Prediktor Skor Tes Kemampuan Berpikir Verbal, Numerikal, dan Abstrak Terhadap Kriteria Prestasi Akademik Mahasiswa

JURNAL PENELITIAN PSIKOLOGI
April 2011 || ISSN: 2087-3441
Penyelenggara : Program Studi Psikologi Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel
Penulis : Hartono
PDF VERSI CETAK/ASLI

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan uji validitas prediktif tes kemampuan berpikir verbal, numerikal, dan berpikir abstrak dengan kriteria prestasi akademik mahasiswa. Hasil studi ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang efektivitas penggunaan tes ini dalam kebijakan seleksi penerimaan mahasiswa baru. Populasi penelitian ini adalah para mahasiswa Program Studi PGSD FKIP Universitas PGRI Adi Buana Surabaya angkatan tahun 2007, sebanyak 95 orang. Data-data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan tes kemampuan berpikir verbal, tes kemampuan berpikir numerikal, tes kemampuan berpikir abstrak, dan dokumentasi indeks prestasi akademik komulatif. Temuan penelitian ini adalah skor tes kemampuan berpikir verbal, skor tes kemampuan berpikir numerikal, dan skor tes kemampuan berpikir abstrak secara bersama-sama dinyatakan signifikan sebagai prediktor yang baik untuk memprediksi prestasi akademik mahasiswa.

Kata kunci: Tes kemampuan berpikir verbal, numerikal, dan abstrak, serta prestasi akademik.

Pendahuluan

Tes kemampuan berpikir verbal, numerikal, dan abstrak semakin meluas penggunaannya tidak hanya pada karyawan/pekerja di lingkungan perusahaan/industri, namun juga banyak digunakan pada lingkungan pendidikan formal, seperti SMP, SMA dan yang sederajat serta perguruan tinggi. Pada umumnya tujuan penggunaan tes ini adalah untuk kepentingan seleksi dan prediksi.

Tes kemampuan berpikir verbal dirancang untuk mengukur kemampuan seseorang dalam memahami ide-ide dan konsep-konsep yang dinyatakan dalam bentuk kata-kata. Tes kemampuan berpikir numerikal dirancang untuk mengukur kemampuan seseorang dalam memahami ide-ide dan konsep-konsep yang dinyatakan dalam bentuk angka-angka. Sedangkan tes kemampuan berpikir abstrak dirancang untuk mengukur kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah-masalah, jika masalah-masalah itu disajikan dalam arti ukurannya, bentuknya, posisinya, atau lain-lain bentuk yang tidak bersifat verbal atau angka. Ketiga tes tersebut diciptakan G.K. Bennet pada tahun 1947, dan dikembangkan di Indonesia sebagai sub tes DAT (Differential Aptitude Test) atau Tes Bakat Diferensial yang digunakan untuk memprediksi kinerja seseorang dalam melakukan pekerjaan (vocational achievement) dan prestasi akademik (academic achievement) peserta didik pada lingkungan pendidikan formal (Hartono, 2005:57).

Prestasi akademik merupakan hasil kinerja seseorang yang menggambarkan kemampuannya dalam mempelajari dan memahami seperangkat matakuliah yang disajikan dalam satu atau beberapa semester menurut kurikulum yang diterapkan. Pada perguruan tinggi, sejak tahun 2004 sampai saat ini telah berlangsung penerapan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang diatur di dalam Kepmendiknas Nomor 232/U/2000 dan Nomor 045/U/2002, seperangkat matakuliah yang dikembangkan berdasarkan kompetensi dikelompokkan ke dalam lima kelompok yaitu kelompok (1) matakuliah keilmuan dan keterampilan (MKKK) disepadamkan dari learning to know, (2) matakuliah keahlian berkarya (MKKB) disepadamkan dari learning to do, (3) matakuliah perilaku berkarya

Makalah Mimbar Ilmiah Universitas PGRI Adi Buana Surabaya 22 September 2011: Hartono 1

(MKPB) disepadamkan dari learning to be, (4) matakuliah berkehidupan bersama (MKBB) disepadamkan dari learning to live together, dan matakuliah pengembangan kepribadian (Depdiknas, 2008:11).

Prestasi akademik mahasiswa dapat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Yang termasuk faktor internal adalah faktor yang bersumber dari diri mahasiswa, mencakup faktor: (1) kemampuan/kecerdasan, (2) kesehatan fisik, psikis dan sosial, (3) motivasi intrinsik, (4) minat, serta (5) perhatian. Faktor eksternal adalah faktor yang bersumber dari luar diri mahasiswa, yang mencakup faktor: (1) kurikulum dan model pembelajaran yang diterapkan, (2) iklim/suasana pembelajaran, (3) motivasi ekstrinsik, dan (4) infrastruktur pembelajaran yang terdiri dari ruang kuliah dan kelengkapannya, laboratorium, serta perpustakaan. Dengan kata lain kualitas lulusan perguruan tinggi dipengaruhi oleh kualitas input dan kualitas proses yang diuraikan pada gambar 1 sebagai berikut.

1 2 3

Gambar 1: Hubungan kualitas input dan proses pendidikan dalam mempengaruhi kualitas lulusan Perguruan Tinggi

Kualitas input terdiri dari kemampuan/kecerdasan mahasiswa, kesehatan mahasiswa, motivasi mahasiswa, minat dan perhatian mahasiswa dalam kegiatan belajar dan pembelajaran. Semakin baik kualitas input tersebut diprediksikan akan semakin baik pengaruhnya pada proses pendidikan. Kualitas proses pendidikan terdiri dari kualitas kurikulum dan implementasinya, kompetensi dosen, dan pemanfaatan insfrastruktur pendidikan (sarana pembelajaran di dalam kelas, laboratorium dan perpustakaan). Semakin baik kualitas proses pendidikan yang diwujudkan dengan meningkatnya kualitas interaksi proses pembelajaran yang didukung dengan pemanfaatan sarana pembelajaran yang memadai dari aspek kuantitas dan kualitas, maka keluaran/lulusan perguruan tinggi akan semakin baik kualitasnya. Kualitas lulusan pendidikan tinggi dapat diukur dari dua aspek, yaitu aspek outcome dan impact. Outcome adalah seberapa jauh lulusan perguruan tinggi mampu melaksanakan pekerjaan/profesi yang dibutuhkan masyarakat, sedangkan impact menunjuk pada derajat kemampuan lulusan perguruan tinggi dalam melahirkan temuan-temuan baru yang berguna bagi kemajuan bangsa dan negara.

Kemampuan/kecerdasan mahasiswa merupakan salah satu faktor input yang dipandang sangat berpengaruh dalam proses pendidikan. Untuk memperoleh calon mahasiswa yang memiliki kemampuan/kecerdasan yang unggul, dapat dilakukan dengan cara menyelenggarakan sistem seleksi yang kredibel. Di antaranya melakukan tes kemampuan berpikir verbal, kemampuan berpikir numerikal, dan kemampuan berpikir abstrak. Asumsi yang mendasari penggunaan tes tersebut adalah (1) kemampuan berpikir verbal, numerikal, dan abstrak calon mahasiswa baru dapat diukur dengan menggunakan tes psikologis; dan (2) telah tersedia tes baku untuk mengukur kemampuan berpikir verbal, numerikal, dan abstrak calon mahasiswa, sebagai sub tes dari tes DAT (Differential Aptitude Test) yang telah dikembangkan di Indonesia.

Meskipun penggunaan tes kemampuan berpikir verbal, numerikal, dan berpikir abstrak mendasarkan pada asumsi sebagaimana yang diuraikan di atas, namun kecermatan penggunaan tes tersebut juga dipengaruhi oleh faktor-faktor budaya (Rogler, 2010:1) seperti faktor sosialisasi, kebiasaan-kebiasaan, kerja sama, dan perilaku lain yang didorong oleh kebutuhan-kebutuhan individu yang bersangkutan (http://www.lotsofessays.com, diakses

Input

Keluaran

Proses

Pendidikan

Makalah Mimbar Ilmiah Universitas PGRI Adi Buana Surabaya 22 September 2011: Hartono 2

tanggal 22 Februari 2011 pukul 12.00 WIB). Dengan demikian sangat sulit mengembangkan suatu tes psikologis yang bebas dari pengaruh budaya. Banyak perguruan tinggi yang mahasiswanya berasal dari latar belakang budaya yang berbeda-beda, dan hal ini membentuk pola pikir yang berbeda pula dalam melakukan berbagai aktivitas.

Penelitian di Indonesia untuk mengkaji validitas prediktif tes kemampuan berpikir verbal, tes kemampuan berpikir numerikal, dan tes kemampuan berpikir abstrak belum pernah dilakukan pada populasi mahasiswa. Penelitian ini telah dilakukan Marthen Pali (1993:147-149) pada populasi siswa SMA. Hasilnya adalah skor tes kemampuan verbal, numerikal, dan berpikir abstrak merupakan prediktor yang baik untuk memprediksi prestasi belajar siswa di semua kelas dan jurusan di SMA.

Dengan demikian, sampai saat ini belum tersedia informasi yang valid/sahih tentang kecermatan tes kemampuan berpikir verbal, numerikal, dan abstrak sebagai prediktor yang baik terhadap kriteria prestasi akademik mahasiswa. Atas dasar hal tersebut, maka penelitian ini perlu dilakukan yang hasilnya diharapkan dapat memberi manfaat yang berharga bagi para pengelola perguruan tinggi dalam implementasi program seleksi penerimaan calon mahasiswa baru pada umumnya, dan pada khususnya bagi penulis, hasil penelitian ini sangat berharga dalam memberikan informasi atas efektivitas penggunaan tes ini dalam kebijakan seleksi penerimaan calon mahasiswa baru pada program studi PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya.

Metode Penelitian

Penelitian ini dikelompokkan ke dalam kategori penelitian korelasional multi variat, dengan populasi pada 95 orang mahasiswa PGSD FKIP Universitas PGRI Adi Buana Surabaya angkatan tahun 2007. Data-data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan Tes Kemampuan Berpikir Verbal (TKBV), Tes Kemampuan Berpikir Numerikal (TKBN), Tes Kemampuan Berpikir Abstrak (TKBA), dan Dokumentasi Prestasi Akademik Mahasiswa (PAM). TKBV digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir verbal mahasiswa. TKBN digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir numerikal mahasiswa. TKBA digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir abstrak mahasiswa. Pengukuran ketiga kemampuan tersebut, dilakukan pada saat seleksi penerimaan calon mahasiswa baru pada tahun akademik 2007/2008. Data prestasi akademik mahasiswa (PAM) dikumpulkan berdasarkan dokumentasi indeks prestasi akademik komulatif sejak semester gasal tahun akademik 2007/2008 sampai dengan semester genap tahun akademik 2009/2010.

Analisis data-data penelitian dilakukan dengan menggunakan teknik analisis statistika parametrik korelasi Product Moment Pearson dan teknik analisis Regresi Linier (Chen, Ender, Mitchell & Wells, 2009; Norusis, 2000; Abdul Muhid, 2010). Sebelum data-data penelitian dianalisis, terlebih dulu dilakukan uji asumsi yaitu uji normalitas sebaran dan uji linieritas hubungan. Program statistika yang digunakan untuk melakukan analisis data penelitian ini adalah SPSS for Windows versi 16.00. Hasil uji normalitas sebaran diuraikan pada tabel 1, sedangkan hasil uji linieritas hubungan skor TKBV dengan PAM diperoleh nilai Sum of Squares = 366,765 derajad kebebasan (df) = 1, Mean Square = 366,765, nilai F = 11,546 pada peluang kesalahan (p) = 0,027 yang berarti hubungannya linier. Hasil uji linieritas hubungan skor TKBN dengan PAM diperoleh nilai Sum of Squares = 263,881 derajad kebebasan (df) = 1, Mean Square = 263,881, nilai F = 12,612 pada peluang kesalahan (p) = 0,001 yang berarti hubungannya linier. Hasil uji linieritas hubungan skor TKBA dengan PAM diperoleh nilai Sum of Squares = 350,162 derajad kebebasan (df) = 1, Mean Square = 350,162, nilai F = 6,024 pada peluang kesalahan (p) = 0,018 yang berarti hubungannya juga linier.

