PEMANFAATAN HERBAL DALAM PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM DAN LUKA SEKSIO SESAREA


Jurnal Keperawatan
Volume 6 || Nomor 1 || Mei 2017 || ISSN: 2302-948X
Penerbit : Program Studi Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan William Booth Surabaya

Penulis  : Indria Nuraini

PDF

Abstrak

Pendahuluan : Masa nifas (puerperium) merupkan masa kembalinya organ reproduksi seperti keadaan sebelum hamil dalam waktu enam minggu setelah melahirkan (Nirwana, 2011).Pada masa nifas seorang ibu mengalami proses adaptasi baik adaptasi fisiologi maupun psikologi. Salah satu proses adaptasi fisiologi pada nifas adalah penyembuhan luka perineum atau luka seksio sesarea. Tidak semua penyembuhan luka perineum ataupun luka seksio sesarea pada ibu nifas berjalan dengan cepat. Perawatan  luka perineum dan luka pasca operasi sesarea bertujuan agar tidak terjadi infeksi, sehingga seorang perawat atau bidan benar-benar berada pada kondisi steril siap melakukan perawatan. Penatalaksanaan penyembuhan luka perineum ataupun luka seksio sesarea dapat diberi terapi secara konvensional ataupun dengan terapi komplementer. Terapi komplementer dikenal juga sebagai obat tradisional atau obat rakyat (WHO, 2013). Di beberapa negara Asia dan Afrika, hingga 80% dari populasi bergantung pada obat tradisional untuk kebutuhan utama mereka dalam merawat kesehatan. Hampir empat miliar jenis tanaman digunakan di seluruh dunia sebagai obat, Pasien yang menggunakan obat alternatif umumnya antara usia 30 dan 49 tahun, dan umumnya perempuan lebih sering menggunakan nya dibandingkan dengan laki – laki.

 

Metode : Studi ini menggunakan pendekatan Literature Review yaitu suatu tinjauan literature dengan menggali pemanfaatan herbal dalam membantu proses penyembuhan luka perineum ataupun luka seksio sesarea. Sumber untuk melakukan tinjauan literature yaitu dengan penelusuran 3 jurnal penelitian yang relevan terhadap pemanfaatan herbal dalam membantu proses penyembuhan luka perineum ataupun luka seksio sesarea.

 

Hasil : (1) Dampak lidah buaya dan calendula pada penyembuhan episiotomi pada wanita primipara, didapatkan bahwa antara kelompok control dan eksperimental tidak memiliki perbedaan yang signifikan secara statistik mengenai intervensi variabel demografis dan lainnya. Tetapi menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik antara kontrol dan kelompok eksperimen pada proses penyembuhan luka perineum dilihat dari kemerahan, edema, ekimosis, debit dan skala pendekatan (REEDA). (2) Mengurangi nyeri akibat luka operasi yang ditimbulkan, dapat diberikan Aromatherapi Lavender, Tidak ada perbedaan signifikan secara statistik antara kelompok usia, tinggi badan, berat badan, dan waktu untuk kebutuhan analgesik pertama. Tetapi pada kelompok control memiliki sedikit rasa sakit pada 4, 8 dan 12 jam setelah operasi dibandingkan pada kelompok placebo. Pada kelompok plasebo, penggunaan supositoria diklofenak untuk analgesia lengkap juga secara signifikan lebih tinggi daripada kelompok Lavender. (3) Kajian penggunaan obat herbal Cina oleh wanita selama kehamilan dan nifas di Taiwan, penggunaan herbal paling banyak pada ibu nifas yaitu 87,7% selama 1 bulan setelah melahirkan.

 

Kesimpulan : (1) menggunakan Lidah Buaya dan Calendula salep sangat meningkatkan kecepatan penyembuhan luka episiotomi sehingga dapat digunakan untuk mempercepat penyembuhan episiotomy (2) The Lavender esensi inhalasi dapat digunakan sebagai bagian dari pengobatan multidisiplin rasa sakit setelah operasi caesar, tetapi tidak dianjurkan sebagai manajemen nyeri tunggal (3) Obat herbal Cina sering digunakan oleh ibu selama hamil dan masa nifas di Taiwan dan mereka yang dengan pendidikan tinggi dan primipara menggunakan banyak herbal.

