PENDIDIKAN BERKARAKTER BANGSA KUNCI SUKSES PEMERTAHANAN IDENTITAS MASYARAKAT MULTIKULTURAL DI ERA GLOBAL


PROSIDING || Pemertahanan Identitas Masyarakat Multikultural Di Era Global
24-25 Juni 2010 | ISSN: 978-979-3870-54-0
Penerbit: Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Penulis : Retno Danu Rusmawati

PDF

ABSTRAK

Karakter bangsa sangat diperlukan bagi sebuah bangsa yang besar dan kokoh, mampukah kita menjadi bangsa Indonesia yang besar, kokoh, dan berkarakter? Bagaimana caranya agar kita tetap memiliki karakter bangsa Indonesia yang kaya dengan alam lingkungan, budaya yang multicultural di era global?

Pendidikan berkarakter bangsaperlu dipahami sebagai wujud konkrit pendidikan nasional bukan merupakan konkrit pendidikan regional, namun potensi regional merupakan asset budaya nasional yang tumbuh berkembang di dalam kehidupan masyarakat dengan sebagai macam jenis dan bentuk perilaku, baik individu ataupun social. Dari perkembangan jenis dan bentuk perilaku, maka terbentuklah pluralitas filosofi hidup, sikap dan perilaku hidup yang menjadikan beragam kehidupan masyarakat menjadi multikultur di masyarakat. Sesungguhnya realitas multikultur adalah masalah special pendidikan secara konkrit ruang kelas berisi sebuah komunitas dengan latar belakang sifat individu dan kebudayaan yang plural, karena itu pendidikan harus mengelola dan menfasilitasi setiap perbedaan kepribadian dan kebudayaan agar bisa berkembang. Setiap perbedaan terkandung potensi perkembangan hidup. Semakin beraneka ragam sifat kepribadian dan kebudayaan peserta didik, maka semakin leluasa kesempatan pengembangan kehidupan. Beberapa ahli dan pakar pendidikan memikirkan dan menawarkan tesis model pendidikan berkarakter bangsa, antara lain: system sekolah cerdas, pendidikan taman siswa, penerapan pembiasaan kehidupan keseharian dengan satuan pendidikan, system pendidikan nasional berkarakter kontekstual, pendidikan nilai dan kepribadian dalam dunia pendidikan. Pendidikan berkarakter dengan model system sekolah cerdas yang meliputi: konsep sekolah cerdas sebagai wujud pendidikan bangsa ada dua konsep: Bangunan sekolah cerdas sebagai dasar pendidikan berkarakter bangsa, yang membahas 1. Pejenjangan sekolah, 2. Kurikulum, 3. Metode pembelajaran, 4. Evaluasi pembelajaran berdasarkan tujuan pendidikan nasional pencerdasan kehidupan bangsa, melalui pendidikan berkarakter bangsa dengan model system sekolah cerdas sebagai kunci sukses pemertahanan identitas masyarakat multicultural di Era Global, maka dapat disimpulkan ada 3 (tiga) kewajiban pendidikan sekolah yaitu membina peserta didik agar kemudian menjadi:

  1. SDM yang terampil bekerja (skillful workers). Sasaran ini menjadi tanggungjawab SMK
  2. SDM yang keratif dalam menyusun perencanaan (creative planners). Sasaran ini menjadi tanggungjawab akademi/institusi pendidikan tinggi.
  3. SDM pemikir yang bijak (wised thingkers).

 

Kata kunci: pendidikan, karakter bangsa, masyarakat, multicultural, era global

 

