KEEFEKTIFAN KALIMAT DALAM PARAGRAF EKSPOSISI PESERTA PLPG UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA


WAHANA || Jurnal Ilmiah Sains & Ilmu Pendidikan
Volume 64 || Nomor 1 || Juni 2015 || ISSN: 0853-4403
Penerbit : - Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
           - Pascasarjana Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Penulis: Ira Eko Retnosari

PDF

Abstract

Effective sentence is a sentence that can represent and give rise to back the idea of ​​the author as easy, clear, and complete exactly the same in the reader’s mind as to what the author intended. This research will describe the effectiveness of sentences within paragraphs exposition.

This study applies a qualitative approach. The data source of this research is paragraph exposition participants PLPG Rayon 142 and the data of this research are the sentences contained in paragraphs exposition. Collecting data in this research is done through documentation method. Data collection procedures in this research are (1) the collection of duties, (2) copying tasks, (3) readings exposition paragraph, (4) marking with highlighter, (5) classification, (6) coding, and (7) the manufacture of the card. Analyzing data in this article using descriptive method. As for the stages that are used in analyzing include (1) data collection, (2) classification of data, (3) the determination of the frequency of errors, (4) explanation.This result of this journal was expository paragraph written by participants of teachers sertification program ineffective. The ineffectiveness was found in (1) the unclearness of the idea, (2) the carelessness, and (3) the errors inusing spelling. This study is expected to provide motivation to teachers and other interested parties to pay more attention in writing. By writing effective sentences, ideas submitted will be understood reader writer.

Kata Kunci: effective sentence, expository paragraph, participants of teachers sertification program

 

PENDAHULUAN

Bahasa Indonesia (BI) memunyai peranan sangat penting pada era globalisasi saat ini. Dengan menguasai BI yang baik dan benar, seseorang akan mampu berkomunikasi dengan baik.  Kemampuan menggunakan BI seseorang akan mencerminkan jiwa, kepribadian, dan kepandaian seseorang.

Penggunaan kalimat merupakan salah satu indikator kemampuan seseorang dalam menggunakan BI. Dalam hal ini, Semi (1990:143) berpendapat bahwa kalimat itu terlibat dalam proses penyampaian dan penerimaan. Sebab itu, diperlukan kalimat efektif. Sebuah kalimat dikatakan efektif bila mencapai sasarannya dengan baik sebagai alat berkomunikasi. Ada dua pihak yang terlibat, yaitu yang menyampaikan dan yang menerima, di luar itu, ada yang disampaikan berupa gagasan, pesan, pemberitahuan, dan sebagainya. Kalimat efektif dapat menyampaikan gagasan, pesan, ide, pemberitahuan itu kepada pembaca sesuai dengan pikiran penulis (Badudu, 1994:129).

Kalimat efektif mempermasalahkan isi pikiran atau perasaan penulis, dapat mewakili pikiran penulis, dan sanggup menarik perhatian pembaca terhadap suatu tulisan. Kalimat efektif memunyai kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pembaca yang identik dengan maksud penulis. Di samping itu, kalimat efektif selalu berusaha agar gagasan pokok mendapatkan tekanan dalam pikiran pembaca (Keraf, 1994:30).

Dalam menyusun paragraf, kalimat efektif sangat diperlukan agar gagasan yang disampaikan penulis dapat dipahami pembaca. Hal itu yang melatarbelakangi artikel ini perlu dilakukan. Bila dikaitkan dengan dunia pendidikan, tujuan utama pembelajaran BI adalah siswa mampu menggunakan BI dengan baik dan benar, lisan dan tertulis, sesuai dengan jenjang pendidikan yang diikuti. Namun demikian, tujuan utama ini dari tahun ke tahun, dari kurikulum yang satu berganti ke kurikulum yang lain, tetap saja belum menuai hasil yang diharapkan. Mengapa hal itu terjadi? Kambing hitam yang disalahkan adalah guru, kurikulum, dan bahan pelajaran.

Kambing hitam pertama adalah guru. Guru yang dikatakan tidak mampu mengajar atau bermutu rendah, telah “diobati” dengan berbagai penataran dan pelatihan. Untuk penataran dan pelatihan guru, pemerintah telah membentuk lembaga atau instansi permanen yang disebut Pusat Pengembangan dan Pelatihan Guru Bahasa (P3GB) (Chaer, 2013:167).

Selain P3GB, guru juga mendapatkan pelatihan untuk menjadi guru profesional dengan mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Hal itu diperkuat oleh Undang-Undang Republik Indonesia (RI) Nomor 21 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang RI Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, Peraturan Pemerintah RI Nomor 74 tahun 2008 tentang guru menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional. Guru profesional disyaratkan memiliki kualifikasi akademik yang relevan dengan mata pelajaran yang diampunya dan menguasai kompetensi sebagaimana diamanatkan oleh undang-undang guru dan dosen.