Kata Kunci : Herbal, Luka Perineum, Seksio sesarea

 

ABSTRACT 

INTRODUCTION  : Puerperium is the period of return of reproductive organs such as pre-pregnancy within six weeks after delivery (Nirwana, 2011). During the puerperium a mother undergoes a process of adaptation both physiological and psychological adaptations. One of the physiological adaptation processes in the puerperium is the healing of perineal wound or cesarean section injury. Not all healing of the perineal wound or cesarean section injury in the puerperal mother goes quickly. Perineal wound care and cesarean section injuries are intended to prevent infection, so that a nurse or midwife is really in a sterile condition ready for treatment. Management of perineal wound healing or cesarean section injury may be treated conventionally or with complementary therapies. Complementary therapy is also known as traditional medicine or folk medicine (WHO, 2013). In some Asian and African countries, up to 80% of the population relies on traditional medicine for their primary health care needs. Nearly four billion plant species are used worldwide as a remedy, Patients who use alternative medicine are generally between the ages of 30 and 49 years, and women generally use it more often than men.

 

METHOD  : This study uses the Literature Review approach which is a literature review by exploring the utilization of herbs in assisting the healing process of perineal wound or cesarean section injury. Sources to conduct literature review that is by searching 3 research journals relevant to the utilization of herbs in assisting the healing process of perineal wound or cesarean section injury.

 

RESULT  :  (1) The impact of aloe vera and calendula on episiotomy healing in primiparous women, it was found that between the control and experimental groups did not have statistically significant differences regarding the demographic and other variables intervention. But it showed statistically significant differences between control and experimental groups on perineal wound healing processes seen from redness, edema, ecchymoses, discharge and scale of approach (REEDA). (2) Reduced pain due to surgical wound, Aromatherapy Lavender may be given. There is no statistically significant difference between age group, height, weight, and time for the first analgesic requirement. But in the control group had less pain at 4, 8 and 12 hours after surgery than in the placebo group. In the placebo group, the use of diclofenac suppository for complete analgesia was also significantly higher than in the Lavender group. (3) The study of the use of Chinese herbal medicines by women during pregnancy and puerperium in Taiwan, the most common use of herbs in puerperal women is 87.7% for 1 month after delivery.

 

DISCUSSION  : (1) using Aloe Vera and Calendula ointment greatly improves the speed of wound healing episiotomy so it can be used to speed healing episiotomy (2) The Lavender inhalation essence can be used as part of the multidisciplinary treatment of pain after caesarean section, but is not recommended as a single pain management 3) Chinese herbal medicine is often used by mothers during pregnancy and puerperium in Taiwan and those with higher education and primipara use many herbs.

KEYWORDS    : Herbs, Perineal wound, Cesarean section

 

PENDAHULUAN

Masa nifas (puerperium) merupkan masa kembalinya organ reproduksi seperti keadaan sebelum hamil dalam waktu enam minggu setelah melahirkan (Nirwana, 2011). Pada masa nifas seorang ibu mengalami proses adaptasi baik adaptasi fisiologi maupun psikologi. Salah satu proses adaptasi fisiologi pada nifas adalah penyembuhan luka perineum atau luka seksio sesarea. Tidak semua penyembuhan luka perineum ataupun luka seksio sesarea pada ibu nifas berjalan dengan cepat.

Sebuah luka dapat didefinisikan sebagai gangguan dalam kontinuitas lapisan epitel kulit atau mukosa. Cedera, karena opersi atau kecelakaan , hasil dalam kerusakan jaringan, gangguan pembuluh darah dan extravasations konsituen darah dan hipoksia. Penyembuhan luka merupakan proses komplek yang memiliki tiga fase yaitu fase inflamsi, fase proliferasi  dan fase maturasi/pematangan.

