Lingkungan Pembelajaran di Kelas Matematika di Sekolah Menengah Pertama Pedesaan dan Perkotaan


Seminar Nasional Matematika 2015 || Membangun Tradisi Pembelajaran Matematika Yang Menyenangkan
30 Mei 2015 || ISBN: 978-979-8559-54-9
Penerbit : Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Penulis  : Erna Puji Astutik

PDF

Abstrak

Penelitian ini mendeskripsikan lingkungan pembelajaran di kelas matematika di sekolah menengah pertama (SMP) pedesaan dan perkotaan. Penelitian ini difokuskan padapersepsi siswa terhadap lingkungan pembelajaran di kelas matematika. Penelitian ini melibatkan dua tahap pengumpulan data yaitu pada tahap pertama kuesioner digunakan untuk mengumpulkan persepsi siswa terhadap lingkungan pembelajaran di kelas matematika mereka. Kuesioner What Is Happening In the Classroom (WIHIC) diberikan kepada 19 siswa kelas delapan dari SMP N 2 Laren dan 30 siswa kelas delapan dari SMP N 2 Lamongan. Hasil dari persepsi tersebut kemudian didukung dengan data observasi kelas dan wawancara dengan tiga siswa untuk setiap sekolah. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa di SMP pedesaan mempunyai persepsi yang kurang menyenangkan dibanding siswa di SMP perkotaan. Terdapat perbedaan yang signifikan antara lingkungan pembelajaran di kelas matematika di SMP pedesaan dan perkotaan terutama dalam hal kekompakan siswa, orientasi tugas dan penyelidikan. Guru dapat menggunakan data dari kuesioner WIHIC, observasi, dan wawancara sebagai umpan balik untuk meningkatkan kualitas lingkungan pembelajaran matematika di kelas mereka.

Kata-kata Kunci: lingkungan pembelajaran, lingkungan pembelajaran di kelas matematika, kuesioner WIHIC, sekolah pedesaan, sekolah perkotaan

  1. PENDAHULUAN

Matematika merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang sangat dibutuhkan oleh mata pelajaran lain dan juga memiliki peran penting dalam kehidupan kita (Depdiknas, 2006). Perkembangan teknologi dan komunikasi adalah hasil dari kemajuan matematika pada semua bidang. Dengan belajar matematika, siswa diharapkan dapat memahami konsep-konsep matematika dan menggunakannya dalam pemecahan masalah matematika (Depdiknas, 2006). Di Indonesia, matematika merupakan salah satu mata pelajaran wajib di semua tingkatan sekolah baik di sekolah dasar maupun menengah. Akibatnya, guru matematika harus mempersiapkan kelas mereka sebelum pembelajaran berlangsung, tidak hanya untuk menyampaikan materi tetapi juga menyediakan lingkungan di mana pembelajaran berlangsung sehingga dapat membantu siswa dalam pembelajaran mereka.

Pengalaman belajar di kelas akan sangat mempengaruhi perkembangan akademik siswa karena mereka menghabiskan cukup waktu selama masa-masa sekolah mereka. Akibatnya, kualitas lingkungan kelas sangat penting bagi perkembangan akademik siswa. Selama tiga dekade, banyak penelitian yang berfokus dalam bidang lingkungan pembelajaran di kelas yang diawali oleh Lewin, seorang psikolog Jerman-Amerika, pada tahun 1936. Lewin mengakui bahwa baik lingkungan beserta interaksinya dengan karakteristik pribadi dari individu yang kuat menentukan faktor perilaku manusia (Fraser, 1986). Banyak peneliti juga telah mempelajari hubungan antara kualitas lingkungan pembelajaran di kelas dan hasil belajar siswa. Studi-studi ini telah dilakukan di berbagai negara dan hasilnya menunjukkan bahwa lingkungan pembelajaran di kelas sangat mempengaruhi hasil siswa termasuk prestasi siswa dan sikap di dalam kelas (Fraser, 2007).

Beberapa penelitian terakhir yang telah dilakukan juga berfokus pada pengembangan dan validasi instrumen untuk mengukur persepsi siswa yang berkaitan dengan lingkungan pembelajaran. Instrumen tersebut digunakan untuk menyediakan informasi kepada guru dan peneliti tentang sifat lingkungan pembelajaran di kelas, efek inovasi pengajaran berdasarkan persepsi siswa dan guru, dan apakah siswa lebih baik di lingkungan yang mereka sukai (Aldridge, 1995). Pada akhir 1960-an, Rudolf Moos dan Herbert Walberg memulai penelitian mereka dalam pengembangan instrumen untuk menilai lingkungan pembelajaran. Ini adalah pertama kalinya pengumpulan data persepsi siswa dengan menggunakan kuesioner. Walberg mengembangkan Learning Environment Inventory (LEI) dan Moos mengembangkan Classroom Environment Scale (CES) (Fraser, 1986). Kuesioner yang lain juga telah dikembangkan oleh Fraser, Fisher dan McRobbie (1996) yaitu What Is Happening In the Classroom (WIHIC) kuesioner. Beberapa penelitian yang telah dilakukan di beberapa negara termasuk Indonesia menggunakan kuesioner WIHIC dalam mengumpulkan data. Di Indonesia misalnya, WIHIC digunakan untuk menyelidiki hubungan antara persepsi mahasiswa dalam bidang komputasi tehadap lingkungan pembelajaran di kelas mereka dan hasil belajar mereka di kelas matematika (Margianti, 2001; Soerjaningsih, 2001) dan untuk menyelidiki persepsi siswa terhadap lingkungan pembelajaran di kelas IPA di sekolah menengah pertama (Wahyudi, 2004; Wahyudi & Treagust, 2004b).