Makalah Mimbar Ilmiah Universitas PGRI Adi Buana Surabaya 22 September 2011: Hartono 3

Tabel 1

Hasil Uji Normalitas Sebaran Data Penelitian

No. Data Metode Kolmogorov-Smirnov
Statistik db Sig. (p) Status  
1. Skor TKBV 0,071 95 0,200 Sebarannya normal
2. Skor TKBN 0,087 95 0,073 Sebarannya normal
3. Skor TKBA 0,099 95 0,067 Sebarannya normal
4. PAM 0,060 95 0,200 Sebarannya normal

PENAJAMAN PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING PADA JALUR PENDIDIKAN FORMAL

JURNAL PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
Desember 2009 || ISSN: 1411-3376
Penyelenggara : Universitas Negeri Surabaya
Penulis : Hartono

PDF
VERSI CETAK/ASLI

Abstrak:

Naskah model pengembangan diri yang diterbitkan Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas tahun 2006, setidaknya bisa membuahkan pengaburan eksistensi bimbingan dan konseling di tanah air yang sejak tahun 1975 dinyatakan sebagai bagian integral dalam keseluruhan praksis pendidikan di sekolah. Artikel ini memaparkan permasalahan bimbingan dan konseling di sekolah serta solusi cerdas yang diamanatkan naskah penataan pendidikan profesional konselor dan layanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal yang diterbitkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas tahun 2007. Pelayanan bimbingan dan konseling pada jalur pendidikan formal yang memandirikan peserta didik, ditata ke dalam empat komponen, yakni komponen pelayanan dasar, komponen pelayanan responsif, komponen pelayanan perencanaan individual, dan komponen pelayanan dukungan sistem.

A. Pendahuluan
Mungkin terusik pada pikiran kita, mengapa kita kesekian kali masih perlu membahas tentang pelayanan bimbingan dan
konseling pada jalur pendidikan formal, yang mestinya sudah tidak perlu dibahas lagi, dalam arti kita seharusnya sudah mampu mewujudkan tugas ini di lapangan. Berbagai faktor penghambat penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling dewasa ini di tanah air, bila dicermati setidaknya dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu: (1) penghambat yang bersumber dari SDM (sumber daya manusia), (2) penghambat yang bersumber dari kerancuan materi pelayanan, dan (3) penghambat yang bersumber dari dukungan sistem. Penghambat yang bersumber dari SDM, selama ini semakin dirasakan bahwa kualitas tenaga konselor sekolah (guru BK) pada jalur pendidikan formal dalam tataran nasional masih jauh dari harapan sebuah lazimnya suatu profesi. Profesi merupakan pekerjaan yang bersifat pelayanan bantuan keahlian dengan tingkat ketepatan yang tinggi untuk kebahagiaan pengguna berdasarkan norma-norma yang berlaku (Johnson & Johnson,
2002). Pelayanan profesi bimbingan dan konseling khususnya pada jalur pendidikan formal seharusnya mampu menjadikan kepercayaan pengguna yaitu konseli (peserta didik), bahwa pelayanan ini sebagai salah satu pelayanan yang sangat dibutuhkan di sekolah. Penegasan pelayanan yang dibutuhkan konseli dapat didasarkan pada kemanfaatan dalam
tataran proses perkembangan peserta didik (konseli) sebagai individu yang berada dalam tahapan perkembangan. Namun bila disimak secara mendalam, berapa persen peserta didik yang dengan sukarela datang sendiri untuk meminta pelayanan konseling kepada konselor sekolah (guru BK) dalam setiap hari. Jangan-jangan yang terjadi, tidak ada satu pun peserta didik yang melakukan hal ini. Penghambat yang bersumber dari materi pelayanan bimbingan dan konseling yang 1 Staf Pengajar Prodi BK FKIP Universitas PGRI Adi Buana Surabaya Hartono, Penajaman Pelayanan Bimbingan dan Konseling 89 dirancukan dewasa ini semakin dirasakan. Beberapa konselor sekolah (guru BK) sempat bertanya kepada penulis tentang penerapan model pengembangan diri melalui pelayanan bimbingan dan konseling yang diterbitkan oleh pusat kurikulum, Balitbang Depdiknas akhir tahun 2006 yang lalu, yang seharusnya program ini sudah tidak berlaku lagi karena telah dilakukan penataan dalam tahun 2007 oleh Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Depdiknas bekerja sama dengan ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia) sebagai organisasi profesi bidang bimbingan dan konseling, ke dalam naskah penataaan pendidikan profesional konselor dan layanan bimbingan dan konseling dalam jalur
pendidikan formal (Depdiknas, 2007).
Masalah ini terjadi, mungkin disebabkan karena belum tersosialisasikannya naskah penataan pendidikan profesional konselor dan layanan bimbingan dan konseling dimaksud, kepada seluruh jajaran sekolah-sekolah di tanah air. Dengan demikian, belum dipahaminya materi bimbingan dan konseling ini dapat menimbulkan kerancuan di lapangan. Penghambat yang bersumber dari rendahnya dukungan sistem yaitu kegiatan manajemen, tata kerja, infra struktur dan pengembangan kemampuan profesional konselor sekolah (guru BK) secara berkelanjutan, yang seharusnya dalam ranah profesi lazimnya diposisikan sebagai faktor pendukung terselenggaranya pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan konseli (peserta didik). Pelayanan profesional bimbingan dan konseling membutuhkan dukungan sistem yang kuat dan handal berupa sistem manajemen dan tata kerja yang kondusif, infrastruktur yang baik dan adanya upaya pengembangan kualitas konselor profesional yang berkelanjutan dan tak pernah berhenti. Bila dicermati dari biblio bimbingan dan konseling saja, sebagian besar diduga masih tahap pajangan (kamuflase) yang harus difoto untuk kepentingan dokomen portofolio sertifikasi guru BK dalam jabatan, belum pada tahap pentingnya referensi sebagai dukungan eksistensi profesi lazimnya seperti profesi
pengacara, dokter, akuntan dan yang lainnya, di mana pengampunya dalam sehari-hari harus banyak membaca referensi profesi untuk meningkatkan dan mempertahankan profesinya di dalam kehidupan masyarakat. Layak diakui, profesi bimbingan dan konseling saat ini di tanah air belum dapat menyamai, apalagi mengungguli beberapa contoh profesi yang disebutnya tadi. Dengan kondisi-kondisi seperti ini, profesi bimbingan dan konseling saat ini dan ke depan harus selalu ditingkatkan, baik dari aspek kualitas konselor (guru BK), pelayanan maupun dukungan sistemnya,
karena hal ini saling berkaitan. Berdasarkan paparan di atas, kiranya konselor sekolah (guru BK) sebagai pengampu ahli pelayanan bimbingan dan konseling (Depdiknas, 2007) hendaknya memiliki komitmen dan upaya yang kuat untuk mengembangkan profesi bimbingan dan konseling melalui berbagai aktivitas pengembangan yang dapat meningkatkan citra profesi bimbingan dan konseling sebagai pelayanan yang dibutuhkan masyarakat dan tetap tegak berdiri kokoh di tengah peradaban dunia.
B. Kedudukan dan Landasan Pelayanan Bimbingan dan Konseling
Sejak diberlakukan kurikulum tahun 1975 pada semua jalur dan jenjang pendidikan, bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dalam keseluruhan praksis pendidikan di sekolah. Saat itu, bimbingan dan konseling disebut sebagai bimbingan dan penyuluhan. Perbedaan peran konselor sekolah (guru 90 Jurnal Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, Vol.10 No.2, Desember 2009, hlm. 88-94 pembimbing) dengan peran guru pelajaran (guru mapel) sebagaimana tampak pada gambar 1. Berdasarkan gambar 1, dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dalam keseluruhan sistem pendidikan di sekolah; (2) konteks tugas konselor sekolah (guru BK) berbeda dengan konteks tugas guru mata pelajaran (guru mapel); (3) konselor sekolah (guru BK) sebagai pengampu ahli pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan konseli (peserta didik); dan (4) guru mata pelajaran (guru mapel) sebagai mengampu pembelajaran yang mendidik. Walaupun keduanya memiliki perbedaan dalam hal konteks tugasnya, namun haruslah dipahami bahwa pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan dan pembelajaran yang mendidik yang diberikan kepada peserta didik dengan dukungan sistem manajemen sekolah yang kondusif, dimaksudkan agar setiap peserta didik dapat mencapai perkembangan optimal.
Gambar 1
Kedudukan Bimbingan dan Konseling dalam Sistem Pendidikan di Sekolah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 butir (6), dinyatakan bahwa keberadaan konselor sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, dan fasilitator yang berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Pasal 12 ayat (1b) menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya. Berdasarkan Pasal 39 ayat (2), tugas konselor harus diartikan secara cerdas sebagai pendidik yang merencanakan dan melaksanakan pelayanan bimbingan
dan konseling, mengevaluasi hasil pelayanan bimbingan dan konseling yang telah diberikan kepada konseli (peserta didik), serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dasar legal tersebut memperkuat posisi konselor sebagai pengampu pelayanan ahli bimbingan dan konseling yang memandirikan konseli (peserta didik).
C. Bimbingan dan Konseling yang Memandirikan Manajemen & Supervisi Pembelajaran Bimbingan dan Konseling Wilayah Manajemen dan Kepemimpinan Wilayah Pembelajaran yang mendidik Wilayah Bimbingan dan Konseling yang memandirikan Tujuan Perkembangan optimal setiap peserta didik Hartono, Penajaman Pelayanan Bimbingan dan Konseling 91 Pelayanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan pada setting persekolahan merupakan bagian integral yang tidak bisa dipisahkan. Pelayanan ini memfasilitasi individu konseli (peserta didik) dalam mencapai tingkat perkembangannya, pengembangan perilaku efektif, dan peningkatan keberfungsian individu dalam lingkungannya (PB ABKIN, 2008). Bimbingan dan konseling pada hakikatnya adalah proses layanan perkembangan individu, tidak hanya berorientasi pada pemecahan masalah sekarang ini, tetapi juga berpusat pada pengembangan perilaku jangka panjang. Searah dengan konsep ini, kedudukan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi yang bergerak di dalam bidang pendidikan, dimaksudkan untuk membantu konseli (peserta didik) dalam mencapai kemandirian (autonomy). Kemandirian peserta didik sebagai autcome bimbingan dan konseling mencakup kemandirian dalam aspek pribadi dan sosial, di antaranya dalam aspek belajar, pergaulan, dan karier. Kemandirian (autonomy) individu merupakan suatu kebebasan dalam melakukan perbuatan atau aktivitas yang bermanfaat baik bagi dirinya maupun bagi orang lain yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab.
Kemandirian dalam belajar merupakan kebebasan peserta didik untuk melakukan berbagai aktivitas belajar yang mendukung masa depannya. Kemandirian dalam pergaulan merupakan kebebasan peserta didik untuk memilih teman pergaulan yang baik yang mendukung kegiatan belajarnya. Kemandirian dalam memilih karier merupakan kebebasan
peserta didik untuk memilih karier, meraih karier dan mempertahankan kariernya dalam kehidupan di masyarakat. Peserta didik yang memiliki perilaku mandiri ditandai oleh lima ciri, yaitu: (1) menunjukkan rasa percaya diri, (2) memiliki tanggung jawab, (3) mampu mengarahkan dan mengembangan diri, (4) menunjukkan perilaku tekun, inisiatif dan kreatif, dan (5) memiliki keinginan kuat untuk mengerjakan sesuatu tanpa bantuan orang lain (Guay, Senecal, Gauthier & Fernet, 2003; Harre & Lamb,
1986; Knights & Willmott, 2007; McGrath dalam Smith, 2007). Secara visual kelima ciri kemandirian tersebut ditunjukkan pada gambar 2.

