PEMBELAJARAN BAHASA SASTRA INDONESIA MEMERLUKAN SELF REGULATED

Oleh : Retno Danu Rusmawati, S1 – Pendidikan Bahasa Indonesia (retnodanu@ymail.com, pambayun61@gmail.corn)

Pembelajaran Bahasa Sastra Indonesia di sekolah mencakup ruang lingkup aspek kebahasaan, keterampilan berbahasa, dan kesastraan. Pada kenyataan yang ada hasil belajar Bahasa sastra Indonesia Ujian nasional masih belum menempati ranking pertama karena itu pembelajaran bahasa sastra Indonesia tidak cukup hanya proses pembelajaran yang berlangsung di dalam dan di luar kelas saja namun juga memerlukan keterampilan-keterampilan pengaturan din (self-regulated skills). Jika pemikiran dan tindakan dibawah kontrol diri pembelajar, bukan dikendalikan dan dikontrol orang lain, walaupun kondisi juga sangat mempengaruhi maka pemelajar yang demilcian itu dapat disebut sebagai individu-individu pemelajar yang mampu mengatur diri. Sebagai pemelajar yang mampu mencapai target dan tujuan berproses pembelajaran adalah pemelajar tersebut memiliki kemandirian mengontrol dan mengevaluasi diri sendiri dalam belajar.
Self — regulated Learning (pengaturan diri) adalah proses pembelajaran terpadu, yang terdiri dan pengembangan satu set perilaku konstruktif yang mempengaruhi belajar seseorang. Proses ini direncanakan dan disesuaikan untuk mendukung mengejar tujuan pribadi dalam mengubah lingkungan belajar. Pemelajar dengan tingkat tinggi pengaturan diri memiliki kontrol yang baik atas pencapaian tujuan mereka. Sadar diri regulasi menghaniskan pemelajar untuk fokus pada proses bagaimana untuk memperoleh keterampilan ini.
Ruang lingkup materi pembelajaran Bahasa Indonesia mencakup aspek kemampuan berbahasa, kebahasaan, dan kesastraan. Aspek kemampuan berbahasa meliputi mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Aspek kebahasaan dan kesastraan sebagai penunjang kemampuan berbahasa dan apresiasi sastra tidak dituanglcan secara terpisah dan tidak pula dituangkan secara eksplisit, akan tetapi disajikan secara integratif dalam aspek kemampuan berbahasa yang meliputi mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Dengan kata lain aspek kebahasaan dan kesastraan menjadi aspek substansial dan kemampuan berbahasa.

PDF

 

MEMBANGUN KARAKTER ANAK MELALUI DONGENG DI KELUARGA

Oleh : Dwi Retnani Srinarwati, S1 – Pendidikan Bahasa Indonesia

Realitas di lapangan menunjukkan betapa banyak peristiwa dan pennasalahan yang terjadi dan dihubungkan dengan persoalan karakter. Seorang sastrawan, Muchtar Lubis (1991), menyatakan bahwa pada era 1970-an masyarakat Indonesia mempunyai ciri-ciri antara lain, manusia Indonesia memptuiyai karakter yang lemah — merupakan ciri ke enam. Selanjutnya, Lickona (2004) juga menyatakan bahwa ciri-ciri negara yang mengalami kemunduran adalah sebagai berikut: (1) meningkatnya kekerasan di kalangan; (2) penggunaan Bahasa dan kata-kata yang memburuk; (3) pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan; (4) meningkainya perilaku yang merusak diri seperti narkoba, sex bebas, dan alkohol; (5) kaburnya pedoman moral baik dan buruk; (6) penurunan etos kerja; (7) rendahnya rasa hormat kepada orangtua dan guru; (8) rendahnya rasa tanggung jawab baik sebagai individu dan warga negara; (9) ketidakjujuran yang telah membudaya; serta (10) adanya rasa sating curiga dan kebencian di antara sesama. Tanda-tanda sebagaimana disebutkan di atas, dapat menjadi mata pisau guns mencermati dan menganalisis kondisi di lingkungan sekitar. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa mayoritas ciri tersebut memang ada di sekitar kita. Oleh karena itu, saat ini pendidikan karakter dirasakan menjadi kebutuhan yang sangat mendesak untuk diselenggarakan. Pendidikan karakter dapat diselenggarakan melalui pendidikan formal, non formal, dan informal. Keluarga demokratis sebagai lembaga informal dapat menjadi basis membangun karakter bangsa dengan berbagai cara, dan jika dilaksanakan dengan sungguh-sungguh akan sangat berkontribusi bagi keberhasilan pembangunan karakter bangsa.

PDF

1 2