BERMAIN AYUNAN MELALUI MODEL KERJASAMA BAGI ANAK USIA DINI

PROSIDING SEMINAR NASIONAL || Pintar Mendidik Anak di Era Teknologi
17 Mei 2017 || ISBN: 978-979-8559-87-7
Penyelenggara: Program Studi Pendidikan Guru-Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
Penerbit     : Erlangga 
Penulis 1    : Aisyah
Penulis 2    : Achmadi

PDF

Abstrak

Pada umumnya anak usia dini senang main ayunan, sebab bisa menyanangkan dan mudah dijumpai, serta mudah dilakukan. Namun permainan ayunan bagi anak usia dini masih banyak kerumitan dan masih banyak menimbulkan permasalahan.Masalah yang sering terjadi  antara lain: Karena permainan yang mengasikkan sehingga anak kurang mengontrol diri. Misalnya: mengayun sekeras dan secepat mungkin, tidak berpegang dengan kuat dan sempurna akhirnya menyebabkan anak jatuh atau terbentur. Karena mainan ayunan itu mudah dilakukan dan mudah dijumpai maka anak bermain dengan asyik dan tidak mau saling mengalah atau bergantian, akibatnya anak saling berebut menyebabkan terjadinya benturan dan  jatuh. Untuk itu penulis ingin membahas permasalahan tersebut dengan tujuan untuk menerapkan program kerjasama dalam permainan ayunan bagi anak usia dini. Adapun  target yang ingin dicapai  antara lain: 1. Anak bermain ayunan dengan aman dan nyaman tidak menimbulkan permasalahan (terbentur, terpeleset atau terjatuh). 2. Anak bisa bermain ayunan dengan cara mau bergantian dan bekerjasama dengan sesama teman. Anak tidak berebut dan bisa bermain ayunan secara adil.

Penelitian ini merupakan penelitian pre eksperimental two groups design yaitu untuk meneliti group eksperimen dan group kontrol. Sedangkan pola penelitiannya mengetrapkan: Group eksperimen diberi tindakan cara bermain ayunan yang baik dan aman secara kelompok, Group kontrol diberi kesempatan untuk bermain ayunan secara bebas dan individu.

Adapun bentuk kegiatannya adalah anak secara berkelompok (maksimal 5 anak) mau bermain ayunan dengan cara saling bantu-membantu, agar anak  aman tidak jatuh, dan saling bergantian secara adil. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 30 anak terdiri 15 anak sebagai kelompok Eksperimen dan 15 anak sebagai kelompok Kontrol. Sedangkan pengumpulan datanya menggunakan observasi dan tes perbuatan. Metode analisis data menggunakan statistik uji – t. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan adanya kerjasama antar anak maka dalam melaksanaan kegiatan bermain ayunan di outdoor  bagi anak usia dini dapat berjalan dengan aman, nyaman dan adil.