Gambar 2
Ciri-Ciri Perilaku Mandiri Individu. Elaborasi dari Guay, Senecal, Gauthier & Fernet (2003), Harre dan Lamb (1986), Knights & Willmott (2007), dan McGrath (dalam Smith, 2007) Percaya Diri Tanggung Jawab Mengarahkan & Mengembangkan Diri Tekun, Inisiatif, & Kreatif Ingin Mengerjakan Sesuatu Tanpa Bantuan Orang Lain 92 Jurnal Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, Vol.10 No.2, Desember 2009, hlm. 88-94 Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: (1) bimbingan dan konseling merupakan pelayanan pendidikan di sekolah untuk membantu konseli (peserta didik) dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal, (2) pelayanan bimbingan dan konseling yang diberikan kepada konseli (peserta didik) bertujuan untuk memandirikan mereka dalam aspek pribadi dan sosial, dan (3) perilaku kemandirian konseli (peserta didik) ditunjukkan dengan rasa percaya diri, tanggung jawab, mengarahkan dan mengembangkan diri, berperilaku tekun, inisiatif dan kreatif, dan berkeinginan untuk melakukan sesuatu aktivitas produktif tanpa bantuan orang lain.
D. Program Bimbingan dan Konseling Program bimbingan dan konseling pada setting persekolahan berisi pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling yang dikelompokkan menjadi empat komponen, yaitu (1) komponen pelayanan dasar, (2) komponen pelayanan responsif, (3) komponen pelayanan perencanaan individual, dan (4) komponen pelayanan dukungan sistem (Depdiknas, 2007).

  1. Komponen Pelayanan Dasar
    Pelayanan dasar adalah proses bantuan kepada seluruh konseli (peserta didik) melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku jangka panjang sesuai dengan tahap dan tugas-tugas perkembangan (yang dituangkan sebagai standar kompetensi kemandirian), yang diperlukan dalam pengembangan kemampuan pengambilan keputusan menjalani kehidupannya. Tujuan pelayanan dasar adalah untuk membantu konseli (peserta didik) agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya. Dengan kata lain pelayanan ini bertujuan untuk membantu konseli (peserta didik) untuk dapat mencapai tugas perkembangannya. Individu yang mampu mencapai tingkat perkembangan ini diwujudkan dalam perilaku (1) memiliki kesadaran dan pemahaman tentang dirinya dan lingkungannya,
    (2) mampu menemukan dan mengembangkan pengetahuan serta keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan, (3) mampu memenuhi kebutuhan hidupnya secara logis dan bertanggung jawab, dan (4) mampu mencapai kesejahteraan hidup. Beberapa pelayanan bimbingan dan konseling yang dapat dikelompokkan ke dalam komponen pelayanan dasar adalah (1) pelayanan orientasi, (2) pelayanan informasi, (3) pelayanan instrumentasi, (4) pelayanan bimbingan kelompok, (5) pelayanan konseling kelompok, (6) pelayanan penempatan dan penyaluran, (7) pelayanan konsultasi, dan (8) pelayanan mediasi. Pelayanan-pelayanan tersebut dikembangkan oleh konselor sekolah (guru BK) di sekolah ke dalam bidang bimbingan pribadi, bimbingan belajar, bimbingan sosial, bimbingan karier, dan bimbingan akhlak mulia/budi pekerti (Depdiknas, 2009) dengan menggunakan metoda, media, dan dukungan peralatan yang memadai.
  2. Komponen Pelayanan Responsif
    Pelayanan responsif adalah proses bantuan kepada konseli (peserta didik) yang menghadapi kebutuhan dan masalah yang membutuhkan penanganan dengan segera, sebab jika tidak segera dibantu akan menimbulkan gangguan-gangguan dalam proses pencapaian tugas-tugas perkembangannya. Tujuan pelayanan ini adalah membantu konseli (peserta didik) agar dapat memenuhi kebutuhannya dan memecahkan masalah yang dialaminya. Dengan demikian pelayanan responsif bersifat pengentasan atau penyembuhan. Beberapa bentuk pelayanan ini adalah: (1) konseling individual, (2) kunjungan rumah, (3) konferensi kasus, (4) referal, dan (5) kolaborasi guru, orang-tua dan ahli lain. Untuk mendukung pelayanan responsif, konselor sekolah (guru BK) harus ahli dalam bidang bimbingan dan konseling, bukan sekedar seorang guru yang ditugaskan oleh atasannya pada ranah bimbingan dan konseling dan lulus PLPG (pendidikan dan latihan profesi guru) Hartono, Penajaman Pelayanan Bimbingan dan Konseling 93 tanpa dukungan kualitas akademik dan profesional yang cukup. Dengan kata lain, pengampu pelayanan konseling yang disebutkan di atas adalah sosok konselor sekolah (guru BK)
    profesional (Johnson & Johnson, 2002; McLeod, 2003).
  3. Komponen Pelayanan Perencanaan Individual
    Pelayanan perencanaan individual adalah proses bantuan kepada konseli (peserta didik) agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa depan, berdasarkan pemahaman diri (kelebihan dan kekurangan diri) dan pemahaman lingkungan (pilihan karier, jurusan program studi, peluang dan kondisi karier yang diminati). Pelayanan ini pada akhirnya bertujuan agar konseli (peserta didik) mampu melakukan pengambilan keputusan karier, meraih dan mempertahankan kariernya pada masa mendatang, sehingga mereka dapat memperoleh kesejahteraan hidup sebagai warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum (the common good). Untuk memenuhi pelayanan ini, konselor sekolah (guru BK) perlu melakukan inovasi yang kreatif yang akhirnya mengkristal menjadi suatu karya model pelayanan bimbingan dan konseling, sebagaimana yang penulis kembangkan saat ini berupa bimbingan karier berbantuan komputer (computerassisted career guidance), merupakan karya penulis yang dapat dikelompokkan ke dalam pelayanan perencanaan individual, meskipun penyelenggaraannya bersifat klasikal, namun membutuhkan pendekatan individual dalam bentuk diskusi/konsultasi untuk membahas hasil asesmen yang dicapai. Dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia, konselor sekolah (guru BK) diharapkan mampu berinovasi untuk mengembangkan pelayanan bimbingan dan konseling.
  4. Komponen Pelayanan Dukungan Sistem
    Dukungan sistem mencakup kegiatan manajemen dan tata kerja serta tersedianya infra struktur seperti berbagai fasilitas yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling, termasuk tersedianya
    teknologi informasi dan komunikasi, dan pengembangan kemampuan profesional konselor sekolah (guru BK) secara berkelanjutan, yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada konseli (peserta didik) atau memfasilitasi kelancaran perkembangan konseli. Dukungan sistem ini meliputi aspekaspek
    (1) pengembangan jejaring (networkking),
    (2) kegiatan manajemen,
    (3) riset dan pengembangan (Depdiknas, 2007).
    Pengembangan jejaring mencakup kegiatan konselor sekolah (guru BK) untuk melakukan konsultasi dengan guru, kerja sama, berpartisipasi melaksanakan program sekolah, kolaborasi dengan pihak/ahli lain yang terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling. Kegiatan manajemen merupakan berbagai upaya untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling melalui kegiatan-kegiatan; pengembangan program, pengembangan staf, pemanfaatan sumber daya, dan pengembangan penataan kebijakan. Sedangkan kegiatan riset dan pengembangan mencakup berbagai upaya pengembangan dengan menggunakan pendekatan ilmiah (McLeod, 2003), yang menghasilkan produk-produk pengembangan pelayanan bimbingan dan konseling. Berbagai aktivitas yang bertujuan mengembangkan materi, teknik, dan media bimbingan dan konseling melalui pendekatan empiris dikategorikan kegiatan riset dan pengembangan.
    Dengan demikian, ke depan profesi bimbingan dan konseling dapat menjadi suatu profesi pilihan masyarakat sebagaimana profesi dokter, pengacara, akuntan, apoteker, sosiolog, psikolog, psikiater, dan lainnya yang tetap eksis di tengah masyarakat global.
    E. Penutup
    Bila dicermati apa yang telah dipaparkan di atas, kiranya kita tergelitik untuk senantiasa
    mengembangkan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah-sekolah, melalui pengembangan
    kualitas diri konselor (guru BK), pengembangan pelayanan, pengembangan 94 Jurnal Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, Vol.10 No.2, Desember 2009, hlm. 88-94 manajemen, dan pengembangan infra struktur yang mendukung pelayanan bimbingan dan konseling.
    Pengembangan kualitas diri konselor bisa dilakukan bila para konselor sekolah (guru BK) sebagai pengampu pelayanan ahli bimbingan dan konseling, sanggup dan merasa memiliki profesi bimbingan dan konseling.
    Tanpa kesadaran itu, kemajuan sumber daya manusia pada profesi bimbingan dan konseling ke depan, hanya merupakan impian belaka (tak ada wujudnya).
    Pengembangan pelayanan bimbingan dan konseling ke depan memerlukan kegiatan riset yang mampu menjawab berbagai kebutuhan yang terkait dengan berkembang IPTEKS. Hasil riset harus mampu menyuburkan kemajuan profesi bimbingan dan konseling.
    Pengembangan manajemen dan infrastruktur merupakan kunci pokok suburnya profesi bimbingan dan konseling, karena hal ini terkait langsung dengan kualitas layanan profesi bimbingan dan konseling. Bila suatu layanan konseling bisa dilakukan secara kondusif, rahasia dan terpercaya, maka konseli (peserta didik) sebagai user pelayanan bimbingan dan konseling akan semakin percaya bahwa layanan konseling bisa memenuhi kebutuhannya.

  5. DAFTAR PUSTAKA
    Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN). Penegasan Profesi Bimbingan dan Konseling: Alur Pikir Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Bandung: PB ABKIN. Depdiknas. 2007. Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan
    Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Depdiknas. 2009. Sertifikasi Guru dalam Jabatan: Panduan Penyusunan Portofolio. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
    Guay, F., Senecal, C., Gauthier, L. & Fernet, C. 2003. Predicting Career Indecision: A Self-Determination Theory Perspective.
    Journal of Counseling Psychology, (Online), 50, 2, 165-177, (http://wwwpsych. rochester.edu, diakses tanggal 25
    November 2008 pukul 09.10 WIB).
    Harre, R. & Lamb, R. (Eds.). 1986. The Dictionary of Personality and Social Psychology. Oxford: Basil Blackwell
    Ltd.
    Johnson, C.D. & Johnson, S.K. (Eds.). 2002. Building Stronger School Counseling Programs: Bringing Futuristic Approaches into the Present. Greensboro: CAPS Publications.
    Knights, D. & Willmott, H. 2007. Autonomy as A Narrative of Oppression and of The Oppressed, (Online), (http://www.nngt.waikato.ac.nz, diakses tanggal 16 Februari 2008 pukul 14.20 WIB).
    McLeod, J. 2003. Doing Counseling Research (2nd Edition). London: Sage Publications.
    Smith, R.C. 2007. Teacher Education for Teacher-Learner Autonomy, (Online (http://www.warwick.acuk/~elsdr/teacher_autonomy.pdf, diakses tanggal 16 Februari 2008 pukul 23.43 WIB).
    Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bidang Dikbud
    KBRI Tokyo.

BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM KONTEKS PENDIDIKAN FORMAL: SUATU KAJIAN AKADEMIK

JURNAL PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
Juli 2009 || ISSN: 1411-3376
Penyelenggara : Universitas Negeri Surabaya
Penulis : Hartono
PDF VERSI CETAK/ASLI

Abstrak: Dilihat dari perspektif profesi, perkembangan bimbingan dan konseling di tanah air belum menunjukkan kemajuan lazimnya sebagai profesi yang mandiri. Permasalahan bimbingan dan konseling selalu menghadang dinamika profesi ini. Bimbingan dan konseling yang diamanatkan sebagai salah satu komponen pendidikan di sekolah yang memandirikan konseli (peserta didik), belum mampu mengemban amanat tersebut. Kontribusi konselor sekolah (guru BK) yang diwarnai kemampuan mengembangkan kompetensinya belum menjadi kenyataan dalam praksis pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.  Di pihak lain, kebijakan birokrasi menimbulkan peluang lebar dalam mengerdilkan profesi ini. Sebagai profesi, unjuk kerja bimbingan dan konseling seyogyanya memenuhi empat unsur, yakni teori pokok, praktik baku yang tervalidasi, otonomi profesi, dan organisasi profesi yang kredibel. Beberapa kegiatan ilmiah yang diusung dalam kajian ini untuk meningkatkan kompetensi konselor sekolah (guru BK) adalah penelitian, seminar, lokakarya, workshop, pelatihan, diskusi panel, dan kegiatan sejenis yang berskala lokal, nasional, regional, maupun internasional, untuk menyongsong masa depan bimbingan dan konseling sebagai profesi mandiri.

Kata kunci: Bimbingan dan konseling, konteks pendidikan formal, dan kajian akademik.

A.  Pendahuluan

Bila kita melihat perkembangan bimbingan dan konseling di tanah air sampai saat ini dilihat dari perspektif profesi, belum menunjukkan kemajuan lazimnya sebagai suatu profesi yang mandiri. Banyak permasalahan yang menghambat perkembangan profesi bimbingan dan konseling dewasa ini, seperti permasalahan yang bersumber dari aspek birokrasi, budaya masyarakat, maupun kualitas konselor sebagai aktornya pelayanan bimbingan dan konseling.

Pada setting persekolahan, pengakuan formal bimbingan dan konseling sebagai bagian integral dalam keseluruhan praksis pendidikan di sekolah dimulai sejak diberlakukannya kurikulum tahun 1975. Sementara itu, kurikulum tahun 1984 lebih menegaskan bahwa layanan bimbingan karier sebagai salah satu dari pelayanan bimbingan dan konseling. Sejak itu telah dikembangkan paket / modul bimbingan karier untuk SMA secara nasional yang diterbitkan oleh Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan, BP3K Depdiknas Jakarta (1984). Selanjutnya pada tahun 1985 telah diterbitan pedoman pelaksanaan bimbingan karier, kemudian kurikulum tahun 1994 dan kurikulum tahun 2004 memberlakukan petunjuk pelaksanaan bimbingan dan konseling serta buku panduan pelayanan bimbingan dan konseling berbasis kompetensi untuk SMA (Depdiknas, 2005), yang selanjutnya dipertajam dengan kurikulum tahun 2006 yang disebut kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).

Dalam kurun waktu tahun 2006, terjadi pemaknaan pengembangan diri secara sempit yang didasarkan pada Permendiknas Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Pengembangan diri dimaknai sebagai kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran yang merupakan bagian integral dari kurikulum sekolah/madrasah–sebagai upaya pembentukan watak dan kepribadian peserta didik  yang dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan pengembangan karier, serta kegiatan ekstra kurikuler (Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas, 2006), yang berdampak mencederai integritas layanan bimbingan dan konseling sebagai layanan ahli yang memandirikan peserta didik dalam jalur pendidikan formal (Raka Joni, 2007a).

Integritas bimbingan dan konseling sebagai layanan ahli yang memandirikan peserta didik tersebut, lazimnya mendapatkan dukungan positif baik dari dalam maupun luar profesi. Dukungan dari dalam profesi, dapat berupa pengembangan profesionalitas bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi yang memiliki kemandirian dan jati diri profesi yang siap memberikan pelayanan ahli khususnya kepada konseli (peserta didik) dan umumnya kepada masyarakat luas (counseling for all). Pengaruh dari luar profesi, terutama yang bersumber dari kebijakan birokrasi yang tidak mengaburkan eksistensi dan peran profesi bimbingan dan konseling, sangatlah diharapkan.

Di sekolah, beberapa kali terjadi kebijakan birokrasi yang justru mengaburkan eksistensi dan peran bimbingan dan konseling sebagai layanan ahli, Seperti adanya penugasan menjadi guru pembimbing (konselor sekolah) bagi seseorang guru yang tidak memiliki kompetensi bimbingan dan konseling tanpa pendidikan dan pelatihan yang memadai, yang bisa menimbulkan pembelokan pelayanan ahli bimbingan dan konseling ke arah polisi sekolah (school police), sehingga guru pembimbing–konselor sekolah bisa semakin dijauhi oleh peserta didik, karena mereka takut dengan guru pembimbing yang setiap hari banyak disibukan oleh urusan kedisiplinan siswa.

Lebih parah lagi adanya kebijakan pemerintah (Depdiknas) yang memberikan opsi bagi para guru yang berlatar belakang pendidikan formal non- BK yang berstatus sebagai kepala sekolah untuk mengikuti bidang sertifikasi bimbingan dan konseling–dalam perspektif bimbingan dan konseling sebagai profesi, kebijakan ini akan merugikan profesi bimbingan dan konseling sendiri. Permasalahan seperti ini yang penulis identifikasikan sebagai pengaruh dari luar profesi bimbingan dan konseling yang rawan menciderai kualitas pelayanan bimbingan dan konseling dalam konteks pendidikan formal–pendidikan pada sistem persekolahan.

Kualitas pelayanan ahli profesi bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh kualitas guru pembimbing–konselor sekolah dalam menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling. Kompetensi ini merupakan keniscayaan (tidak bisa tidak), dan harus dikembangkan terus sejalan dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan Seni (IPTEKS). Demikian pula dalam konteks pendidikan formal, bimbingan dan konseling sebagai bagian integral dalam keseluruhan praksis pendidikan di sekolah merupakan komponen penting untuk memandirikan peserta didik sebagai individu yang kelak memiliki kompetensi sesuai dengan bidang profesinya masing-masing. Melalui pelayanan- pelayanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, eksistensi profesi bimbingan dan konseling semakin kuat dalam konteks pendidikan formal.

B.  Kondisi Obyektif Pendidikan Formal

Dalam acara debat publik mengenai pendidikan nasional yang diselenggarakan oleh kumpulan wartawan pemerhati pendidikan pada tanggal 6 Mei 2006 dalam rangka hari pendidikan nasional, Winarno Surakhmad mengatakan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia sejak proklamasi menurun terus dan telah mencapai titik nadirnya dewasa ini (H.A.R. Tilar, 2006).

Terpuruknya mutu pendidikan di Indonesia juga dapat dibaca dari hasil survei Human Development Index (HDI) tentang peringkat pendidikan Indonesia dengan negara-negara lain di dunia: tahun 1996 peringkat 102 dari 174 negara; tahun 1999 peringkat 105 dari 174 negara; tahun 2000 peringkat 109 dari 174 negara (Raka Joni, 2005b); tahun 2003 peringkat 112 dari 175 negara (M. Joko Susilo, 2007; Gsianturi, 2003); tahun 2005 peringkat 110 dari 177 negara (http://hdr.undp.org, diakses tanggal 15 Februari 2008 pukul 14.30 WIB); dan tahun 2006 peringkat 108 dari 177 negara (http://hdr.undp.org, diakses tanggal 15 Februari 2008 pukul 14.35 WIB). Berdasarkan data ini, sejak tahun 1996 sampai dengan tahun 2003 peringkat Indonesia menurun terus, baru tahun 2005 dan tahun 2006 mulai membaik, walaupun masih jauh bila dibandingkan dengan Malaysia yang mampu menempati peringkat 61 pada tahun 2006.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pendidikan memegang peran yang sangat penting. Dengan pendidikan, kita bisa memajukan kebudayaan nasional dan mengangkat derajat bangsa Indonesia di dunia internasional. Sebagaimana pernah diungkapkan Daoed Joesoef dikutip M. Joko Susilo (2007) “pendidikan merupakan alat yang menentukan sekali untuk mencapai kemajuan dalam segala bidang penghidupan, dalam memilih dan membina hidup yang baik, yang sesuai dengan martabat manusia,”.

Pentingnya peran pendidikan dalam memajukan bangsa dapat kita lihat di beberapa negara maju (developed countries), seperti Amerika, Australia, Inggris, Jerman, Jepang dan negara lainnya. Mereka sangat menghargai pendidikan dan mengeluarkan dana yang sangat signifikan untuk membangun pendidikan sehingga bisa menjadi negara yang berteknologi tinggi.

Bagaimana dengan Indonesia, suatu bangsa yang telah merdeka 62 tahun yang lalu, belum menunjukkan komitmen dalam membangun pendidikannya. Hal ini dapat dilihat dari fenomena belakangan ini, PGRI sebagai organisasi guru telah menggugat pemerintah melalui Mahkamah Konstitusi atas Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2006 tentang APBN 2007 yang hanya mencantumkan anggaran pendidikan sebesar 11,8% dari APBN, yang dianggap bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara RI 1945 pasal 31 ayat 4 dan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 pasal 49 ayat 1 yang menyatakan bahwa anggaran pendidikan dialokasikan minimal 20% dari APBN dan 20% dari APBD. Atas gugatan PGRI, Mahkamah Konstitusi dalam sidangnya pada tanggal 22 Maret 2006 telah memenangkan gugatan PGRI tersebut.

Walaupun upaya meningkatkan mutu pendidikan formal pada satuan pendidikan dasar dan menengah di negara kita, telah dilakukan sejak diberlakukannya kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968 (Munandir, 2001), melalui terapan pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) yang dirintis melalui Proyek Peningkatan Pendidikan Guru (P3G) yang berlangsung dari tahun 1977-1984 (Raka Joni, 2005b). Perkembangan selanjutnya kurikulum tahun 1975 diganti dengan kurikulum 1984 yang bercirikan penerapan sistem kredit semester, kemudian kurikulum 1994, yang terakhir kurikulum 2004 bercirikan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang dipertajam dengan kurikulum tahun 2006 yang diberi label KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan).

Di sisi lain, implementasi KTSP yang didasarkan pada peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, di mana pengembangan diri sebagai salah satu materi kurikulum SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA yang bersifat non-mata pelajaran yang bertujuan memberikan kesempatan kepada subyek didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minatnya melalui kegiatan pelayanan konseling dan kegiatan ekstrakurikuler, mengundang wacana publik pro dan kotra yang berakar pada terjadinya penafsiran makna pengembangan diri sesuka hati. Dampaknya adalah menyemaikan terjadinya kesalahpahaman makna pengembangan diri pada praksis pendidikan di sekolah.

Dalam praksis pendidikan di sekolah, bimbingan dan konseling merupakan suatu komponen pendidikan yang penting, karenanya turut memberikan kontribusi dalam pembentukan dan pengembangan kompetensi lulusan lembaga pendidikan formal yang merupakan pengejawantahan dari terwujudnya tujuan utuh pendidikan sesuai dengan standar kompetensi lulusan masing-masing jenjang dan jenis pendidikan, yang diejawantahkan pada tercapainya sosok lulusan yang memiliki karakter yang kuat serta menguasai soft skills dan hard skill sebagai individu warga masyarakat masa depan yang menghargai keragaman sebagai perekat integrasi bangsa serta pada saat yang sama juga memiliki landasan kemampuan yang tangguh sebagai daya saing yang tinggi, bukan saja di arena lokal dan nasional, bahkan juga di arena regional dan global.

Soft skills merupakan kecakapan-kecakapan hidup (life skills) dalam arti luas di antaranya; analytical thinking, problem solving, creativity and imagination, communicating (written and oral), collaborating, interpersonal skills, English, computer skills, independence of thinking, drive and motivation, and enthusiasm (Raka Joni, 2007b), serta karakter yang kuat yang terbentuk sebagai dampak pengiring pembelajaran yang mendidik (nurturant effects) (Raka Joni, 2007c). Hard skills adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh subyek didik sebagai dampak langsung pembelajaran yang mendidik (instructional effects).

