PENGARUH KECERDASAN LINGUISTIK TERHADAP KEMAMPUAN MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 19 SURABAYA


Seminar Nasional Pendidikan Matematika || Membangun Paradigma Baru Pembelajaran Matematika Melalui Implementasi Kurikulum 2013
10 Mei 2014 || ISBN: 978-979-8559-51-8
Penerbit : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Matematika Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Penulis 1: Nur Fathonah
Penulis 2: Mimin Aminatul

PDF

ABSTRAK
Salah satu faktor dari dalam diri siswa ialah kecerdasan linguistik siswa. Kecerdasan linguistik yang berporos pada kecerdasan secara verbal, mengolah kata, dan penalaran terhadap serangkaian kalimat-kalimat yang akan digunakan sebagai modal untuk
menyusun proses penyelesaian soal cerita matematika agar mendapatkan model matematika yang sesuai, sehingga dapat menyelesaikan soal cerita dengan cepat dan tepat.Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh
kecerdasan linguistik terhadap kemampuan menyelesaikan soal berbentuk cerita
matematika pada siswa kelas VII SMP Negeri 19 Surabaya.

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tingkat kecerdasan linguistik
mempunyai pengaruh yang rendah terhadap kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal
cerita matematika, hal ini dikarenakan masih ada faktor lain baik dari dalam siswa maupun dari luar siswa. Khususnya faktor dari dalam diri siswa yaitu faktor kecerdasan logis matematika, mengingat kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal cerita terdapat pada tahap perhitungan penyelesaian soal.

Kata Kunci: kecerdasan linguistik, verbal, kemampuan, soal cerita matematika

 

A. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan komunikasi akhirakhir ini dirasakan semakin pesat. Dengan pesatnya perkembangan IPTEK, dunia pendidikan dewasa ini juga tidak kalah pesat perkembangannya. Maka dari itu guru sebagai pendidik, fasilitator dan penyalur ilmu pengetahuan harus dapat memakai metode pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan kecerdasan yang dimiliki anak didik. Sebab menurut UU No 20 Tahun 2003 “Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar danproses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara”. Menurut Fritjhof Schuon, seorang filosof parenial dalam Suharsono (2009:193), mengatakan “bahwa salah satu kecerdasan yang khas manusiawi adalah kemampuan manusia bercakap-cakap dalam bentuk bahasa”.

Kemampuaan berbahasa, termasuk bahasa Indonesia, merupakan jenis kemampuan yang memungkinkan manusia berhubungan, saling mengerti dan mengenal antara satu dengan yang lainnya. Dimana bahasa adalah jendela peradaban, disamping itu kemampuan berbahasa dengan baik yang dimiliki seseorang, memungkinkan mereka mengatur dan mengendalikan emosinya secara operasional. Bahasa juga merupakan cara paling baik untuk mengekspresikan diri, ide-ide, perasaan, sikap hidup, analisis, penalaran dan juga kritik. Kemampuan berbahasa yang baik inilah yang menurut Gardner dikategorikan dalam kecerdasan Linguistik (linguistic Intelligence).
Dalam pembelajaran matematika disajikan soal dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah dalam bentuk soal cerita. Soal cerita merupakan modifikasi dari soal–soal hitungan yang berkaitan dengan masalah sehari-hari yang ada di lingkungan siswa. Bentuk Soal cerita dapat melatih para siswa berpikir secara analisis, melatih kemampuan menggunakan tanda operasi hitung (penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian), serta menggunakan prinsip-prinsip atau rumus-rumus dalam menyelesaikan
masalah. Disamping itu juga memberikan latihan dalam menterjemahkan cerita tentang situasi kehidupan nyata ke dalam dalam kalimat matematika. Untuk bisa sampai pada hasil yang ditentukan, dalam penyelesaian soal cerita siswa memerlukan kemampuan-kemampuan tertentu. Kemampuan tersebut terlihat pada pemahaman soal yakni kemampuan apa yang diketahui dari soal, apa yang ditanyakan dalam soal, apa saja informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan soal, dan bagaimana menyelesaikan soal tersebut.
Melihat banyaknya permasalahan yang terjadi pada siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika. Sering dijumpai anak didik mengalami kesulitan dalam mengejakan soal cerita matematika karena beberapa faktor, diantaranya kesulitan dalam memahami maksud dari soal,kesulitan menjabarkan kalimat-kalimat dalam soal cerita matematika yang diubah menjadi kalimat matematika dan kesulitan dalam menafsirkan kembali
jawaban model matematika sebagai jawaban dari permasalahan yang sebenarnya.

