SASTRA INDONESIA DAN PERTARUNGAN IDEOLOGI

Oleh : Dr. A Shoim Anwar, M.Pd, S1 – Pendidikan Bahasa Indonesia

Karya sastra Indonesia berkembang sesuai dengan kondisi zaman. Bila zaman ibarat rel, pengarang adalah lokomotif yang menarik rangkaian gerbong karya sastra yang ada di belakangnya. Gerbong-gerbong ini ikut mengalir ke mana lokomotif itu melaju. Pengarang sebagai produsen dan pembaca sebagai konsumen adalah produk zaman yang dibentuk oleh kondisi sosial yang dilewatinya. Ini adalah sebuah medan sosiologis karya sastra. Karya sastra dapat ditempatkan sebagai dunia bayang-bayang, miniatur, atau ekor yang turut melaju bersama lokomotif zaman. Karya sasira adalah sarana untuk mengungkapkan berbagai permasalahan dalam kehidupan, di samping fungsi-fungsi lainnya Semakin kompleks permasalahan dalam kehidupan, semakin kompleks pula fungsi dan muatan karya sastra. Karya sastra merupakan narasi “yang menyingkap dan sekaligus menyembunyilcan dunia” (Sarup, 1993:282). Konsep angkatan yang digagas oleh H.B. Jassin dan diteruskan oleh Korrie Layun Rampan, atau periodesasi oleh Ajip Rosidi, juga mengacu pada pengelompokan karya sastra yang punya kaitan dengan kondisi sosial tertentu

PDF