Validitas dan Reliabilitas : Cara Mudah Analisis Secara Manual, Microsoft Exel dan SPSS


Penulis       : Dian Kinasih
Editor        : Dra. Ayuni, M.Si
Design Sampul : Mudhar, Slamet Haryanto
Layout        : Adi Buana University Press
ISBN          : 978-979-8559-89-1

PDF

Perkembangan konsep penilaian atau pengukuran dalam bidang psikologi, pendidikan dan bidang ilmu sosial lainnya yang ada pada saat ini menunjukkan arah yang lebih luas. Penilaian dan pengukuran dalam bidang psikologi sudah banyak dikenal dan dipergunakan dalam berbagai bidang di masyarakat, antara lain bakat, minat, inteligensi, kepribadian, sikap dan aspek-aspek psikologi lainnya. Peran pengukuran dan penilaian dalam bidangpsikologi seringkali menjadi hal yang sangat setral, karena seringkali akan menjadi pedoman dan penentu dalam mengambil keputusan. Dalam dunia kerja psikotes sering dijadikan alat untuk menentukan diterima tidaknya karyawan, juga bisa dijadikan alat untuk menentukan layak tidaknya untuk dipromosikan. Dalam dunia pendidikan juga menjadi alat penentu dalam penelusuran minat dan bakat siswa.

Pengukuran aspek fisik dan aspek psikologis adalah dua hal yang sangat berbeda. Obyek pengukuran aspek fisik adalah benar-benar mengukur obyeknya, sedangkan pengukuran aspek psikologis hanya mengukur indikator-indikator dari aspek psikologis itu. Obyek aspek fisik dapat dilihat, diraba, didengar dan dirasa bahkan bisa dipastikan ada pada tempat tertentu. Aspek psikologi masih berupa konsep, tidak bisa ditangkap oleh panca indra, tempatnya juga tidak diketahui. Kalau kita mau mengukur berat badan, tinggi badan, volume air, kecepatan angin, kadar gula sudah dipastikan bendanya ada dan bersentuhan langsung dengan obyek yang diukur, sedangkan kalau mengukur aspek psikologis, misalnya inteligensi, bendanya tidak jelas, tempatnya di mana, berupa apa, semuanya masih berupa konsep yang dinyakini ada dan berpengaruh terhadap perilaku. Oleh karena aspek psikologis hanya berupa konsep, maka setiap orang, setiap pakar akan berbeda dalam melihat bahkan mengukur aspek psikologis tersebut. Pandangan Binet-Simon tentang inteligensi berbeda dengan pandangan Wechsler, sehingga aspek yang diukur dan alat ukur yang digunakan juga berbeda.

Realitas aspek psikologis yang masih berupa konsep, tidak bisa ditangkap oleh panca indra, hal ini menimbulkan pertanyaan terhadap alat ukurnya. Pertanyaan yang sering didengar, apakah alat ukur itu benar-benar mengukur apa yang hendak diukur. Pertanyaan ini berkaitan dengan validitas alat ukur itu. Dengan demikian validitas menjadi hal yang sangat penting agar alat ukur itu dapat dipercaya.

Salah satu syarat utama yang harus dipenuhi oleh suatu instrumen pengukuran, yaitu validitas dan reliabilitas. Pengertian validitas mengacu pada keberartian, kebenaran, kemanfaatan, dan kesesuaian skor tes dengan aspek yang diukur. Validitas merupakan karakteristik suatu alat ukur ketika diujikan pada suatu kelompok peserta. Validasi suatu alat ukur mencakup pengumpulan data empiris dan argumentasi logis untuk menunjukkan bahwa kesimpulan tertentu adalah tepat. Keberhasilan mengungkapkan variabel yang ingin diukur sebagaimana adanya (objektivitas hasil penilaian) sangat tergantung pada kualitas alat ukur itu sendiri, disamping pada cara pelaksanaannya. Berdasarkan beberapa pernyataan diatas diketahui bahwa mengetahui dan memahami arti dari validitas akan menjadi sangat penting.

