PERKEMBANGAN GERAK : KELENTUKAN (FLEXYBILITY)


GELORA || Jurnal Pendidikan Olahraga dan Kesehatan IKIP Mataram
Volume 3 || Nomor 2 || September 2016 || ISSN: 2355-4355
Penerbit : Program Studi Pendidikan Olahraga dan Kesehatan IKIP Mataram

Penulis : Suharti

PDF

ABSTRAK

Kelentukan yang dimiliki seseorang akan memeberikan kemudahan dan kenyamanan seseorang dalam melakukan berbagai gerakan. Setiap gerakan, baik dalam aktivitas sehari–hari maupun olahraga sebagian besar menuntut adanya faktor kelentukan tubuh yang baik. Kelentukan atau flekxybilitas merupakan persyaratan yang diperlukan bagi berlangsungnya gerak bagi manusia.

Gerakan yang ditampilkan lebih harmonis dan ritmis jika ditunjang oleh kelentukan tubuh yang baik. Perkembangan tubuh seseorang dipengaruhi oleh usia. Dari kecil kelentukan tubuh seseorang akan berkembang sampai pada usia belasan (pubertas). Pada usia remaja perkembangan kelentukan relatif tetap, karena sudah mencapai puncaknya. Selanjutnya secara umum akan mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya usia.

Kata Kunci : Perkembagan gerak, Kelentukan, Usia

 

Konsep Kelentukan (Fleksibility)

Kelentukan adalah salah satu komponen fisik yang sangat penting dalam kaitannya dalam prestasi senam. Dalam bahasa Inggris, istilah flexibility sering juga dipersamakan dengan suppleness dan joint mobility, yang artinya adalah :  “jarak kemungkinan gerak dari suatu persendian atau kelompok sendi”. Artinya, seberapa besar jarak yang dicapai, semakin baik kelentukan dari sendi itu. Sajoto (1988: 58) menjelaskan bahwa:  “kelentukan atau fleksibilitas adalah keefektifitas seorang dalam penyesuaian dirinya untuk melakukan segala aktivitas tubuh dengan penguluran seluas-luasnya, terutama otot-otot ligamen disekitar persendian.”

Jarak gerak ini dapat dibedakan menjadi dua macam. Pertama, jarak pasif, yaitu seberapa jauh suatu anggota tubuh dapat digerakan oleh kekuatan luar seperti pasangan atau tekanan tertentu. Kedua, jarak aktif, yaitu seberapa jauh anggota tubuh dapat digerakan oleh kekuatan otot dirinya sendiri. Kelentukan adalah kualitas spesifik, yang menyatakan bahwa seseorang bisa jadi fleksibel dalam salah satu persendiannya tetapi tidak dalam sendi yang lain. Begitu juga dalam hal perkembangannya, dimana satu persendian lebih cepat merespon pada latihan stretching dari pada yang lainnya.

Nurhasan dkk (2005: 18) menjelaskan pendapatnya tentang kelentukan sebagai berikut:

Kelentukan adalah kemampuan sendi untuk melakukan gerakan dalam ruang gerak sendi secara maksimal sesuai dengan kemungkinan geraknya (range of movement). Dengan kelentukan yang baik akan mengurangi penggunaan tenaga yang berlebihan pada saat melakukan suatu gerakan.

Flexibility is the ability to move a muscle, or a group of muscles, through its complete range of motion (ROM). The role of flexibility in sport performance is not clearly understood. In some sports the range of motion for a given joint may have importand implications for performance. For instance, flexibility is important in gymnastics ND weightlifting yet its ability to predict performance has not been established (Hoffman, 2006: 97).

Kelentukan merupakan kemampuan tubuh untuk melakukan latihan-latihan dengan amplitudo gerakan yang besar atau luas. Dengan kata lain kelentukan merupakan kemampuan pergelangan atau persendian untuk dapat melakukan gerakan-gerakan kesemua arah secara optimal (Jonath & Krempel dalam Suharto, 2000: 117). Kelentukan adalah kemampuan seseorang untuk dapat melakukan gerakan dengan ruang gerak seluas-luasnya dalam persendiannya.

Faktor utama yang menentukan kelentukan seseorang adalah bentuk sendi, elastisitas otot, dan ligament. Kelentukan penting untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari, lebih-lebih untukseorang atlet suatu cabang olahraga yang menuntut leuwesan gerak, di antaranya:  a) senam, b) atletik, c) gulat, dan d) permainan. Seseorang yang lentuk akan lebih mudah dan lincah melakukan suatu gerakan, dan dengan demikian akan lebih baik prestasinya di bidang olahraga.

