PRAANGGAPAN DAN IMPLIKATUR DALAM Mr. PECUT PADA JAWA POS


WAHANA || Jurnal Ilmiah Sains & Ilmu Pendidikan
Volume 63 || Nomor 2 || Desember 2014 || ISSN: 0853-4403
Penerbit : - Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
           - Pascasarjana Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Penulis: Ira Eko Retnosari

PDF

Abstract

Discourse is a complete recording language of communication events. Communication can apply the  spoken language and written language. Knowing discourse analysis is required. Analysis matters relate to discourse is implicatures, presuppositions, inference, and references. According to Stalnsker (Kartomihardjo in Pelba 6 , 1993:30), the presmption of sharing knowledge (common ground) between speaker and listener so it does not need to be expressed. Meanwhile, Grice (Kartomihardjo in Pelba 6, 1993:30) argues that implicatures is a speech that implies something different to the exact pronounced.This study applies a qualitative approach. The source of this research is Jawa Pos daily data while the data of this study are the sentences contained in Mr. Pecut’s discussion. The results of this study are Mr. Pecut’s on Jawa Pos daily containing presuppositions and implicatures. Sentences in Mr. Pecut’s bold letters implied that presuppositions contained whereas sentences are in italics containing implicatures. In written language, prejudice is something that is used as the common ground between the writer and the reader. Mistakes made ​​have the impact of presuppositions of speech. Meanwhile, the probability of implicatures are meant by the speaker with speech can never be known exactly. Implicature is easily understood by the speaker and the opponent if they know each other and have the same experienced topic.

 

Key words: presupposition, implicature, Mr. Pecut in Jawa Pos daily

 

Latar Belakang

Wacana adalah unit bahasa yang lebih besar dari kalimat, Nababan (1987:64) mendefinisikan wacana sebagai bahasa yang dipakai berinteraksi secara nyata yang dapat dikaji secara lisan maupun tulis. Sejalan dengan Nababan, Lubis (2011:23) berpendapat bahwa wacana adalah kesatuan bahasa yang diucapkan atau tertulis panjang atau pendek.

Sementara itu, analisis wacana merupakan cabang ilmu bahasa yang dikembangkan untuk menganalisis suatu unit bahasa yang lebih besar daripada kalimat (Kartomihardjo dalam Pelba 6, 1993:21). Analisis wacana dalam menginterpretasikan ujaran yang menghubungkan dengan konteks tempat terjadinya atau diucapkannya ujaran tersebut, orang-orang yang terlibat dalam interaksi, pengetahuan umum mereka, kebiasaan dan adat-istiadat yang berlaku di tempat itu, dan sebagainya. Menurut pengertian ini, analisis wacana tidak lepas dari konteks tempat terjadinya sebuah wacana.

Menurut Purwo (1993:3), analisis wacana sudah menjadi disiplin ilmu yang merupakan titik temu antara linguistik, psikologi, psikologi sosial, sosiologi, dan antropologi serta kemudian sejarah, ilmu hukum, intelegensi artifisial, filsafat, ilmu komunikasi masa, ilmu politik, dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Analisis wacana merupakan cara yang tepat untuk mengupas bentuk-bentuk rangkaian bahasa atau pendukungnya seperti yang terdapat di dalam atau unit bahasa yang lebih besar. Analisis wacana yang dimaksud di sini sesuai dengan pendapat Brown dan Yule (1996:26) bahwa analisis wacana bertumpu pada bagaimana bahasa itu digunakan dalam berkomunikasi. Hal ini berarti seorang penganalisis wacana memperlakukan data sebagai rekam atau (teks); suatu proses dinamis yang di dalamnya terdapat bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi dalam konteks, oleh pembicara atau penulis untuk mengekspresikan berbagai makna atau inti wacana tersebut. Berdasarkan data tersebut, peneliti berusaha menjelaskan keteraturan dalam realisasi bahasa yang digunakan orang untuk mengomunikasikan maksud dan keinginan.