Keywords : bermain ayunan, kerjasama

LATAR BELAKANG

Pada umumnya lembaga PAUD memiliki sarana permainan out door dan in door. Sebab dunia anak usia dini adalah bermain. Kedua sarana bermain out door dan in door merupakan suatu bagian integral dari program penyelenggaraan  pendidikan untuk anak usia dini. Mengingat pentingnya sarana bermain out door untuk anak usia dini, maka penelitian terhadap permasalahan dan kurang lancarnya dalam penggunaan sarana bermain di out door khususnya permainan ayunan perlu dilakukan. Disamping itu penelitian ini didasari oleh fakta bahwa sarana permainan ayunan selalu dimiliki dan digunakan oleh masing-masing lembaga PAUD, serta disenangi oleh anak.  Kegiatan bermain ayunan masih sering menimbulkan permasalahan kepada anak. Apalagi  bila jumlah anak di lembaga PAUD tidak seimbang dengan sarana  permainan yang ada. Permasalahan yang sering dialami oleh anak seperti : 1). Anak tidak bisa mengontrol diri saat bermain ayunan, akhirnya anak sering terbentur, jatuh atau terpeleset. 2). Anak  bermain sering terjadi berebut, dan tidak mau mengalah, atau tidak mau bergantian. Mereka sering melakukan dorong mendorong sesama anak. Untuk mengatasi sering munculnya permasalahan tersebut maka salah satu bentuk kegiatannya dengan menerapkan model bermain dengan bekerjasama antar anak. Kegiatan ini mengetrapkan asas “PULSA” (Playing , Usefull, Life together, Safety, and Achievement). Yaitu semua Anak bisa  bermain ayunan, (asas Playing). Semua anak bisa menggunakan mainan ayunan dengan benar, (asas Usefull). Semua anak bisa bermain bersama-sama dan bekerjasama atau saling bantu membantu demi kelancaran bermain, (asas Life Together). Semua anak dapat bermain dengan aman, tidak jatuh atau tidak ada masalah, (asas safety). Semua anak bisa merasakan bermain dengan adil dan tercapai sesuai  harapan, (asas achievement).

METODE PENELITIAN

Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (pre eksperimental by two groups design  yaitu kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol menerapkan kerjasama dalam melakukan kegiatan bermain ayunan bagi anak usia dini. Sedangkan rancangan penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

O1                           X                        O2
O3                                                      O4

Keterangan:

O1 dan O2 =   (kelompok ekperimen diberi perlakuan untuk bekerjasama)

O3 dan O4=  (kelompok kontrol diberi perlakuan secara bebas )

X  = pemberian perlakuan “cara bermain ayunan dengan aman, nyaman, dan adil”.

Sebagai obyek penelitiannya adalah anak kelompok A yang berjumlah 30 anak, terdiri 15 anak untuk kelompok eksperimen, dan 15 anak kelompok kontrol. Selanjutnya untuk metode pengumpul data penulis menggunakan metode  Tes perbuatan  yaitu anak diminta untuk mempraktikkan mainan ayunan dengan aman, secara berkelompok dan bergantian. Tujuan yang ingin dicapai antara lain: Apakah anak sudah  bisa bermain ayunan dengan benar, dengan aman dan nyaman, mau bergotong royong, serta berlaku adil. Bila anak bermainnya tidak memenuhi 4 sikap tersebut, berarti anak belum tercapai tujuan dalam bermain ayunan. Disamping itu juga menggunakan metode Observasi yaitu untuk mengamati saat anak melakukan kegiatan bermain ayunan dengan pola bekerjasama antar teman.  4 aspek tersebut juga sebagai indikator  keberhasilan dalam penelitian ini. Sedangkan tehnik analisa datanya  menggunakan analisis data statistik Uji T.

PEMBAHASAN :

Penulis mengolah data dari hasil tes perbuatan dan hasil observasi tentang kegiatan bermain ayunan baik untuk kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Pengolahan data dengan rumus uji-t  dengan hasil  pengolahan data  diperoleh t = 4,272 . Kemudian nilai dalam tabel t-tes  dengan D.b = N – 1 taraf signifikansi 5 %  = 2,306. Sesuai hasil analisis data bahwa nilai thitung  lebih besar dari nilaittabel  dengan taraf signifikansi 5%, yaitu:  3,464 > 2,306 . Suatu rumus: Jika signifikasinya uji thitung lebih besar dari ttabel, maka hipotesa kerja diterima. Sebaliknya Jika signifikasinya uji thitung lebih kecil dari ttabel, maka hipotesa kerja ditolak. Dengan demikian hasil penelitian  tentang “Bermain Ayunan melalui Model Kerjasama bagi anak usia dini”, diterima. Jadi pembelajaran dengan mengutamakan kerjasama dalam kegiatan bermain ayunan untuk anak usia dini  sangat efektif, dan dapat bermanfaat untuk mengatasi permasalahan yang sering terjadi pada anak usia dini..