 

Macam-macam kelentukan

  1. Kelentukan umum, adalah kemampuan semua persendian atau pergelangan untuk melakukan gerakan-gerakan ke semua arah secara optimal, dan dibutuhkan untuk banyak cabang olahraga.
  2. Kelentukan khusus, adalah kemampuan yang dominan dibutuhkan dalam suatu cabang olahraga tertentu, misalnya kelentukan akanpergelangan tangan dan bahu dalam permainan bolavoli atau pergelangan tangan pada cabang olahraga hoki.
  3. Kelentukan aktif, adalah kelentukan di mana gerakan-gerakannya dilakukan sendiri seperti senam kalistenik atau gerakan-gerakan senam pergelangan yang biasa dilakukan dalam pemanasan.
  4. Kelentukan pasif, adalah kelentukan di mana gerakan-gerakannya dilakukan dengan bantuan orang lain seperti senam atau streatching (peregangan) secara berulang-ulang.
  5. Kelentukan dinamis, adalah latihan kelentukan dengan menggerak-gerakan persendian secara berulang-ulang.
  6. Kelentukan statis, adalah latihan kelentukan dengan tidak melakukan pengulangan gerakan dalam waktu dan hitungan tertentu. Misalnya latihan peregangan pada waktu melakukan pemanasan (Suharto, 2000: 117-118).

 

Perkembangan Kelentukan

Perkembangan kelentukan seseorang dipengaruhi oleh usia, Dari anak kecil, kelentukan tubuh seseorang terus berkembang, samapai pada usia belan (pubertas).Pada usia remaja perkeembangan kelentukan relative tetap, karena sudah mencapai puncakanya, pada bumumnya anak kecil memiliki otot yang agak lentuk (flexible), keadaan tersebut akan terus meningkatsamapai pada usia belasan tahun (usia sekolah). Dan memasuki usia remaja kelentukan mereka perlahan – lahan  menurun. Clarke, seperti yang dikutip Kathlen M. Haywood (1986 : 228 ), menyimpulkan bahwwa anak laki laki cenderung mengalami penurunan kelentukan setelah usia 10 tahun dan anak perempuan setelah usia 12 tahun.

Perempuan  cenderung memiliki kelentukan lebih baik daripada laki laki. Penelitian yang mengungkapkan anggapan bahwa anak laki laki memiliki kelentukan tingkat tinggi pada waktu anak anak dan remaja itu diragukan. Pada anak laki laki tidak menunjukkan pola tetaptentang kenaikan kelentukan bersamaan dengan umur, tetapi menujukkan kecenderungan yang pasti tentang kelentuka yang menurun bersamaan dengan umur.

Kelentukan sendi pada daerah punggung dan pinggul, antara laki-laki dan perempuan juga memiliki perbedaan, dari hasil penelitian yang menguji anak usia 9 tahun dengan lat pengukur kelentukan sit and reach diperoleh kesimpulan bahwa nilai rata rata diperoleh oleh anak perempuan , dan anak laki laki rata rata agak kurang lemtuk pada usia 9 tahun (Espenschade,A.S; Eckert,H.M 1980 ; 201)

Perkembangan dan perubahan flexybilitas atau kelentukan pada setiap tubuh tidak sama. Seiring dengan bertambahnya usia cenderung terjadi penurunan secara terus menerus. Penurunan kelentukan rata rata pada usia remaja dan dewasa adalah sebagai akibat dari kegiatan atau aktivitas sehari hari yang terbatas, dan kurangnya latihan ( Katheen M.Haywood,1986;230).

 

Memperoleh Kelentukan Dengan Latihan

Harsono (1988 : 101) menjelaskan bahwa pelatihan adalah suatu proses yang sistematis dari berlatih atau bekerja, yang dilakukan secara berulang-ulang, dengan kian hari kian menambah jumlah beban pelatihan atau pekerjaannya. Pendapat yang sama juga dijelaskan oleh Nala (1998: 1) menyatakan bahwa pelatihan adalah suatu gerakan fisik  dan atau aktivitas mental yang dilakukan secara sistematis dan berulang-ulang (repetitive) dalam jangka waktu (durasi) yang lama, dengan pembebanan yang meningkat secara progresif dan individual, yang bertujuan untuk memperbaiki sistem serta fungsi fisiologis dan psikologis tubuh agar pada waktu melakukan aktivitas olahraga dapat mencapai penampilan optimal.