Penyembuhan luka adalah hasil dari interaksi antara sitokin, faktor pertumbuhan, darah dan elemen seluler, dan matriks ekstraseluler. Sitokin mempromosikan penyembuhan melalui berbagai jalan, seperti merangsang produksi komponen membran basal, mencegah dehidrasi, meningkatkan peradangan dan pembentukan jaringan granulasi.

Luka dapat secara luas diklasifikasikan ke dalam luka akut dan kronis tergantung pada etiologinya. Luka akut paling sering terjadi akibat kecelakaan seperti trauma atau luka bakar. Luka akut biasanya akan sembuh dalam waktu pendek setelah diberikan pengobatan yang tepat.

Penatalaksanaan penyembuhan luka perineum ataupun luka seksio sesarea dapat diberi terapi secara konvensional ataupun dengan terapi komplementer. Terapi komplementer dikenal juga sebagai obat tradisional atau obat rakyat , yang terdiri dari pengetahuan yang dikembangkan dari generasi ke generasi dalam berbagai masyarakat sebelum era kedokteran modern. Praktek yang dikenal sebagai obat tradisional termasuk herbal, Ayurveda, Siddha, Unani, Muti, Ifa, pengetahuan psedo-medical Afrika dan lainnya dan praktek di seluruh dunia. (WHO, 2013)

Organisasi Kesehatan dunia(WHO) mendifiniasikan obat  tradisional sebagai praktik kesehatan, pendekatan, pengetahuan dan keyakinan meggabungkan tanaman, hewan dan obat – obatan berbasis mineral, terapi spiritual, teknik manual dan latihan, diterapkan  tunggal atau dalam kombinasi untuk mengobati, mendiagnosa dan mencegah peyakit atau mempertahankan kesehatan/ kesejahteraan. (WHO, 2013)

Di beberapa negara Asia dan Afrika, hingga 80% dari populasi bergantung pada obat tradisional untuk kebutuhan utama mereka dalam merawat kesehatan. Ketika diterapkan di luar budaya tradisional, obat tradisional sering disebut pengobatan komplementer dan alternative. Hampir empat miliar jenis tanaman digunakan di seluruh dunia sebagai obat, Pasien yang menggunakan obat alternatif umumnya antar usia 30 dan 49 tahun, dan umumnya perempuan lebih sering menggunakan nya dibandingkan dengan laki – laki (Dorai, 2012).

UU RI No.36 Tahun 2009 tentang kesehatan pasal 1 butir 16 menyampaikan bahwa “pelayanan kesehatan tradisional adalah pengobatan dan atau perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun temurun secara empiris yang dapat dipertanggung jawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat”. Oleh karena itu diperlukan pengembangan literatur  dalam hal penggunaan herbal untuk penyembuhan luka perineum ataupun luka seksio sesarea.

 

BAHAN DAN METODE

Studi ini menggunakan pendekatan Literature Review yaitu suatu tinjauan literature dengan menggali pemanfaatan herbal dalam membantu proses penyembuhan luka perineum ataupun luka seksio sesarea. Sumber untuk melakukan tinjauan literature yaitu dengan penelusuran 3 jurnal penelitian yang relevan terhadap pemanfaatan herbal dalam membantu proses penyembuhan luka perineum ataupun luka seksio sesarea.

 

HASIL

Berdasarkan hasil telaah dari 3 jurnal penelitian tentang pemanfaatan herbal dalam membantu proses penyembuhan luka perineum ataupun luka seksio sesarea adalah sebagai berikut :

  1. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Farideh Eghdampour at al (2013) dengan judul penelitian The Impact of Aloe vera and Calendula on Perineal Healing after Episiotomy in Primiparous Women:A Randomized Clinical TriaiI.