Hal-hal yang berkaitan dengan analisis wacana ialah implikatur, praanggapan, inferensi, dan referensi. Implikatur yang diutarakan oleh Grice (Kartomihardjo dalam Pelba 6, 1993:30) dimaksudkan sebagai ujaran yang menyiratkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya diucapkan. Menurut Stalnsker (Kartomihardjo dalam Pelba, 1993:30), praanggapan merupakan pengetahuan bersama (common ground) antara pembaca dan pendengar sehingga tidak perlu diutarakan. Sumber anggapan adalah pembicara. Pembicaralah yang beranggapan bahwa pendengar memahami apa yang dipraanggapkan.

Melakukan analisis wacana tentu saja melibatkan “sintaksis” dan “semantik”, tetapi yang terutama adalah pragmatik (Brown dan Yule, 1996:26). Sementara itu, Leech (1993:8) berpendapat bahwa pragmatik adalah studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situation). Sedangkan Levinson (dalam Nababan, 1987:2), pragmatik ialah kajian hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan penelitian bahasa. Hal ini berarti pengertian atau pembahasan bahasa menunjuk pada fakta bahwa untuk mengerti suatu ungkapan atau ujaran diperlukan juga pengetahuan di luar makna kata dan hubungan tata bahasanya, yakni hubungannya dengan konteks pemakaiannya.

Salah satu penerapan bahasa sebagai alat komunikasi adalah pemakaian bahasa penelitianistik dalam surat kabar. Bahasa penelitianistik merupakan ragam bahasa yang dipakai dalam lingkup yang sangat luas dengan masyarakat pembaca yang sangat heterogen. Bahasa ini dipakai dalam semua media massa, baik media massa auditif (radio), audio visual (televisi), maupun media massa cetak (surat kabar, tabloid, majalah, dll.). Media massa yang mempunyai frekuensi kemunculannya tinggi dan tersebar luas di masyarakat adalah media massa cetak (Wijana dan Muhammad Rohmadi, 2011:189). Hal itu terjadi sebab media massa yang tersebar di masyarakat beragam, misalnya surat kabar, tabloid, majalah, dan lain-lain.

Surat kabar adalah media komunikasi yang berisikan informasi aktual dari berbagai aspek kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial, kriminal, budaya, seni, olahraga, luar negeri, dalam negeri, dan lain-lain.  Di samping itu, surat kabar merupakan media massa tertua sebelum ditemukannya film, radio, dan televisi. Surat kabar lebih menitikberatkan pada penyebaran informasi (fakta atau peristiwa) agar diketahui publik. Kelebihan surat kabar diantaranya ialah mampu menyajikan informasi atau berita secara komprehensif, dapat dibawa ke mana-mana, dapat didokumentasikan, dapat dibaca berulang-ulang, dan mudah diperoleh jika diperlukan (Suryawati, 2011:40-41).

Di samping itu, bentuk konkret fungsi bahasa sebagai alat komunikasi dalam surat kabar dipakai dalam penulisan headline, reportase, artikel, opini, rubrik, kolom, tajuk rencana atau editorial, surat pembaca, tulisan pojok, dan lain-lain (Wijana dan Muhammad Rohmadi, 2011:189). Menurut Wahyono (dalam Wijana dan Muhammad Rohmadi, 2011:189), surat kabar mempunyai pengaruh besar terhadap masyarakat yang digambarkan sebagai suatu kekuatan yang dapat mengubah tingkah laku masyarakat tanpa terhalang kekuatan apa-apa. Informasi dan laporan-laporan pada surat kabar ditunggu oleh pembaca setiap hari. Surat kabar tidak hanya dibutuhkan oleh kalangan tertentu, tetapi juga segenap lapisan masyarakat, mulai tukang becak di jalanan sampai para pejabat tinggi di pemerintahan. Selain itu, surat kabar tidak hanya menyampaikan berita dan informasi-informasi aktual kepada pembaca, tetapi juga mempunyai sarana atau wahana bagi para pembaca untuk menyampaikan ide, gagasan, dan keinginannya. Pembaca dapat menuangkannya dalam kolom, opini, surat pembaca, atau rubrik-rubrik yang biasanya muncul secara periodik pada hari tertentu, seperti rubrik bahasa, kesehatan, kecantikan, dan lain-lain (Hendarto dan Mujid, 1995:6-11) dalam Wijana dan Muhammad Rohmadi, 2011:189).

