitokrom  P450 2EI. Selanjutnya  Bertholf  RL et al (2003) mengemukakan bahwa akumulasi  NAPQI akan  berikatan   dengan   membran   sel  hati dan menyebabkan  kerusakan hati.

Glutation (GSH) memegang peranan penting  sebagai peptida  intraseluler  dengan banyak fungsi  mulai dari antioksidan  sampai modulasi  proliferasi  sel (Lu SC, 1999). Hasil penelitian (Gambar 2) menunjukkan bahwa pemaparan  acetaminophen  dengan dosis 500   mg/kg bb selama satu bulan pada kelinci signifikan  (P<0,05) menurunkan kadar  GSH hati  kelinci.  Hasil  penelitian  ini sesuai   dengan laporan hasil penelitian Cohen SD et.al.,  (1997)  dan James LP et.al. (2003) yang mengemukakan bahwa  pada kondisi  overdosis,   konjugasi   antara metabolit reaktif  dengan GSH menuntun terjadinya pengurangan GSH yang   membentuk kantong atau ruang dalam sel hati dan ikatan  kovalen  antara   residu  sistein  yang pada gilirannya  menyebabkan  nekrosis hati. Menurut  Bertholf  RL et.al,  (2003)  dan Hong RW et.al,  (2003),  dosis hepatotoksis dari acetaminophen menyebabkan pengurasan cadangan  glutation   dan  akumulasi  NAPQI yang  akan  berikatan  dengan  membran  sel hati   sehingga   menghasilkan   nekrosis   sel hati. Selanjutnya  hasil penelitian  Rafeiro E et.al,  (1994)  dan Chiu H et.al.  (2003)  yang menyatakan  bahwa  pemberian  acetaminophen  menurunkan   GSH dan  tiol  protein (PSH) serta nekrosis hati.

 

Gambar 2. Efek induksi acetaminophen terhadap GSH

 

Efek  Iridoid   terhadap  Total   Bilirubin dan Kadar ALP Kelinci yang Terpapar Acetaminophen

Hasil pengamatan  efek  pemberian iridoid  rumput  mutiara  terhadap  kadar total bilirubin pada kelinci yang terpapar acetaminophen  (APAP) disajikan pada Gambar  3.  Pada Gambar  tersebut,  tampak bahwa   pemberian   iridoid   rumput   mutiara dapat    menurunkan    kadar   total    bilirubin kelinci yang terpapar acetaminophen 500 mgjkg  bb per hari selama satu bulan.

Selanjutnya  hasil uji  beda nyata jujur (Tabel 1) menunjukkan  bahwa pada penga­ matan  minggu  pertama  dan  kedua,  kadar total  bilirubin  kelinci yang terpapar  acetami­ nophen dan diberi  perlakuan  irldold  rumput mutiara   walaupun    mengalami   penurunan tetapi    tidak   berbeda  signifikan    (P>0,05) dengan kadar total bilirubin kelinci yang terpapar 500 mg/kg bb per hari selama satu bulan (Pi)  serta signifikan lebih tinggi (P<O,05) dibandingkan dengan kadar total bilirubin pada kelinci yang tidak terpapar acetaminophen (PO).

 

Tabel 1.     Rata-rata KadarTotal Bilirubin pada Kelinci yang Terpapar Acetaminophendan Diberi Iridoid Rumput Mutiara.

 

Pada pengamatan minggu ketiga, kadar total  bilirubin kelinci yang terpapar acetaminophen dan diberi perlakuan iridoid rumput mutiara 300 mg/kg bb per hari signifikan (P<O,05)  lebih rendah dibandingkan dengan  kadar total bilirubin  kelinci  yang  terpapar  acetaminophen tetapi  signifikan (P<O,05) lebih tinggi dibandingkan dengan kadar total bilirubin kelinci yang tidak terpapar acetaminophen. Selanjutnya pada pengamatan minggu    keempat,   kadar   total bilirubin kelinci yang terpapar acetamiphen dan diberi perlakuan iridold rumput mutiara 300 mg/kg bb per hari signifikan (P<O,05) lebih  rendah dibandingkan dengan kadar total bilirubin kelinci yang terpapar acetami­ nophen dan tidak diberi iridoid rumput mutiara (Pi) serta tidak berbeda signifikan (P>O,05)dengan kadar total bilirubin kelinci yang tidak  terpapar acetaminophen (PO). Hasil  penelitian  ini  menunjukkan bahwa peningkatan  kadar  total   bilirubin  kelinci yang terpapar acetaminophendengandosis .: – –   mg/kg   bb  selama  satu   bulan  dapat diturunkan dan dipulihkan oleh pemberian iridoid rumput  mutiara  sebanyak 300 mg/I<g bb selarna satu bulan.