Peneliti dari Asia juga telah melakukan studi di bidang lingkungan pembelajaran untuk melihat hubungan antara persepsi siswa tentang lingkungan pembelajaran di kelas mereka dan hasil belajar (Fraser, 2002). Misalnya, di Singapura pada kelas matematika dasar, Goh dan Fraser (1995) menemukan bahwa prestasi dan sikap siswa yang lebih baik ditemukan di kelas dengan lingkungan yang lebih baik di mana siswa merasa lebih kompak dan sedikit terjadi gesekan/permasalahan antar siswa, guru lebih memahami serta membantu / ramah kepada siswa di dalam kelas, serta perilaku kepemimpinan dalam kelas mereka. Contoh lain adalah penelitian yang telah dilakukan oleh Margianti (2001) untuk melihat pengaruh lingkungan pembelajaran terhadap hasil kognitif dan afektif siswa di kelas matematika. Margianti menemukan hubungan antara lingkungan pembelajaran dan hasil belajar siswa dimana siswa memperoleh hasil yang lebih baik di kelas dengan penekanan lebih besar pada kekompakan, dukungan guru, keterlibatan, ketertiban dan organisasi, orientasi tugas, dan ekuitas. Dari penelitian-penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa lingkungan pembelajaran yang lebih baik dapat membuat hasil belajar siswa lebih baik pula.

Siswa menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah bersama guru dan teman-temannya, mereka juga menghabiskan cukup waktu di kelas dan telah mengalami lingkungan pembelajaran yang beragam sehingga siswa merupakan orang yang tepat untuk membuat penilaian dan pendapat tentang guru dan kelas mereka (Fraser, 2001). Beberapa penelitian telah menggunakan persepsi siswa tentang lingkungan pembelajaran di kelas yang meliputi keadaan sebenarnya dan keadaan yang diinginkan untuk menyediakan lingkungan pembelajaran yang lebih baik. Data yang diperoleh dari siswa dapat digunakan sebagai umpan balik bagi guru dalam mencerminkan kelas dan mengajar mereka sehingga mereka dapat menentukan strategi dan tindakan lebih lanjut dalam menyediakan lingkungan pembelajaran yang lebih baik. Penelitian terdahulu juga menemukan bahwa persepsi siswa tentang lingkungan pembelajaran di kelas mereka berguna dalam membimbing penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh guru untuk meningkatkan lingkungan pembelajaran di kelas mereka (Aldridge, Bell, & Fraser, 2010). Fraser, Malone, dan Neale (1989) juga menemukan bahwa persepsi siswa terhadap lingkungan pembelajaran di kelas yang meliputi keadaan sebenarnya dan yang diinginkan dapat membuat perubahan yang signifikan di kelas matematika dengan melakukan studi kasus mengenai lingkungan pembelajaran yang diinginkan siswa.

Isu-isu lain yang berkaitan dengan lingkungan pembelajaran di kelas adalah sumber daya sekolah dan kualitas mengajar guru dimana pemerintah Indonesia masih berjuang untuk memberikan pengajaran yang baik dan berkualitas bagi semua siswa (Wahyudi & Treagust, 2004a). Banyak sekolah di daerah pedesaan yang masih berjuang untuk memberikan siswa pendidikan yang tepat, sementara sebagian besar sekolah di daerah perkotaan memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi khususnya dalam hal penerimaan siswa baru (Wahyudi & Treagust, 2004a). Wahyudi dan Treagust (2004b) menemukan bahwa ada perbedaan antara persepsi siswa di sekolah pedesaan dan perkotaan dimana siswa perkotaan memandang lingkungan pembelajaran di kelas mereka lebih baik daripada siswa pedesaan. Mereka juga menemukan bahwa di sekolah pedesaan proses pembelajaran didominasi oleh metode yang berpusat pada guru, harapan guru terhadap siswa rendah, kurangnya sumber daya dan beberapa guru harus mengajar lebih dari satu mata pelajaran yang bukan bidang keahlian mereka sehingga menghasilkan kinerja mengajar yang rendah.

Berdasarkan permasalahan di atas, penelitian ini difokuskan pada kelas matematika di sekolah menengah pertama pedesaan dan perkotaan. Penelitian ini menjelaskan lingkungan pembelajaran di kelas matematika di sekolah menengah pertama menggunakan kuesioner, wawancara dan observasi untuk memberikan gambaran lebih mendalam dari lingkungan pembelajaran di kelas matematika. Diharapkan penelitian ini akan memberikan beberapa informasi untuk guru khususnya di sekolah pedesaan untuk membuat suatu tindakan, keputusan, dan kebijakan dalam rangka memberikan lingkungan pembelajaran di kelas matematika yang lebih baik untuk membantu siswa dalam pembelajaran mereka.