Mr. Pecut yang ada pada harian Jawa Pos adalah bentuk konkret penyampaian ide, gagasan, dan keinginan-keinginan redaksi dalam surat kabar. Selain itu, Mr. Pecut merupakan wacana pojok. Wacana pojok adalah wacana kolom khusus yang terdapat pada salah satu halaman pojok (sudut) sebuah surat kabar. Dilihat dari strukturnya, wacana ini menampakkan berbagai variasi. Akan tetapi, tipe yang paling umum, wacana ini terdiri atas dua bagian, yaitu bagian situasi dan sentilan (Wijana dan Muhammad Rohmadi, 2011:121).

 

Kajian Pustaka

  1. Analisis Wacana

Analisis wacana merupakan cabang ilmu bahasa yang dikembangkan untuk menganalisis suatu unit bahasa yang lebih besar daripada kalimat (Kartomihardjo dalam Pelba 6, 1993:21). Analisis wacana dalam menginterpretasikan ujaran yang menghubungkan dengan konteks tempat terjadinya atau diucapkannya ujaran tersebut, orang-orang yang terlibat dalam interaksi, pengetahuan umum mereka, kebiasaan dan adat-istiadat yang berlaku di tempat itu, dan sebagainya. Menurut pengertian ini, analisis wacana tidak lepas dari konteks tempat terjadinya sebuah wacana.

Berdasarkan analisisnya, ciri dan sifat sebuah wacana menurut Syamsuddin, dkk. (1997:11), sebagai berikut, (1) analisis wacana membahas kaidah memakai bahasa di masyarakat; (2) analisis wacana merupakan pemahaman rangkaian tuturan melalui interpretasi semantik (Beller); (4) analisis wacana berkaitan dengan pemahaman bahasa dalam tindak berbahasa (5) analisis wacana diarahkan pada masalah memakai bahasa secara fungsional.

Menurut Purwo (1993:3), analisis wacana sudah menjadi disiplin ilmu yang merupakan titik temu antara linguistik, psikologi, psikologi sosial, sosiologi, dan antropologi serta kemudian sejarah, ilmu hukum, intelegensi artifisial, filsafat, ilmu komunikasi masa, ilmu politik, dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Analisis wacana merupakan cara yang tepat untuk mengupas bentuk-bentuk rangkaian bahasa atau pendukungnya seperti yang terdapat di dalam atau unit bahasa yang lebih besar. Analisis wacana yang dimaksud di sini sesuai dengan pendapat Brown dan Yule (1996:26) bahwa analisis wacana bertumpu pada bagaimana bahasa itu digunakan dalam berkomunikasi. Hal ini berarti seorang penganalisis wacana memperlakukan data sebagai rekam atau (teks); suatu proses dinamis yang di dalamnya terdapat bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi dalam konteks, oleh pembicara atau penulis untuk mengekspresikan berbagai makna atau inti wacana tersebut. Berdasarkan data tersebut, peneliti berusaha menjelaskan keteraturan dalam realisasi bahasa yang digunakan orang untuk mengomunikasikan maksud dan keinginan.

Dari pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa analisis wacana lebih diarahkan pada pemahaman hubungan rangkaian tuturan dan situasinya (konteks) daripada pemahaman unsur kebahasaan linguistik pada umumnya.

Hal-hal yang berkaitan dengan analisis wacana ialah implikatur, praanggapan, inferensi, dan referensi. Implikatur yang diutarakan oleh Grice (Kartomihardjo dalam Pelba 6, 1993:30) dimaksudkan sebagai ujaran yang menyiratkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya diucapkan. Menurut Stalnsker (Kartomihardjo dalam Pelba, 1993:30), praanggapan merupakan pengetahuan bersama (common ground) antara pembaca dan pendengar sehingga tidak perlu diutarakan. Sumber anggapan adalah pembicara. Pembicaralah yang beranggapan bahwa pendengar memahami apa yang dipraanggapkan.