Hasil   pengamatan    efek    pemberian iridoid    rumput    mutiara    terhadap    Kadar alkalin  posfatase  (ALP)  pada  kelinci  yang terpapar   acetaminophen    (APAP)  disajikan pada  Gambar  4.   Pada  Gambar  tersebut, tampak   bahwa   pemberian   iridoid   rumput mutiara    dapat    menurunkan     Kadar   ALP kelinci yang terpapar  acetaminophen.

Selanjutnya  hasil  uji  beda  nyata jujur (Tabel 2) menunjukkan  bahwa pada pengamatan minggu pertama dan  kedua,  kadar ALP  kelinci  yang  terpapar acetaminophen dan  diberi  iridoid  rumput   mutiara   mengalami penurunan  namun tidak  berbeda signifikan (P>0,05) dibandingkan dengan  kadar ALP  pada  kelinci  yang   terpapar   acetaminophen dan  tidak   diberi iridoid rurnput mutiara serta signifikan (P<O,05)  lebih tinggi  dibandingkan dengan kadar ALP kelinci yang  tidak  terpapar acetaminophen. Pada pengamatan  minggu  keempat,  kadar ALP  kelinci  yang  terpapar   acetaminophen dan diberi  perlakuan  iridoid  rumput  mutiara sebanyak 150 mg/kg bb  (P3) dan   300 mg/kg   bb   (P4)  signifikan   (P<0,05) lebih rendah dibandingkan dengan kadar  ALP kelinci yang  terpapar acetaminophen   dan tidak   diberi   iridoid   rumput   mutiara   (P1) serta tidak berbeda signifikan    (P>0,05) dibandingkan dengan  kadar ALP kelinci yang  tidak terpapar acetaminophen (PO). Hasil  penelitian ini menunjukkan peningkatan kadar  ALP kelinci yang terpapar acetaminophen  dengan dosis 500 mg/kg bb selama satu bulan dapat diturunkan dan dipulihkan oleh pemberian   iridoid   rumput mutiara    sebanyak     150-300    mg/kg     bb selama pemberian satu bulan.

Hasil pengamatan  terhadap  ALP pada penetitian   ini   menunjukkan    bahwa   pemberian iridoid  rumput  mutiara  dengan dosis 150-300 mg/kg bb per hari selama satu bulan  dapat memulihkan   kadar  ALP akibat paparan acetaminophen  dengan  dosis 5000 mg/kg bb  selama  satu  bulan.  Hasil  penelitian  ini sesuai dengan beberapa  laporan hasil penelitian mengenai aktivitas antihepatotoksik iridoid.  Galvez  M et.al. (200S) melaporkan bahwa verbascosid suatu iridoid yang diisolasi dari tanaman Plantago bellardii merupakan antioksidan.   Kim DH et.al. (200S) melaporkan bahwa secandosid, feretosid dan asam   deasetilasperulosidic yaitu iridoid glikosida yang diisolasi dari Oldenlandia diffusa menghambat oksidasi LDL. Ho IN  et.al.  (2005)  melaporkan  bahwa iridoid aucubin  memegang  peranan  penting dalam  mekanisme  pertahanan  sel terhadap radiasi  ultra  violet,   menghambat   pembentukan   ROS  serta   meningkatkan   viabilitas dan  glutation   (GSH). Singh  B et.al.  (200S) melaporkan    bahwa    iridoid    dari    Barleria prionitis       Linn      menunjukkan       aktivitas hepatoprotektif     terhadap    induksi    karbon tetraklorida,  galaktosamin  dan paracetamol. Mekanisme antihepatotoksik  aceta­ minophen  oleh  iridoid  diduga  karena iridoid dan bertindak  sebagai antioksidan,  mening­ katkan GSH dan menstimulasi  proliferasi  sel hati.