B. RUANG LINGKUP DAN PEMBATASAN MASALAH
Untuk memfokuskan kajian penelitian serta menghindari adanya persepsi ganda, maka kajian ini dibatasi sebagai berikut:
1. Penelitian ini terbatas pada pokok bahasan Bilangan Pecahan.
2. Penelitian ini terbatas para siswa kelas VII ASMP Negeri 19 Surabaya tahun ajaran 2013-2014.
3. Penelitian ini terbatas dalam mengukur kecerdasan linguistik siswa kelas VII ASMP Negeri 19 Surabaya.
4. Penelitian ini terbatas pada kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika.
5. Validitas soal cerita dari buku Penunjang Belajar Matematika Untuk SMP/MTs VII oleh Dame Rosida Manik tahun 2009 halaman 43 dan 59-60.
6. Validitas tes kecerdasan linguistik dari Buku Analisis Tes Bakat oleh Ketut dan Desak tahun 2005 halaman 7 – 17.

 

C. RUMUSAN MASALAH
Berdasakan uraian dari latar belakang masalah diatas dapat merumuskan masalah sebagai berikut:“Adakah pengaruh kecerdasan linguistik terhadap kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika pada siswa kelas VII SMP Negeri 19 Surabaya?”

 

D. TUJUAN PENELITIAN
Dalam penelitian ini tujuan yang ingin dicapai yaitu untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh kecerdasan linguistik terhadap kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika pada siswa kelas VII SMP Negeri 19 Surabaya.

 

E. MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi Sekolah :
a. Menghasilkan Output yang berkualitas dengan pendekatan kecerdasan masing-masing siswa.
2. Bagi Siswa :
a. Diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan kecerdasan yang dimilikinya, khususnya kecerdasan linguistik dalam menyelesaikan soal cerita matematika.
3. Bagi Guru :
a. Hasil penelitian diharapkan sebagai bahan pertimbangan bagi guru dalam memilih metode yang sesuai dengan siswa menurut kecerdasannya masing-masing.

F. KAJIAN TEORI

1. Pengertian Kecerdasan
Dalam mengartikan intelegesi (kecerdasan) ini, para ahli mempunyai pengertian yang beragam.Gardner mendefinisikan dalam Suparno (2004:17) “Intelegensi sebagai kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata”. Menurut Gardner ada 9 kcerdasan
dalam Suparno (2004:19) yaitu: Kecerdaan Linguistik (linguistic intelegence), Kecerdaan Matematika – Logis (logical-mathematical intelegence), Kecerdaan Ruang (spasial intelegence), Kinestetik-badani (bodily-kinesthetic intelegence), Kecerdaan Musical (musical intelegence), Kecerdaan Interpersonal (interperonal intelegence), Kecerdaan Intrapersonal (intrapersonal intelegence), Kecerdaan Lingkungan/ naturalis (naturalist intelegence), Kecerdaan Eksistensial (existential intelegence). Gardner menetapkan dalam Amstrong (2002:6-9) syarat khusus yang harus dipenuhi oleh setiap kecerdasan dalam teorinya, yaitu: setiap kecerdasan dapat dilambangkan, setiap kecerdasan mempunyai riwayat perkembangan, setiap kecerdasan rawan terhadap cacat akibat kerusakan atau cedera pada wilayah otak tertentu dan setiap kecerdasan mempunyai akhir berdasar nilai budaya.

2. Kecerdasan Linguistik
Gardner menjelaskan dalam Suparno (2004:26) intelegensi linguistik sebagai kemampuan untuk menggunakan dan mengolah kata-kata secara efektif , baik secara oral maupun tertulis.

3. Hakekat Kemampuan siswa
Kemampuan berasal dari kata mampu yang mendapat imbuhan kean. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:707) mampu adalah sanggup, kuat, bisa dalam melakukan sesuatu. Setelah mendapat imbuhan ke-an maka kemampuan adalah kesanggupan atau kekuatan untuk melakukan sesuatu yang dapat diukur melalui alat tes khusus. Kemampuan seseorang besar pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa.