 

  1. Praanggapan

Pada dasarnya, sebelum mengucapkan sebuah kalimat, telah direkonstruksikan beberapa hal di pikiran jika ingin apa yang diucapkan dipahami orang lain. Sesuatu yang terpenting diantaranya adalah apa yang disebut ahli-ahli bahasa sebagai presuposisi atau praanggapan, dasar atau latar belakang ucapan itu seperti kata Stalnaker (dalam Brown dan Yule, 1996:29) sebagai berikut, “Praanggapan adalah apa yang digunakan penutur sebagai dasar bersama bagi peserta percakapan”. Dalam kutipan itu, sumber praanggapan adalah penutur. Dengan demikian, dapat diketahui hal-hal yang melatarbelakangi suatu ucapan baik pengetahuan tentang hal-hal umum maupun situasi konteks dan ucapan itu sendiri.

Di samping itu, praanggapan pragmatik harus terkandung oleh konteks. Menurut Atlas dan Levinson (dalam Nababan, 1987:58) menyarankan (1) bentuk logika itu harus menggambarkan struktur dari kalimat itu yang penting/bermakna menurut naluri pemakai bahasa; dan (2) bentuk logika itu harus dapat meramalkan simpulan-simpulan pragmatik  yang akan dihasilkan oleh konteks.

Praanggapan memegang peranan penting dalam menentukan kerentutan dalam suatu wacana. Menurut Filmore (1981 dalam Rani, dkk., 2006:168), dalam setiap percakapan selalu digunakan tingkat-tingkat komunikasi yang implisit atau praanggapan dan eksplisit atau ilokusi. Sebagai contoh, ujaran dapat dinilai tidak relevan atau salah satu bukan hanya dilihat dari segi cara pengungkapan peristiwa yang salah pedeskripsiannya, tetapi juga pada cara membuat praanggapan yang salah.

Kesalahan membuat praanggapan memunyai dampak dalam ujaran. Dengan demikian, praanggapan yang tepat dapat mempertinggi nilai komunikatif sebuah ujaran yang diungkapkan. Semakin tepat praanggapan yang dihipotesiskan, makin tinggi nilai komunikasi suatu ujaran.  Menurut Chaika (dalam Rani, dkk., 2006:168), makna wacana dapat dicari melalui praanggapan dalam beberapa hal. Ia mengacu pada makna yang tidak dinyatakan secara eksplisit.

 

  1. Implikatur

Implikatur tidak diungkapkan secara literal oleh penutur melalui tuturan, tetapi ada  maksud lain yang harus diterka oleh penutur. Implikatur mudah dipahami petutur jika keduanya saling mengetahui dan telah mengalami topik yang dialami oleh petutur. Implikatur masih belum dapat diketahui secara pasti bila penutur tidak mengaitkan tuturan penutur dengan kondisi yang menyertai tuturan, terutama konteks. Konteks dapat berupa partisipan (penutur dan petutur), tempat dan waktu kejadian, topik, dan situasi.

Leech (1993:45) menyatakan bahwa implikatur bersifat probabilitas karena apa yang dimaksud oleh si penutur dengan tuturannya tidak pernah dapat diketahui dengan pasti. Jadi, apa yang dimaksudkan penutur melalui proposisi yang dituturkannya tidak dapat diketahui secara pasti oleh petutur. Ia menambahkan ada beberapa faktor yang menentukan apa yang dimaksud oleh penutur dengan tuturannya, yakni kondisi-kondisi yang dapat diamati, tuturan, dan konteks. Berdasarkan faktor-faktor ini, penutur bertugas menyimpulkan interpretasi yang paling mungkin. Dengan demikian, menafsirkan tuturan tidak berbeda halnya dengan membuat hipotesis.