  1. TUJUAN

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan lingkungan pembelajaran di kelas matematika di sekolah menengah pertama pedesaan dan perkotaan. Lebih khusus, tujuan dirumuskan dalam pertanyaan penelitian sebagai berikut:

  1. Bagaimanalingkungan pembelajarandi kelasmatematika di sekolahmenengah pertamapedesaan dan perkotaan?
  2. Bagaimanaperbedaan antaralingkungan pembelajarandi kelasmatematika di sekolahmenengah pertamapedesaan dan perkotaan?
  • METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk memberikan pemahaman yang lebih baik dan lebih dalam dari lingkungan pembelajaran di kelas matematika. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah explanatory sequential design dimana data kuantitatif dan kualitatif dikumpulkan berurutan dalam dua langkah, pertama mengumpulkan data kuantitatif dan kemudian mengumpulkan data kualitatif untuk memberikan penjelasan lebih dan elaborasi hasil kuantitatif sehingga gambaran umum dari masalah penelitian dapat diperoleh (Creswell, 2012).

Sampel penelitian ini diambil dari sekolah menengah pertama daerah pedesaan dan perkotaan di Lamongan. Untuk SMP pedesaan diambil satu kelas VIII dari SMP N 2 Laren Lamongan yang terdiri dari 19 siswa dan untuk SMP perkotaan diambil satu kelas VIII dari SMP N 2 Lamongan yang terdiri dari 30 siswa.

Pada tahap awal, data kuantitatif dikumpulkan dengan pemberian kuesioner WIHIC untuk semua siswa untuk mengukur persepsi mereka terhadap pembelajaran di kelas matematika. Kemudian  dilanjutkan dengan observasi kelas dan wawancara dengan tiga siswa yang dipilih berdasarkan hasil diskusi peneliti dan guru yang didasarkan pada jawaban mereka dalam kuesioner WIHIC dan kemampuan mereka untuk berkomunikasi.

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN
  2. Lingkungan Pembelajaran di Kelas Matematika di Sekolah Menengah Pertama Pedesaan

Untuk menyelidiki lingkungan pembelajaran di kelas matematika di SMP pedesaan, peneliti menggunakan kuesioner WIHIC yang telah diadaptasi di Indonesia oleh Wahyudi (2004), dua periode observasi, dan wawancara dengan tiga siswa yang mewakili persepsi mereka dalam WIHIC kuesioner. Lingkungan pembelajaran di kelas matematika akan dijelaskan berdasarkan tujuh skala pada kuesioner WIHIC, yaitu: kekompakan siswa (student cohesiveness), dukungan guru (teacher support), keterlibatan (involvement), orientasi tugas (task orientation), penyelidikan (investigation), kerjasama  (cooperation), dan ekuitas (equity). Data dari kuesioner WIHIC kemudian  dianalisis statistik deskriptif dengan menghitung rata-rata dan standar deviasi dari setiap skala yang ddisajikan pada Tabel 4.1.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 4.1: Rata-rata dan Simpangan Baku Persepsi Siswa dari Kuesioner WIHIC di SMP Pedesaan

Skala Rata-Rata Simpangan Baku
Student Cohesiveness (SC) 3.83 0.48
Teacher Support (TS) 3.57 0.60
Involvement (IV) 2.75 0.53
Task Orientation (TO) 3.45 0.58
Investigation (INV) 2.88 0.48
Cooperation (CO) 3.11 0.90
Equity (EQ) 3.49 0.82

 

Dari tabel 4.1 dapat dilihat untuk skala yang pertama yaitu kekompakan siswa (student cohesiveness) yang berkaitan dengan hubungan antara siswa di kelas matematika dan juga dalam membantu satu sama lain. Data dari kuesioner WIHIC menunjukkan rata-rata kekompakan siswa 3,83 yang berarti siswa merasa aktivitas yang berhubungan dengan kekompakan terjadi antara kadang-kadang dan sering tetapi relatif sering. Namun, data yang diperoleh dari hasilobservasi menunjukkan hanya empat pasang siswa (delapan siswa dari total 19 siswa) bekerja dengan baik satu sama lain dalam melakukan tugas di kelas matematika dalam hal ini yang berkaitan dengan materi keliling dan luas lingkaran. Dari hasil wawancara juga diketahui bahwa terdapat beberapa siswa yang mengolok-olok teman-teman mereka dengan penampilan fisik mereka ataupun nama orang tua mereka.