Namun demikian serangkaian upaya tersebut di atas, belum mampu membuahkan hasil yang signifikan, sehingga sangat diperlukan upaya baru untuk mencari solusi cerdas yang bisa memberikan peluang lebar dalam mewujudkan tujuan utuh pendidikan. Bimbingan dan konseling sebagai bagian integral dalam sistem pendidikan di sekolah lazimnya dijalankan oleh tenaga ahli (guru pembimbing-konselor sekolah) yang terlatih sehingga menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta terampil dalam memberikan pelayanan bimbingan dan konseling (Egan, 2002).

C.  Prospek Bimbingan dan Konseling

1.   Bimbingan dan Konseling Sebagai Profesi

Profesi merupakan suatu pekerjaan atau jabatan yang memberikan pelayanan keahlian kepada masyarakat. Profesi bimbingan dan konseling di sekolah adalah suatu pelayanan bimbingan dan konseling yang diberikan oleh guru pembimbing–konselor sekolah yang memiliki keahlian dalam bidang bimbingan dan konseling kepada para peserta didik sebagai konseli.

Upaya untuk menjadikan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi, mulai dilakukan sejak didirikannya IPBI (Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia) di kota Malang pada tanggal 17 Desember 1975 di dalam Konvensi Nasional Bimbingan dan Konseling yang pertama. Dalam perjalanannya, IPBI berubah nama menjadi ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia) dalam Kongres IX dan Konvensi Nasional XII IPBI pada tanggal 15 sampai 17 Maret 2001 di Bandarlampung.

Pada Kongres Nasional X dan Konvensi Nasional XIV ABKIN yang diselenggarakan pada tanggal 13 sampai dengan 16 April 2005 di Semarang, ABKIN lebih memantapkan konsolidasinya sebagai organisasi profesi bimbingan dan konseling di tanah air, dan melakukan kerja sama dengan Himpunan  Psikologi Indonesia khususnya yang berkenaan dengan program testing psikologis untuk pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. ABKIN telah melakukan beberapa kegiatan ilmiah seperti workshop bimbingan dan konseling yang diselenggarakan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung pada tanggal 10 Desember 2003 dengan tema Profesi Bimbingan dan Konseling menuju ke Arah Standar Internasional.

Mengembangkan Standar Kompetensi Konselor Indonesia (SKKI) yang ditetapkan berdasarkan keputusan PB-ABKIN Nomor: 011 Tahun 2005 tanggal 25 Agustus 2005 sebagai upaya penyempurnaan naskah Dasar Standardisasi Profesi Konseling yang diterbitkan oleh Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akademik Ditjen Dikti Depdiknas pada tahun 2004. Dilakukan sosialisasi standardisasi profesi konseling pada skala nasional yang difasilitasi oleh Ditjen Dikti Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi Depdiknas. Mengkaji kembali SKKI dalam Konvensi Nasional XV ABKIN yang berlangsung di Palembang pada tanggal 1 sampai 3 Juli 2007 yang saat ini berkembang menjadi standar kompetensi akademik konselor (baca Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor).

Serangkaian upaya yang penulis paparkan di atas belum bisa menjangkau kepada seluruh jajaran guru pembimbing–konselor sekolah di tanah air, sehingga secara nasional belum mampu mengendalikan unjuk kerja guru pembimbing– konselor sekolah dalam memberikan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah-sekolah. Alih-alih unjuk kerja guru pembimbing–konselor sekolah lebih banyak dipengaruhi oleh kebijakan birokrasi dan budaya sekolah yang sudah mengakar selama ini.

Sebagai profesi, unjuk kerja bimbingan dan konseling  setidaknya  memenuhi empat unsur. Pertama, teori pokok (substantive theory) bidang keahlian yang jelas dengan berbagai teknik aplikasinya dalam mengamalkan profesionalisme di lapangan. Kedua, praktik baku yang tervalidasi (validated practice), yakni sebuah prosedur operasional yang dimonopoli oleh kelompok profesi. Ketiga, otonomi profesi yang berbasis penelitian yang objektif demi tegaknya kebenaran akademik. Keempat, organisasi profesi yang mewadahi anggotanya untuk memperjuangkan hak-hak profesi mereka (A. Chaedar Alwasilah, 2006).

2.   Pengembangan Profesionalitas Bimbingan dan Konseling

Untuk memantapkan unjuk kerja profesi bimbingan dan konseling di tanah air khususnya pada setting persekolahan, perlu dilakukan pengembangan profesionalitas bimbingan dan konseling, yang dilakukan oleh guru pembimbing– konselor sekolah melalui berbagai kegiatan profesi yang bersifat  ilmiah. Beberapa kegiatan ilmiah tersebut, di antaranya: penelitian, seminar, lokakarya, workshop, pelatihan, diskusi panel, dan kegiatan sejenis yang berskala lokal, nasional, regional, maupun internasional, yang secara singkat diuraikan berikut ini.

Penelitian. Kemampuan dan keterampilan guru pembimbing–konselor dalam melakukan penelitian sangat menunjang terhadap kualitas pengelolaan pelayanan bimbingan dan konseling. Hasil-hasil penelitian yang dilakukan guru pembimbing–konselor sekolah yang dipublikasikan dalam suatu jurnal penelitian organisasi profesi bimbingan dan konseling, sangat bermanfaat bagi dirinya dan teman sejawat untuk melakukan perbaikan khususnya pada praksis pelayanan bimbingan dan konseling. Kemampuan dan keterampilan guru pembimbing– konselor sekolah dalam bidang penelitian (research) dapat ditumbuhkembangkan melalui pelatihan penelitian yang lazimnya dapat diselenggarakan oleh organisasi profesi ABKIN dan atau organisasi fungsional MGBK, serta lembaga-lembaga yang relevan.

Seminar. Kegiatan seminar merupakan salah satu bentuk kegiatan ilmiah yang diikuti para pembimbing–konselor sekolah untuk mengembangkan kemampuannya melalui peran serta aktif dalam kegiatan tersebut. Seminar dengan menghadirkan pembicara pakar bimbingan dan konseling dari dalam dan di luar negeri serta unsur birokrasi yang dirancang dan dilaksanakan dengan baik, dapat memberikan hasil perkembangan terbaru dalam aspek pengetahuan dan teknologi, yang sangat dibutuhkan guru pembimbing–konselor sekolah untuk meningkatkan kinerjanya. Kegiatan seminar ini tentunya dibingkai dalam bentuk forum ilmiah yang memungkinkan para pembimbing–konselor sekolah berperan aktif untuk mengungkapkan pengalaman dan gagasannya yang terkait dengan peningkatan profesi bimbingan dan konseling.

Lokakarya dan Workshop. Kegiatan ini cukup populer dilaksanakan untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan guru pembimbing–konselor sekolah dalam beberapa hal, seperti; pengembangan perangkat atau piranti bimbingan dan konseling (pengembangan materi pelayanan BK sebagai konteks, teknik asesmen, multi media atau media digital, dan piranti BK lainnya). Dalam penyelenggaraan lokakarya dan workshop, guru pembimbing–konselor sekolah hendaknya tidak sekedar diperlakukan sebagai peserta, tetapi jauh lebih penting adalah melibatkan mereka sebagai narasumber. Dengan keterlibatan mereka yang memiliki kapasitas yang dibutuhkan, diharapkan kegiatan ini dapat memicu guru pembimbing–konselor sekolah untuk mengembangkan kompetensinya secara berkelanjutan, khususnya untuk meningkatkan praksis pelayanan bimbingan dan konseling pada institusinya masing-masing.

Pelatihan. Kegiatan ini relevan untuk mengembangkan kemampuan guru pembimbing–konselor sekolah dalam bidang penelitian, penulisan karya ilmiah, dan keterampilan-keterampilan lain yang menunjang tugas-tugasnya misalnya kemampuan; memberikan konseling, melakukan kerja sama, melakukan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research), dan tugas lain seperti membina siswa dalam bentuk berbagai kegiatan ekstra kurikuler (pramuka, paskibraka, karya ilmiah remaja, latihan kepemimpinan, jurnalistik, dan lainnya).

Diskusi panel. Kegiatan diskusi panel pada dasarnya sama dengan seminar. Hanya pada diskusi panel, beberapa pembicara / narasumber mengungkapkan pandangan / gagasannya tentang suatu topik permasalahan / isu yang diangkat sebagai topik diskusi panel. Dalam kegiatan ini, peran moderator sangat penting sebagai pengatur jalannya diskusi panel. Di pihak lain para peserta diskusi panel hendaknya juga terlibat aktif untuk memberikan gagasan / pendapat-pendapatnya atas stimuli yang digagas oleh beberapa narasumber.

3.   Bimbingan dan Konseling Masa Depan

Profesi bimbingan dan konseling di tanah air bagaikan anak remaja yang sedang dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, ia sangat membutuhkan bantuan berupa pendidikan yang layak, agar kelak mampu mandiri. Para guru pembimbing–konselor sekolah sebagai tenaga profesional bidang bimbingan dan konseling secara bersama-sama dalam bingkai organisasi profesi (ABKIN) dan organisasi fungsional (MGBK) senantiasa melakukan peningkatan profesionalitas secara berkelanjutan untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai profesi masa depan yang mandiri.

Wickwire (2002) dalam artikelnya yang berjudul Current Trends and Their Implications for Future in the Counseling Profession, telah memaparkan pandangannya tentang profesi konseling ke depan, sebagai berikut: Pertama, Expansion of Electronics, pelayanan bimbingan dan konseling didukung dengan bantuan elektronika sebagai media seperti komputer dan internet, telepon dan televisi yang berlangsung di rumah, di masyarakat, dan di tempat kerja; Kedua, Growth of Distance Learning, belajar tidak dibatasi oleh waktu dan tempat seperti belajar berbasis Web (Web-based learning), pelatihan berbasis Web (Web-based training), intinya penggunaan IT dalam proses belajar untuk meningkatkan profesionalitas; Ketiga, Emphasis on Competencies and Skills, penekanan pada kompetensi dan keterampilan guru pembimbing-konselor sekolah dalam melakukan unjuk kerja, berdasarkan standar profesi yang ditetapkan oleh organisasi profesi; Keempat, Standards-based Education, penyandang profesi bimbingan dan konseling (guru pembimbing-konselor sekolah) harus lulusan lembaga pendidikan yang memenuhi standard dari organisasi profesi; dan Kelima, Inculcation of Lifelong Learning, belajar sepanjang hayat yang harus dilakukan oleh penyandang profesi bimbingan dan konseling (guru pembimbing- konselor sekolah).

Konselor masa depan (the counselor of tomorrow) adalah sosok peribadi yang berkompeten dalam bidang bimbingan dan konseling, yang menguasai beberapa aspek yaitu: (1) Kepemimpinan yang ditunjukkan memiliki perilaku keaslian, visibel, berbudaya, dan pelayanan yang berkualitas; (2) Sistem yang mencakup; program, layanan, materi, struktur proses, sikap bijak, teknik, dan kemampuan melakukan; (3) Domain yang mencakup; afektif, kognitif, akademik- pendidikan, karier, pribadi-sosial; (4) Memberikan bantuan yang mencakup; pencegahan, pengembangan, perbaikan, dan intervensi krisis; (5) pelayanan yang bersifat pencerahan, mencakup; asesmen, diagnostik, perencanaan dan persiapan, implementasi-monitoring, dan evaluasi-pendauran ulang (siklus); dan (6) Evaluasi yang mencakup; formatif, sumatif, tindakan, belajar, tingkah laku, hasil, dan tujuan akhir.