Sejalan dengan Leech, Rahardi (2003:85-86) mengungkapkan dalam implikatur, hubungan antartuturan tidak bersifat mutlak. Jadi, dalam implikatur hubungan proposisi dengan tuturan-tuturan yang mengimplikasikannya itu tidak harus bersifat mutlak. Karena tidak adanya hubungan makna yang secara nyata bersifat mutlak antara sebuah tuturan dengan sesuatu yang diimplikasikannya itu, dimungkinkan sebuah tuturan akan memiliki implikatur makna yang bermacam-macam dan bisa tidak terbatas jumlahnya.

Levinson (dalam Nababan, 1987:28-40) melihat kegunaan konsep implikatur terdiri atas empat butir, yaitu (1) konsep implikatur memungkinkan penjelasan fungsional yang bermakna atas fakta-fakta kebahasaan yang tidak terjangkau oleh teori linguistik, (2) konsep implikatur memberikan suatu penjelasan yang tegas/eksplisit berbeda dari apa yang dimaksud dan bahwa pemakai bahasa itu mengerti (dapat menangkap) pesan yang dimaksud, (3) konsep implikatur tampaknya dapat menyederhanakan pemerian semantik dari perbedaan hubungan antarklausa, walaupun klausa-klausa itu dihubungkan dengan kata-kata struktural yang sama, (4) konsep implikatur adalah hanya beberapa butir saja dasar-dasar implikatur dapat menerangkan berbagai macam fakta/gejala yang secara lahiriah tidak kelihatan atau berlawanan.

 

Metode Penelitian

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan praanggapan dan implikatur dalam Mr. Pecut pada Jawa Pos. Berdasarkan tujuan tersebut, penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, yakni penelitian yang tidak mengadakan perhitungan atau angka (Moleong, 2001:2).  Sumber data penelitian ini adalah surat kabar Jawa Pos edisi Januari-Februari 2013, sedangkan data penelitian ini adalah kritikan dalam Mr. Pecut pada Jawa Pos edisi Januari-Februari 2013 yang berjumlah 236 kalimat. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini adalah (1) pengumpulan surat kabar, (2) pembacaan surat kabar, khususnya Mr. Pecut, (3) penandaan dengan stabilo, (4) pengklasifikasian, dan (5) pengodean. Prosedur penganalisisan data dalam penelitian ini diantaranya (1) pengumpulan data, (2) pengklasifikasian data, (3) penentuan jumlah data, dan (4) interpretasi.

 

Hasil Penelitian

Berdasarkan analisis data, kalimat-kalimat yang terdapat dalam Mr. Pecut mengandung praanggapan dan implikatur. Agar lebih jelas, praanggapan dan implikatur tersebut dijelaskan seperti di bawah ini.

  1. Praanggapan

Praanggapan merupakan asumsi pembicara yang berisi ekspresi yang disusunnya dapat diterima pendengarnya tanpa tantangan atau penolakan. Di samping itu, praanggapan harus sesuai dengan konteks. Untuk menganalisis praanggapan, diisyaratkan ada kewajaran suatu kalimat atau pernyataan jika dikaitkan dengan pengetahuan pembaca baik yang dimiliki penulis maupun pembaca. Suatu ungkapan A berpraanggapan suatu pernyataan B hanya jika A adalah wajar dan hanya kalau B sama-sama diketahui oleh pemeran serta. Berikut ini adalah data yang mengandung praanggapan.

Data:

  • Tahun baru, 45 ribu mobil serbu puncak. (MP/1/I/2013/K1)
  • Puluhan ribu polisi Inggris nyambi kerja. (MP/1/I/2013/K3)
  • SBY ingatkan menteri fokus kerja dan tak terganggu politik. (MP/2/I/2013/K1)
  • Untuk tingkatkan kinerja, hari reses DPR akan dikurangi. (MP/2/I/2013/K3)
  • Tangani korupsi, Kejagung tak pasang target. (MP/3/I/2013/K1)
  • Sejumlah tokoh mengajukan diri untuk jadi Menpora. (MP/3/I/2013/K3)
  • Harga ponsel dan tablet bakal naik. (MP/4/I/2013/K1)
  • Angelina Sondakh minta hartanya tak dirampas. (MP/4/I/2013/K3)
  • Dana bansos terancam jadi bancakan menteri parpol. (MP/5/I/2013/K1)
  • Ayah-anak tersangka korupsi pengadaan Alquran ditahan satu sel. (MP/5/I/2013/K3)