 

Metode: Uji klinis ini melibatkan 111 wanita primipara yang bersalin di Rumah sakit Lolagar. Mereka secara acak dikelompokkan menjadi dua kelompok kontrol (n = 1)  dan eksperimental (n = 2) kelompok. Para wanita dalam kelompok eksperimen digunakan lidah buaya dan Calendula Salep setiap 8 jam dan pada kelompok kontrol menerima perawatan rutin yang dilakukan oleh rumah sakit  untuk perawatan episiotomi selama 5 hari. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang didalam kuesioner tersebut terdapat data demografi primipara, kemerahan, edema, ecchymosis, discharge dan skala pendekatan (REEDA) yang digunakan untuk memeriksa penyembuhan episiotomi sebelum dan lima hari setelah intervensi dalam dua kelompok.

 

Hasil: tiga kelompok tidak memiliki perbedaan yang signifikan secara statistik mengenai intervensi variabel demografis dan lainnya. Membandingkan rata-rata REEDA dalam lima hari setelah melahirkan menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik antara kontrol dan kelompok eksperimen.

(Tabel 2) uji Tukey menunjukkan bahwa rata-rata REEDA

Setelah 5 hari episiotomi statis signifikan berbeda antara Aloe vera kelompok salep dan kontrol (P <0,001) dan antara calendula dan kelompok kontrol (P <0,001) tetapi tidak ada yang signifikan berbeda antara Aloe vera dan kelompok salep calendula (P = 0.98).

Mengenai kemerahan 5 hari setelah intervensi menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik antara tiga kelompok (P = 0,002). Uji Tukey menunjukkan bahwa nilai mean dari kemerahan 5 hari setelah episiotomi memiliki perbedaan yang signifikan secara statistik antara salep lidah buaya  dan kelompok kontrol (P = 0,006) dan antara salep calendula dan kelompok kontrol (P = 0,016). Tidak ada perbedaan yang signifikan antara salep lidah buaya dan kelompok salep calendula (P = 0.94). Mempelajari edema daerah episiotomi 5 hari setelah intervensi menunjukkan bahwa edema di kelompok eksperimen lebih rendah dari kelompok kontrol dan tiga kelompok memiliki perbedaan yang signifikan (P = 0,003). Uji Tukey menunjukkan bahwa rata-rata edema 5 hari setelah episiotomi memiliki perbedaan yang signifikan secara statistik antara Aloe vera dan kelompok kontrol (P = 0,004), antara Calendula dan kelompok kontrol (P = 0,001). Tidak ada perbedaan yang signifikan antara lidah buaya dan kelompok calendula (P = 0.88). Uji Tukey menunjukkan bahwa rata-rata ecchymosis kelas 5 hari setelah episiotomi memiliki perbedaan yang signifikan secara statistik antara Aloe vera dan kelompok kontrol (P = 0,009), antara Calendula dan kelompok kontrol (P = 0,009). Tidak ada perbedaan yang signifikan antara lidah buaya dan kelompok calendula (P = 0.94). Mempelajari ecchymosis luka 5 hari setelah intervensi menunjukkan bahwa ketiga kelompok memiliki perbedaan yang signifikan secara statistik (P = 0,005). Mempelajari pendekatan menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik antara tiga kelompok (P = 0,005). Uji Tukey menunjukkan bahwa rata-rata perkiraan 5 hari setelah episiotomi memiliki perbedaan yang signifikan secara statistik antara Aloe vera dan kelompok kontrol (P = 0,007), antara Calendula dan kelompok kontrol (P = 0,04). Tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik antara Aloe Vera dan kelompok calendula (P = 0.69).

  1. Jurnal The effect of inhalation of aromatherapy blend containing Lavender Essential Oil on Casarean Postoperative oleh Alireza Olapour, Kaveh Behaeen, Reza Akhondzadeh, Farhad Soltani, Forough al Sadat razavi, Reza Bekhradi. 2013.