4. Soal Cerita Matematika
Dalam disiplin ilmu matematika disajikan bentuk soal berupa soal cerita yang biasa digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam pembelajaran pemecahan menyelesaikan masalah matematika. Adapun pengertian konsep soal cerita dalam mata pelajaran matematika adalah soal yang disajikan dalam bentuk uraian atau cerita baik secara lisan maupun tulisan. Soal cerita diwujudkan berupa kalimat verbal sehari-hari
yang makna dari konsep dan ungkapannya dapat dinyatakan dalam simbol dan relasi matematika.

5. Hakekat Matematika
Istilah matematika berasal dari bahasa Yunani mathein atau manthenein yang artinya mempelajari,namun menurut Nasution (1980:12) dalam Murniati (2008:45) diduga kuat erat kaitannya dengan bahasa sansekerta medha atau widya yang artinya kepandaian, ketahuan atau intelegensi.

 

G. RANCANGAN PENELITIAN
Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini yaitu metode korelasional. Menurut Arifin (2011:48) bahwa “penelitian korelasional adalah penelitian yang mempelajari hubungan dua variabel atau lebih, yakni hubungan variasi dalam satu variabel dengan variasi dalam variabel lain”. Penelitian korelasional dapat digunakan untuk menguji hipotesis tentang hubungan antar variabel atau untuk menyatakan besar-kecilnya hubungan antara dua variabel. Untuk itu dalam penelitian ini peneliti memberikan rancangan penelitian sebagai berikut:

Gambar 1. Rancangan Penelitian
Keterangan:
X = Tingkat Kecerdasan Linguistik
Y = Kemampuan dalam menyelesaikan soal Cerita matematika

 

H. POPULASI DAN SAMPEL
Populasi yang diteliti dalam penelitian ini adalahSiswa kelas VII SMP Negeri 19 Surabaya tahun ajaran 2013-2014.Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini dengan caraRandom sampling atau sampel acakSampel pada penelitian ini adalah siswa kelas VII A SMP Negeri 19 Surabaya tahun ajaran 2013-2014.

 

I. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Untuk mengukur tingkat kecerdasan linguistik siswa digunakan tes penalaran verbal dengan tes obyektif pilihan ganda (multiple choice). Tes penalaran verbal yang dipakai dalam penelitian ini adalah suatu tes yang diambil dari Ketut dan Desak dalam bukunya Analisi Tes Bakat (2005:7-17). Tes ini termasuk jenis tes Bakat Pembedaan DAT (Differential Aptitude Test)terdiri atas suatu keterangan atau pemberitahuan tentang suatu pengertian yang belum lengkap, dan untuk melengkapinya harus memilih satu dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan. Untuk mengukur kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita menggunakan tes berupa lima soal cerita matematika pokok bahasan bilangan pecahan. Bentuk tes yang X Y dipilih adalah tes uraian, dengan bobot soal yang relatif sama. Soal-soal dari tes ini diambil dari Manik Dame dalam bukunya Matematika SMP/MTs VII. Peneliti menentukan pedoman penskoran dilihat dari langkah-langkah pemecahan masalah menurut Polya.

 

J. TEKNIK ANALISIS DATA
Dalam menganalisis data peneliti mengunakan teknik analisis korelasi, yaitu suatu teknik untuk menentukan sampai sejauh mana terdapat hubungan antara dua variabel.Untuk menghitung besarnya korelasi yang terjadi peneliti menggunakan teknik statistic. Dalam penelitian korelasi ini digunakan metode korelasi product moment, dalam perhitugannya digunakan rumus:
Keterangan :
𝑟𝑋𝑌 : Koefesien korelasi antara kecerdasan Linguistik terhadap kemampuan dalam menyelesaikan soal cerita matematika pada siswa kelas VII SMP Negeri 19 Surabaya
N : Jumlah subyek (jumlah siswa)
X : Skor Nilai tes kecerdasan Linguistik
Y : Skor Nilai tes kemampuan matematika
Setelah nilai r didapat maka dapat disimpulkan menurut Arikunto (2002:245) tingkat korelasi antara dua variabel tersebut dengan acuan tabel dibawah ini:
Tabel 1. Tabel Intepretasi Nilai “r”
Besarnya nilai r Interpretasi
Antara 0,800 – 1,00
Antara 0,600 – 0,800
Antara 0,400 – 0,600
Antara 0,200 – 0,400
Antara 0,000 – 0,200
Tinggi
Cukup
Agak rendah
Rendah
Sangat rendah (Tak berkorelasi)
𝑟
𝑋𝑌=
𝑁 Σ 𝑋𝑌−(Σ 𝑋) (Σ 𝑌)
√{𝑁 Σ 𝑋2−(Σ 𝑋)2}{𝑁 Σ 𝑌2−(Σ 𝑌)2}