Pembelajaran yang menekankan pada anak didik untuk bekerja sama untuk saling bantu-membantu dalam melakukan suatu kegiatan permainan itu sangat positip hasilnya. Bentuk pembelajaran dalam penelitian ini menekankan kerjasama dalam kelompok kecil (maksimal 5 anak) untuk bermain ayunan di out door.  Anak berkelompok maksimal 5 anak akan melakukan permainan ayunan dengan memperhatikan antara lain: Anak harus saling mengarahkan, membimbing, dan menjaga keamanan terhadap kegiatan teman kelompoknya. Misalnya: bagaimana cara mengawali untuk memainkan ayunan ?.  Anak satu memberikan contoh kepada teman-teman di kelompoknya tentang: cara memegang tali ayunan, cara duduk dan posisi berduduk di tempat ayunan, memberi contoh cara memulai untuk mengayunkan badannya, dan memposisikan teman lain yang tidak/belum bermain, serta larangan-larangan yang harus ditinggalkan saat bermain ayunan.    Disamping itu pengarah juga mendampingi dan menjaga keamanan dan keselamatan temannya selama melakukan ayunan tersebut. Kegiatan bermain ayunan dengan cara bekerjasama dapat dilakukan dengan baik oleh anak-anak usia dini. Kegiatan bermain bersama ini membuat anak lebih aktif,  bersemangat, dan menyenangkan. Kegiatan bermain dengan pola seperti ini menambah nilai positif kepada anak, antara lain: (1) dapat membangkitkan rasa anak ingin mencoba bermain. Misalnya, semula anak tidak bergairah main ayunan, setelah diajak, ditemani, dan dibimbing teman sekelompoknya, anak lebih bergairah lagi (2) dapat memotivasi anak untuk berpikir kritis. Misalnya semula anak tidak mengetahui caranya untuk memulai dan mengakhiri bermain ayunan, setelah diberi arahan oleh temannya, akhirnya anak bisa memulai melakukan permainan ayunan dan menghentikan sendiri. Memang masih ada 1 anak yang sampai akhir kegiatan penelitian belum bisa memulai dan mengakhiri permainan. (3) dapat melakukan kerjasama dan tolong menolong serta memiliki sikap toleran dan keadilan pada saat bermain. Mereka bersepakat kalau sudah 10 kali ayunan, maka harus selesai dan bergantian (4) masing-masing anak bisa memerankan sebagai pengarah, sebagai pembimbing, dan sebagai penjaga keamanan. Bila ada anak bermain kurang hati-hati, teman lainnya bisa mengingatkan. Biarpun suatu saat mereka masih perlu diingatkan lagi oleh gurunya, namun dalam menjalankan tugas dan fungsinya anak sudah bisa melakukannya. Dalam kegiatan pembelajaran dengan bentuk kerjasama antar anak dalam bermain ayunan, maupun permainan out door,  secara tidak langsung anak juga bisa mengembangkan semua aspek perkembangan secara holistik. Sambil bermain bersama, mereka bisa menghitung berapa kali ayunan yang sudah dilakukan oleh si A (aspek Sain). Sambil bermain bersama, mereka bisa sabar menunggu giliran untuk bermain (aspek sosial – emosional). Sambil bermain bersama mereka bisa berinteraksi dan berkomunikasi dengan lancar (aspek bahasa). Disamping itu pada saat anak melakukan dan menjaga keamanan teman-temannya saat bermain, serta mengingatkan temannya agar hati-hati,  berarti sikap ini mengetrapkan pengembangan aspek kognitif maupun sosial emosional anak. Pembelajaran melalui bekerjasama secara kelompok bagi anak usia dini dapat juga sebagai penyelesaian permasalahan yang sering muncul pada saat anak-anak  bermain ayunan.