 

Bahan dan Metode: Dalam buta tiga (triple blind), studi plasebo-terkontrol acak, 60 wanita hamil yang dirawat di rumah sakit umum untuk operasi caesar, dibagi secara acak menjadi dua kelompok. Setelah operasi caesar, kelompok Lavender dihirup sekitar 3 tetes 10% Lavender esensi minyak dan kelompok plasebo dihirup 3 tetes plasebo setelah dimulainya nyeri pasca operasi, empat, delapan dan 12 jam kemudian, selama 5 menit dari jarak 10 cm. Nyeri pasien diukur dengan VAS (Visual Analog Scale) skor sebelum dan setelah setiap intervensi, dan tanda vital, komplikasi dan tingkat kepuasan dari setiap pasien dicatat sebelum dan sesudah aromaterapi.

 

Hasil: Tidak ada perbedaan signifikan secara statistik antara kelompok usia, tinggi badan, berat badan, dan waktu untuk kebutuhan analgesik pertama. Pasien dalam kelompok Lavender memiliki sedikit rasa sakit pasca operasi di empat (P = 0,008), delapan (P = 0,024) dan 12 (P = 0.011) jam setelah obat pertama dari kelompok plasebo. Denyut jantung menurun dan tingkat pasien kepuasan dengan analgesia secara signifikan lebih tinggi pada kelompok Lavender (P = 0,001). Pada kelompok plasebo, penggunaan supositoria diklofenak untuk analgesia lengkap juga secara signifikan lebih tinggi daripada kelompok Lavender (P = 0,008).

  1. Jurnal Chinese Herbal Medicine Use In Taiwan During Pregnancy And The Postpartum Period : A Population-Based Cohort Study Chao-Hua Chuang, Pei-Jen Chang, Wu-Shiun Hsieh, Yih-Jian Tsai, Shio-Jean Lin, Pau-Chung Chen

 

Metode : penelitian prospektif longitudinal yang sedang berjalan, Peneliti menggunakan teknik sampling sistematik multistage stratified untuk merekrut 24.200 pasang, ibu nifas dan bayi baru lahir, dari catatan kelahiran nasional di Taiwan pada tahun 2005. Subyek menjalani wawancara rumah 6 bulan setelah persalinan mereka antara bulan Juni tahun 2005 hingga Juli tahun 2006. Kuesioner terstrukturberhasil dikumpulkan hingga 87,8% dari populasi sampel.

 

Hasil : Sedikitnya satu obat herbal Cina digunakan oleh 33,6% dan 87,7% dari subyek yang diwawancarai selama kehamilan dan masa nifas masing-masing. An-Tai-Yin, Pearl Powder, dan Huanglian banyak digunakan selama kehamilan, sedangkan Shen-Hua-Tang dan Suz-Wu-Tang banyak digunakan oleh ibu nifas. Ibu hamil dengan usia 20-34 tahun, dengan pendidikan tinggi, terancam abortus, penyakit kronis, dan primipara tampak menggunakan banyak obat herbal Cina dibandingkan yang lainnya dalam sampel. Ibu Nifas dengan pendidikan tinggi, primipara, persalinan normal spontan, dan menyusui ditemukan menggunakan banyak obat herbal Cina, namun ibu hamil dengan penyakit menggunakan sedikit obat herbal Cina.

Penggunaan herbal secara luas selama nifas (87,7%) ditemukan dalam penelitian ini konsisiten dengan penelitian di Taiwan yang melaporkan 94,4% ibu nifas menggunakan Sheng-Hua-Tang. Sheng-Hua-Tang (82,6%) dan Szu-Wu-tang (44,8%) merupakan herbal yang paling banyak digunakan di masa nifas. Berdasarkan kebiasaan masa nifas orang-orang Taiwan tradisional “doing of month” (Zui yuezi), ibu diajarkan oleh ibu mertua mereka untuk menggunakan ramuan herbal Cina seperti Sheng-Hua-Tang dan Szu-Wu-tang untuk memulihkan diri dari proses persalinan. Praktik tersebut biasanya berlangsung selama 1 bulan dari tanggal persalinan. Dalam penelitian kami sekitar 2% ibu menggunakan Sheng-Hua-Tang untuk lebih dari 1 bulan setelah melahirkan, lebih lama dibandingkan rekomendasi dokter medis Cina, dan ini mungkin menyebabkan perdarahan pervaginam. Lebih lanjut, bayi yang menyusu pada ibu nifas yang menggunakan Szu-Wu-Tang memiliki risiko timbal yang tinggi, karena herbal mengkontaminasi dengan cara timbal (menimpa air susu = larut dalam ASI). Maka tindakan ini harus diresepkan oleh dokter medis Cina untuk pemulihan postpartum.