K. PEMBAHASAN
Data ditabulasikan dalam tabel perhitungan data. Data yang disajikan dibawah ini adalah tabel perhitungan data untuk persiapan menghitung korelasi product moment.
No Subyek X Y XY 𝑿𝟐 𝒀𝟐
1 29 29 841 841 841
2 37 50 1850 1369 2500
3 40 50 2000 1600 2500
4 37 43 1591 1369 1849
5 35 35 1225 1225 1225
6 38 50 1900 1444 2500
7 33 50 1650 1089 2500
8 38 50 1900 1444 2500
9 45 43 1935 2025 1849
10 36 27 972 1296 729
11 34 39 1326 1156 1521
12 26 50 1300 676 2500
13 20 16 320 400 256
14 29 26 754 841 676
15 36 18 648 1296 324
16 30 50 1500 900 2500
17 34 47 1598 1156 2209
18 34 43 1462 1156 1849
19 33 18 594 1089 324
20 36 48 1728 1296 2304
21 37 32 1184 1369 1024

Perhitungan Data Tes kecerdasan Linguistik dan Tes Kemampuan Matematika
Berikut disajikan perhitungan statistik dalam penelitian ini:
N = 35
Σ X = 1192
Σ Y = 1335
Σ XY = 46063
Σ 𝑋2 = 41292
Σ 𝑌2 = 55259
Untuk menganalisa data pada penelitian ini, digunakan statistik koefisien korelasi product moment dimana perhitungannya akan diuraikan sebagai berikut:
𝑟
𝑋𝑌=
𝑁 Σ 𝑋𝑌−(Σ 𝑋) (Σ 𝑌)
√{𝑁 Σ 𝑋2−(Σ 𝑋)2}{𝑁 Σ 𝑌2−(Σ 𝑌)2}
𝑟
𝑋𝑌=
35 (46063)−(1192)(1335)
√{(35)(41292)−(1192)2}{35(55259)−(1335)2}
22 31 43 1333 961 1849
23 31 37 1147 961 1369
24 27 30 810 729 900
25 32 43 1376 1024 1849
26 37 39 1443 1369 1521
27 37 34 1258 1369 1156
28 34 43 1462 1156 1849
29 37 42 1554 1369 1764
30 35 26 910 1225 676
31 32 8 256 1024 64
32 32 44 1408 1024 1936
33 34 47 1598 1156 2209
34 38 44 1672 1444 1936
35 38 41 1558 1444 1681
1192 1335 46063 41292 55239

𝑟
𝑋𝑌=
1612205−1591320
√{(1445220−1420846)(1934065−1782225)}
𝑟
𝑋𝑌=
20885
√(24356)(151140)
𝑟
𝑋𝑌=
20885
√3681165840
𝑟
𝑋𝑌=
20885
60672,612
𝑟𝑋𝑌= 0,344
Jadi, dalam perhitungan statistik diatas didapatkan𝑟𝑋𝑌 = 0,344
1. Pengujian hipotesa
1) Menentukan 𝐻0 dan 𝐻1
𝐻0 ∶ 𝜌 = 0;Berarti tidak ada pengaruh kecerdasan linguistik terhadap kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika pada siswa kelas VII SMP Negeri 19 Surabaya.
𝐻0 ∶ 𝜌 ≠ 0;Berarti ada pengaruh kecerdasan linguistik terhadap kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika pada siswa kelas VII SMP Negeri 19 Surabaya.
2) Menentukan taraf signifikan, dengan taraf signifikan (𝛼) = 5% atau 0,05
diperoleh 𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙= 0,339
3) Menggunakan statistic uji korelasi product moment diperoleh
𝑟𝑋𝑌 = 0,344
4) Menetukan Kritera pengujian 𝐻0
𝐻0diterima jika – 0,339 ≤ 𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 ≤ 0,339
𝐻0ditolak jika 𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔< – 0,339 atau 𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔> 0,339
Gambar 4.1. Gambar daerah penerimaan 𝑯𝟎 dan daerah penolakan 𝑯𝟎
5) Kesimpulan
daerah
terima
Ho
– 0,339 0,339

Oleh karena dari hasil analisis data didapat r hitungnya 0,344 sedangkan r tabelnya 0,339 dapat disimpulkan bahwa hipotesa nol (𝐻0) ditolak dan hipotesis kerja (𝐻1) diterima.