Untuk skala yang kedua yaitu dukungan guru (teacher support) yang terkait dengan perilaku guru di kelas matematika yang menunjukkan dukungan dan perhatian terhadap siswa, siswa memberikan skor rata-rata 3,57 yang berarti mereka menganggap guru antara kadang-kadang dan sering dalam mendukung mereka dan membantu mereka. Temuan ini juga didukung dari data observasi kelas bahwa guru secara aktif berkeliling di dalam kelas untuk berbicara dengan siswa (terutama pada siswa yang sering rame dan kurang memperhatikan pelajaran) dan membantu mereka memecahkan masalah jika mereka mendapat kesulitan, seperti membimbing mereka dalam memahami masalah, menemukan variabel yang diketahui dan tidak diketahui, menentukan rumus yang akan digunakan, dan juga dalam menghitung hasilnya. Guru juga membuat tanya jawab dengan siswa pada saat menjelaskan materi dan contoh soal, seperti ketika menentukan variabel yang diketahui dan tidak diketahui, rumus keliling dan luas yang akan digunakan untuk memecahkan masalah, phi (22/7 atau 3, 14) yang akan digunakan, dan juga dalam menghitung hasilnya. Guru juga memberikan perhatian lebih untuk perhitungan siswa karena kebanyakan dari mereka masih punya kesulitan dalam perhitungan. Menurut siswa, sebagaimana diketahui dari hasil wawancara, peran guru adalah untuk membantu mereka memahami dan memecahkan masalah matematika. Guru akan menginformasikan siswa jika mereka salah dalam memecahkan masalah, kadang-kadang mereka juga ditanya satu persatu apakah mereka mendapat kesulitan, kadang-kadang mereka juga bertanya kepada guru jika menemukan kesulitandan kemudian guru akan memberikan penjelasan lebih.

Untuk skala keterlibatan (involvement) yang berkaitan dengan diskusi dan negosiasi siswa di kelas matematika baik itu dengan siswa lain atau guru. Dari kuesioner WIHIC diperoleh skor keterlibatan 2.75 yang berarti siswa di antara jarang dan kadang-kadang terlibat dalam proses pembelajaran tetapi relatif kadang-kadang. Skor ini juga didukung oleh hasil pengamatan di mana hanya satu siswa yang menyajikan jawaban mereka di depan kelas dan tanpa menjelaskannya. Selain itu, hanya dua siswa yang aktif menjawab pertanyaan guru yang berkaitan dengan materi mengenai variabel yang diketahui dan tidak diketahui dari soal yang diberikan, rumus keliling dan luas lingkaran yang akan digunakan, dan hasil perhitungan selama pelajaran. Sementara siswa yang lain cenderung pasif dalam menanggapi pertanyaan guru. Dari hasil wawancara juga diketahui bahwa siswa jarang mengajukan pertanyaan selama pembelajaran matematika dan jarang maju ke depan untuk menampilkan jawaban dengan inisiatif mereka sendiri karena mereka takut ditertawakan oleh teman-teman mereka. Para siswa cenderung untuk maju menyajikan jawaban di depan kelas jika mereka diminta oleh guru.

Untuk skala orientasi tugas (task orientation) yang menggambarkan tujuan dan konsistensi siswa terhadap tugas dalam proses pembelajaran. Dari kuesioner WIHIC, skor orientasi tugas 3.45 yang berarti siswa di antara kadang-kadang dan sering konsisten dengan tugas dan pelajaran di kelas matematika. Seperti diketahui dari dua periode observasi kelas, tidak semua siswa memperhatikan selama pelajaran, setidaknya ada dua dari mereka melakukan kegiatan yang tidak relevan dengan pembelajaran seperti berbicara dengan siswa lain atau membuat kebisingan selama pelajaran matematika. Para siswa juga kurang konsisten dalam melakukan tugas, sebagaimana data yang diperoleh dari wawancara, mereka sering menyelesaikan pekerjaan rumah mereka di sekolah daripada di rumah. Situasi ini dapat terjadi karena mereka tidak belajar di rumah. Akan tetapi, mereka masih menganggap bahwa matematika itu penting untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Penyelidikan (investigation) adalah skala yang menekankan pada kemampuan dan penyelidikan siswa untuk memecahkan masalah matematika. Dari kuesioner WIHIC, skor penyelidikan sebesar 2.88 dimana siswa merasa di antara jarang dan kadang-kadang kegiatan penyelidikan terjadi ketika pembelajaran. Hal ini dapat ditunjukkan dari pengamatan kelas dimana kedua pengamat tidak melihat aktivitas penyelidikan selama dua periode observasi. Guru tidak meminta siswa untuk melakukan penyelidikan. Guru hanya menjelaskan, memberi contoh dan memberikan masalah yang berkaitan dengan materi dan contoh. Dari data wawancara tentang aktivitas penyelidikan diketahui bahwa siswa sering menggunakan contoh dan penjelasan guru dalam mengerjakan tugas yang diberikan daripada sumber lainnya. Dari wawancara juga diketahui bahwa siswa hanya menggunakan catatan guru dan lembar kerja siswa sebagai sumber acuan mereka. Ini berarti bahwa mereka tidak memilih untuk mencari sendiri dari sumber lain seperti buku atau internet.

Untuk skala kerjasama (cooperation) yang mengevaluasi kolaborasi siswa di kelas matematika, skor WIHIC menunjukkan angka 3.11 dimana siswa merasa bahwa mereka kadang-kadang bekerja sama dengan siswa lain. Data pengamatan menunjukkan bahwa tidak semua siswa bekerja dan bekerja sama satu sama lain, di mana hanya empat pasang siswa (delapan mahasiswa dari total 19 siswa di kelas) yang bekerja sama satu sama lain dalam melakukan tugas yang berkaitan dengan  materi keliling dan luas dari lingkaran. Hal ini disebabkan oleh metode pembelajaran yang digunakan oleh guru dimana guru tidak meminta siswa untuk melakukan tugas secara kooperatif. Namun, siswa masih memakai bersama buku dan fasilitas lainnya seperti penggaris, kompas, dan alat-alat lain selama pembelajaran. Dari data wawancara juga diketahui bahwa siswa sering melakukan tugas mereka secara sendiri daripada berdiskusi dengan siswa lainnya. Namun, kadang-kadang mereka butuh bekerja sama atau hanya menyalin jawaban dari siswa lain.