Dalam penelitian saat ini, selama postpartum, ibu dengan pendidikan tinggi, primipara, persalinan normal spontan, dan menyusui menggunakan banyak herbal, namun mereka yang memiliki penyakit penyerta dalam kehamilan menggunakan sedikit herbal. Hal ini konsisten dengan dengan keyakinan para ginekolog bahwa Sheng-Hua-Tang dapat membantu pengeluaran lokhia, dan wanita dengan persalinan normal spontan membutuhkan lebih banyak dibandingkan wanita  yang melahirkan dengan seksio sesarea, selama dokter telah membersihkan lokhia.

 

DISKUSI

Hasil dari penelusuran 3 jurnal penelitian tentang pemanfaatan herbal dalam membantu proses penyembuhan luka perineum ataupun luka seksio sesarea adalah sebagai berikut :

  1. Penelitian yang dilakukan oleh Farideh Eghdampour at al (2013) dengan judul penelitian The Impact of Aloe vera and Calendula on Perineal Healing after Episiotomy in Primiparous Women:A Randomized Clinical TriaiI.

Penelitian ini dilakukan untuk menentukan dampak lidah buaya dan calendula pada penyembuhan episiotomi pada wanita primipara, dengan melibatkan 111 wanita primipara yang dikelompokan menjadi 2 yaitu kelompok control dan kelompok eksperimental. Pada kelompok eksperimental luka episiotomy diberikan lidah buaya dan calendula setiap 8 jam selama lima hari sedangkan kelompok control hanya mendapatkan perawatan rutin di rumah sakit.

Hasil penelitian didapatkan bahwa antara kelompok control dan eksperimental tidak memiliki perbedaan yang signifikan secara statistik mengenai intervensi variabel demografis dan lainnya. Tetapi menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik antara kontrol dan kelompok eksperimen pada proses penyembuhan luka perineum dilihat dari kemerahan, edema, ekimosis, debit dan skala pendekatan (REEDA). Sehingga dapat disimpulkan bahwa menggunakan Lidah Buaya dan Calendula salep sangat meningkatkan kecepatan penyembuhan luka episiotomi sehingga dapat digunakan untuk mempercepat penyembuhan episiotomi.

Lidah buaya (keluarga Liliaceae) adalah dari kelompok tanaman berbunga, monokotil dan asli Afrika Utara dan merupakan salah satu spesies obat penting yang digunakan untuk mengobati banyak penyakit dari zaman dahulu. Memiliki penyembuhan, anti-inflamasi, analgesik, anti-virus, anti-bakteri, anti jamur, pencahar, anti-gatal dan moisturizing. Lidah buaya termasuk kolagen meningkatkan butiran jaringan dan efektif dalam penyembuhan luka karena sifat anti-inflamasi . Efek anti-inflamasi yang disebabkan karena kandungan asam salisilat yang menghambat pembentukan Bradykinin, Histamin dan oksidasi asam arakidonat yang menghambat sintesis prostaglandin.

Beberapa penelitian telah dilakukan tentang mempelajari efek lidah buaya pada penyembuhan luka pada bagian lain dari tubuh. Hasil studi oleh Avizhgan et al., Tentang mempelajari efek penyembuhan dari gel lidah buaya untuk mengobati tekanan ulkus menunjukkan bahwa diperlukan waktu untuk mengurangi kemerahan, peradangan,  waktu yang dibutuhkan untuk menutup luka yang signifikan saat menggunakan gel lidah buaya. Penelitian oleh Tafazolie et al., dilakukan untuk membandingkan dampak gel Aloe vera dan salep Lanolin pada mengobati fisura puting, menunjukkan bahwa gel lidah buaya lebih efektif daripada salep Lanolin dalam mengobati puting fissure. Calendula adalah herbal  lain yang digunakan untuk mempercepat penyembuhan luka yang memiliki anti-inflamasi dan anti-inflamasi properti, anti-virus, anti mikroba dan aktivitas antijamur, anti-kanker, anti oksidan dan berfungsi pada penyembuhan.