Melalui pengertian pelatihan diatas dapat disimpulkan bahwa pelatihan adalah suatu proses  yang sistematis dan dilakukan secara berulang-ulang untuk mencapai prestasi yang maksimal, dan sistem ini harus dilaksanakan secara terprogram, berjenjang dan berkelanjutan. Proses pelatihan ini haruslah mengacu pada prosedur yang terorganisasi dengan baik, metodis, dan ilmiah. Di dalam melaksanakan proses latihan harus melihat dan menggunakan prinsip-prinsip latihan yang benar.

Kelentukan yang dimilikiseseorang sangat dipengaruhioleh aktivitas yang dilakukan sehari-hari, termasuk aktivitas olahraga. Untuyk meningkatkan kelentukan yang baik, sendi tersebut harus digerakkan secara regular dan sistematiskebidang gerak yang lebih luas.

Dalam olahraga anggota tubuh cenderung digerakkan keberbagai bidang gerak dalam geraka n yang bervariasi, berdasarkan hal tersebut, orang yang sering berolahraga cenderung memiliki kelentukan yang baik. Seseorang yang sering berolahraga cenderung meningkatkan kelentukan sendi yang digunakan sewaktu berolahraga.

Hilangnya kelentukan merupakan suatu cirri dari usia tua, perubahan dalam tulang rawan, ligament, dan tendon dari sendi terjadi dengan bertambahnya usia, tetapi tidak ada bukti bahwa perubahan ini merupakan penyebab dari menurunnya kelentukan. Kenyataannyam kebanyakan peneletian menghubungkan hilangnya kelentukan pada orang dewasa yang lebih tua denga n menurunnya fungsi jaringan tubuh.

Norma untuk megukur tingkat kelentukan togok perempuan dan laki- laki dapat diperhatikan pada table berikut ini.

 

Tabel 1

Norma tingkat kelentukan togok perempuan

Norma Usia
6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18
Baik sekali 16, 5 17, 0 17, 0 17, 0 17, 5 18, 0 19, 0 20, 0 19, 5 20, 0 20, 5 20, 5 20, 5
Baik 15, 5 16, 0 16, 0 16, 0 16, 5 16, 5 17, 0 18, 0 18, 5 19, 0 19, 0 19, 0 19, 0
Cukup 14, 0 14, 5 14, 0 14, 0 14, 5 15, 0 15, 5 16, 0 17, 0 17, 0 17, 5 18, 0 17, 5
Kurang 12, 5 13, 0 12, 5 12, 5 13, 0 13, 0 14, 0 14, 0 15, 0 15, 5 16, 0 15, 5 15, 5
Krg. sekali 11, 5 11, 5 11, 0 11, 0 10, 5 11, 5 12, 0 12, 0 12, 5 13, 5 14, 0 13, 5 13, 0

Sumber: Morrow (dalam Mahardika, 2010:108).

 

Tabel 2

Norma tingkat kelentukan togok laki – laki

Norma Usia
6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18
Baik sekali 16, 0 16, 0 16, 0 15, 5 176, 0 16, 5 16, 0 16, 5 17, 5 18, 0 19, 0 19, 5 19, 5
Baik 15, 0 15, 0 14, 5 14, 5 14, 5 15, 0 15, 0 15, 0 15, 5 16, 5 17, 0 17, 5 17, 5
Cukup 13, 5 13, 5 13, 5 13, 0 13, 0 13, 0 15, 0 15, 0 15, 5 14, 0 15, 0 15, 5 15, 0
Kurang 12, 0 11, 5 11, 5 11, 0 11, 5 11, 5 11, 0 11, 0 11, 0 12, 0 13, 0 13, 0 13, 0
Krg. sekali 10, 5 10, 0 9, 5 9, 5 10, 0 9, 5 8, 5 9, 0 9, 0 9, 5 10, 0 10, 5 10, 0

Sumber: Morrow (dalam Mahardika, 2010:108).

 

Gambar 1.0

Alat ukur kelentukan (flexometer)(Mahardika, 2010:108).