Untuk skala ekuitas (equity) menilai perlakuan yang sama dari guru ke siswa dalam pembelajaran matematika. Rata-rata nilai ekuitas pada kuesioner WIHIC 3.49 yang berarti siswa memandang baik terhadap skala ekuitas dimana guru di antara kadang-kadang dan sering memperlakukan siswa secara sama/adil. Temuan ini juga didukung oleh observasi kelas dan wawancara bahwa guru memberi kesempatan yang sama bagi siswa untuk berbicara dan bertanya selama pembelajaran. Guru meminta siswa untuk menyajikan jawaban mereka di depan kelas dengan cara meminta siswa yang sudah selesai mengerjakan atau kadang-kadang memilih siswa secara acak berdasarkan nomor urut siswa.

Dari semua temuan di atas, aktivitas terendah yang terjadi selama pembelajaran matematika di SMP pedesaan terkait dengan skala keterlibatan dan penyelidikan. Temuan initidak berbeda dengan penelitian sebelumnya (Wahyudi, 2004; Wahyudi & Treagust, 2004b) bahwa dalam kebanyakan kasus, pembelajaran di  kelas di sekolah-sekolah pedesaan lebih didominasi oleh metode teacher centered dan kurangnya kegiatan penyelidikan ketika pembelajaran. Selain itu, siswa juga kurang memahami harapan guru. Sering kali di sekolah-sekolah pedesaan siswa disuruh menyalin catatan dari papan tulis sebelum guru menjelaskan materi. Situasi ini dapat terjadi karena siswa tidak menggunakan buku teks yang sudah diberikan kepada mereka. Para siswa lebih suka menggunakan catatan dan contoh guru dalam memecahkan masalah daripada membaca dan menemukan dari buku atau sumber lainnya.

 

  1. Lingkungan Pembelajaran di Kelas Matematika di Sekolah Menengah Pertama Perkotaan

Untuk menyelidiki lingkungan pembelajaran di kelas matematika di SMP perkotaan, peneliti menggunakan kuesioner WIHIC yang telah diadaptasi di Indonesia oleh Wahyudi (2004), dua periode observasi, dan wawancara dengan tiga siswa yang mewakili persepsi mereka dalam WIHIC kuesioner. Lingkungan pembelajaran di kelas matematika akan dijelaskan berdasarkan tujuh skala pada kuesioner WIHIC, yaitu: kekompakan siswa (student cohesiveness), dukungan guru (teacher support), keterlibatan (involvement), orientasi tugas (task orientation), penyelidikan (investigation), kerjasama  (cooperation), dan ekuitas (equity). Data dari kuesioner WIHIC kemudian  dianalisis statistik deskriptif dengan menghitung rata-rata dan standar deviasi dari setiap skala yang ddisajikan pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2: Rata-rata dan Simpangan Baku Persepsi Siswa dari Kuesioner WIHIC di SMP Perkotaan

Skala Rata-Rata Simpangan Baku
Student Cohesiveness (SC) 4.12 0.40
Teacher Support (TS) 3.19 0.70
Involvement (IV) 2.80 0.66
Task Orientation (TO) 3.94 0.50
Investigation (INV) 3.28 0.69
Cooperation (CO) 3.55 0.68
Equity (EQ) 3.41 0.72

 

Dari tabel 4.2 diperoleh data yang pertama yaitu kekompakan siswa (student cohesiveness) yang berkaitan dengan hubungan antara siswa di kelas matematika dan juga dalam membantu satu sama lain. Kuesioner WIHIC memberikan skor kekompakan siswa sebesar 4.12 yang berarti siswa merasa aktivitas yang berhubungan dengan kekompakan siswa sering terjadi. Temuan ini didukung oleh observasi kelas diamana hampir semua siswa bekerja dengan baik dengan siswa lain yang duduk dalam satu meja ketika melakukan tugas, seperti dalam materi menggambar sudut pusat dan keliling serta membuktikan beberapa karakteristik dari sudut pusat dan keliling. Beberapa dari mereka juga bekerja dengan baik dengan teman-teman mereka yang berada di depan, belakang, atau samping meja mereka ketika mereka menemukan kesulitan dalam melakukan tugas atau hanya untuk memeriksa jawaban mereka sma atau tidak. Dari hasil wawancara juga mendukung temuan tersebut dimana siswa akan bertanya kepada teman-teman mereka jika mereka mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas. Namun, ada beberapa siswa yang tidak bersedia untuk mengajari siswa lain dan hanya berbagi pengetahuan / ide kepada teman-teman terdekat mereka yang duduk di belakang atau di samping meja mereka.