Data-data di atas yang bercetak tebal mengandung praanggapan sebagai berikut. Pada data (1), terdapat praanggapan Ada 45 ribu mobil menuju arah puncak. Hal itu dapat diketahui dari data (1) bertopik tahun baru. Data (1) memberikan informasi bahwa pada tahun baru ada mobil menuju arah puncak. Pada data (2), terdapat praanggapan Ada puluhan ribu polisi Inggris, Polisi Inggris memunyai pekerjaan sampingan. Praanggapan itu dapat diketahui dari data (2) bertopik polisi Inggris nyambi kerja. Pada data (3), terdapat informasi SBY mengingatkan menteri. Dari informasi tersebut, data (3) mengandung praanggapan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah Presiden Republik Indonesia (RI), SBY mengingatkan menteri untuk fokus bekerja. Data (4) mengandung informasi hari reses DPR. Berdasarkan informasi itu, data (4) mengandung praanggapan Ada lembaga bernama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), DPR memunyai hari reses, Hari reses DPR akan dikurangi, Hari reses dikurangi untuk meningkatkan kinerja. Pada data (5), terdapat informasi Kejagung menangani korupsi. Dari informasi tersebut, data (5) berpraanggapan Ada lembaga bernama Kejaksaan Agung (Kejagung), Kejagung  menangani kasus korupsi, Kejagung tidak memasang target dalam menangani kasus korupsi.

Data (6) bertopik pengajuan diri menjadi Menpora (Menteri Pemuda dan Olahraga). Dari topik tersebut, terdapat informasi beberapa tokoh mengajukan diri menjadi Menpora. Praanggapan data (6) adalah Ada tokoh, Ada pengajuan diri menjadi Menpora, Beberapa tokoh mengajukan diri untuk menggantikan Menpora. Pada data (7), terdapat topik ponsel dan tablet. Informasi yang terdapat dalam data (7) adalah kenaikan harga ponsel dan tablet. Berdasarkan informasi tersebut, data (7) berpraanggapan Ada ponsel dan tablet, Harga ponsel dan tablet akan dinaikkan. Data (8) bertopik Angelina Sondakh. Dari topik tersebut, terdapat informasi Angelina Sondakh adalah anggota DPR. Praanggapan data (8) adalah Ada perempuan bernama Angelina Sondakh, Angelina Sondakh adalah anggota DPR, Angelina Sondakh menjadi tersangka kasus korupsi, Angelina Sondakh meminta hartanya tidak dirampas. Pada data (9), terdapat topik dana bansos. Informasi data (8) adalah ancaman dana bansos. Praanggapan data (9) adalah Ada dana bansos (bantuan sosial), Ada menteri parpol (partai politik), Dana bansos terancam menjadi bancakan menteri parpol. Data (10) bertopik tersangka korupsi. Dari topik tersebut, terkandung informasi tersangka korupsi pengadaan Alquran. Jadi, praanggapan data (10) adalah Ada ayah dan anak, Ada kasus korupsi pengadaan Alquran, Ayah dan anak menjadi tersangka korupsi pengadaan Alquran, Tersangka korupsi pengadaan Alquran ditahan satu sel.

 

  1. Implikatur

Implikatur tidak diungkapkan secara literal oleh penutur melalui tuturan, tetapi ada  maksud lain yang harus diterka oleh penutur. Implikatur mudah dipahami petutur jika keduanya saling mengetahui dan telah mengalami topik yang dialami oleh petutur. Implikatur masih belum dapat diketahui secara pasti bila penutur tidak mengaitkan tuturan penutur dengan kondisi yang menyertai tuturan, terutama konteks. Data yang mengandung implikatur diuraikan sebagai berikut.