D.  Penutup

Berdasarkan pemaparan di atas, jelas bahwa bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dalam sistem pendidikan di sekolah, akan memberikan kontribusi dalam memandirikan peserta didik bila dikelola dan dilakukan secara profesional oleh seseorang guru pembimbing–konselor sekolah yang memiliki keahlian dalam bidang bimbingan dan konseling. Bila tidak, maka pelayanan bimbingan dan konseling akan menjadi rusak, yang berdampak menurunkan bahkan merusak citra profesi bimbingan dan konseling sebagai layanan ahli di tengah masyarakat.

Untuk mewujudkan keinginan profesi tersebut, guru pembimbing-konselor sekolah senantiasa harus cerdas dalam membangun jejaring dengan semua pihak yang terkait dengan praksis pendidikan pada setting persekolahan, serta melakukan peningkatan profesionalitas secara berkelanjutan dalam bingkai organisasi profesi ABKIN dan organisasi fungsional MGBK. Dengan demikian guru pembimbing-konselor sekolah akan mampu memberikan pelayanan bimbingan dan konseling berdasarkan standar kompetensi akademik konselor serta mengindahkan kode etik pelayanan profesi bimbingan dan konseling.

Eksistensi bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan formal merupakan keniscayaan (harus ada–tidak boleh tidak), sehingga tidak bisa dikelola secara asal-asalan yang justru akan merugikan perkembangan konseli (peserta didik).

DAFTAR PUSTAKA

A. Chaedar Alwasilah. 2006. Redefinisi Profesi Dosen. Pikiran Rakyat, (Online), (http://www.pikiran-rakyat.com, diakses tanggal 21 Februari 2007 pukul 07.47 WIB).

Depdiknas. 2002. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi Sekolah Menengah Pertama, Madrasah Tsanawiyah dan Sederajat. Jakarta: Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas.

Depdiknas. 2005. Panduan Workshop BK Berbasis Kompetensi SMP. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Depdiknas. 2006. Model Pengembangan Diri SD/MI/SDLB-SMP/MTs/SMPLB- SMA/MA/SMALB/SMK. Jakarta: Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas.

Egan, G. 2002. The Skills Helper: A Problem-Management and Opportunity- Development Aproach to Helping. Australia: Brooks/Cole Thomson Learning.

Gsianturi. 2003. Benarkah Kualitas Manusia Indonesia Rendah?. Indonesian Nutrition Network, (Online), (http://gizi.net, diakses tanggal 1 Januari 2008 pukul 11.15 WIB).

H.A.R. Tilaar. 2006. Standarisasi Pendidikan Nasional: Suatu Tinjauan Kritis.Jakarta: Rineka Cipta.

M. Joko Susilo. 2007. Pembodohan Siswa Tersistematis. Yogyakarta: PINUS Book Publisher.

Munandir. 2001. Ensiklopedia Pendidikan. Malang: UM Press.

Raka Joni, T. 2005a. Pembelajaran yang Mendidik. Jurnal Ilmu Pendidikan. Edisi Juni, Halaman 91-127. Malang: LPTK dan ISPI.

Raka Joni, T. 2005b. Pembelajaran Yang Mendidik: Artikulasi Konseptual, Terapan Kontekstual, dan Verifikasi Empirik. Makalah Seminar Paradigma Pembelajaran Yang Mendidik tanggal 28 Mei 2005 di PPS Universitas Negeri Malang.

Raka Joni, T. 2007a. Prospek Pendidikan Profesional Guru di Bawah Naungan UU No. 14 Tahun 2005: Suatu Kajian Akademik. Makalah disajikan dalam Rembuk Nasional Revitalisasi Pendidikan Profesional Guru, Universitas Negeri Malang, Malang, 17 November 2007.

Raka Joni, T. 2007b. Psikologi Pendidikan Lanjut (DIP-711). Malang: Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang.

Raka Joni, T. 2007c. Wawasan Makro Pendidikan DIP 721. Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Surat Edaran Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Jawa Timur Nomor 11/Org/Prov/XIX/2006 tentang Informasi Aktual Organisasi. Surabaya: Sekretariat Pengurus Daerah PGRI Provinsi Jawa Timur.

UNDP. 2005. Statistics in the Human Development Report, (Online), (http://www.hdr.undp.org, diakses tanggal 15 Februari 2008 pukul 14.30 WIB).

UNDP. 2006. Statistics in the Human Development Report, (Online), (http://www.hdr.undp.org, diakses tanggal 15 Februari 2008 pukul 14.35 WIB).

Wickwire, P., N. 2002. Current Trends and Their Implications for Futures in the Caounseling Profession. Dalam Johnson, C., D., and Johnson, S., K. (Ed.), Building Stronger School Counseling Programs: Bringing Futuristic Approaches into the Present (hlm. 3-15). Greensboro: CAPS Publications.

PILIHAN KARIER DALAM PERSPEKTIF BUDAYA DAN IMPLIKASINYA PADA BIMBINGAN KARIER DI SEKOLAH

JURNAL PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
Desember 2008 || ISSN: 1411-3376
Penyelenggara : Universitas Negeri Surabaya
Penulis : Hartono
PDF VERSI CETAK/ASLI

Abstrak

Pilihan karier merupakan fenomena penting dalam kehidupan yang menentukan masa depan individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pilihan karier siswa dipengaruhi oleh aspek budaya. Beberapa aspek budaya yang mencakup pengetahuan, keyakinan, seni, moral, norma, adat kebiasaan dan kapabilitas lain mempengaruhi pilihan karier seseorang melalui proses interaksi yang berlangsung secara terus menerus di dalam kehidupan dan melalui pewarisan budaya (cultural transmission). Pengaruh budaya terhadap pilihan karier seseorang berimplikasi pada bimbingan karier di sekolah. Konselor sekolah (school counselor) adalah seseorang yang ahli tentang budaya memberikan pelayanan bimbingan karier lintas budaya kepada para siswa agar mereka memiliki kemampuan dan keterampilan dalam memilih dan mengelola kariernya sesuai dengan budaya masyarakat. Beberapa kegiatan bimbingan karier lintas budaya tersebut mencakup: (1) informasi marier, (2) asesmen, (3) konseling karier, (4) program pendidikan karier, dan (5) program magang.

Kata kunci: Pilihan karier, budaya, dan bimbingan karier.

Pilihan Karier (career choice) merupakan suatu proses yang kompleks, dipengaruhi oleh beberapa aspek, di antaranya adalah aspek budaya, konteks sosial keluarga, dan masyarakat (Ferry, 2006). Di pihak lain, dalam setting persekolahan, masalah pilihan karier tidak bisa dipisahkan dengan bimbingan karier. Colley (2004) menyatakan, pilihan karier sebagai jantungnya praktik bimbingan karier.

Untuk dapat melakukan pilihan karier secara tepat, seseorang siswa melakukan pemahaman diri, eksplorasi karier, dan pengambilan keputusan karier (J.P. Sampson, Jr., G. W. Peterson, J. Lenz and R. C. Reardon dalam Sharf, 2002). Alih-alih siswa sebagai makhluk sosial, berada dalam lingkungan budaya yang unik (khas). Hasil penelitian Watson, Stead, dan De Jager (2005) menunjukkan bahwa budaya secara signifikan mempengaruhi pilihan karier para mahasiswa.

Correll (2001) juga melakukan penelitian tentang budaya dan keputusan karier. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa aspek jender seseorang sebagai variabel budaya mempengaruhi pengambilan keputusan karier yang diinginkannya. Temuan Simpson yang dikutip Gabbidon, Penn, dan Richards 116

(2003), juga memperkuat hasil penelitian Correll tersebut. Jenis kelamin mahasiswa menentukan pilihan jurusan; mahasiswa wanita lebih memilih jurusan teknik, sedangkan laki-laki lebih suka memilih jurusan sains.

Ozbilgin, Kusku, dan Erdogmus (2004) juga melakukan penelitian pada sampel negara British, Israel, dan Turkish. Penelitiannya menemukan adanya perbedaan yang signifikan antar ketiga negara tersebut dari variabel pilihan karier berdasarkan jenis kelamin, etnis, dan usia. Hasil penelitian Rao, Meinzer, dan Chagwedera (1998) menunjukkan mahasiswa di India; 25% memilih karier bidang spesialis penyakit dalam, 24% memilih karier bidang ilmu kesehatan anak-anak, dan 21% memilih bidang karier perawat, sedangkan mahasiswa Zimbabwe; 26% memilih bidang karier spesialis kebidanan, 21% memilih bidang karier ilmu kesehatan anak dan perawat, 14% memilih bidang karier spesialis penyakit dalam, dan sisanya 24% memilih bidang karier spesialis psikiatri. Beberapa hasil penelitian tersebut memberikan bukti empiris yang kuat bahwa aspek budaya mempengaruhi pilihan karier seseorang.

Budaya merupakan keseluruhan kompleks yang terdiri dari pengetahuan, keyakinan, seni, moral, norma, adat kebiasaan dan kapabilitas lain, serta kebiasaan apa saja yang diperoleh seseorang manusia sebagai anggota suatu masyarakat (Tylor dalam Berry, Poortinga, Seegal, dan Dosen, 1992). Beberapa aspek budaya tersebut, akan mempengaruhi perilaku seseorang melalui proses interaksi yang berlangsung secara terus menerus di dalam kehidupannya. Dengan kata lain, budaya dapat mempengaruhi perilaku seseorang melalui proses belajar.

Secara psikologis, belajar merupakan proses perubahan perilaku yang terjadi di dalam diri seseorang secara disadari. Melalui belajar, seseorang bisa memperoleh pengalaman-pengalaman baru yang sangat bermanfaat di dalam kehidupannya. Tak terkecuali, pengalaman dalam melakukan pemilihan karier, yang diidentifikasikan sebagai suatu momen yang sangat penting (Myburgh, 2005). Ozbilgin, Kusku, dan Erdogmus (2004) menyatakan bahwa pilihan karier sebagai peristiwa yang kompleks, sehingga masalah ini sebagai fokus banyak studi yang dilakukan oleh para ahli psikologi, antropologi, dan sosiologi.

Triandis (1994) menyimpulkan bahwa budaya sebagai aspek kehidupan, ditanamkan (giving) dari generasi ke generasi berikutnya. Aspek kehidupan ini terpelihara dalam kehidupan masyarakat dan ditanamkan oleh orang-tua kepada anak-anaknya, sebagai sesuatu hal yang penting dalam kehidupannya. Budaya diperankan sebagai sumber peradaban manusia yang berlangsung dari jaman ke jaman berikutnya. Berdasarkan beberapa temuan penelitian dan pendapat-pendapat yang terpaparkan di atas, penulis menyimpulkan bahwa budaya mempengaruhi proses pilihan karier seseorang melalui harapan-harapan orang-tua, nilai-nilai, dan keyakinan-keyakinan yang ditanamkan oleh orang-tua kepada anak-anaknya.

Pilihan karier lazimnya merupakan hasil yang serasi antara pemahaman diri dan eksplorasi karier. Sebagaimana yang dikemukakan Stoss dan Parris (1999), apa yang diinginkan, apa yang dimiliki, dan apa yang dilakukannya dalam karier merupakan tiga hal yang saling berkaitan. Dengan kata lain, keputusan pilihan karier idealnya didasarkan pada potensi diri dan hasil eksplorasi karier seseorang. Pilihan karier yang hanya kental dengan pengaruh budaya, tidak sesuai dengan 117

potensi diri seperti kecerdasan, bakat, minat, dan karakteristik kepribadian seseorang dapat menimbulkan permasalahan karier. Sebaliknya pilihan karier yang dianggap sesuai dengan potensi diri tetapi tidak mendapat dukungan lingkungan budaya, dapat menimbulkan konflik sosial, yang pada akhirnya perkembangan karier seseorang juga mengalami hambatan.

Untuk menemukan solusi yang tepat dan lebih berwawasan akademik, penulis perlu melakukan kajian tentang pilihan karier dalam perpektif budaya dan bagaimana implikasinya pada bimbingan karier di sekolah. Hasil kajian ini, diharapkan dapat bermanfaat khususnya bagi konselor sekolah (school counselor) untuk mengembangkan program bimbingan karier yang berwawasan budaya.