Untuk dukungan guru (teacher support) yang terkait dengan perilaku guru di kelas matematika yang menunjukkan dukungan dan perhatian terhadap siswa, siswa memberikan skor rata-rata 3,19 di mana mereka merasakan dukungan guru kadang-kadang terjadi. Temuan ini juga didukung oleh observasi kelas bahwa guru berkeliling di kelas untuk berbicara dengan siswa, memeriksa pekerjaan siswa atau pekerjaan rumah, dan membantu mereka jika mereka mengalami kesulitan yang dalam hal ini ketika mereka menggambar sudut pusat dan sudut keliling. Guru juga membuat pertanyaan interaktif dengan siswa saat menjelaskan materi dan contoh soal. Ketika menjelaskan materi dan contoh di depan kelas, guru memberikan pertanyaan kepada siswa untuk mendapatkan perhatian mereka dan membantu mereka dalam memahami materi. Akan tetapi, dari hasil wawancara diketahui bahwa siswa merasa guru kurang peduli dan kurang dekat dengan siswa. Para siswa menginginkan guru lebih dekat dengan mereka.

Untuk skala keterlibatan (involvement) yang berhubungan dengan diskusi dan negosiasi siswa di kelas matematika baik itu dengan siswa lain atau guru. Dari kuesioner WIHIC, skor keterlibatan adalah 2,80 yang berarti siswa diantara jarang dan kadang-kadang terlibat dalam proses pembelajaran tetapi relatif kadang-kadang. Temuan ini juga didukung oleh hasil pengamatan di mana tidak ada siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru selama pembelajaran pada saat guru di depan kelas. Hasil tersebut juga didukung oleh hasil wawancara dimana para siswa jarang (tidak pernah) mengajukan pertanyaan selama pelajaran matematika karena mereka takut dimarahi. Jika guru di depan kelas, mereka takut mengajukan pertanyaan karena mereka takut jika guru memarahi mereka di depan kelas. Mereka akan lebih memilih untuk bertanya kepada teman-teman mereka jika mereka tidak mengerti. Namun, dari pengamatan kelas juga diketahui bahwa guru melibatkan siswa dalam pembelajaran dengan melakukan aktivitas tanya jawab ketika menjelaskan dan menanyakan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan contoh soal yang diberikan. Siswa kemudian secara aktif merespon dan menjawab pertanyaan guru.

Untuk skala orientasi tugas (task orientation) yang menggambarkan arah dan konsistensi siswa terhadap tugas dalam proses pembelajaran. Dari kuesioner WIHIC, skor orientasi tugas sebesar 3.94 yang berarti siswa sering konsisten dengan tugas dan pelajaran di kelas matematika. Seperti diketahui dari dua periode observasi kelas, hampir semua siswa memperhatikan selama pembelajaran ketika guru menjelaskan materi. Mereka juga tetap memperhatikan ketika siswa lain menuliskan atau menyajikan jawaban di depan kelas. Mereka tidak mengganggu teman-teman mereka atau mengolok-olok selama kegiatan tersebut. Para siswa juga konsisten dalam melakukan tugas, sebagaimana data yang diperoleh dari wawancara, dimana mereka sering mengerjakan pekerjaan rumah mereka di rumah. Mereka hanya meneruskan PR di sekolah jika pekerjaan itu terlalu banyak dan mereka tidak dapat menyelesaikannya. Bagi mereka, belajar matematika juga penting untuk masa depan mereka.

Penyelidikan (investigation) adalah skala yang menekankan pada kemampuan dan penyelidikan siswa untuk memecahkan masalah matematika. Dari kuesioner WIHIC, skor penyelidikan sebesar 3.28 dimana siswa merasa bahwa kegiatan investigasi terjadi kadang-kadang. Hal ini dapat ditunjukkan dari pengamatan kelas di mana guru membuat kegiatan penyelidikan selama pembelajaran matematika. Para siswa dipandu untuk melakukan investigasi yaitu dalam membuktikan beberapa sifat dari sudut pusat dan sudut keliling selama pembelajaran matematika. Dari data wawancara tentang aktivitas penyelidikan juga diketahui bahwa siswa mencoba untuk memahami tugas terlebih dahulu sebelum mengerjakannya. Mereka juga tidak selalu mengikuti contoh guru dalam mengerjakan tugas dimana mereka juga mencari dari sumber lain ataupun menggunakan pengetahuan yang mereka peroleh sebelumnya.

Untuk skala kerjasama (cooperation) yang mengevaluasi kolaborasi siswa di kelas matematika, skor WIHIC menunjukkan rata-rata sebesar 3.55 yang berarti siswa di antara kadang-kadang dan sering bekerja sama satu sama lain. Data pengamatan menunjukkan bahwa siswa bekerja dan bekerja sama satu sama lain, di mana setidaknya enam pasang siswa (12 siswa dari total 30 siswa di kelas) yang tampaknya bekerja sama satu sama lain dalam melakukan tugas dan menyelidiki beberapa sifat dari sudut pusat dan sudut keliling. Para siswa juga berbagi peralatan mereka seperti pnggaris, kompas, dan lain-lain selama pelajaran. Dari data wawancara juga diketahui bahwa siswa mengatakan bahwa mereka bekerja sama satu sama lain. Mereka akan bertanya kepada siswa lain jika mereka mendapat kesulitan dalam mengerjakan tugas. Namun, ada beberapa siswa yang tidak bersedia untuk bekerjasama dengan siswa lain.