Berdasarkan hal-hal di atas, artikel ini mengangkat judul Keefektifan Kalimat dalam Paragraf Eksposisi Peserta PLPG Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Artikel ini dirasakan penting karena kalimat efektif sangat diperlukan dalam menyusun paragraf, khususnya paragraf eksposisi.

 

KAJIAN LITERATUR

Kalimat Efektif

Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat dan dapat dipahami secara tepat pula yang berciri (1) kejelasan gagasan kalimat, (2) kepaduan unsur-unsur kalimat, (3) kecermatan pembentukannya, (4) kevariasian, dan (5) penggunaan ejaan, khusus dalam ragam tulis (Yulianto, 2001:1). Sejalan dengan hal itu, Widyamartaya (1995:19) berpendapat bahwa ciri-ciri kalimat efektif di antaranya adalah (1) kesatuan gagasan, (2) koherensi yang baik dan kompak, (3) komunikasi yang berharkat, (4) paralelisme, (5) kehematan, (6) kevariasian, dan (7) penggunaan ejaan.

Hal tersebut sejalan dengan pendapat Finoza. Finoza (2001:136) berpendapat bahwa kalimat efektif adalah kalimat yang mewakili pikiran penulis secara tepat sehingga pembaca dapat memahami pikiran itu dengan mudah, jelas, dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis. Menurut beliau, kalimat efektif setidak-tidaknya harus memenuhi enam syarat, yakni (1) kesatuan gagasan, (2) kepaduan unsur atau koherensi, (3) keparalelan bentuk, (4) ketegasan makna, (5) kehematan kata, dan (6) kelogisan bahasa (Finoza, 2001:136).

Dari penjelasan tentang kalimat efektif yang dikemukakan oleh para pakar di atas, terdapat beberapa persamaan. Persamaan itu adalah kalimat efektif merupakan kalimat yang dapat mewakili dan menimbulkan kembali gagasan penulis secara mudah, jelas, dan lengkap yang sama tepatnya dalam pikiran pembaca seperti apa yang dimaksud penulis. Pada dasarnya, semua rumusan pengertian itu memberikan tekanan yang sama. Tekanan itu adalah penggunaan kalimat efektif dimaksudkan agar pesan yang terkandung dalam kalimat itu dapat dipahami oleh pembaca secara mudah, tepat, jelas, dan lengkap sesuai dengan maksud penulis. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kalimat efektif berciri (1) kejelasan gagasan, (2) kepaduan, (3) kecermatan, (4) kevariasian, (5) ketegasan atau penekanan, (6) penggunaan ejaan, dan (7) penalaran yang logis.

 

Ciri-ciri Kalimat Efektif

  1. Kejelasan Gagasan

Kejelasan gagasan tampak pada adanya satu ide pokok. Keberadaannya dalam kalimat dapat diamati pada hadimya subjek (S) dan predikat (P) ataupun diikuti objek (O) dan keterangan (K) kalimat. Gagasan kalimat biasanya menjadi kabur jika kedudukan S atau P tidak jelas. Hal-hal yang dapat mengganggu kejelasan gagasan di antaranya adalah (1) kesalahan penggunaan kata depan, (2) ketidakhadiran S atau P, dan (3) P kalimatnya ganda (Yulianto, 2001:1, 2, dan 5).

 

  1. Kecermatan

Cermat adalah tidak menimbulkan tafsiran ganda (Arifm dan Tasai, 2000:95). Menurut Sunaryo (1999:18), cermat berarti (1) tepat dalam pemilihan kata, (2) tidak menimbulkan tafsiran ganda, (3) tidak boros, dan (4) tidak berlebih­lebihan.

Definisi kecermatan secara terperinci diungkapkan oleh Yulianto (2001:8), yakni (1) penggunaan kata yang tepat, (2) penghindaran unsur mubazir, (3) pembentukan frasa yang tepat, (4) pemakaian konjungsi yang tepat, (5) pembentukan kata yang sejajar, dan (6) penalaran yang logis.

 

  1. Ejaan

Ejaan adalah keseluruhan peraturan tentang pelambangan bunyi-bunyi ujaran, pemakaian tanda baca, pemenggalan kata, dan penggabungan kata (Suryaman, 1996:7). Menurut Holomin (1993) (dalam Sukri, dkk., 1994:53), ejaan BI menyangkut pemenggalan kata, penggunaan huruf kapital, penulisan kata, penulisan unsur serapan, penggunaan tanda baca.