LATAR BELAKANG

Dunia maya merebak tidak terbendung, informasi membanjiri tiap detik tanpa mampu memilah dan memilih, televise seolah kepanjangan tangan dari dunia maya yang menyiarkan peristiwa demi peristiwa yang seharusnya mampu di simpan namun kenyataan justru pertelevisian lebih mudah menginformasikan hal-hal yang seharusnya tidak ditonton, tidak didengar pemirsa/masyarakat umum, tentu saja hal ini merupakan pendidikan langsung, mudah, murah, namun tidak dipikirkan dampak negative dari informasi yang disampaikan. Belum lagi Hand Phone, modem yang masing-masing memiliki kecepatan, kecanggihan, dan kemudahan pengoperasiannya, sehingga siapapun orangnya jika memiliki benda-benda tersebut dengan mudah mengakses semua peristiwa apapun. Bagaimana dengan karakter masyarakat kita yang menjadi bagian karakter bangsa? Karakter bangsa sangat diperlukan bagi sebuah bangsa yang besar dan kokoh, mampukah kita menjadi bangsa Indonesia yang besar, kokoh, dan yang berkarakter? Bagaimana caranya agar kita tetap memiliki karakter bangsa Indonesia yang kaya dengan alam multicultural? Ini masalah kita semua bukan masalah individu atau kelompok tertentu, namun masalah bangsa Indonesia, karena itu diperlukan sebuah alat melalui pendidikan berkarakter bangsa sebagai salah satu upaya pemertahanan indentitas masyarakat multicultural segera dilaksanakan serentak dan terus menerus di semua jenjang pendidikan formal, informal, dan nonformal, tidak dapat ditunda-tunda lagi. Pendidikan berkarakter bangsa perlu dipahami sebagai wujud konkrit pendidikan nasional bukan merupakan konkrit pendidikan regional, namun potensi regional merupakan asset budaya nasional yang tumbuh berkembang di dalam kehidupan masyarakat dengan berbagai macam jenis dan bentuk perilaku, baik individu ataupun social. Ada beberapa ahli yang berpendapat tentang pendidikan berkarakter bangsa adalah sebagai berikut:

  1. Menurut Prof. Dr. Suparlan Suhartono, Di dalam kehidupan bermasyarakat didapati dengan fenomena multi-kultur. Sejauh mana realitas multikultur itu berguna bagi kelangsungan dan perkembangan kehidupan seluruh masyarakat? Atau sebaliknya, kenyataan multi-kultur itu justru menjadi ancaman bagi eksistensi kehidupan bermasyarakat? Sesungguhnya, realitas multi-kultur adalah masalah special pendidikan. Ruang kelas kenyataannya berisi komunitas siswa dengan latar belakang sifat individu dan kebudayaan yang plural, oleh sebab itu pendidikan seharusnya mengelola dan mefasilitasi setiap perbedaan kepribadian dan kebudayaan agar bisa berkembang karena di dalam setiap perbedaan terkandung potensi bagi perkembangan hidup. Dalam hal ini Suparlan mengusulkan adanya system cerdas, yang memposisikan setiap individu warga masyarakat difungsikan sebagai pemebelajar sejati. System dan cara komunikasi baik individu dan social dibangun dan dikembangkan menurut spirit hubungan saling belajar. Disini semua pihak beberapa sebagai subyek otonom pencari pengetahuan baru yang lebih benar, yang jika diterapkan bisa lebih bernilai baik (bermanfaat) bagi keseluruhan, sehingga kehidupan masyarakat menjadi makin indah (adil, makmur, tenteram, dan damai). Lebih lanjut Suparlan menjelaskan bahwa semua jenis dan bentuk kebijakan social harus ditentukan dan dilaksanakan menurut spirit kependidikan. Semua bidang apakah ekonomi, politik, hokum, kesehatan, keamanan, teknologi informatika dan sebagainya harus bersifat mendidik agar berkembang dan membuahkan kemanfaatan bagi siapapun sesuai kemampuan dan tanggungjawab masing-masing.
  2. Darmaningtyas mengemukakan bahwa pendidikan nasional perlu ada revisi terhadap undang-undang Sisdiknas No 20/2003 Tentang system pendidikan nasional yang di dalamnya mengamanatkan agar “pemerintah dan/ atau pemerintah daerah menyelengarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional (pasal 50 ayat 3). Menurut Darmaningtyas keberadaan pasal 50 ayat 3 itu lebih berimplikasi amat luas terhadap system pendidikan nasional itu sendiri. Menurut Darmaningtyas, tidak seharusnya menganggap remeh bahasa Indonesia, terlebih Inggris maka akhirnya anak-anak menjadi bahasan penting dalam pendidikan, seperti yang dikemukakan Ki Hadjar Dewantara (1930:2004:11:2010:15) yang mengatakan: “Dan sesungguhnya, bahasa sebagai alat pengajaran, tiada kecil pengaruhnya terhadap pendidikan. Anak yang sejak kecil selalu dibiasakan pada bahasa asing dan dijauhkan dari bahasanya sendiri, ia akan kehilangan perhubungan batin dengan orang-orang tuanya sendiri, dan kelak dikemudian hari ia juga akan terasing persaanya terhadap bangsanya sendiri”. Darmaningtyas mengajak untuk menelusuri beberapa gagasan dan pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam upaya untuk memberikan kerangka perspektif arah dan orientasi pendidikan Indonesia seharusnya, Ki Hadjar menuangkan gagasan dan pemikiran pendidikannya melalui perguruan Taman Siswa yang berkonteks nasional. Dalam upaya untuk membangun system pendidikan nasional tersebut. Ki Hadjar Dewantara (1930:2004:15:2010:16) menyatakan: pendidikan nasional menurut Taman Siswa ialah pendidikan yang beralaskan garis hidup dari bangsanya (cultureel-natioonal) dan ditujukan untuk keperluan perkehidupannya (maatschappelijk) yang dapat mengangkat derajat Negara dan rakyatnya, agar dapat bekerja bersama-sama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia seluruh dunia.
  3. Karti Suharto, berpendapat tentang pendidikan saat ini belum selaras dengan nafas reformasi politik pasca reformasi 1998. Reformasi pendidikan Indonesia seharusnya mewadahi amanat reformasi politik tersebut. Tampak bahwa antara reformasi pendidikan Indonesia seharusnya diimbangi dengan reformasi pendidikan. Berjalan tetapi tidak searah, berjalan melakukan perubahan tetapi tidak searah, karena system pendidikan menuju arah yang tidak jelas, kurang menentu, dan berada dipersimpangan jalan antara pendidikan konservatif dan liberal yang membingungkan. Lebih lanjut Karti menawarkan suatu tesis system pendidikan nasional berkarakter kontekstual, dengan pendekatan dialetik, mengambil jalur pendidikan kritis, yang menampilkan gerakan yang pasti, sesuai dengan kebutuhan masa depan anak bangsa berkedaulatan, berkeadilan dan demokratis.
  4. Suwanto, M.Si pejabat tertinggi bidang pendidikan sebagai kepala Dinas Pendidikan provinsi Jawa Timur menyampaikan rencana induk pengembangan pendidikan karakter bangsa dengan strategi mikro di sekolah, proses pembudayaan diitegrasikan ke dalam KBM pada setiap matpel di kelas, budaya sekolah (pembiasaan dalam kehidupan keseharian di satuan pendidikan), integrasi ke dalam kegiatan ektrakulikuler Pramuka, Olahraga, Karya Tulis dsb., penerapan pembiasaan kehidupan keseharian dengan satuan pendidikan.
  5. Dr. H. Haris Supratno, Rektor Unesa mengatakan bahwa pendidikan berkarakter bangsa merupakan pendidikan Nilai dan Kepribadian dalam dunia pendidikan. Pembentukan kepribadian menjadi salah satu tujuan pendidikan nasioanal. Dan sasaran pendidikan kepribadian ini adalah keluarga, masyarakat, sekolah/ perguruan tinggi. Membudayakan pendidikan kepribadian untuk membentuk Insan kamil, dan cirri insane intelektual.