Skala yang terakhir yaitu ekuitas (equity) menilai perlakuan yang sama dari guru ke siswa dalam pembelajaran matematika. Rata-rata ekuitas pada kuesioner WIHIC sebesar 3.41 yang berarti siswa memandang guru di antara kadang-kadang dan sering memperlakukan siswa secara  sama/adil. Temuan ini juga didukung oleh observasi kelas dan wawancara bahwa guru memberi kesempatan yang sama bagi siswa untuk berbicara dan menjawab pertanyaan terkait dengan materi sudut pusat dan sudut keliling serta materi sebelumnya yang berkaitan dengan topik-topik dalam pelajaran. Guru meminta siswa untuk menyajikan jawaban secara acak berdasarkan nomor urut siswa.

Dari semua temuan di atas diketahui bahwa kegiatan belajar mengajar di SMP Perkotaan tidak didominasi oleh guru. Guru mencoba untuk melibatkan siswa dalam pembelajaran dengan membimbing mereka untuk melakukan penyelidikan dalam membuktikan beberapa teorema atau pernyataan. Temuan ini selaras dengan Wahyudi (2004) yang menemukan bahwa guru di sekolah perkotaan menjalankan pembelajaran lebih baik daripada guru di sekolah-sekolah di pedesaan, para guru cenderung menggunakan teknik bertanya yang baik, mempunyai harapan yang jelas dan tinggi terhadap siswa, dan mengatur kondisi kelas dengan efektif. Kondisi ini juga didukung oleh siswa dimana siswa di SMP ini perkotaan secara aktif memberi respon atas pertanyaan dan instruksi guru.

  1. Perbedaan antara Lingkungan Pembelajaran di Kelas Matematika Sekolah Menengah Pertama Pedesaan dan Perkotaan

Secara umum terdapat perbedaan antara lingkungan pembelajaran di kelas matematika di SMP pedesaan dan perkotaan. Perbedaan tersebut akan dijelaskan berdasarkan hasil kuesioner WIHIC, observasi, dan wawancara yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya.
Tabel 4.3 dan Gambar 4.1 menunjukkan bahwa siswa di SMP pedesaan menunjukkan persepsi yang lebih rendah daripada siswa di SMP perkotaan. Temuan ini terkait dengan penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Wahyudi (2004) bahwa siswa di sekolah-sekolah perkotaan mempunyai persepsi yang lebih baik terhadap lingkungan pembelajaran di kelas mereka daripada rekan-rekan mereka di sekolah-sekolah pedesaan dengan pengecualian pada skala dukungan guru dan ekuitas. Temuan dari observasi dan wawancara juga mendukung data tersebut. Di SMP pedesaan, guru aktif berkeliling untuk berbicara dengan siswa, memeriksa tulisan siswa dan membantu siswa jika mereka menemukan kesulitan. Hampir semua siswa membutuhkan bimbingan guru dalam menyelesaikan tugasnya. Namun, siswa di SMP perkotaan merasa bahwa guru mereka kurang peduli. Mereka ingin guru untuk lebih dekat dengan mereka. Untuk skala ekuitas, tidak ada perbedaan yang signifikan antara SMP pedesaan dan perkotaan. Data dari observasi dan wawancara memberi hasil bahwa baik guru di SMP pedesaan maupun perkotaan memperlakukan siswa secara sama/adil, siswa diberikan kesempatan dan perhatian yang sama ketika pembelajaran di kelas.

 

Tabel 4.3: Rata-rata, Simpangan Baku dan Nilai t dari uji-t untuk Perbedaan antara Persepsi Siswa terhadap Lingkungan Pembelajaran di Kelas Matematika di SMP Pedesaan (R) dan Perkotaan (U)

Skala Rata-rata Simpangan Baku Perbedaan antara R dan U
R U R U Nilai t
Student Cohesiveness (SC) 3.83 4.12 0.48 0.40 -2.30*
Teacher Support (TS) 3.57 3.19 0.60 0.70 1.97
Involvement (IV) 2.75 2.80 0.53 0.66 -0.28
Task Orientation (TO) 3.46 3.94 0.58 0.50 -3.13*
Investigation (INV) 2.88 3.28 0.48 0.69 -2.35*
Cooperation (CO) 3.11 3.55 0.90 0.68 -1.86
Equity (EQ) 3.50 3.41 0.82 0.72 0.39

* p < 0.05

 

Perbedaan signifikan secara statistik (p < 0,05) terjadi untuk skala kekompakan siswa (student cohesiveness), orientasi tugas (taskorientation) dan penyelidikan (investigation) antara persepsi siswa perkotaan dan pedesaan terhadap lingkungan pembelajaran di kelas matematika dimana siswa perkotaan memiliki persepsi yang lebih tinggi. Hasil tersebut dapat dibuktikan dari hasil observasi dan wawancara. Untuk kekompakan siswa, berbeda dari siswa SMP perkotaan yang memiliki hubungan yang baik antar siswanya, di SMP pedesaan ada beberapa siswa yang mengejek di dalam kelas sehingga mengakibatkan pada lingkungan yangkurang nyaman. Untuk skala orientasi tugas, hasil dari wawancara menyebutkan bahwa siswa di SMP pedesaan tidak konsisten dalam melakukan tugas, mereka sering melakukan pekerjaan rumah di sekolah daripada di rumah. Selain itu, kegiatan penyelidikan juga tidak terjadi selama pembelajaran pada periode observasi di SMP pedesaan. Dalam kebanyakan kasus, pembelajaran matematika di SMP pedesaan didominasi oleh metode yang berpusat pada guru seperti yang dijelaskan dalam Wahyudi (2004) dan Wahyudi & Treagust (2004b). Di sekolah-sekolah pedesaan sering kali siswa diminta menyalin catatan dari papan tulis sebelum guru menjelaskan kepada mereka.