 

Efek Iridoid  Rumput Mutiara terhadap GSH

Hasil   pengamatan    efek    pemberian iridoid  rumput  mutiara  terhadap  kadar GS’H pada  kelinci  yang  terpapar  acetaminophen (APAP)  disajikan   pada   Gambar   5.  Pada Gambar tersebut  tampak bahwa pemberian iridoid  rumput  mutiara  dapat  meningkatkan kadar   GSH  kelinci,   terutama    pada  dosis pemberian  lS0  dan 300 mg/kg  bb per hari. Analisis statistika  menunjukkan  bahwa pem­ berian  iridoid  rumput   mutiara  berpengaruh signifikan   (P<O,OS)  terhadap   kadar   GSH kellnci  yang  terpapar   acetaminophen   500 mg/kg  bb selama satu bulan.

Selanjutnya  hasil uji  beda nyata jujur (Tabel   3)   menunjukkan    bahwa   rata-rata kadar  GSH kelinci yang  terpapar  acetami nophen dan diberi rumput  mutiara sebanyak  150  mg/kg  bb (P3) dan 300 mg/kg  bb (P4) pada  pengamatan  minggu  kedua signifikan (P<O,O5) lebih  tinggi  dibandingkan  dengan rata-rata   kadar  GSH kelinci  yang  terpapar acetaminophen dan tidak diberi rumput mutiara  (P1) tetapi  signifikan  (P<O,05) lebih rendah dibandingkan dengan   rata-rata kadar GSH   kelinci   yang   tidak terpapar acetaminophen  (PO)  serta tidak berbeda signifikan (P>O,O5) dibandingkan dengan rata kadar    GSH kelinci yang terpapar acetaminophen  dan diberi  50  mg/kg  bb per hari  iridoid   rumput   mutiara   (P2). Selanjutnya  pada pengamatan  minggu ketiga dan keempat,  rata-rata   kadar  GSH kelinci yang terpapar  acetaminophen  dan diberi  rumput mutiara  sebanyak 150 mg/kg  bb  (P3) dan 300 mg/kg  bb (P4) tidak  berbeda signifikan (P>O,O5)   dengan    rata-rata    kadar    GSH kelinci  yang  tidak  terpapar  acetaminophen (PO) dan  signifikan (P<O,O5) lebih  tinggi dibandingkan   dengan  rata-rata   kadar  GSH kelinci  yang  terpapar   acetaminophen   (P1) dan tidak diberi iridoid rumput  mutiara.

Hasil penelitian ini  menunjukkan bahwa pemberian iridoid rumput mutiara dengan dosis 150 mg/kg dan 300 mg/kg  bb per  hari  dapat meningkatkan kadar GSH kelinci yang terpapar acetaminophen dengan  dosis 500 mg/kg  bb  selama   satu bulan. Lu SC (1999) mengemukakan bahwa glutation (GSH) banyak terdapat dalam nonprotein tiol intraseluler yang berpartisipasi dalam  berbagai  proses biologi penting  termasuk  sintesis DNA dan protein, detoksifikasi xenobiotik dan oksidan, dan regulasi ekspresi gen.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa induksi acetaminophen dengan dosis 500 mg/kg bb per hari selama satu bulan dapat meningkatkan kadar bilirubin total dan ALP serta menurunkan kadar  GSH. Pemberian iridoid rumput dengan dosis 300 mg/kg bb signifikan menurunkan kadar bilirubin total dan ALP serta signifikan dapat meningkatkan kadar GSH pada kelinci yang terpapar acetaminophen.

 

UCAPAN TERIMAKASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Proyek Penelitian Fundamental, DP2M Ditjen Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional yang  telah membiayai penelitian ini melalui surat kontrak No. 246/SP3/PP/DP2M/II/2006.