 

PENDIDIKAN BERKARAKTER BANGSA

Pasal 3 UU Sisdiknas yaitu, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkannya potensi peserta didik agar menusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan demikian pendidikan berkarakter bangsa tentu saja bersumber hokum pasal tersebut, bagaimana pelaku pendidikan dengan institusi terkait dalam mengaplikasikannya? Tentu saja diperlukan modal pendidikan berkarakter bangsa. Pendidikan berkarakter bangsa adalah suatu pendidikan yang dilaksanakan sesuai dengan budaya dan idiologi bangsa itu sendiri, Suharto mendefinisikan pendidikan berkarakter adalah pendidikan yang memiliki cirri ideologis. Sebagaimana yang dikemukakan Christenson (1971) dalam Karti Suharto (2010:1) bahwa: Ideologies are basic rationales for divergent educational views to either sustain, alter, or overthrow the contemporary school. Lebih lanjut Christenson dalam Suharto menyatakan bahwa setiap ideology juga memberikan dasar atau landasan tentang sesuatu yang dipercayai.

 

Dibawah ini ada beberapa ahli dan pakar pendidikan memikirkan menawarkan tesis model pendidikan berkarakter bangsa.

 

MODEL PENDIDIKAN BERKARAKTER BANGSA

  1. Sistem sekolah cerdas oleh Prof. Dr Suparlan Suhartono
  2. Pendidikan taman siswa oleh Darmaningtyas
  3. Penerapan pembiasaan kehidupan keseharian dengan satuan pendidikan oleh Drs. Suwanto, M.Si
  4. System pendidikan nasional berkarakter kontekstual oleh Dr. Karti Suharto
  5. Pendidikan Nilai dan Kepribadian dalam dunia pendidikan oleh Prof. Dr. H. Haris Supratno

Dalam kesempatan ini saya mengupas model pendidikan sekolah cerdas yang diajukan  oleh Prof. Dr Suparlan Suhartono sebagai upaya pemertahanan identitas masyarakat multikultur di era global.

