PENERAPAN STRATEGI PAIKEM DI SDN KEBONDALEM KECAMATAN MOJOSARI


ICETA 5 || International Conference on Education Technology of Adi Buana
24 Mei 2014 || ISBN: 978-979-3870-58-8
Penerbit : Program Studi Kebidanan Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Penulis 1: Lydia Lia Prayitno
Penulis 2: Dian Kusmaharti

PDF

ABSTRAK
Pelaksanaan pembelajaran di kelas memerlukan strategi, salah satu strategi yang dapat diterapkan untuk tingkat sekolah dasar adalah strategi PAIKEM. Strategi ini cocok untuk diterapkan pada pelajaran matematika karena pelajaran matematika menjadi momok bagi siswa sekolah khususnya siswa Sekolah Dasar. Rancangan penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif.Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi, pencatatan dan THB. Hasil penelitian ini adalah (1) pelaksanaan pembelajaran memenuhi kriteria PAIKEM, guru tidak menjadi perhatian utama, namun siswa telah berpartisipasi secara aktif selama proses pembelajaran, (2) kreativitas guru dalam mengajar di kelas sangat kreatif dalam mengembangkan kegiatan belajar sesuai dengan pedoman dalam buku guru dan buku siswa, (3) hasil kerja siswa, siswa sangat menghargai dalam memberikan jawaban atas pertanyaan pancingan yang diberikan oleh guru, dan (4) prosentase siswa dalam penguasaan pembelajaran klasik adalah 92,11 % sehingga dikatakan untuk memenuhi ketuntasan belajar klasikal.

Kata kunci: strategi, PAIKEM, matematika

 

Pendahuluan

Setiap pembelajaran di dalam kelas tentunya melibatkan banyak komponen pembelajaran. Setiap komponen tentunya mempunyai peranannya masing-masing. Keberlangsungan proses pembelajaran di kelas merupakan salah satu faktor pendukung keberhasilan seorang siswa dalam menguasai materi yang akan dipelajarinya. Pelaksanaan proses pembelajaran yang ideal tentunya tidak terlepas dari banyak faktor, diantaranya adalah keaktifan guru, keterlibatan siswa dan masih banyak faktor yang lainnya.
Selama ini pelaksanaan proses pembelajaran di kelas masih membuat siswa merasa kurang nyaman. Hal ini tentunya banyak penyebabnya salah satunya terkait dengan mata pelajaran yang sedang dipelajari di dalam kelas. Salah satu mata pelajaran yang selama ini masih dianggap sukar dan dianggap kurang menyenangkan oleh siswa adalah pelajaran matematika.

Siswa menganggap mata pelajaran matematika tidak menyenangkan karena siswa hanya menghafalkan rumus kemudian menghitungnya, dan mengerjakan soal-soal latihan. Padahal ketika benar-benar dicermati, konsep dasar dari mata pelajaran matematika adalah kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Kemampuan pemecahan masalah ini akan bermanfaat dalam kehidupannya di masa yang akan datang. Untuk mengajarkan kemampuan memecahkan masalah pada siswa hendaknya dimulai sejak dini, yang dapat dilakukan mulai dari jenjang pendidikan dasar. Jenjang pendidikan ini merupakan peletakkan konsep dasar untuk mempelajari konsep yang lebih tinggi lagi.
Alasan lain mata pelajaran matematika sering dianggap sebagai mata pelajaran yang menakutkan siswa adalah merasa takut terhadap mata pelajaran ini. Penyebab lain ketakutan dari siswa adalah cara guru mengajar yang kurang menyenangkan, kurang membuat siswa merasa nyaman mengikuti proses pembelajaran. Cara guru dalam mengajar merupakan salah satu faktor yang membuat siswa termotivasi.
Untuk mengatasi kondisi seperti di atas, maka seorang guru harus mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa SD. Hal ini perlu diperhatikan mengingat anak usia SD masih berada pada tahap berfikir operasional kongkret. Hal ini didasarkan pada teori Piaget dimana anak usia SD berada pada usia 7-11 tahun. Pada tahap yang seperti ini, tentunya anak akan suka belajar dalam suasana yang menyenangkan dan nyaman.