Data:

  • Tahunnya baru, macetnya lama… (MP/1/I/2013/K2)
  • Wajar, karena nggak punya rekening gendut….(MP/1/I/2013/K4)
  • Nggak terganggu kok, malah menikmati….(MP/2/I/2013/K2)
  • Jangan-jangan, yang meningkat justru bolosnya…(MP/2/I/2013/K4)
  • Nggak pede, sekaligus yakin bakal meleset…(MP/3/I/2013/K2)
  • Pengajuan diri yang tak tahu diri…(MP/3/I/2013/K4)
  • Yang dananya cekak, cukup beli tablet turun panas saja…(MP/4/I/2013/K2)
  • Tenang, yang dirampas cuma apel Washington dan apel malangnya, kok…(MP/4/I/2013/K4)
  • Namanya saja bansos, bancakan sosial…(MP/5/I/2013/K2)
  • Kompak di jalan yang salah…(MP/5/I/2013/K4)

Data-data yang bercetak miring di atas mengandung implikatur sebagai berikut. Pada data (1), terkandung implikatur Kemacetan masih terjadi seperti tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dapat diketahui dari kritikan Tahunnya baru, macetnya lama. Dilihat dari tindak tutur ilokusinya, kritikan tersebut mengimplikasikan bahwa setiap tahun baru kemacetan masih terjadi seperti tahun-tahun sebelumnya. Data (2) mengandung implikatur Gaji polisi Inggris sedikit. Hal itu dapat diketahui dari kritikan Wajar, karena nggak punya rekening gendut. Dilihat dari tindak tutur ilokusinya, kritikan tersebut mengimplikasikan bahwa polisi Inggris bergaji sedikit karena mereka tidak memunyai rekening gendut. Pada data (3), terkandung implikatur Menteri menikmati pekerjaannya. Dilihat dari tindak tutur ilokusinya, kritikan tersebut mengimplikasikan menteri tidak terganggu dengan kegiatan politik. Data (4) mengandung implikatur Dengan dikuranginya hari reses, anggota DPR dikhawatirkan sering membolos. Hal itu dapat diketahui dari kritikan Jangan-jangan, yang meningkat justru bolosnya. Dilihat dari tindak tutur ilokusinya, kritikan tersebut mengimplikasikan anggota DPR akan sering membolos jika hari reses dikurangi. Pada data (5), terkandung implikatur Kejagung tidak percaya diri dapat menyelesaikan tepat waktu. Hal ini dapat diketahui dari kritikan Nggak pede, sekaligus yakin bakal meleset. Dilihat dari tindak tutur ilokusinya, kritikan tersebut mengimplikasikan bahwa Kejagung tidak yakin dalam menangani kasus korupsi. Data (6) berimplikatur Tokoh yang mengajukan diri sebagai Menpora kurang berkompeten. Hal itu dapat diketahui dari kritikan Pengajuan diri yang tak tahu diri. Dilihat dari tindak tutur ilokusinya, kritikan tersebut mengimplikasikan yang mengajukan diri sebagai Menpora tidak berkompeten atau tidak memenuhi syarat. Pada data (7), terkandung implikatur Ponsel dan tablet hanya dapat dibeli oleh orang yang beruang banyak. Hal itu dapat diketahui dari kritikan Yang dananya cekak, cukup beli tablet turun panas saja. Dilihat dari tindak tutur ilokusinya, kritikan tersebut mengimplikasikan bahwa harga ponsel dan tablet mahal. Data (8) berimplikatur Yang diambil KPK hanya uang rupiah dan uang dolar saja. Hal itu dapat diketahui dari kritikan Tenang, yang dirampas cuma apel Washington dan apel malangnya, kok. Dilihat dari tindak tutur ilokusinya, kritikan tersebut mengimplikasikan Angelina Sondakh melakukan korupsi. Pada data (9), terkandung implikatur Dana bansos dikorupsi menteri parpol. Hal itu dapat diketahui dari kritikan Namanya saja bansos, bancakan sosial. Dilihat dari tindak tutur ilokusinya, kritikan tersebut mengimplikasikan bahwa bansos disalahgunakan menteri parpol. Data (10) berimplikatur Ayah dan anak kompak berbuat kesalahan. Hal itu dapat diketahui dari kritikan Kompak di jalan yang salah. Dilihat dari tindak tutur ilokusinya, kritikan tersebut mengimplikasikan ayah dan anak berkorupsi.