 

DAFTAR RUJUKAN

Anonimous. 2006.  Tanaman Obat  Indonesia, Lidah Ular. IPTEKnet UPI. http://www.iptek.net.id/ind.

Bertholf RL, Johannsen  LM, Bazooband A, and Mansouri V. 2003. False-PositiveAcetami­ nophen  Results in  a  Hyperbilirubinemic Patient. Clinical Chemistry. 49:695-698.

Bessems  JG   and   Vermeulen   NP.   2001. Paracetamol     (Acetaminophen)-Induced Toxicity: Molecular   and    Biochemical Mechanisms, Analogues and  Protective Approaches.Crit Rev. Toxicol31:  55-138.

Copple BL, Rondelli CM, MaddoxJF, Hoglen NC, Ganey PEl and Roth RA. 2004. Modes of Cell Death in Rat Liver after Monocrotaline Exposure. Toxcologi Sci. 77:172-182.

Chiu H, Gardner CR, Dambach  DM, Brittingham JA, Durham  SK, Laskin JD, and Laskin DL. 2003. Role of p55 Tumor Necrosis Factor1 in Acetaminophen-Induced Antioxidant

Defense. Am  J Physiol  Gastrointest  Liver Physio/. 285:G959-G966.

Cohen SD, Pumford NR, Khairallah EA, Boekelheide K, Pohlm  LR, Amouzadeh HR, and  Hinson JA.  1997. Selective Protein Covalent Binding and Target Organ Toxicity. Toxicol Appl Pharmaco/143:1-12.

Dharmananda S. 2002.  Chiu-chiu and Gentiana Herbs for Deficiency  and Excess Liver/ Gallbladder Fire. Intitute for Traditional Medicine.Portland-Origon.

Franzyk H,  Frederiksen SM and  Jensen SR. 1997.  Synthesis of   Monoterpene Pipe­ ridinea from the Iridoid Glucoside Antirrhinoside.  J.   Nat.   Prod.   60:1012-1016.

Galvez M, Martin-Cordero C, Houghton PJ and Ayuso MJ. 2005. Antioxidant Activity of Plantago  bellardii  All.   Phytother    Res. 19(12):1074-1076.

Guailquil VHf Farber CM, Golde DW, and Vera DC.  1997.    Efficient   Transport   and Accumulation of Vitamine C in HC-60. Cell &  Depleted of Glutathione. J.  Biol.Chem.272: 9915-9921.

Gujral JS, Knight TR, Farhood A, Bajt ML, and Jaeschke H. 2002.   Mode of Cell Death after Acetaminophen Overdose in  Mice: Apoptosis or  Oncptic  Necrosis. Toxicol. Sci. 67:322-328.

Hashmi K. 1999. Effect  of  Bio-tmmune  on Ummunoty  Against  Newcastle Disease and BiochemicalParameters      of      Broiler Chickens. Nuclear Institute for Agriculture & Biologi (NIAB). Falsalabad.

Ho IN, Lee YH, Park JS, Jun WJ, Kim HK, Hong BS,  Shin  DH,  and  Cho  HY.     2005. ProtectiveEffectsof Aucubin Isolated from Eucommia UlmoidesAgainst UVB-Induced Oxidative Stress in Human skin Fibroblasts. Bioi  Pharm  Bul/.  28(7)1244-1248.

Hong RW, Rouds JD, Helton WS, Robinson MK, and   Wilmore   DW.   2003.   Glutamine Preserves Liver Glutathione After  Lethal HepaticInjury. Przegl Lek; 60(4)218-222.

Jaeschke   H.    1998.    Glutathione   Disulfide Formation  and  Oxidant  Stress  During Acetaminophen-Induced Hepatotoxicity in Mice in  Vivo.   The  protective Effect of Allopurinol.  J.    Pharmacol.    Exp.    Ther.255:935-941.

James LP, Mayeux PR and Hinson JA.   2003. Acetaminophen-induced    hepatotoxicity. Drug Metab Dispos. 31:1499-1506.