Flavonoid dan saponin dalam calendula mencegah terlepasnya enzim berbahaya dan histamin yang menyebabkan sensitivitas dan peradangan serta menyembuhkan kemerahan dan rasa sakit,  menghambat perluasan plasma pada jaringan dengan mengurangi permeabilitas kapiler. Sementara itu, mengurangi imigrasi sel darah putih ke daerah yang meradang. Efek anti-inflamasi yang disebabkan triterpenoid. Dalam sebuah studi pada hewan, calendula merangsang granulasi dan meningkatkan glikoprotein dan collagen. Belum ada penelitian yang selesai tentang mempelajari pengaruh calendula pada penyembuhan luka di bagian tubuh lain dan begitu juga pengaruh  Aloe vera dan calendula pada penyembuhan luka episiotomi tetapi ada penelitian serupa yang dilakukan berkaitan dengan efek dari tanaman obat lainnya.

  1. Jurnal The effect of inhalation of aromatherapy blend containing Lavender Essential Oil on Casarean Postoperative oleh Alireza Olapour, Kaveh Behaeen, Reza Akhondzadeh, Farhad Soltani, Forough al Sadat razavi, Reza Bekhradi. 2013.

Penelitian ini menjelaskan tentang mengurangi nyeri akibat luka operasi yang ditimbulkan, dengan diberikan Aromatherapi Lavender. Metode yang digunakan triple blind, studi plasebo-terkontrol acak, 60 wanita hamil yang dirawat di rumah sakit umum untuk operasi caesar, dibagi secara acak menjadi dua kelompok. Kelompok control dihirupkan 3 tetes 10% Lavender esensi minyak. Sedangkan kelompok placebo dihirupkan tetes 3 tetes placebo dihitung tingkat nyeri pada empat, delapan dan 12 jam setelah operasi dengan VAS (Visual Analog Scale) skor sebelum dan setelah setiap intervensi, dan tanda vital, komplikasi dan tingkat kepuasan dari setiap pasien dicatat sebelum dan sesudah aromaterapi.

Hasil penelitian yang didapatkan adalah Tidak ada perbedaan signifikan secara statistik antara kelompok usia, tinggi badan, berat badan, dan waktu untuk kebutuhan analgesik pertama. Tetapi pada kelompok control memiliki sedikit rasa sakit pada 4, 8 dan 12 jam setelah operasi dibandingkan pada kelompok placebo. Pada kelompok plasebo, penggunaan supositoria diklofenak untuk analgesia lengkap juga secara signifikan lebih tinggi daripada kelompok Lavender.  Sehingga dapat disimpulkan bahwa The Lavender esensi inhalasi dapat digunakan sebagai bagian dari pengobatan multidisiplin rasa sakit setelah operasi caesar, tetapi tidak dianjurkan sebagai manajemen nyeri tunggal.

  1. Jurnal Chinese Herbal Medicine Use In Taiwan During Pregnancy And The Postpartum Period : A Population-Based Cohort Study Chao-Hua Chuang, Pei-Jen Chang, Wu-Shiun Hsieh, Yih-Jian Tsai, Shio-Jean Lin, Pau-Chung Chen.

Penelitian ini menjelaskan tentang mengkaji penggunaan obat herbal Cina oleh wanita selama kehamilan dan nifas di Taiwan, pendekatan penelitian ini dengan teknik sampling sistematik multistage stratified, populasi 24.200 ibu nifas antara bulan Juni tahun 2005 hingga Juli tahun 2006. Kuesioner terstrukturberhasil dikumpulkan hingga 87,8% dari populasi sampel.