 

 

Gambar 4.1: Perbandingan antara Persepsi Siswa terhadap Lingkungan Pembelajaran di Kelas Matematika SMP Pedesaan dan Perkotaan

  1. KESIMPULAN

Dari pembahasan yang disajikan di atas, siswa di SMP pedesaan memiliki persepsi yang kurang daripada siswa di SMP perkotaan. Terdapat perbedaan yang signifikan antara lingkungan pembelajaran matematika di sekolah menengah pertama pedesaan dan perkotaan terutama pada skala kekompakan siswa, orientasi tugas dan investigasi. Namun, guru dapat menggunakan data dari kuesioner WIHIC, observasi, dan wawancara sebagai umpan balik untuk memperbaiki lingkungan pembelajaran di kelas matematika mereka.

 

DAFTAR PUSTAKA

Aldridge, J. M. 1995. “Interpersonal Teacher Behaviour, Classroom Environment and Student Satisfaction in Upper Primary Classes”. Bachelor Thesis, Curtin University of Technology.

Aldridge, J. M., Bell, L., & Fraser, B. 2010. “Using Students’ Perceptions of the Learning Environment to Guide Teacher Action Research to Improve Senior Secondary Classrooms”. Paper presented at the AARE International Education Research Conference, Canberra.

Creswell, J. W. 2012. Educational Research: Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research. Boston: Pearson.

Depdiknas. 2006. Kurikulum 2006 Standar Kompetensi Mata Pelajaran. BSNP Indonesia. Retrieved from http://bsnp-indonesia.org/id/?page_id=103/

Fisher, D. L., & Fraser, B. J. 1983. “A Comparison of Actual and Preferred Classroom Environment as Perceived by Science Teachers and Students”. Journal of Research in Science Teaching.Vol. 20 No. 1, pp. 55-61.

Fraser, B. J. 1986. Classroom Environment. London: Croom Helm.

Fraser, B. J. 2001. “Twenty Thousand Hours: Editor’s Introduction”. Learning Environments Research: An International Journal. Vol. 4, pp. 1-5.

Fraser, B. J. 2002. “Learning Environments Research: Yesterday, Today and Tomorrow”. In S. C. Goh & M. S. Khine (Ed). Studies in Educational Learning Environments: An International Perspective, 1-25. Singapore: World Scientific Publishing.

Fraser, B. J. 2007. “Classroom Learning Environments”. In S. K. Abell & N. G. Lederman (Ed). Handbook of Research on Science Education, 103-124. London: Lawrence Erlbaum Associates.

Fraser, B. J., Fisher, D. L., & McRobbie, C. J. 1996. “Development, Validation and Use of Personal and Class Forms of a New Classroom Instrument”. Paper presented at the Annual Meeting of the American Educational Research Association, New York.

Fraser, B. J., Malone, J. A., & Neale, J. M. 1989. “Assessing and Improving the Psychosocial Environment of Mathematics Classrooms”. Journal for Research in Mathematics Education. Vol.20 No.2, pp. 191-201. Retrieved from http://www.jstor.org.dbgw.lis.curtin.edu.au/stable/749282?seq=10

Goh, S. C., & Fraser, B. J. 1995. “Learning Environment and Student Outcomes in Primary Mathematics Classrooms in Singapore”. Retrieved from http://www.eric.ed.gov/PDFS/ED389627.pdf

Margianti, E. S. 2001. “Learning Environment, Mathematics Achievement and Student Attitudes among University Computing Students in Indonesia”. Doctoral Dissertation, Curtin University of Technology.

Soerjaningsih, W. 2001. “Student Outcomes, Learning Environment, Logical Thinking and Motivation among Computing Students in an Indonesian University”. Doctoral Dissertation, Curtin University of Technology.

Wahyudi. 2004. “Educational Practices and Learning Environments in Rural and Urban Lower Secondary Science Classrooms in Kalimantan Selatan Indonesia”. Doctoral Dissertation, Curtin University of Technology.

Wahyudi, & Treagust, D. F. 2004a. “An Investigation of Science Teaching Practices in Indonesian Rural Secondary Schools”. Research in Science Education. Vol.34 No.4, pp. 455-474. Retrieved from http://dx.doi.org/10.1007/s11165-004-5165-8

Wahyudi, & Treagust, D. F. 2004b. “The Status of Science Classroom Learning Environment in Indonesian Lower Secondary Schools”. Learning Environments Research. Vol.7 No.1, pp. 43-67. Retrieved from http://proquest.umi.com.dbgw.lis.curtin.edu.au/pqdlink?Ver=1&Exp=11-23-2016&FMT=7&DID=2226922101&RQT=309&cfc=1