Suasana pembelajaran yang diharapkan siswa tentunya harus mendapatkan respon dari guru sebagai nahkoda dalam proses pembelajaran. Sebagai nahkoda dalam pembelajaran, guru dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan yang biasa dikenal dengan PAIKEM.

Dalam penelitian ini dipilih SDN Kebondalem di Kabupaten Mojokerto sebagai subjek penelitian. Alasan sekolah ini dipilih sebagai subjek penelitian adalah karena sekolah ini merupakan salah satu sekolah yang menjalankan MBS, dimana salah satu komponen dari MBS adalah PAIKEM. Sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di sekolah tersebut dengan tujuan mendapatkan gambaran pelaksanaan PAIKEM di SDN Kebondalem. Selain itu, dengan penerapan kurikulum 2013 sekolah ini menjadi sekolah percontohan dalam menerapkan kurikulum baru. Sehingga fokus dalam penelitian ini adalah pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas yang beradaptasi dari KTSP menuju penerapan kurikulum 2013.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) pelaksanaan PAIKEM pada mata pelajaran Matematika di SDN Kebondalem Kabupaten Mojokerto, (2) kreativitas guru dalam melaksanakan PAIKEM pada mata pelajaran matematika di SDN Kebondalem Kabupaten Mojokerto, (3) hasil kerja siswa selama pelaksanaan PAIKEM pada mata pelajaran Matematika di SDN Kebondalem Kabupaten Mojokerto, (4)
hasil belajar siswa setelah pelaksanaan PAIKEM pada mata pelajaran Matematika di SDN Kebondalem Kabupaten Mojokerto.

 

Metode Penelitian

Penelitian ini berusaha untuk mengungkapkan penerapan PAIKEM di SDN Kebondalem Kabupaten Mojokerto. Pada pelajaran matematika disesuaikan dengan tema ketika pembelajaran berlangsung di dalam kelas. Penelitian ini menggunakan pendekatan observatif kuantitatif. Observasi dilakukan untuk menjajaki sehingga berfungsi eksploitasi. Jenis observasi dalam penelitian ini adalah observasi partisipasi. Penelitian ini dilaksanakan untuk empat kali pertemuan dimana tiga kali pertemuan untuk mengobservasi pelaksanaan pembelajaran dan satu kali digunakan untuk melaksanakan tes.

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas I SDN Kebondalem Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto tahun pelajaran 2013/2014. SDN Kebon-dalem berada di kecamatan Mojosari kabupaten Mojokerto. Jumlah siswa di kelas I SDN Kebondalem adalah 38 siswa. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah metode observasi dan metode tes. Sedangkan instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah (1) lembar observasi, untuk mengobservasi kemampuan guru dalam melaksanakan PAIKEM untuk mata pelajaran matematika. Observasi ini digunakan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun oleh guru sebelumnya. (2) handycam, digunakan untuk merekam proses pembelajaran yang berlangsung di kelas. Tujuannya agar tidak ada proses pembelajaran yang tidak terlewatkan sebagai data hasil penelitian. Hasil rekaman dari proses pembelajaran ini digunakan untuk menjawab rumusan pertanyaan tentang pelaksanaan PAIKEM dan kreativitas guru dalam melaksanakan PAIKEM di SDN Kebondalem Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto. (3) soal tes, digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah mengikuti proses pembelajaran di dalam kelas. Sedangkan hasil kerja siswa diperoleh dari kinerja siswa selama mengikuti proses pembelajaran di dalam kelas. Hasil kinerja siswa dapat berupa tindakan, tingkah laku siswa yang relevan selama proses pembelajaran berlangsung. Sedangkan hasil belajar siswa diperoleh setelah pelaksanaan PAIKEM di SDN Kebondalem Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto.

Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis, untuk (1) lembar observasi, dianalisis dengan cara mendeskripsikan semua hasil observasi yang didasarkan atas RPP Dari hasil deskripsi, peneliti akan mengidentifikasi kreativitas guru selama melaksanakan pembelajaran untuk masing-masing pertemuan. (2) tes, hasil tes terdiri atas dua hasil yaitu hasil kerja siswa selama proses pembelajaran dan hasil belajar siswa setelah pelaksanaan PAIKEM di SDN Kebondalem Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto. Hasil kerja siswa akan dideskripsikan dari setiap pertemuan dimana akan diambil hasil kerja siswa yang berpartisipasi aktif selama proses pembelajaran di dalam kelas. Untuk hasil belajar siswa, akan ditentukan ketuntasan secara individual dan juga ketuntasan secara klasikal. Hasil dari data hasil belajar akan dideskripsikan dengan menggunakan prosentase siswa yang telah memenuhi ketuntasan.

 

Hasil penelitian dan Pembahasan

Pada bagian ini akan dibahas tentang hasil penelitian dan pembahasan dari masing-masing tujuan penelitian ini. Berikut adalah uraian hasil penelitian.

1. Pelaksanaan PAIKEM

a. Observasi 1

Observasi dilaksanakan pada hari Rabu, 23 Oktober 2013 dengan tema kegiatanku subtema kegiatanku sore hari. Pembelajaran dimulai dengan pembiasaan yang berlaku di SDN Kebondalem, yaitu kegiatan berdo’a dan membaca ayat-ayat pendek. Guru memberikan informasi kepada siswa bahwa subtema yang akan dipelajari adalah “kegiatanku sore hari”. Guru dan siswa antusias mengadakan tanya jawab mengenai kegiatan yang dilakukan pada sore hari.

Pembelajaran dilanjutkan dengan membaca dengan lantang bacaan pada buku siswa. Setelah selesai membaca, kelompok merah mendapatkan tepuk tangan dari semua siswa. Pembelajaran dilanjutkan dengan memberikan per-tanyaan kepada siswa kata-kata yang kurang dimengerti pada bacaan. Disini guru menjelaskan kata-kata tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami oleh siswa.

Pembelajaran dilanjutkan dengan kegiatan mempraktikkan bayangan menggunakan senter dan gelas. Setelah itu, siswa diminta kembali ke tempat duduknya dan mendiskusikan dengan kelompoknya tentang percobaan yang telah dilakukan yakni keadaan pada siang dan sore hari. Guru membimbing kegiatan diskusi yang dilakukan dalam kelompok dan dilanjutkan dengan kegiatan presentasi di depan kelas. Guru membimbing dan mengarahkan jawaban dari hasil presentasi. Pembelajaran diakhiri dengan do’a bersama dipimpin oleh para guru.

 

b. Observasi 2

Observasi dilaksanakan pada hari Kamis, 24 Oktober 2013 dengan tema kegiatanku subtema kegiatanku sore hari. Pembelajaran dimulai dengan pembiasaan yang berlaku di SDN Kebondalem, yaitu kegiatan berdo’a dan membaca ayat-ayat pendek. Untuk memulai pembelajaran pada hari ini, guru memeriksa kesiapan siswa. Sebelumnya guru memberikan infor-masi kepada siswa bahwa subtema yang akan dipelajari adalah “kegiatanku sore hari”.

Guru memfokuskan perhatian siswa terhadap pembelajaran yang akan dilaksanakan. Guru bertanya kepada siswa, tentang kegiatan apa saja yang dilakukan pada sore hari, kemudian siswa menjawab kegiatan yang dilakukan siswa dan guru menulis berbagai kegiatan yang telah disebutkan siswa di papan tulis. Kemudian guru bertanya pada siswa tentang apa yang dimaksud dengan percakapan. Beberapa siswa mencoba untuk mengungkapkan pendapatnya yang dimaksud dengan percakapan. Dengan pancingan guru, siswa memberikan jawaban yang berkaitan dengan pertanyaan dari guru.
Guru mengapresiasi jawaban dari para siswa dan kemudian guru memberi penjelasan tentang apa itu yang dimaksud dengan percakapan. Setelah siswa memahami apa yang dimaksud dengan percakapan, siswa diminta mencari pasangan untuk melakukan percakapan sesuai dengan yang ada di buku siswa yakni percakapan yang dilakukan oleh 2 orang. Guru membimbing siswa dalam mencari pasangan, setelah siswa menemukan masing-masing pasangan-nya, guru meminta siswa agar duduk saling berhadapan dengan pasangan percakapannya. Siswa diminta untuk melakukan kegiatan percakapan di depan kelas secara berpasangan. Setelah itu, guru menjelaskan aspek-aspek apa saja ketika melakukan percakapan di depan kelas.

