IMPLEMENTASI METAFORA DALAM MODEL PEMBELAJARAN TANDUR (TUMBUHKAN, ALAMI, NAMAI, DEMONSTRASI, ULANGI, RAYAKAN) PADA PEMBELAJARAN MOVING CLASS DENGAN POKOK BAHASAN PERSAMAAN KUADRAT

Oleh : Khusnul Khotimah , S1 – Pendidikan Matematika
Keyword : Moving Class, Metafora, Model Pembelajaran TANDUR, Persamaan Kuadrat.

Tulisan ini memaparkan tentang Pembelajaran Moving Class dalam Model Pembelajaran TANDUR (Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasi, Ulangi, Rayakan) pada Pokok Bahasan Persamaan Kuadrat. Pembelajaran ini di fokuskan pada siswa yaitu, siswa lebih aktif untuk mencari guru pengajarnya dan siswa berpindah dari satu kelas ke kelas lain dimana dalam pembelajaran ini dinyatakan dalam 6 langkah yaitu, (1) Tumbuhkan, (2) Alami, (3) Namai, (4) Demonstrasi, (5) Ulangi, (6) Rayakan. Dalam pemberian konsep-konsep matematika kepada siswa yaitu dengan metafora dimana penggunaan metafora dalam pembelajaran ini mempunyai peranan yang sangat penting, yaitu kemampuan menciptakan minat dan meningkatkan motivasi belajar para siswa yang nantinya di sesuaikan dengan langkah – langkah dalam pembelajaran tersebut . Pembelajaran ini berperan dalam menganalisis kegiatan belajar siswa untuk memahami konsepkonsep matematika pada kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan pada pokok bahasan persamaan kuadrat.

PDF

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) TERHADAP MINAT DAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA POKOK BAHASAN PELUANG SISWA KELAS XI IPS 2 SMA DR. SOETOMO SURABAYA TAHUN AJARAN 2O12-2013

Oleh : Juldianti Nirmala Sari, Irmawita Yarinez HS., S1 – Pendidikan Matematika

Keyword : Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD), Minat dan Prestasi Belajar

Peneliti mengadakan penelitian ini dengan tujuan untuk mengetahui pembelajaran matematika yang dilihat dari kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, aktivitas siswa, prestasi belajar siswa, dan minat belajar siswa, jika diterapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada pokok bahasan peluang di kelas XI IPS 2 SMA Dr. Soetomo Surabaya. Penelitian ini berjenis deskriptif dan pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan, angket, dan tes. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar siswa secara klasikal tercapai karena 87% siswa tuntas dalam belajarnya. Setiap aspek yang diamati dalam aktivitas siswa termasuk dalam kategori waktu dengan aktivitas siswa yang dominan adalah mengerjakan atau mendiskusikan tugas yaitu sebesar 17,14%. Mulai pertemuan pertama sampai pertemuan ketiga, kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran memperoleh kategori baik untuk setiap aspek yang diamati dengan rata-rata tiap aspek 2,67-3,73. Minat belajar siswa termasuk positif, hal ini ditunjukkan dengan rata-rata persentase jawaban siswa yang menyatakan ya adalah 84%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) ini mampu membuat minat dan prestasi belajar siswa semakin baik karena kriteria minat dan prestasi belajar siswa secara klasikal terpenuhi.

PDF

PENDEKATAN PEMBELAJARAN RME DALAM MENYELESAIKAN MASALAH PECAHAN

Oleh : Istikori , S1 – Pendidikan Matematika

Keyword : Pendekatan Realistic Mathematcs Education (RME), menyelesaikan perasalahan soal bentuk pecahan.

Sering didengar bahwa matematika adalah ratunya ilmu. Siswa kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan bentuk pecahan. Diperlukan suatu upanya pembelajaran matematika yang bersifat realistik. Salah satu pendekatan adalah pendidikan matematika realistik (Realistic Mathematcs education) atau disigkat RME.

PDF

PENGEMBANGAN TAKSONOMI ‘SOLO’ MAHASISWA DALAM ALJABAR

Oleh : Hartanto Sunardi , S1 – Pendidikan Matematika

Keyword : Taksonomi SOLO, Taksonomi SOLO-Plus, indikator Taksonomi SOLO-Plus.