Pembahasan

1. Definisi Pilihan Karier

Pilihan karier merupakan suatu peristiwa yang menarik perhatian para akademisi dan profesional (Ozbilgin, Kusku, dan Erdogmus, 2004), sebagai momen atau peristiwa penting dalam kehidupan (Stoss dan Parris, 1999). Dalam kehidupan sehari-hari seseorang dihadapkan pada banyak pilihan, untuk dipilih mana yang lebih baik berdasarkan potensi diri (kecerdasan, bakat, minat, dan karakteristik kepribadian) serta peluang yang tersedia di masyarakat.

Menurut definisi kamus Webster (1998) pilihan adalah tindakan sukarela memilih dari dua atau lebih berbagai hal yang lebih disukai, setelah seseorang menentukan pikirannya ke arah hal yang lebih disukai. Jadi kegiatan memilih melibatkan aktivitas kognisi, berupa mempertimbangkan, mengevaluasi, mengira, dan menduga bahwa sesuatu hal yang hendak dipilihnya adalah paling baik dan disukainya.

Definisi karier menurut kamus Inggris (Oxford English Dictionary) adalah an individual’s course or progress through life or a distinct portion of life. It usually is considered to pertain to remunerative work and sometimes also formal education (Wikipedia the free Encyclopedia, 2008). Jelas bahwa karier adalah suatu jalan atau kemajuan yang dicapai individu selama hidup atau suatu bagian hidup. Karier pada umumnya berkaitan dengan pekerjaan yang menguntungkan dan biasanya berhubungan dengan pendidikan formal. The National Career Development Association (dalam Sharf, 2002) mendefinisikan karier sebagai the individual’s work and leisure that take place over her or his life span. Karier sebagai pekerjaan individu yang berlangsung dalam rentang kehidupannya. Dengan kata lain, karier merupakan kemajuan hidup yang terkait dengan pekerjaan yang dilalui seseorang dalam kehidupannya, dan pada umumnya memerlukan pendidikan formal secara khusus. Dalam kajian ini, karier diartikan sebagai suatu profesi yang dijalankan individu selama kehidupannya.

Pilihan karier telah didefinisikan para ahli ke dalam berbagai perspektif. Menurut teori sosial kognitif (social cognitive theory) (dalam Sharf, 2002) pilihan karier adalah proses yang kompleks yang melibatkan interaksi antar afikasi diri (self-efficacy), harapan memiliki kompetensi (autcome expectations), tujuan-tujuan (goals), kompetensi (autcome), dan faktor-faktor lingkungan (environmental factors). Dalam pandangan yang berbeda, Samson; Peterson; and 118

Rearson (dalam Shart, 2002); Gysbers, Hepper, dan Johnston (2003), serta Parsons (dalam Zunker, 2002) mengemukakan pilihan karier (career choice) merupakan suatu proses yang melibatkan empat tahap, yaitu; (1) pemahaman diri (knowing about myself); (2) pemahaman pilihan-pilihannya (knowing about my options); (3) belajar membuat keputusan-keputusan (knowing how I make decisions); dan (4) berpikir tentang pengambilan keputusan (thinking about my decision making).

Memilih karier dimulai dari pemahaman diri, yaitu seberapa jauh seseorang dapat memahami tentang dirinya, seperti kemampuan intelektual (kecerdasan dan bakat), minat, motivasi, emosi, kelebihan dan kekurangannya. Pengetahuan tentang alternatif pilihan karier yang tersedia di masyarakat, misalnya: pilihan suatu program studi tertentu yang tersedia di berbagai perguruan tinggi, dan pilihan suatu jenis pekerjaan atau profesi. Pengetahuan tentang pengambilan keputusan atas pilihan karier tersebut, dengan mempertimbangkan faktor potensi diri dan faktor lingkungan. Pada akhirnya individu dengan menggunakan akal sehat ingin mempertemukan titik terbaik dari kedua kutup yaitu kutup pemahaman diri dan kutup eksplorasi karier di masyarakat.

Berdasarkan uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa pilihan karier (career choice) adalah proses pengambilan keputusan yang didasarkan pada hasil pemahaman diri dan pemahaman pilihan-pilihan karier di masyarakat (eksplorasi karier). Jadi jelas bahwa idealnya, suatu pilihan karier harus didasarkan pada potensi diri dan hasil eksplorasi karier di masyarakat. Di mana di dalam kehidupan masyarakat terdapat berbagai budaya (cultures) yang mempengaruhi perilaku individu. Dengan kata lain, pilihan karier merupakan produk keputusan yang dilakukan secara bijaksana dengan memadukan aspek potensi diri, peluang kerja dan budaya di masyarakat.

2. Teori Karier Sosial Kognitif

Lent (dalam Tang dan Russ, 2007) memaparkan teori karier sosial kognitif (social cognitive career theory) (SCCT) yang diperoleh dari teori belajar sosial (social learning theory) Bandura, yang meramalkan efek afikasi diri (self-efficacy) yang umum pada perilaku. SCCT yang dipinjamkan dari teori belajar sosial Bandura, memindahkan gagasan efek spesifik self-efficacy pada perilaku karier individu.

Bandura (1986) menemukan bahwa individu-individu dengan suatu kendali perasaan positif, yang dikombinasikan dengan suatu pandangan optimis masa depan, akan lebih baik dalam menghadapi tekanan dan tantangan; dengan kata lain mereka memperlihatkan afikasi diri (self-efficacy) yang tinggi. Afikasi diri didefinisikan sebagai pertimbangan seseorang atas kemampuannya untuk memenuhi tugas-tugas tertentu. Bandura menyatakan bahwa keyakinan afikasi diri (self-efficacy beliefs) berpengaruh terhadap capaian kinerja, kemampuan belajar, persuasi sosial, dan kekuatan atau stabilitas emosional. Afikasi diri mempengaruhi kinerja dan kinerja dipengaruhi oleh afikasi diri. Hal ini berinteraksi dengan motivasi, kapabilitas pribadi, dan faktor-faktor lingkungan atau variabel-variabel kontekstual (Tang dan Russ, 2007). 119

Lent (dalam Tang dan Russ, 2007) memperkenalkan SCCT sebagai kerangka kerja sosial kognitif untuk memahami minat karier, pilihan karier, dan proses kinerja seseorang. Lent, Brown, dan Hackett (2000) memfokuskan penggunaan variabel-variabel cognitive-person untuk mempengaruhi perkembangan karier, dengan penekanan pada variabel-variabel kontekstual yang mempengaruhi individual. Beberapa variabel kontekstual dan individual yaitu jenis kelamin, ras, etnis, keturunan genetik, status sosial ekonomi, dan situasi ekonomi (Lent, Brown, dan Hackett, 2000).

Menurut Tang dan Russ (2007) afikasi diri (self-efficacy) menempatkan peran sebagai media utama antara perkembangan minat karier, pilihan karier, dan pribadi individu serta variabel kontekstual. SCCT melalukan konsolidasi pada variabel-variabel yang mempengaruhi pilihan dan perkembangan karier. Salah satu kekuatan besar SCCT adalah pengenalan pengaruh kontekstual pada perkembangan karier seseorang dan peran afikasi diri (self-efficacy) sebagai media perilaku seseorang untuk pencapaian suatu bidang karier.

Para ahli telah melakukan penelitian penerapan SCCT pada kelompok minoritas seperti orang Asia Amerika, Hispanic Amerika, dan mahasiswa Amerika kulit hitam, sebagai variabel-variabel karier mencakup; prestasi akademik, ketekunan, kinerja, minat kerja, dan pilihan karier (Tang dan Russ, 2007). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa SCCT secara khusus berkualitas sebagai teori karier yang secara rinci menyelidiki bagaimana lingkungan pribadi dan kepercayaan budaya mempengaruhi pilihan-pilihan karier seseorang.

3. Pilihan Karier dalam Perspektif Budaya

Sebagaimana yang penulis paparkan di muka, bahwa pilihan karier (career choice) merupakan proses yang kompleks yang sarat dengan pengaruh budaya. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya secara signifikan mempengaruhi pilihan karier seseorang (Tang dan Russ, 2007; Watson, Stead, dan De Jager, 2005; Correll, 2001; Ferry, 2006; Watson, Stead, dan De Jager, 2005; Correll, 2001). Budaya merupakan keseluruhan kompleks yang terdiri dari pengetahuan, keyakinan, seni, moral, norma, adat kebiasaan dan kapabilitas lain, serta kebiasaan apa saja yang diperoleh seseorang manusia sebagai anggota suatu masyarakat (Tylor dalam Berry, Poortinga, Seegal, dan Dosen, 1992).

Salah satu lembaga sosial kecil yang memberikan pengaruh kepada anak dalam melakukan pilihan karier adalah keluarga. Di dalam keluarga orang-tua menanamkan nilai-nilai budaya kepada anak dan anggota keluarga lain seperti agama–keyakinan, seni, moral, norma, dan adat kebiasaan. Pada waktu itu, anak mulai belajar mengerti dirinya, mengerti orang lain, menjalin kontak sosial yang lebih inten, mengasah intelektualitas, dan merangsang emosinya. Oleh sebab itu suasana yang ada dalam keluarga banyak mempengaruhi perkembangan kepribadian anak, intelektual, konsep diri, dan selanjutnya juga mempengaruhi proses memilih karier.

Suasana keluarga yang hangat akan membuat seorang anak merasa aman dan diterima dengan baik. Kondisi ini akan mengarah pada pola asuh orang-tua yang terlalu melindungi dan penuh kasih. Selanjutnya dapat menciptakan orientasi 120

diri yang mengarah pada diri sendiri atau orang lain, kemudian mempengaruhi bidang karier tertentu yang akan dimasuki anak kelak.

Triandis (1994) mengungkapkan, orang-tua menanamkan nilai-nilai budaya kepada anak-anaknya (giving) melalui interaksi sosial yang berlangsung dalam kehidupan keluarga, sedangkan Berry, Poortinga, Seegal, dan Dosen (1992) menyatakan bahwa budaya mempengaruhi perilaku anak melalui pewarisan budaya (cultural transmission). Suatu kelompok budaya dapat mewariskan ciri-ciri perilaku kepada generasi selanjutnya melalui mekanisme pembelajaran dan belajar (learning and instructional). Pewarisan budaya satu generasi ke generasi ini diistilahkan Cavallin-Sforza dan Fieldman (dalam Berry, Poortinga, Seegal, dan Dosen, 1992) sebagai pewarisan tegak (vertical transmission) karena melibatkan penurunan ciri-ciri budaya orang-tua ke anak-cucu. Sebagai contoh: orang-tua mewariskan nilai, keterampilan, keyakinan, motif budaya, dan sebagainya kepada anak-cucunya. Contoh lain: pada masyarakat budaya appalachian, pengaruh keluarga terhadap pilihan karier lebih kuat daripada minat individu pada suatu bidang karier dalam menentukan pilihan kariernya (Tang dan Russ, 2007).

Berdasarkan hasil-hasil penelitian, pendapat, dan uraian yang penulis paparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa budaya dapat mempengaruhi pilihan karier seseorang melalui proses pewarisan budaya (cultural transmission), penanaman budaya (cultural giving) oleh orang-tua kepada anak-cucunya, dan pengaruh budaya masyarakat di mana seseorang bertempat tinggal.