Kegiatan pembelajaran diakhiri dengan guru meminta siswa untuk memberikan hiasan dari menuliskan percakapannya pada selembar kertas. Kemudian dilanjutkan dengan menempelkan pada sudut baca, sehingga semua siswa dapat melihat hasil karya teman-teman yang lainnya.

Guru membimbing siswa untuk merefleksikan pembelajaran yang dilakukan pada hari ini. Pembelajaran diakhiri dengan do’a bersama dipimpin oleh para guru.

 

c. Observasi 3

Observasi dilaksanakan pada hari Jumat, 25 Oktober 2013 dengan tema kegiatanku subtema kegiatanku sore hari. Pembelajaran dimulai dengan pembiasaan, berdoa dan membaca ayat-ayat pendek. Guru memeriksa kesiapan siswa dalam memulai pelajaran dengan tema Kegiatanku subtema “Kegiatanku Sore Hari”. Guru memfokuskan perhatian siswa terhadap pembelajaran yang akan dilaksanakan. Para siswa dengan suka cita mengikuti intruksi dari guru.

Guru meminta siswa untuk membaca materi pada buku siswa dengan nyaring. Para siswa diminta untuk berdiskusi dengan temannya kemudian menceritakan kegiatan yang ada di buku siswa dan menulisnya di buku tulis siswa masing-masing. Guru memantau dan membimbing siswa yang mengalami kesulitan selama mengerjakan tugasnya. Beberapa siswa ada yang hanya menulis urutan kegiatan, beberapa yang lain menulis serta menggambarnya. Disini terlihat bahwa kreativitas siswa bermacam-macam bentuknya. Hasil pekerjaan siswa, diminta untuk meletakkan pada portofolionya masing-masing.
Pembelajaran dilanjutkan dengan meminta siswa untuk membuka halaman selanjutnya dan menceritakan serta mengurutkan kegiatan yang dilakukan di buku masing-masing siswa secara berkelompok. Guru juga memeriksa pekerjaan masing-masing kelompok. Untuk jawaban yang kurang benar siswa diminta untuk mem-perbaiki. Hasil pekerjaan siswa, semuanya diletakkan pada portofolio siswa. Portofolio siswa diletakkan di ujung kelas supaya dapat diakses oleh siapapun termasuk orang tua/wali siswa.Kemudian siswa diminta mencari pasangan untuk saling menanyakan tentang kegiatan yang dilakukan setelah bermain sore.

Kegiatan pembelajaran diakhiri dengan membimbing siswa untuk merefleksikan pembelajaran yang telah dilakukan. Pembelajaran diakhiri dengan do’a bersama dipimpin oleh ketua kelas.

 

2. Kreativitas guru

a. Observasi 1

Pada obervasi 1, kreativitas guru selama proses pembelajaran yang dilakukan adalah sebagai berikut.

1) Guru memancing siswa dengan bertanya ciri-ciri suasana sore hari. melalui pancingan guru. Siswa mengeluarkan semua pengetahuan yang dimilikinya sampai menyim-pulkan tentang definisi bayangan. Dalam membentuk definisi ba-yangan, guru mengarahkan siswa untuk membentuk definisi sendiri bukan berdasarkan pemahaman dari gurunya.