Menurut Yulianto dan Purwantono (1992:14), ejaan adalah kaidah penulisan huruf, yang mencakup jenis, penggunaan, serta perangkaian dan pemisahannya; penulisan kata, termasuk pula penulisan unsur serapan; dan pemakaian tanda baca. Senada dengan hal itu, Arifin dan Tasai (2000:170) berpendapat ejaan ialah penulisan huruf, penulisan kata, dan pemakaian tanda baca.

 

  1. METODE PENELITIAN

Artikel ini bertujuan memerikan keefektifan kalimat dalam paragraf eksposisi peserta PLPG Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Sumber data artikel ini adalah paragraf eksposisi peserta PLPG Rayon 142 dan data artikel ini adalah kalimat-kalimat yang terdapat dalam paragraf eksposisi. Pengumpulan data dalam artikel ini dilakukan melalui metode dokumentasi. Prosedur pengumpulan data dalam artikel ini adalah (1) pengumpulan tugas, (2) pemfotokopian tugas, (3) pembacaan paragraf eksposisi, (4) penandaan dengan stabilo, (5) pengklasifikasian, (6) pengodean, dan (7) pembuatan kartu. Penganalisisan data dalam artikel ini menggunakan metode deskriptif. Adapun tahap-tahap yang digunakan dalam penganalisisan meliputi (1) pengumpulan data, (2) pengklasifikasian data, (3) penentuan frekuensi kesalahan, (4) pengeksplanasian.

 

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan analisis data, kalimat-kalimat yang terdapat dalam paragraf eksposisi karya peserta PLPG, kuota 2013, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya tidak efektif. Dari 176 kalimat, didapati 58 kalimat efektif, sedangkan kalimat tidak efektif berjumlah 118 kalimat.

 

Kalimat yang Tidak Memunyai Kejelasan Gagasan

Kejelasan gagasan dapat terwujud jika dalam kalimat terdapat S, P ataupun diikuti O dan K. Gagasan kalimat dapat kabur karena kedudukan S atau P tidak jelas. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu kalimat memunyai kejelasan gagasan adalah (1) S tidak didahului kata depan, (2) kalimat itu setidak-tidaknya memunyai S dan P, (3) tidak terdapat S dan P ganda.

Kalimat tidak ber-S atau S-nya tidak jelas ditemui dalam penelitian ini. Kalimat tidak ber-S tersebut hanya ber-P, ber-K. Kalimat yang S-nya tidak jelas terjadi karena S didahului kata depan dan S-nya ganda. Kalimat tidak ber-S atau S-nya tidak jelas dapat dilihat seperti di bawah ini.

  • Dimana tumbuhan ini sangat bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.
  • Ketika rem tidak terkontrol dengan baik, maka pengendara tidak akan … .
  • Biasanya anak memperhatikan mimik dan ucapan … .
  • Pada masa itu remaja sedang mencari identitas dirinya.
  • Untuk mengonsumsinya temulawak bisa dikonsumsi secara … .
  • Sekarang ada internet yang memudahkan masyarakat mendapatkan informasi.

 

Kalimat yang Tidak Cermat

Kecermatan berciri (a) penggunaan kata yang tepat, (b) penghindaran unsur mubazir, (c) pembentukan frasa yang tepat, (d) pemakaian konjungsi yang tepat, (e) pembentukan kata yang sejajar, dan (f) penalaran yang logis. Kalimat-kalimat yang terdapat dalam paragraf eksposisi yang tidak memenuhi ciri kecermatan seperti di bawah ini.

  • … bagi kehidupan di zaman yang modern … .
  • masukkan ke dalam blender lalu … .
  • Sepanjang tahun 2012 saja, terjadi sudah 70 anggota TNI … .
  • Banyaknya korban bukantetapi … .
  • Dampak positif …
  1. Mengentas pengangguran bagi warga sekitar
  2. Meningkatkan taraf perekonomian warga sekitar
  3. Keefektifan jarak tempuh dari Madura ke Surabaya

 

Kalimat yang Tidak Sesuai dengan Ejaan

Ejaan merupakan aturan penulisan huruf, yang menyangkut jenis, penggunaan, perangkaian dan pemisahannya: penulisan kata, termasuk pula penulisan unsur serapan; dan pemakaian tanda baca. Kalimat-kalimat yang terdapat dalam paragraf eksposisi yang melanggar kaidah ejaan seperti berikut ini.