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan taksonomi SOLO menjadi taksonomi yang pelevelannya lebih halus yaitu Taksonomi SOLO-Plus (TSP). Penelitianp pengembangan ini dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah pengembangan secara teoretik dengan tujuan merumuskan TSP hipotetis. Tahap kedua adalah pengembangan secara empiris dengan tujuan menentukan respons mahasiswa terhadap masalah matematis yang terkait dengan materi Aljabar. Pengembangan secara empirik melibatkan proses teoretisasi dengan metode perbandingan tetap yang bertujuan untuk menentukan indikator-indikator setiap level TSP yang valid dan reliabel. Subjek uji coba dalam penelitian ini adalah mahasiswa S1 Pendidikan Matematika Universitas PGRI Adi Buana Surabaya yang belum pernah mengikuti perkuliahan Aljabar.
Subjek dipilih secara bertahap sesuai dengan kebutuhan. Untuk memenuhi analisis perbandingan tetap, maka setiap level TSP harus diisi minimal dua subjek. TSP meliputi tujuh level, sehingga seluruhnya membutuhkan minimal 14 mahasiswa. Metode pengumpulan data berupa tes tulis dan wawancara berbasis tugas. Wawancara tersebut digunakan untuk menentukan indikator-indikator berlatar alamiah (naturalistik) yang muncul dari respons mahasiswa terhadap permasalahan yang diberikan. Pengembangan TS menghasilkan TSP yang meliputi 7 level, yaitu prastruktural, unistruktural, multistruktural, semirelasional, relasional, abstrak, dan extended abstract. Indikator masing-masing level adalah sebagai berikut. (i) Prestruktural: tidak menggunakan satupun informasi/pernyataan yang diberikan untuk menyelesaikan masalah; tidak menyelesaikan tugas yang diberikan; tidak memahami soal yang diberikan, binggung dengan apa yang harus dikerjakan, dan justru mengerjakan sesuatu yang tidak bermakna. (ii) Unistruktural : Hanya menggunakan satu informasi yang diberikan, dan tidak dapat menyelesaikan tugas; membuat kesimpulan yang salah tentang pembuktian yakni membuat generalisasi dini; berpendapat bahwa penemuan pola merupakan suatu pembuktian. (iii) Multistruktural : menggunakan dua atau lebih pernyataan yang diberikan secara terpisah; membuat pembuktian hanya dengan kasus tertentu, sehingga dia tidak dapat menyelesaikan masalah dengan benar. (iv) Semirelasional: Dapat memahami soal yang harus diselesaikan dengan baik, namun dia gagal menyelesaikan soal yang diberikan; mengintegrasikan dua atau lebih informasi/pernyataan yang diberikan, namun integrasi tersebut tidak terpadu; mencoba membuat pernyataan baru atau bahkan melakukan overgeneralisasi tanpa menggunakan argumen yang jelas. (v) Relasional: Dapat merepresentasikan semua pernyataan yang diberikan dan melakukan interkoneksitas antar pernyataan tersebut sehingga diperoleh jawaban/pembuktian yang benar, dan diperoleh entitas terpadu. (vi) Abstrak: Dapat menggunakan semua pernyataan yang diberikan untuk menyelesaikan masalah; dapat menjelaskan hubungan pernyataan-pernyataan yang diberikan tersebut menjadi suatu argumen dalam menyelesaikan masalah; menjelaskan kegunaan setiap pernyataan yang digunakan untuk menyelesaikan masalah; berusaha membuat penyataan baru sebagai akibat pernyataan yang telah terbukti, namun tidak berhasil membuktikan kebenarannya; menemukan analogi untuk kasus tertentu, namun tidak dapat membuktikannya, sehingga belum diperoleh prinsip baru. (vii) Extended Abstract: Dapat menggunakan informasi yang diberikan maupun yang tidak diberikan sehingga terkait secara koheren; menghasilkan prinsip baru sebagai akibat dari prinsip sebelumnya dan dapat mengeneralisasikan ke bentuk struktur baru.

PDF

PENERAPAN MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN KEPING WARNA PADA PEMAHAMAN KONSEP BILANGAN BULAT DI KELAS V SD AN-NUR

Oleh : Yuyun Nufianah, Laikha Sari, Kartini, S1 – Pendidikan Matematika

Keyword : Media Keping Warna

Makalah ini dilatarbelakangi oleh permasalahan yang dihadapi siswa dalam memahami konsep operasi bilangan bulat di kelas V SD. Hal tersebut dikarenakan, salah satunya adalah kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan. Selain itu, guru yang kurang kreatif dalam pemilihan metode pembelajaran. Akibatnya, siswa tidak mampu memahami materi sesuai yang diharapkan dan hasil belajar pun menurun. Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui peningkaan hasil belajar dengan media keping warna untuk pembelajaran matematika SD materi operasi bilangan bulat. Dalam pembahasan ini, dibutuhkan dua warna yang berbeda pada keping warna. Yang mana setiap warna mewakili bilangan-bilangan bulat (positif-negatif). Pada proses pembelajaran, penerapan keping warna dilakukan secara demonstrasi baik dari guru maupun siswa. Dan untuk mengetahui berhasil atau tidaknya penerapan media keping warna, penyusun melihat hasil belajar siswa dengan
membandingkan pembelAjaran operasi bilangan bulat yang menggunakan garis bilangan. Berdasarkan penelitian, diperoleh ketuntasan belajar klasikal ketika menggunakan garis bilangan dan yang menggunakan keping warna adalah 47% dan 94%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan media keping warna, dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep operasi bilangan bulat sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