Kerry B. 1997. Review  of  immune  and  hepatic fuction   of  Picrorrhiza.  American Botanical Council.

Konno K, Hirayama C, Yasui H, and Nakamura M. 1999. Enzymatic Activation  of Oleuropein:  a Protein  Crosslinker Used as a Chemical Defense in the Privet Tree. National Institute  of  Sericultural and EntomologicalScience.Ibaraki Japan.

Kim YH, Chun YS, Park JW, Kim CHi and Kim MS. 2002.  Involvement of  Adrenergic Pathways in  Activation  of  Catalase by Myocardial Ischemia-reperfusion. Am J Physiol    Regul Integr Camp Physia/. 282:450-458.

Kim DH, Lee HJ, Oh YJ, Kim MJ, Kim SH, Jeong TS, and Baek NI. 2005. Iridoid Glycosides Isolated from Oldenlandia Diffusa Inhibit LDL-oxidation. Arch Phram Res. 28(10): 1156-1160.

Lu SC. 1999. Regulation of Hepatic Glutathione Synthesis: Current Concepts    and Controversies.Faseb. J. 13:1169-1183.

Luper S. 1998. A Review of Plants Used in the Treatment of Liver Disease: Part I. Altern Med. Rev. 6: 410-421.

MacNaugton SM. 2003. Acetaminophen Toxicosis in a Dalmatian. Can  Vet J. 44 (2):142-144.

Mirochnitchenko    0,  , Lefkowitz   MW,   Reuhl   K, Chen L, Yang Chung and Inouye  M. 1999. Acetaminophen Toxicity.  J.   BioI  Chem 274: 1S: 10349-10355.

Peng IN,  Feng XZ, Li GY, and Liang XT. 1997. Chemical Investigation of Genus Hedyotis Identification of Iridoids from Hedyotis Chrysotricha. Yao Xue Xue Bao. 12:908-913.

PengIN, Feng XZ and Liang  XT. 1999. Two New Iridoids from Hedyotis Chrysotricha.J. Nat Prod. 4: 611-612.

Reid AB, Karten RC, McCulloughSS, Brock RW and  Hinson JA.  2005.   Mechanisms of Acetaminophen-Induced Hepatotoxicity: Role of Oxidative Stress and Mitochondrial PermeabilityTransition in Freshly Isolated MouseHepatocytes. JPET.312:509-516.

Rafeiro E, Barr SG, Harrison JJ, and Racz WJ. 1994.   Effects  of   N-acetylcysteine and Dithiothreitol on Glutathione and Protein thiol  Replenishment during  Acetami­ nophen-Induced Toxicity in Isolated Mouse Hepatocytes. Toxicology. 93: 209-224.

SchuppanD, Dong Jia J, Brinkhaus B, and Hahn EG. 1999.  Herbal Product for  Liver Diseases:a Therapeutic Challengefor the New  Millennium.  Hepatology. 4:   1099-1104.

Singh AP. 2004.  Kutkin- A Review of Chemistry and Pharmacology. Altern Med. Rev. 6:410-421.

Singh B, Chandan BK, PrabhakarA, Taneja SC, Singh J, and Qazi GN. 2005.  Chemistry and HepatoprotectiveActivity of an Active Fraction from  Barleria prionitis Linn. In Experimental  Animals. Phytother Res.19(5):391-404.

Steel RGD dan Torrie JH. 1999. Prinsip dan Prosedur Statistika, Suatu Pendekatan Biometric. Jakarta: PT.GramediaPustaka Utama.

Sudarsono. 1999. Asperulosid, Senyawa Iridoid Hedyotis corymbosa (L.) Lamk. (Oldenlandia corymbosa Linn), Suku Rubiaceae.Majalah FarmasiIndonesia. 10 (3);6-7.

Yacoub LK, Fogt F, Griniuviene B, and Nanji AA. 1995. Apoptosis and bcl-Z Protein Expressionin Experimental Alcoholic Liver Diseasesin the Rat. Alcohol Clin.Exp. Res. 19:854-850.