 

Penutup

  1. Simpulan

Berdarkan hasil penelitian, simpulan penelitian ini sebagai berikut.

  • Kalimat-kalimat yang terdapat dalam Mr. Pecut mengandung praanggapan dan implikatur. Kalimat pertama yang dicetak tebal mengandung praanggapan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa praanggapan merupakan sesuatu yang digunakan penutur sebagai dasar bersama bagi peserta percakapan dalam bahasa lisan. Sedangkan dalam bahasa tulis, praanggapan adalah sesuatu yang digunakan sebagai dasar bersama antara penulis dan pembaca. Kesalahan membuat praanggapan memunyai dampak dalam ujaran. Dengan demikian, praanggapan yang tepat dapat mempertinggi nilai komunikatif sebuah ujaran yang diungkapkan. Semakin tepat praanggapan yang dihipotesiskan, makin tinggi nilai komunikasi suatu ujaran.
  • Kalimat kedua yang dicetak miring mengandung implikatur. Implikatur mudah dipahami petutur jika keduanya saling mengetahui dan telah mengalami topik yang dialami oleh petutur. Di samping itu, implikatur masih belum dapat diketahui secara pasti bila penutur tidak mengaitkan tuturan penutur dengan kondisi yang menyertai tuturan, terutama konteks. Dengan demikian, kalimat-kalimat yang secara lahiriah dilihat tidak berhubungan, tetapi bagi orang yang mengerti penggunaan bahasa itu dapat menangkap pesan yang disampaikan oleh pembicara.

 

  1. Saran

Beberapa saran yang berhubungan dengan hasil penelitian ini sebagai berikut.

  1. Berdasarkan hasil analisis data, diharapkan pembaca memunyai praanggapan dan implikatur yang sama.
  2. Sumber data penelitian ini adalah harian Jawa Pos. Yang ingin meneliti praanggapan dan implikatur dapat mengambil sumber data dari media cetak lain.
  3. Penelitian ini hanya membahas praanggapan dan implikatur, sedangkan hal-hal yang berkaitan dengan analisis wacana ialah implikatur, praanggapan, inferensi, dan referensi. Oleh sebab itu, disarankan untuk meneliti selain praanggapan dan implikatur.

 

DAFTAR PUSTAKA

Brown, Gillian dan George Yule. 1996. Analisis Wacana: Discourse Analysis (diindonesiakan oleh I. Soetikno). Jakarta: PT Gramedia.

Kartomihardjo, Soeseno. 1993. Analisis Wacana dan Penerapannya pada Beberapa Wacana. Dalam BambangKaswanti Purwo (ed.). PELLBA6. Analisis Wacana Pengajaran Bahasa. Jakarta: Kanisius.

Leech, Geoffry. 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik. (Diindonesiakan oleh M. D. D. Oka). Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press).

Moleong, Lexy J., (2001), Metodologi Penelitian Kualitatif, bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Nababan, P. W. J. 1987. Ilmu Pragmatik: Teori dan Penerapannya. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti P2LPTK.

Purwo, Bambang Kaswanti. 1993. PELLBA Analisis WacanaPengajaran Bahasa. Jakarta: Kanisius.

Rahardi, R. Kunjana. 2003 Berkenalan dengan Ilmu Bahasa Pragmatik. Malang: Dioma.

Rani, Abdul, dkk. 2006. Analisis Wacana Sebuah Kajian Bahasa dalam Pemakaian. Malang: Bayumedia Publishing.

Suryawati, Indah. 2011. Penelitianistuk Suatu Pengantar. Bogor: Ghalia Indonesia.

Syamsudin, dkk. 1997. Studi Wacana Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Wijana, I Dewa Putu dan Muhammad Rohmadi. Analisis Wacana Pragmatik: Kajian Teori dan Analisis. Surakarta: Yuma Pustaka.