PDF

 

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DENGAN MENGGUNAKAN LKS UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN TRIGONOMETRI SISWA KELAS XI IPA SMA SUNAN GIRI TAHUN AJARAN 2012-2013

Oleh : Fandyana, Intan Kartika Sari, RoÂ’up, S1 – Pendidikan Matematika

Keyword : Model kooperatif tipe STAD, Hasil Belajar.

Dari beberapa mata pelajaran yang ada di SMA, matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit. Sehingga menimbulkan kekhawatiran pada hasil belajar matematika siswa yang rendah. Selain itu banyak faktor yang menjadi penyebab kurangnya aktivitas belajar matematika siswa, salah satunya adalah ketidaktepatan penggunaan model pembelajaran yang digunakan guru dikelas. Maka dari itu peneliti menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah PTK yang dilaksanakn dalam 2 siklus, yang masing- masing siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Metode pengumpulan datanya adalah metode dokumentasi dan metode tes subjektif yang terdiri dari dua siklus. Data yang berupa hasil tes dianalisis. Diperoleh prestasi belajar telah mengalami peningkatan dari siklus I sebesar 75,75% sampai dengan siklus II sebesar 87,87% yang memenuhi kriteria ketuntasan belajar klasikal. Hal ini dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan menggunakan LKS dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPA SMA Sunan Giri tahun ajaran 2012- 2013.

PDF

 

PENGARUH PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) DAN STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN TRIGONOMETRI SISWA KELAS XI IPA SMA Dr. SOETOMO SURABAYA TAHUN AJARAN 2012/ 2013

Oleh : Didik Anggra Wijaya, Kartika Yuliandika Isfani, Khalimatus Syakdiah, S1 – Pendidikan Matematika

Keyword : Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS, Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD, Hasil Belajar Matematika.

Salah satu ketidakberhasilan pembelajaran saat ini adalah pemilihan metode pembelajaran yang kurang sesuai dengan materi yang diajarkan. Oleh karena itu, pemilihan metode yang sesuai sangat menentukan tercapainya pembelajaran itu sendiri. Berdasarkan observasi peneliti, metode pembelajaran yang digunakan oleh guru matematika kelas XI IPA di SMA Dr. Soetomo Surabaya cenderung monoton sehingga menyebabkan siswa bosan terhadap pelajaran matematika, siswa kurang aktif dalam proses pmbelajaran dan pada kenyataan kurangnya peningkatan hasil belajar matematika. Maka dari itulah dicari suatu metode pembelajaran yang dapat meningkatkan prestasi siswa yaitu metode pembelajaran kooperatif. Dalam penelitian ini diambil metode pembelajaran kooperatif tipe TPS dan STAD, dari kedua metode tersebut peneliti ingin mengetahui pembelajaran kooperatif mana yang lebih tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan hasil belajar matematika antara yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dengan pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) kelas XI IPA SMA Dr. Soetomo Surabaya pada pokok bahasan trigonometri. Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan hasil belajar matematika yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TPS dan STAD kelas XI SMA Dr. Soetomo Surabaya. Rancangan penelitian ini adalah “Pre Test Post Tes Control Group Design”. Populasi dalam penelit ian ini adalah semua siswa kelas XI IPA SMA Dr. Soetomo Surabaya semester 1 Tahun ajaran 2012/2013 dan sebagai sampel penelitian adalah 80 siswa yaitu kelas IPA 3 (kelompok eksperimen) dengan 40 siswa dan kelas IPA 1 (kelompok kontrol) dengan 40 siswa. Sampel diambil secara acak. Sebelum instrumen hasil belajar yang digunakan terlebih dahulu diujicobakan pada siswa kelas XI SMA Dr. Soetomo Surabaya. Uji Prasyarat analisis yang digunakan adalah uji normalitas, Uji homogen dan uji kesamaan dua rata-rata. Untuk hipotesisnya menggunakan Uji-t pihak kanan. Dari analisis uji hipotesis diperoleh tt  yaitu 2,70 > 2,639. Hal ini menandakan bahwa bahwa terdapat perbedaan hasil belajar matematika kelas XI IPA SMA Dr. Soetomo Surabaya antara yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dengan pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) pada pokok bahasan trigonometri.