2) Setelah siswa diajak membaca naskah dalam buku siswa secara nyaring, guru kembali memancing siswa untuk mengungkapkan pendapatnya tentang kata-kata yang kurang dimengerti oleh siswa. Guru menjelaskan dengan menggunakan bantuan tubuh agar siswanya lebih paham tentang kata “condong”. Sambil membayang-kan, beberapa siswa juga meniru-kan gerakan yang dilakukan oleh guru.

3) Guru mengajak siswa untuk mempraktekkan bentuk bayangan dengan menggunakan gelas dan senter. Guru juga menjelaskan masing-masing jatuhnya sinar yang menggambarkan keadaan di pagi hari, siang hari dan juga sore hari. Kemudian siswa diminta untuk menyimpulkan perbedaan bentuk bayangan melalui bimbingan guru.

 

b. Observasi 2

Pada obervasi 2, kreativitas guru selama proses pembelajaran yang dilakukan adalah sebagai berikut.

1) Guru memulai kegiatan pembelajaran menyanyikan sebuah lagu dengan nada “menanam jagung” diikuti dengan gerakan tubuh. Siswa dengan riang dan gembira mengikuti gerakan yang dicontohkan oleh guru.

2) Guru memancing pengetahuan siswa tentang kegiatan percakapan. Siswa mengeluarkan semua pengetahuan yang dimilikinya, guru mengarahkan pada kesim-pulan bahwa percakapan harus dilakukan minimal oleh dua orang atau lebih. Setelah mengerti tentang penjelasan guru, siswa diminta untuk mengungkapkan dengan bahasanya sendiri konsep percakapan.

3) Siswa diminta untuk melakukan percakapan tentang kegiatan yang dilakukan pada sore hari bersama teman sebangkunya dan mem-praktekkannya di depan kelas. Dengan antusias, siswa mengikuti intruksi dari guru untuk melakukan kegiatan percakapan bersama temannya.

4) Dari hasil penampilan pasangan siswa di depan kelas, guru
meminta siswa yang lain untuk menanggapi penampilan teman-nya.

 

c. Observasi 3

Pada obervasi 3, kreativitas guru selama proses pembelajaran yang dilakukan adalah sebagai berikut.

1) Guru mengajak siswa untuk menyanyikan lagu “menanam jagung” dengan gerakan dan tidak hanya tepuk tangan saja. Beberapa siswa terlihat antusias menyanyi-kan lagu menanam jagung yang diganti syair lagunya. Para siswa menyanyi dengan riang gembira.

2) Guru memancing siswa untuk menceritakan kegiatan yang dilakukan bersama-sama dengan keluarga

3) Guru mengajak siswa untuk mengajukan pertanyaan ber-dasarkan teks bacaan dalam buku siswa dan memberikan kelompok lain kesempatan untuk men-jawabnya

 

3. Hasil kerja siswa

a. Observasi 1

Pada observasi 1, siswa diajak untuk mengeksplorasi pengetahuan yang dimilikinya dalam hal menjawab pertanyaan-pertanyaan dari guru. Dalam hal ini guru mempunyai kemampuan untuk menggali pengetahuan siswanya dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang membuat siswa ingin tahu. Guru sangat baik dalam mengeksplorasi pengetahuan yang dimiliki oleh siswa. Begitu juga dalam menjawab pertanyaan dari guru, siswa sangat antusias. Berikut ini contoh jawaban siswa pertanyaan no. 1 tentang bayangan.
Siswa 1 : “tau Bu, yang warnanya item-item”
Siswa 2 : “keliatannya kalo siang hari Bu…”

Hasil jawaban siswa untuk pertanyaan no. 2 tentang kegiatan praktikum bayangan, dimana siswa ditanya tentang bentuk dari bayangan.
Siswa 3 : “bayangannya panjang Buk…”
Guru : “kalo cahaya senternya dari atas, gimana bayangannya ?”
Siswa 4 : “kecil Bu…”
Siswa 5 : “bayangannya pendek, Bu…”