Hasil penelitian yang didapatkan adalah penggunaan herbal paling banyak pada ibu nifas yaitu 87,7% selama 1 bulan setelah melahirkan.

Kesimpuln penelitian ini yaitu Obat herbal Cina sering digunakan oleh ibu selama hamil dan masa nifas di Taiwan dan mereka yang dengan pendidikan tinggi dan primipara menggunakan banyak herbal. Berkaitan dengan kurangnya informasi keamanan penggunaan herbal ini, peneliti memberikan nasihat peringatan tentang penggunaan obat herbal selama kehamilan atau ketika menyusui pada masa nifas. Lebih lanjut, sangat penting untuk perawat atau bidan menanyakan kebiasaan, dan menyediakan pendidikan kesehatan yang memadai bagi wanita selama perawatan kehamilan dan nifas untuk mencegah efek samping yang potensial terjadi.

 

KESIMPULAN

  1. Penyembuhan luka perineum dengan menggunakan lidah buaya dan calendula salep dapat mempercepat penyembuhan episiotomi setelah melahirkan 5 hari
  2. Penyembuhan luka operasi juga dipengaruhi oleh rasa nyeri yang dialami, dan untuk membantu pengurangan rasa nyeri yaitu dengan Lavender esensi inhalasi dapat digunakan sebagai bagian dari pengobatan analgesik multimodal setelah operasi caesar, tetapi tidak dianjurkan menggunakan pengobatan analgesik tunggal.
  3. Dalamulasan ini, jelaslah bahwaobat tradisionaldari tanamandanbungaekstrakdapat digunakan untukmanajemenlukadalam kondisi tertentu. Karenakenaikan biayaperawatan kesehatankhususnyadalam manajemenluka, akan ekonomisuntuk menggunakanobat tradisionaluntuk mengobati luka. Namun,uji klinis acakyang besardiperlukan untukmemberikan buktiyang lebih konkretyang mendukung penggunaanobat tradisionaldalam manajemenluka. Tapi initidak menghalangijanji bahwaobat tradisionalberlaku bagipengelolaan luka di masa depan

 

KEPUSTAKAAN

Alireza Olapour, Kaveh Behaeen, Reza Akhondzadeh, Farhad Soltani, Forough al Sadat razavi, Reza Bekhradi. 2013. The effect of inhalation of aromatherapy blend containing Lavender Essential Oil on Casarean Postoperative Pain. Iranian Society of Regional Anesthesia and Pain Medicine. Kowsar Corp.

Ananda A.Dorai. 2012. Wound care with traditional, complementary and alternative medicine.  Indian Journal of Plastic Surgery.Indian J Plast Surg.2012 May-Aug; 45(2):418-424

Chao-Hua Chuang, Pei-Jen Chang, Wu-Shiun Hsieh, Yih-Jian Tsai, Shio-Jean Lin, Pau-Chung Chen.2009.Chinese Herbal Medicine Use In Taiwan During Pregnancy And The Postpartum Period : A Population-Based Cohort Study. Int.J.Stud(2009),doi:10.1016?j.ijnurstu.2008.12.015

Farideh Eghdampour, Fereshteh Jahdie,Masomeh Kheyrkhah,Mohsen Taghizadeh,Somayeh Naghizadeh,Hamid Hagani.2013.The Impact of Aloe vera and Calendula on Perineal Healing after Episiotomy in Primiparous Women:A Randomized Clinical Trial. Journal of Caring Sciences, 2013 http:// journals.tbzmed.ac.ir/ JCS

Nirwana, A. B., 2011,Psikologi Ibu, Bayi dan Anak, Nuha Medika, Bantul

Sengupta and Jayanta K.Banik (2013). A Review on Betel Leaf. International Journal of Pahrmaceutical Sciences and Research. Vol.4 Issue 12

WHO.2013.Recommendation on Postnatal Care of The Mother and Newborn. Departement of Maternal, Newborn, Child and Adolescent Health WHO.