 

UPAYA MENINGKATKAN KEA KTIFAN DAN PEMAHAMAN SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD

Oleh : Dian Pristianawati, Ernawati, S1 – Pendidikan Matematika

Keyword : pemahaman, keaktifan, pembelajaran kooperatif STAD

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya prestasi belajar siswa karena kurangnya pemahaman siswa terhadap konsep-konsep matematika dan rendahnya keaktifan siswa saat pembelajaran berlangsung. Untuk meningkatkan keaktifan dan pemahanman siswa maka diberikan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman dan keaktifan siswa. Dalam model pembelajaran STAD, siswa membentuk kelompok kecil, sehingga diharapkan dapat melatih sikap kepemimpinan, bekerjasama serta mengembangkan keterampilan sosial untuk mencapai ketuntasan belajar bersamasama sesuai dengan tujuan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Oleh karena itu peningkatan keaktifan dan pemahaman siswa setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) sangat diharapkan. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 2 SMA Tamansiswa Mojokerto tahun ajaran 2012-2013 yang berjumlah 30 siswa terdiri dari 25 anak perempuan dan 5 anak laki-laki. Data diperoleh dengan cara observasi yang diamati oleh 3 pengamat dan tes yang terdiri dari 4 kode dengan 4 soal setiap kodenya. Berdasarkan hasil perhitungan pada siklus pertama diperoleh tingkat keaktifan siswa yang relevan sebesar 66,67%, siklus kedua sebesar 79,63%. Untuk pemahaman siswa pada siklus pertama mencapai 63,33% dengan rata-rata 73,6 sedangkan siklus kedua 86,67% dengan rata-rata 87,1. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan keaktifan dan pemahaman siswa terhadap hasil belajar.

PDF

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DENGAN METODE DISKUSI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA POKOK BAHASAN PELUANG PADA SISWA KELAS XI IPA 2 SMA SEJAHTERA SURABAYA

Oleh : Dian Permatasari, Anita Ika Ratmawati, Dian Pratiwi, S1 – Pendidikan Matematika

Keyword : Pembelajaran kooperatif tipe STAD, metode diskusi, hasil belajar matematika.

Seperti kita tahu bahwa kebanyakan siswa memandang Matematika sebagai bidang studi yang paling sulit. Berdasarkan hal ini banyak siswa yang menganggap remeh bidang studi Matematika sehingga mengakibatkan hasil pembelajaran pada bidang studi matematika menurun. Untuk meningkatkan hasil belajar Matematika peneliti mencoba menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode diskusi. Penelitian ini menggunakan dua siklus yang setiap siklusnya memiliki empat tahapan yaitu: tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap observasi, dan yang terakhir adalah tahap refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 2 SMA Sejahtera Surabaya. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah tes dan dokumentasi. Dari hasil penelitian diperoleh data yaitu pada data dokumentasi persentase ketuntasan belajar klasikal mencapai 52,63%. Siklus I persentase ketuntasan belajar klasikal mencapai 50%. Siklus II persentase ketuntasan belajar klasikal mencapai 89,47%. Berdasarkan penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode diskusi dapat meningkatkan hasil belajar matematika pokok bahasan peluang pada siswa kelas XI IPA 2 SMA SEJAHTERA Surabaya, serta dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran matematika.

PDF

MODEL PEMBELAJARAN CONCEPTUAL UNDERSTANDING PROCEDURES (CUPs) BERDASARKAN TEORI KONSTRUKTIVISME VYGOTSKY PADA MATERI OPERASI HITUNG BENTUK ALJABAR

Oleh : Astutiningtiyas , S1 – Pendidikan Matematika

Pemahaman konsep matematika sangat penting, karena untuk memahami konsep yang baru diperlukan prasyarat pemahaman konsep sebelumnya. Salah satu alternatif yaitu dengan menggunakan model pembelajaran Conceptual Understanding Procedures (CUPs). CUPs merupakan model pembelajaran yang bertujuan untuk membantu meningkatkan pemahaman konsep yang dianggap sulit oleh siswa.CUPs terdiri dari 3 tahap yaitu (1) masalah individu, (2) diskusi kelas, (3) diskusi kelompok. Dalam proses tahapan tersebut juga diperlukan adanya interaksi sosial. Hal ini sesuai dengan teori konstruktivisme Vygotsky bahwa proses belajar akan terjadi secara efektif apabila belajar secara kooperatif dalam suasana dan lingkungan yang mendukung (supportive), dengan bimbingan seorang yang lebih mampu. Teori ini berperan dalam menganalisis kegiatan belajar siswa untuk memahami konsep-konsep matematika serta interaksi pada kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan pada model pembelajaran CUPs pada pokok bahasan operasi hitung bentuk aljabar.
Keyword : Conceptual Understanding Procedures (CUPs), Konstruktivisme Vygotsky, Operasi Hitung Bentuk Aljabar

PDF

1 2 3 4