 

Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Kelentukan

Bompa (dalam Nala, 1998: 71) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kelentukan secara garis besar dapat dibagi menjadi 7 (tujuh)faktor, di antaranya:

  1. Genetik, bentuk tipe dan struktur sendi serta ligamentum dan tendo yang terkait dengan sendi tersebut. Faktor yang menyangkut sendi ini sulit diubah, karena bersifat genetik atau keturunan. Sedangkan faktor ligamentum dan tendo masih memungkin untuk dirubah.
  2. Otot, otot yang berkaitan dengan sendi, ada otot yang bekerja agonis (paralel), beberapa kelompok otot bekerja sama dan searah. Selain itu adapula otot yang antagonis (berlawanan), yakni satu kelompok otot yang kerjanya bertentangan dengan kelompok otot lainnya.
  3. Umur dan jenis kelamin, anak-anak dan wanita lebih lentuk dibandingkan dengan laki-laki. Kelentukan maksimum tercapai apda usia 15-16 tahun.
  4. Suhu, suhu tubuh dan suhu otot mempengaruhi kelentukan, terutama aplitudo Oleh sebab itu, pemanasan perlu sekali dilakukan sebelum pelatihan kelentukan.
  5. Waktu, kelentukan tertinggi dicapai pada pukul 10-11 siang dan terendah pada pagi hari.
  6. Kekuatan otot, makin besar kekuatan otot, maka tingkat kelentukan akan semakin tinggi.
  7. Kelelahan dan emosi, semakin lelah individu, kelentukannya akan semakin rendah, demikian pula dengan emosi. Emosi sedih dan pesimis akan menurunkan kelentukan, sebaliknya emosi gembira dan optimis akan meningkatkan kelentukan.

 

Metode latihan kelentukan

Untuk mengembangkan kemampuan kelentukan perlu diperhatikan prinsip-prinsip latihan, di antaranya:

  1. Dimulai dengan latihan kelentukan yang umum.
  2. Kelentukan-kelentukan khusus suatu cabang olahraga harus dilatih dan dicapai dengan amplitude gerakan seoptimal mungkin, karena diperlukan untuk pertandingan dan peningkatan prestasi.
  3. Lakukan ke semua arah secara optimal sesuai fungsi dan kemampuannya.
  4. Latihan-latihan kelentukan harus diberikan sebelum dan sesudah latihan kekuatan dan latihan kecepatan guna mennghindari kekakuan otot dan membantu pemulihan.
  5. Program pengembangan kelentukan perlu juga dikombinasikan dengan latihan kekuatan karena tanpa kekuatan amplitude gerakan yang besar tidak dapat dicapai (Suharto, 2000: 118).

 

Penutup

Perkembangan kelentukan pada manusia tidak terlepas dari pengaruh sosialnya, serta dari kecenderungan aktivitas yang dilakukan sehari hari. Seseorang yang aktif berolahraga  akan cenderung lebih baik tingkat kelentukannya.

Pada umumnya anak kecil memiliki kelentukan lebih bagus dibandingkan dengan anak usia dewasa, dan ketika kelentukan tersebut akan mencapai puncaknya ketika memasuki usia remaja, setelah fase itu secara perlahan lahan kelentukan mereka akan berkurang.

Secara umum kelentukan akan mengalami penurunan seiring  dengan bertambahnya usia, akan tetapi ketidakaktifan seseorang akan menjadi faktor utama penurunan kelentukan itu sendiri.

 

Daftar Pustaka

Kathleen M.Haywood, 1986. Understanding MOtor Development.illlionis : Human Kinetics Publisher, inch

Suharno,  H.P.1993. Metodologi Pelatihan. Yogyakarta : IKIP Yogyakarta Press

Waharsono , 1999. Perkembangan dan Belajar Gerak. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Dan Menengah.

Sugiyanto, 2010.Pertumbuhan dan Perkembangan Gerak : Jakarta : Pusat Pendidikan dan penataran KONI Pusat.

Bompa, T.O 2009 Theory and Mthodology Of Training (Fifth Edition). United State of America : Human Kinetik.

Nurhasan dkk, 2005. Pendidikan Jasmani. Surabaya : Unesa University Press.

Mahardika, I Made. Sriundy. 2010. Pengantar Evaluasi Pengajaran.Cet.IX. Surabaya : Unesa University Press.

Harsono. 1988. Coaching dan Aspek Aspek Psikologi dalan Olahraga. Jakarta : Tambak Kusuma.

Sajoto, Mochamad. 1988. Pembinaan Kondisi Fisik Olahraga. Jakarta : Dirjen Dikti , Depdikbud RI.