 

2. INTERPRETASI
Interpretasi dengan menggunakan tabel nilai “r” maka didapatkan dari df=34, maka taraf signifikan 5% diperoleh 𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙= 0,339, didapatkan bahwa 𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 lebih besar dari 𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 maka disimpulkan bahwa hipotesa kerja (𝐻1) diterima dan hipotesa nol (𝐻0) ditolak. Hal ini berarti bahwa ada korelasi yang positif antara kecerdasan linguistik terhadap kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika pada kelas VII SMP Negeri 19 Surabaya.dapat diinterpretasikan bahwa tingkat kecerdasan linguistik mempunyai pengaruh terhadap kemampuan menyelesaikan soal cerita dimana dalam menyelesaikan soal tersebut diperlukan pemahamam secara verbal untuk memahami maksud dari soal cerita matematika. Sehingga dapat dikatakan bahwa ada pengaruh pada tingkat kecerdasan linguistik terhadap kemampuan dalam menyelesaikan soal cerita, meskipun rendah. Karena untuk menyelesaikan soal cerita tidak hanya memerlukan kecerdasan linguistik saja, tetapi juga memerlukan kecerdasan lain seperti kecerdasan logis matematika yang digunakan untuk proses perhitungan matematika agar mendapat hasil yang tepat sesuai yang diinginkan dari soal tersebut. Disamping itu ada faktor pendukung lain baik dari dalam (Intern) diri siswa maupun faktor dari luar (Ekstern) siswa.

 

L. SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan analisa data yang terurai yang telah dibahas sebelumnya dapat disimpulkan bahwa tingkat kecerdasan linguistik mempunyai pengaruh yang rendah terhadap kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika, hal ini dikarenakan dalam menyelesaikan soal cerita matematika tidak hanya memerlukan kecerdasan linguistik saja, tetapi juga memerlukan kecerdasan lain seperti kecerdasan logis matematik yang digunakan untuk proses perhitungan matematika agar mendapat hasil yang tepat. Disamping itu ada faktor pendukung lain baik dari dalam (Intern) diri siswa maupun faktor dari luar (Ekstern) siswa.

 

M. SARAN
Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan diatas maka beberapa saran yang bisa disampaikan yaitu:
1. Perlu adanya pemahaman seorang guru dalam mengenal kecerdasan tiap siswa agar proses pembelajaran dapat berjalan sesuai target pembelajaran.
2. Perlu adanya komunikasi yang efektif dan kerjasama yang baik, antara siswa, guru, sekolah dan orang tua agar proses belajar mengajar siswa berhasil lebih maksimal.
3. Perlu penggunaan metode mengajar berbasis kecerdasan agar pembelajaran lebih efektif.
4. Menerapkan metode belajar menyenangkan bagi siswa agar materi yang disampaikan guru lebih dipahami siswa dengan baik.

Dengan saran-saran yang dikemukaan diatas, diharapkan agar dapat dijadikan bahan pertimbangan serta pemikiran demi suksesnya pendidikan, khususnya pada mata pelajaran matematika.

 

DAFTAR PUSTAKA

Amstrong,Thomas.2002a. Setiap Anak Cerdas!.Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama. 2002b. Seven Kinds Of Smart: Menemukan Dan Meningkatkan Kecerdasan Anda Berdasarkan Teori Multiple Intellegence (terjemahan T.Hermaya). Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktek) Edisi V. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Dahlan, Djawad: 2002. Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja. Bandung: PT Remaja

Rosdakarya Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta:Balai Pustaka.

Manik,Dame Rosida. 2009. Penunjang Belajar Matematika Untuk SMP/MTs. Surabaya:PT JePe Press Media Utama.

Murniati, Endah. 2008. Kesiapan Belajar Matematika Disekolah Dasar. Surabaya: Surabaya Intelectual Club.

Sistem Pendidikan Nasional 2003 UU RI NO 20 Tahun 2003 pasal 1. Jakarta: Sinar Grafika.

Suharsono. 2009. Melejitkan IQ, SQ & EQ. Tanggerang: Ummah Center.

Sukardi, Dewa Ketut dkk. 2005. Analisis Tes Bakat: Dalam Pemilihan Karir Dan Jurusan. Bogor: Ghalia Indonesia.

Suparno, Paul. 2004. Teori Intelegensi Ganda dan Aplikasinya Disekolah: Cara Menerapkan Teori Multiple Intellegences Howard Gardner. Yogyakarta: Kasinius.