  • … yang sering kita kenal dengan Temulawak adalah salah satu jenis tanaman …
  • Curcuma rhizoma atau yang sering … .
  • Kondisi seperti ini … menjatuhkan moral prajurit TNI
  • Oleh karena itu ada berbagai cara … .
  • Adapun cara membuat … adalah: mula-mula pilihlah jambu biji … .
  • Sepanjang tahun 2012 saja … 70 anggota TNI … .
  • Proses pemerolehan … pertama kali oleh orang tua … .

 

KESIMPULAN

Kalimat-kalimat yang terdapat dalam paragraf eksposisi peserta PLPG Universitas PGRI Adi Buana Surabaya tidak efektif. Hal itu dapat dibuktikan dari 176 kalimat, yaitu 118 kalimat tidak efektif, sedangkan kalimat yang efektif berjumlah 58 kalimat. Ketidakefektifannya meliputi (1) ketidakjelasan gagasan, (2) ketidakcermatan, dan (3) dan kesalahan penggunaan ejaan.

Ketidakjelasan gagasan terdapat pada kalimat yang tidak ber-S dan ber-S ganda. Ketidakcermatan terletak pada (1) penggunaan kata yang tidak tepat, (2) penggunaan unsur mubazir, (3) pembentukan frasa yang tidak tepat, (4) pemakaian konjungsi yang tidak tepat, dan (5) pembentukan kata yang tidak sejajar. Kesalahan penggunaan ejaan terjadi karena (1) ketidaktepatan penggunaan huruf kapital, (2) ketidaktepatan penulisan unsur serapan, (3) ketidaktepatan penggunaan tanda titik, (4) ketidaktepatan penggunaan tanda koma, (5) ketidaktepatan penggunaan tanda titik dua, (6) ketidaktepatan penulisan angka, (7) ketidaktepatan penulisan kata, dan (8) ketidaktepatan penulisan judul.

 

DAFTAR PUSTAKA

Akhadiah, S., Arsjad M. G., dan Ridwan Sakura H. 1998. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Aminuddin. 1990. Pengembangan Artikel Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh.

Arifin, E. Zainal dan S. Amran Tasai. 2000. Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Akademiko Pressindo.

Arikunto, Suharsimi. 2000. Manajemen Artikel. Jakarta: Rineka Cipta.

Badudu, J. S. 1994. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar II. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Chaer, Abdul. 2013 Pembinaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Finoza, Lamuddin. 2001. Komposisi Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa Nonjurusan Bahasa. Jakarta: Diksi Insan Mulia.

Holimin, Danial. 1993. Perkuliahan Bahasa Indonesia di ITB. Dalam Sakri, Adjat, dkk. (ed.). 1994. Peningkatan Mutu Pengajaran Bahasa Indonesia Ragam Iptek di Perguruan Tinggi. Bandung: ITB Bandung.

Keraf, Gorys. 1994.Komposisi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Martin, Mustakim, Adriana, dan Marta Lena. 1995.  Pemakaian Bahasa Indonesia Ragam Tulis di Lingkungan Perguruan Tinggi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Moeliono, Anton M. 1993. Bahasa yang Efisisen dan Efektif dalam Bidang Iptek. Dalam Sakri, Adjat, dkk. (ed.). 1994.peningkatan Mutu Pengajaran bahasa Indonesia Ragam Iptek di Perguruan Tinggi. Bandung: ITB Bandung.

Moleong, Lexy J., (2001), Metodologi Artikel Kualitatif, bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Mustakim. 1996. Tanya Jawab Ejaan Bahasa Indonesia untuk Umum. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Razak, Abdul. 1992. Kalimat Efektif: Struktur, Gaya, dan Variasi. Jakarta: Gramedia.

Semi, Atar. 1990. Menulis Efektif. Padang: Angkasa Raya.

Sunaryo, Adi. 1999. Garis Haluan Kebahasaan. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Widyamartaya, A. 1995.Seni Menggayakann Kalimat. Yogykarta: Kanisius.

Yulianto, Bambang dan Susilo Purwantono. 1992. Bahasa Indonesia. Surabaya: C3 Press Surabaya.

Yulianto, Bambang. 2001. Artikel Bahasa: Mikrolinguistik. Surabaya: Balai Bahasa.

Yulianto, Bambang. 2001. Bahasa Laporan: Penyusunan Kalimat. “Makalah Disampaikan pada Penyuluhan Bahasa Indonesia bagi Pejabat Eselon IV dan V di Lingkungan Departemen dalam Negeri Kantor Wilayah Provinsi Jawa Timur yang Diselenggarakan di Hotel Tanjung Surabaya, tanggal 15 November 2011. Surabaya: Departemen dalam Negeri Kantor Wilayah Provinsi Jawa Timur.