 

b. Observasi 2

Pada observasi 2, siswa juga diajak untuk mengeksplorasi pengetahuan yang dimilikinya dalam hal menjawab pertanyaan-pertanyaan dari guru. Akan tetapi, disini para siswa juga diajak untuk mengembangkan kreasi yang dimilikinya dalam hal mengembangkan pengetahuan membuat diagram silsilah keluarga. Contoh jawaban yang diberikan siswa dari pertanyaan guru tentang kegiatan bercakap-cakap.
Siswa 1 : “berhadapan…”
Siswa 2 : “berhadapan berbicara Buk…”
Siswa 3 : “omong-omong…”
Siswa 4 : “berbicara berhadapan…”

Setiap siswa mengungkapkan pendapatnya sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
Contoh hasil percakapan yang dilakukan siswa bersama pasangan dalam kelompoknya.
Siswa 3 : “kalo sore kamu ngapain ?”
Siswa 4 : “aku biasanya mbantuin Ibu di dapur, kamu ngapain ?”
Siswa 3 : “aku nyiramin tanaman di depan rumahku”
Siswa 4 : “kamu punya tanaman apa ?”
Siswa 3 : “pokoke taneman…. hehehehe”(sambil tersenyum)
“lah kamu bisa masak tah…?”
Siswa 4 : “bisa, aku masak telor”

 

c. Observasi 3

Pada observasi 3, siswa juga diajak untuk mengeksplorasi pengetahuan yang dimilikinya dalam hal menjawab pertanyaan-pertanyaan dari guru. Akan tetapi, disini para siswa juga diajak untuk mengembangkan pengetahuan-nya dalam mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dari teman dari kelompok lainnya. Contoh jawaban yang diberikan siswa dari pertanyaan guru. Hasil jawaban siswa untuk pertanyaan “kegiatan apa saja yang dilakukan pada sore hari”
Siswa 1 : “makan bersama…”
Siswa 2 : “nonton tivi bersama…”
Siswa 3 : “memasak bersama…”
Siswa 4 : “membantu Ibuk…”
Siswa 5 : “sholat bersama…”
Siswa 6 : “menanam bersama…”
Guru : “apa yang ditanam ?”
Siswa 7 : “bunga Buk…”
Siswa 8 : “jagung”
(siswa lain nyeletuk jawaban yang berbeda)
Siswa 9 : “bekerja bakti…”
Siswa diminta untuk saling mengajuka pertanyaan kepada kelompok lain. Kelompok yang ditunjuk diminta untuk menjawab pertanyaan dan memberikan per-tanyaan kembali untuk kelompok yang lain. Berikut contoh hasil jawaban siswa ketika diminta untuk saling bertanya jawab
Siswa 1 : “kelompok hijau, Bu…”
Siswa 2 : “mengapa Ibu memotong tanaman ?” (dari kelompok hijau)
Siswa 3 : “karena biar tanamannya rapi…”
Siswa 3 : “kelompok kuniiingg…”
Siswa 4 : “mengapa Bayu senang menyiram tanaman ?” (dari kelompok hijau)
Siswa 5 : “biar tanamannya bisa tumbuh besar”
Guru : “bagaimana anak-anak…?”
“selain tumbuh besar apa lagi anak-anak..?”
Siswa 6 : “biar subur…”

 

4. Hasil belajar siswa

Setelah mengikuti proses pembelajaran untuk tiga kali pertemuan, maka pada pertemuan terakhir dilaksanakan Tes Hasil Belajar (THB). Karena dalam penelitian ini mengkonsentrasikan pada tema dan subtema yang diajarkan di sekolah maka pelaksanaan THB juga didasarkan pada tema dan subtema yang diajarkan. Berikut ini akan diuraikan hasil pelaksanaan Tes Hasil Belajar yang dilaksanakan setelah proses pembelajaran dilaksanakan.

Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan terhadap hasil belajar diperoleh hasil, siswa yang tidak tuntas dalam belajarnya berjumlah 3 siswa, sedangkan siswa yang tuntas belajarnya adalah 35 siswa.

Jika ditinjau ketuntasan hasil belajar secara klasikal sebanyak 92.11% siswa telah tuntas dalam belajarnya. Sehingga dapat dikatakan ketuntasan belajar secara klasikal terpenuhi, hal ini dikarenakan ketuntas an klasikal telah  85%.