Hasil pengukuran dikatakan valid apabila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya ada pada objek yang diukur, ada kesamaan antara hasil tes dengan kondisi yang sesungguhnya dari orang yang diukur. Sedangkan hasil penelitian yang reliabel apabila terdapat kesamaan data dalam rentang waktu yang berbeda, jadi reliabel lebih mengarah pada keajegan dari alat ukur. Instrumen yang valid berarti akan memproleh data yang valid juga. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliabel dalam pengumpulan data, maka diharapkan hasil pengukuran akan menjadi valid dan reliabel. Jadi instrumen yang valid dan reliabel menjadi syarat mutlak untuk mendapatkan data yang akurat. Hal ini tidak berarti bahwa dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliabel otomatis hasil pengukuran juga menjadi valid dan reliabel, walaupun sebenarnya masih ada pengaruh lain seperti objek yang diukur dan kemampuan dari pengguna alat ukur itu.

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kesahihan suatu tes. Suatu tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur. Tes memiliki validitas yang tinggi jika hasilnya sesuai dengan kriteria, dalam arti memiliki kesejajaran antara tes dan kriteria.

Menurut Azwar (2012) Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu skala atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila instrumen tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Sedangkan tes yang memiliki validitas rendah akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran.

Terkandung disini pengertian bahwa ketepatan validitas pada suatu alat ukur tergantung pada kemampuan alat ukur tersebut mencapai tujuan pengukuran yang dikehendaki dengan tepat. Suatu tes yang dimaksudkan untuk mengukur variabel A dan kemudian memberikan hasil pengukuran mengenai variabel A, dikatakan sebagai alat ukur yang memiliki validitas tinggi. Suatu tes yang dimaksudkan mengukur variabel A akan tetapi menghasilkan data mengenai variabel A′ atau bahkan B, dikatakan sebagai alat ukur yang memiliki validitas rendah untuk mengukur variabel A dan tinggi validitasnya untuk mengukur variabel A′ atau B (Azwar, 2012). Sisi lain dari pengertian validitas adalah aspek kecermatan pengukuran. Suatu alat ukur yang valid tidak hanya mampu menghasilkan data yang tepat akan tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut.

Cermat berarti bahwa pengukuran itu dapat memberikan gambaran mengenai perbedaan yang sekecil-kecilnya mengenai perbedaan yang satu dengan yang lain. Sebagai contoh, dalam bidang pengukuran aspek fisik, bila kita hendak mengetahui berat sebuah cincin emas maka kita harus menggunakan alat penimbang berat emas agar hasil penimbangannya valid, yaitu tepat dan cermat. Sebuah alat penimbang badan memang mengukur berat, akan tetapi tidaklah cukup cermat guna menimbang berat cincin emas karena perbedaan berat yang sangat kecil pada berat emas itu tidak akan terlihat pada alat ukur berat badan.

Menggunakan alat ukur yang dimaksudkan untuk mengukur suatu aspek tertentu akan tetapi tidak dapat memberikan hasil ukur yang cermat dan teliti akan menimbulkan kesalahan atau eror. Alat ukur yang valid akan memiliki tingkat kesalahan yang kecil sehingga angka yang dihasilkannya dapat dipercaya sebagai angka yang sebenarnya atau angka yang mendekati keadaan yang sebenarnya (Azwar, 2012).

Jika membandingkan hasil pengukuran aspek fisik dengan pengukuran aspek psikologis dalam kaitannya dengan akurasi hasil pengukurannya tentunya akan sangat berbeda. Hasil pengukuran aspek fisik, seperti mengukur tinggi badan, berat badan, panjang, lebar, tekanan, kecepatan, biasanya memiliki validitas dan reliabilitas yang sangat tinggi. Lain halnya jika kita melakukan pengukuran terhadap aspek psikologi dan aspek sosial, misalnya inteligensi, motivasi, sikap, minat jauh lebih sulit bahkan tingkat validitas dan reliabilitasnya tidak akan menyamai tingkat validitas dan reliabilitas dari pengukuran terhadap aspek fisik. Hal ini karena aspek yang diukur pada aspek fisik dapat ditangkap oleh panca indra, sedangkan pada pengukuran aspek psikologis dilakukan terhadap indikator-indikator dari aspek yang akan diukur.

 

Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, secara elektronis maupun mekanis, termasuk memfotokopi, merekam atau dengan teknik perekam lainnya, tanpa izin tertulis dari penerbit.