Adapun bentuk penyelesaian masalahnya antara lain dapat berupa:

  1. Anak yang semula tidak bergairah bermain ayunan, sekarang sudah berminat untuk Hal ini disebabkan karena ada bimbingan dan teman yang selalu menjaga dan menemani langsung saat bermain.
  2. Anak yang semula bermain ayunan kurang terampil, sering jatuh, terbentur, sekarang mereka sudah tidak terjadi lagi. Berkat bimbingan dan kerjasama antar teman di kelompoknya, mereka bisa melakukan permainan ayunan dengan aman dan nyaman.
  3. Anak bisa bermain dengan rasa senang dan nyaman atau puas. Sebab mereka melakukan bermain ayunan dengan cara bergantian dan secara adil.. Misalnya ada anak main ayunan terlalu lama atau melebihi kesepakatan, teman lain selalu mengingatkan. Jadi dengan sikap tolong menolong, bantu-membantu antar anak, maka mereka bermain dengan senang dan nyaman, dan adil.
  4. Anak bisa bermain panjatan sambil memaksimalkan semua aspek perkembangan anak. Sebab bermain merupakan kegiatan yang paling diminati anak. Saat bermain ayunan secara tidak langsung anak juga mengembangkan dan melatih otot besar dan otot kecil atau organ pisik. Disamping itu saat anak bermain bersama-sama, secara tidak langsung anak juga melatih keterampilan berbahasa, bersosial, dan menambah pengetahuan dan wawasan bermain yang bagus. Saat anak bermain bersama, secara tidak langsung juga melatih psikhis anak untuk mengatasi masalah-masalah yang ada pada diri anak.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat diambil suatu kesimpulan sebagai berikut.

a). Bermain ayunan dengan bentuk kerjasama dalam kelompok kecil merupakan model pembelajaran yang sangat efektif untuk anak usia dini

b). Pembelajaran dengan model kerjasama dalam kelompok kecil, dapat mengatasi permasalahan-permasalahan saat anak melakukan permainan out door termasuk permainan ayunan.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad Noor Fatirul (2008), Paradigma Baru dalam Pembelajaran, Jurnal Wahana (Jurnal Ilmiah Sains & Ilmu Pendidikan, Volume 56 Nomor 1, hal. 27 – 36

Direktorat Pembinaan Taman Kanak Kanak  dan Sekolah Dasar,(2008), Pengembangan Model Pembelajaran di Tman Kanak Kanak, Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Menengah Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta, Direktorat Pembinaan TK dan SD

Fairuzul Mumtaz, M Thobroni. (2011). Mendongkrak Kecerdasan Anak Melalui Bermain dan Permainan. Jogjakarta: Penerbit Ar-Ruzz Media.

Ibrahim, M., Fida R., Mohamad Nur dan Ismono, (2005), Pembelajaran Berdasarkan Masalah, Surabaya: PSMS UNESA.

Luluk Asmawati, dkk (2008), Pengelolaan Kegiatan Pengembangan Anak Usia Dini, Jakarta, Penerbit Universitas Terbuka

Rusdinal & Elizar , (2005), Pengelolaan Kelas di Taman Kanak Kanak, Jakarta, Depdiknas

Siswanto, Igrea & Lestari, Sri. (2012). Pembelajaran Atraktif dan 100 Permainan Kreatif. Yogyakarta. ANDI Yogyakarta

Sudono Anggani, (2010). Sumber Belajar dan Alat Permainan (untuk pendidikan anak usia dini), Jakarta: PT Grasindo.

Sugianto, M. (2005). Bermain, Mainan dan Permainan. Jakarta. Proyek Pendidikan Tenaga Guru, Direktorat Jenderal Pendidikan Tertinggi, Departemen  Pendidikan dan Kebudayaan.

Sujiono, Yuliani Nurani, (2005),Menu Pembelajaran Anak Usia Dini, Jakarta, Citra Guruan, 2005

——-, (2009), Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta, PT Indeks,

Sri Anitah, dkk. (2007). Strategi Pembelajaran di TK. Jakarta: Universitas Terbuka.