 

Kesimpulan

Pada bagian ini akan diambil kesimpulan, adapun kesimpulannya sebagai berikut.

1. Pelaksanaan PAIKEM di SDN Kebondalem Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto disesuaikan dengan tema dan subtema yang berlangsung. Pelaksanaan pembe-lajaran sudah memenuhi kriteria dari PAIKEM dimana guru tidak menjadi perhatian utama saja melainkan siswanya telah ber-partisipasi aktif selama mengikuti proses pembelajaran. Di SDN Kebondalem ini, kurikulum yang digunakan adalah kurikulum 2013 dan sekolah ini menjadi sekolah induk pelaksanaan kurikulum 2013.

2. Sebagai sekolah induk pelaksanaan kurikulum 2013, guru yang mengajar di SDN Kebondalem sangat kreatif dalam me-ngembangkan kegiatan pem-belajaran sesuai dengan panduan dalam Buku Guru dan Buku Siswa. Hal ini terlihat dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru. Selain itu, siswa sangat apresiatif dalam menjawab pertanyaan begitu juga dengan mengajukan pertanyaan. Meskipun dalam satu kelas diajar oleh dua orang guru sekaligus, siswa tidak mengalami kesulitan dalam mengadaptasi cara mengajar kedua guru tersebut.

3. Ditinjau dari hasil kerja siswa, siswa di SDN Kebondalem sangat apresiatif dalam menggali pengetahuan yang dimiliki oleh siswanya. Hal ini dapat dilihat pada saat siswa memberikan jawaban-jawaban atas pertanyaan pancingan yang diberikan oleh guru. Selain itu, hasil kerja siswa dapat dilihat ketika siswa diminta untuk membuat silsilah keluarganya sampai pada tahap menghias hasil kerjanya dan meletakkan dalam portofolionya. Siswa juga berani mengungkapkan pendapatnya di depan kelas, mempraktikkan kegiatan per-cakapan sampai pada memberikan masukan atas hasil kerja temannya di dalam kelas. Banyak nilai karakter yang terbentuk dari pelaksanaan PAIKEM di SDN Kebondalem.

4. Berdasarkan hasil analisis data, siswa yang tidak tuntas dalam belajarnya berjumlah 3 orang, sedangkan siswa yang tuntas belajarnya adalah 35 orang. Secara prosentase ketuntasan belajar siswa secara klasikal adalah 92,11% sehingga dikatakan memenuhi ketuntasan belajar secara klasikal. Sedangkan prosentase siswa yang tidak memenuhi ketuntasan belajar siswa secara klasikal adalah 7,89%. Dapat dikatakan bahwa ketuntasan klasikal belajar siswa kelas I di SDN Kebondalem terpenuhi.

 

Daftar Pustaka

Dahar, Ratna Wilis. 2011. Teori-teori Belajar & Pembelajaran. Jakarta: PT. Erlangga.

Hudojo, Herman. 2003. Pembelajaran Matematika. Jakarta: Depdikbud.

Moleong, Lexi J. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Soedjadi, R., 2007. Masalah Kontekstual Sebagai Batu Sendi Matematika Sekolah, Pusat Sains dan Matematika Sekolah (PSMS) Unesa. Surabaya.

Soifer, Alexander. 2008. Mathematics as Problem Solving Second Editions. USA: Willey and Sons.

Sudjana. 1989. Desain dan analisis eksperimen. Bandung: PT Tarsito.

———-. 2004. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sunarto. 2001. Metodologi Penelitian Ilmu-ilmu Sosial dan Pendidikan. Surabaya: Unesa University Press.

http://pembelajaran-pendidikan. blogspot.com/2012/06/definisi-penilaian-hasil-kerja-siswa.html (diakses tanggal 10 Februari 2013).

http://blog.umy.ac.id/sitirahmahwati/2011/12/01/pembelajaran-efektif-pendekatan-strategi-metode-teknik-taktik-dan-model-pembelajaran/ (diakses tanggal 14 Februari 2014).