4. Implikasinya pada Bimbingan Karier di Sekolah

Pengaruh budaya terhadap pilihan karier seseorang berimplikasi pada bimbingan karier di sekolah. Menurut Institute of Career Guidance, bimbingan karier adalah pelayanan dan aktivitas-aktivitas untuk membantu individu dalam berbagai umur dan dalam keseluruhan hidupnya, untuk membuat pilihan-pilihan pendidikan, pelatihan, dan pilihan pekerjaan serta untuk mengelola kariernya. Aktivitas pelayanan bimbingan karier dapat diberikan secara individual atau kelompok melalui tatap muka (face to face) atau jarak jauh (distance) seperti bantuan pelayanan berbasis web. Berbagai bentuk bimbingan karier mencakup; informasi karier (cetakan, berbasis ICT, dan bentuk lain), asesmen dan alat-alat asesmen diri, wawancara konseling, program-program pendidikan karier (untuk membantu para individu dalam mencapai perkembangan, kesadaran diri, kesadaran atas berbagai peluang, dan mengembangkan keterampilan-keterampilan mengelola karier), dan program-program magang (http://www.intergage.co.uk, diakses tanggal 3 Februari 2008 pukul 10.15 WIB).

Konselor sekolah (school counselor) adalah seseorang yang ahli tentang budaya (cultural). Konselor sekolah hendaknya memiliki pemahaman yang mendalam tentang perbedaan budaya yang bergerak dari populasi ke populasi di dalam masyarakat (Bemak, 2002). Dengan kata lain, program dan implementasi bimbingan karier di sekolah harus mendasarkan pada budaya konseli dan masyarakat.

Untuk mendukung kualitas bimbingan karier, menurut ASCA National Model (dalam Gysbers dan Henderson, 2006) konselor sekolah harus memiliki 13 121

standar kinerja, yaitu standar kinerja dalam: (1) Program organisasi; (2) Kurikulum bimbingan sekolah yang disosialisasikan kepada semua para siswa; (3) Perencanaan siswa individual; (4) Pelayanan responsif; (5) Sistem-sistem yang mendukung; (6) Persetujuan sebagai konselor sekolah dan administrator; (7) Dewan kepenasehatan; (8) Penggunaan data; (9) Monitoring siswa; (10) Penggunaan waktu dan kalender; (11) Evaluasi hasil; (12) Program audit; dan (13) Menanamkan tema (yaitu: kepemimpinan, pembelaan, kerja sama dan kelompok, perubahan sistemik). Ketiga belas standar ini sangat penting diperhatikan oleh semua konselor sekolah sebagai ukuran minimal dalam upaya menjaga dan meningkatkan mutu layanan bimbingan karier lintas budaya di sekolah.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka kegiatan-kegiatan bimbingan karier di sekolah di arahkan untuk membantu para siswa agar mereka memiliki kemampuan dan keterampilan dalam memilih dan mengelola kariernya sesuai dengan budaya masyarakat. Dengan demikian, para siswa kelak diharapkan dapat memperoleh kesejahteraan hidup. Beberapa kegiatan bimbingan karier lintas budaya tersebut mencakup: (1) informasi karier, (2) Asesmen, (3) konseling karier, (4) Program pendidikan karier, dan (5) Program magang.

Informasi karier. Informasi karier merupakan pelayanan bimbingan karier

yang diberikan kepada para siswa dalam berbagai bentuk, misalnya bentuk cetakan seperti buku saku, brosur, majalah berkala, sampai berbasis ICT. Konselor sekolah bisa mengembangkan materi informasi karier lintas budaya dengan sajian yang menarik. Menurut Bemak (2002) konselor sekolah harus mampu menggunakan teknologi sebagai fasilitas pelayanan bimbingan karier, sehingga ia dengan mudah bisa mengembangkan program informasi karier secara dinamis, sebagai contoh: informasi peluang kerja, penempatan kerja, seleksi penerimaan mahasiswa, peluang formasi pekerjaan, program pelatihan berbagai level pekerjaan, dan program lain yang sangat maju. Informasi karier yang dikemas dan disajikan berbasis ICT banyak memperoleh keuntungan karena tidak dibatasi oleh waktu dan tempat.

Asesmen. Di sekolah para siswa membutuhkan pelayanan asesmen seperti pengukuran inteligensi, bakat, kreativitas, dan minat karier. Konselor sekolah yang memiliki lisensi atau izin penyelenggaraan tes psikologis untuk bimbingan dan konseling dari Ikatan Instrumentasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (IIBKIN), lazim menyelenggarakan pelayanan asesmen kepada siswa-siswinya di sekolah sebagai upaya untuk pemahaman potensi-potensi diri siswa. Pelayanan ini sangat menunjang pelayanan bimbingan karier yang lain, seperti konseling karier, program pendidikan karier, dan program magang. Konselor menggunakan hasil asesmen secara kuantitatif dan atau kualitatif, serta informasi-informasi lain untuk menunjang konseling karier kepada konseli (Gysbers, Heppner, dan Johnston, 2003).

Konseling karier lintas budaya. Bisa dikatakan konseling karier sebagai jantungnya pelayanan bimbingan karier di sekolah. Menurut (Shart, 2002) konseling karier bertujuan membantu konseli untuk melakukan pilihan karier dan penyesuaian pada suatu pekerjaan. Sebagaimana yang telah penulis paparkan di muka bahwa pilihan karier merupakan proses kompleks yang sarat dengan pengaruh budaya. Konseli (para siswa) di sekolah lazim diberikan konseling 122

karier lintas budaya, agar mereka mampu memahami dirinya, mampu melakukan eksplorasi karier, dan mampu mengambil keputusan pilihan karier secara bijaksana untuk mencapai perkembangan karier mendatang.

Program pendidikan karier. Program ini dikemas untuk para siswa di sekolah, yang bertujuan: (1) membantu siswa untuk dapat mengekplorasi terhadap berbagai bidang pekerjaan, (2) menyiapkan berbagai informasi tentang karier dan pasar kerja secara luas, dan (3)menyiapkan berbagai bentuk bantuan dari konselor sekolah kepada para siswa dalam proses perencanaan karier. Model yang penulis gagas adalah seperti School-based Career Education Model, di mana basisnya adalah sekolah menitikberatkan kepada pemberian informasi bagi para siswa tentang adanya berbagai macam atau jenis pekerjaan dan kesempatan-kesempatan untuk mengikuti pelatihan dalam masyarakat yang bernuansa budaya.

Program magang. Program ini lebih cocok dikembangkan oleh konselor sekolah pada sekolah-sekolah kejuruan seperti SMK, di mana para siswa setelah lulus ujian teori dan praktik ditugaskan untuk melakukan magang pada berbagai intansi yang relevan. Tujuan program ini adalah memberikan kesempatan kepada para siswa untuk lebih meningkatkan soft skills mereka, sehingga lebih siap melakukan pekerjaan di masyarakat. Sebelum para siswa melakukan magang, konselor sekolah memberikan pembekalan kepada mereka tentang berbagai situasi dan budaya kerja, sehingga diharapkan para siswa mampu melakukan penyesuaian diri terhadap budaya di tempat magang.

Penutup

Berdasarkan paparan di atas, maka pilihan karier (career choice) merupakan peristiwa penting dalam kehidupan yang dipengaruhi oleh faktor budaya (culture factor), sehingga berimplikasi pada bimbingan karier di sekolah. Bimbingan karier diberikan konselor sekolah (school counselor) kepada para siswa di sekolah agar mereka dapat melakukan kemandirian pilihan karier secara bijaksana dengan memadukan potensi diri, peluang kerja dan budaya di masyarakat. Beberapa kegiatan bimbingan karier lintas budaya sebagai solusi hasil kajian ini mencakup: informasi karier, asesmen, konseling karier, program pendidikan karier, dan program magang.

Konselor sekolah sebagai tenaga profesional dalam bidang bimbingan dan konseling lazimnya mampu menggunakan teknologi berbasis ICT sebagai media digital bimbingan karier, sehingga ia bisa dengan mudah mengembangkan program bimbingan karier lintas budaya secara dinamis, efektif dan efisien karena tidak dibatasi oleh waktu dan tempat. Hal ini didukung oleh kemudahan dalam pengadaan hardware dan software multi media di era sekarang yang disebut sebagai era knowledge-based society di mana penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi landasan dalam kehidupan sehari-hari.

Harapan penulis, profesionalitas bimbingan dan konseling di sekolah-sekolah bisa lebih maju dan mandiri di bawah binaan Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) yang sangat kita cintai. 123

Daftar Rujukan

Archer, S., L. (1994), Intervention for Adolescent Identity Development. Newbury Park: Sage Publiscation Inc.

Bandura, A. (1986), Social Foundation of Thought and Action: A Social Cognitive Theory. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.

Bemak, Fred. (2002), Paradigms for Future School Counseling Program: Building Stronger School Counseling Program: Bringing Futuristic Approaches into the Present. Greensboro: CAPS Publications.

Berry, J., W.; Poortinga, Y., H.; Seegal, M., H., and Dosen, P., R. (1992), Cross-Cultural Psychology: Research and Applications. Canada: Cambridge University Press.

Colley, H. (2005), Do We Choose Careers or Do They Choose Us?: Questions About Career Choices, Transitions, and Social Inclusion. Vejleder Forum, 4, 50-61.

Correll, S. J. (2001), Gender and the Career Choice Process: The Role of Biased Self-Assessments. American Journal of Sociology, 106, 691-730.

Ferry, N. M. 2006. Factors Influencing Career Choices of Adolescents and Young Adults in Rural Pennsylvania. Journal of Extension, 44, 3-16.

Gabbidon, Penn, dan Richards (2003), Career Choices and Characteristics of African-American Undergraduates Majoring in Criminal Justice at Historically Black Colleges and Universities. Journal of Criminal Justice Education, 14 (2), 229.

Gysbers, N., C. and Henderson, P. (2006), Developing & Managing: Your School Guidance and Counseling Program Fourth Edition. Alexandria: American Counseling Association.

Gysbers, N., C.; Heppner, M., J.; and Johnston, J., A. (2003), Career Counseling: Process, Issues, and Techniques, Second Edition. New York: Pearson Education, Inc.

Institute of Career Guidance (2008), What is Career Guidance?. http://www.intergage.co.uk, diakses tanggal 3 Februari 2008 pukul 10.15 WIB. 124

Lent, R., W., Brown, S.D., and Hackett, G. (2000), Contextual Supports and Barriers to Career Choice: A Social Cognitive Analysis. Journal of Counseling Psychology, 47, 36-49.

Myburgh, J., E. (2005), An Empirical Analysis of Career Choice Factors that Influence first-year Accounting Students at the University of Pretoria: A Cross-racial Study. Meditary Accountancy Research, 13, 35-48.

Ozbilgin, M., Kusku, F., and Erdogmus, N. (2004), Explaining Influences on Career Choice in Comparative Perspective: International Programs Visiting Fellow Working papers. http://digitalcommons.ilr.cornell.edu/ intlvf/1, diakses tanggal 10 Desember 2007 pukul 19.15 WIB.

Rao, N.R., Meinzer, A.E., Manley, M., and Chagwedera, I. (1998), International Medical Students’ Career Choice, Attitudes Toward Psychiatry, and Emigration to the United States. Academic Psychiatry, 22, 2-11.

Sharf, R., S. (2002), Applying Career Development Theory to Counseling (Third Edition). Australia: Brooks/Cole.

Stoss, F., D., and Parriss, T., M. (1999), Environmental Career Information on The Net. Environment, 41, 3-10.

Tang, M., and Russ, K. (2007), Understanding and Facilitating Career Development of People of Appalachian Culture: an Integrated Approach. Career Development Quarterly. http://thefreelibrary.com/understand, diakses tanggal 1 Februari 2007 pukul 16.13 WIB.

Triandis, H., C. (1994), Culture and Social Behavior. New York: McGraw-Hill, Inc.

Watson, M.B., Stead G. B., and De Jager, A. C.(2005), The Career Development of Black and White South African University Students. International Journal for the Advancement of Counseling, 18, 39-47.

Webster (1998), Unabridged Dictionary (USA). New York: MICRA.

Wikipedia The Free Encyclopedia (2008). http://wikimediafoundation.org, diakses tanggal 3 Februari 2008 pukul 12.58 Wib.

Zunker, V., G. (2002), Career Counseling: Applied Concepts of Life Planning, Sixth Edition. United Kingdom: Brooks/Cole.

1 4 5 6 7