 

PENDIDIKAN BERKARAKTER BANGSA DENGAN MODEL SEKOLAH CERDAS

Lembaga persekolahan berfungsi sentral dan menentukan arah dinamika social suatu bangsa, seharusnya secara konkret pendidikan adalah pembinaan daya rasa, cipta, dan karsa. Suparlan mengasumsikan bahwa jika ketiganya dibina secara dinamis berimbang di sekolah, maka kemudian terbentuk SDM berkompeten dalam hal membangun karakter bangsa yang merdeka, kreatif, produktif, berbudaya dan beradab. Bukankah nasib ini berada ditangan anak-anak dan remaja? Berikut pertanyaan-pertanyaan Suparlan Suhartono (2010:6) yang patut diketengahkan.

  1. Adakah nilai rapor dan hasil ujian nasional berkolerasi fungsional dengan pembudayaan dan peradaban untuk membangun bangsa berkarakter?
  2. Berbanding lurus dengan pertnyaan diatas, adakah system dan metode pengajaran bisa membentuk kreativitas dan keterampilan hidup?
  3. Jika pendidikan adalah proses pembelajaran kurikuler, maka relevankah system ujian nasional seperti sekarang?
  4. Adilkah kelulusan dari ujian nasional ditentukan oleh kekuasaan kementrian pendidikan?
  5. Bukankah secara factual yang memahami perkembangan prestasi belajar adalah para guru di bawah system manajemen sekolahnya?
  6. Jika difahami secara benar “mencerdaskan kehidupan bangsa” target utama persekolahan adalah SDM yang kompeten dalam memajukan taraf hidup kedaerahan regional?
  7. Pendek kata apakah system persekolahan tidak perlu digeser dari membina bangsa cakap berbicara menjadi bangsa berkarakter yang otonom dan berbudaya dengan kecakapan berkreasi untuk berproduksi?

Ada 7 (tujuh) pertanyaan yang perlu penelaahan terhadap proses pembelajaran saat ini, karena itu mampukah terjawab dengan pembelajaran yang ada? Karena itu Suhartono menawarkan beberapa konsep sekolah cerdas.

 

KONSEP SEKOLAH CERDAS SEBAGAI WUJUD PENDIDIKAN BERKARAKTER BANGSA

Pertama,

  1. Sekolah (school) adalah suatu lembaga tempat dimana anak-anak dan remaja dikelola menjadi terdidik
  2. Pendidikan (education) adalah suatu system pengajaran (teaching)

Kedua kata kunci tersebut mendorong beberapa tuntutan sebagai berikut:

  1. Menyusun organisasi kurikulum berbasis kompetensi, menurut dasar tujuan pendidikan nasional (mencerdaskan kehidupan bangsa)
  2. Mengembangkan metodologi pembelajaran berpusat pada pembelajar (learning centerd), untuk mendorong motivasi belajar sehingga pembelajaran menjadi mandiri, kritis, dan kreatif.
  3. Mengembangkan profesionalitas guru (teaching ability), agar pembelajaran berjalan efektif dan efisien

 

Kedua,

Selanjutnya istilah cerdas dalam bahasa inggris “intelligent” oleh Chambers dalam Suparlan (2010:9), digambarkan sebagai “on intelligent person is able to learn and understand things quickly and easily”. Istilah cerdas tercermin kemampuan dalam memahami segala sesuatu secara cepat dan mudah. Pemahaman adalah proses psikis, di mana subyak berkemampuan menyatu dengan obyek. Orang cerdas secara cepat mampu menyesuaikan diri dengan nilai-nilai hakiki obyek. Howard Gardner dalam Suparlan (2010:9) cerdas adalah kemampuan memcahkan masalah atau kemampuan berkarya menghasilkan sesuatu yang berharga untuk lingkungan social, budaya atau lingkungannya. Lebih lanjut Garnedner dalam Suparlan merinci kecerdasan menjadi Sembilan hal yaitu: picture smart, people smart, body smart, word smart, self smart, sound smart, nature smart, number smart, dan spiritual smart. Multiple intelligences Gardner mencerminkan suatu kecerdasan eksistensial. Kecerdasan dimaksud meliputi kegiatan menyadari, menyikapi, dan memecahkan secara menyeluruh berimbang terhadap persoalan kehidupan yang berhubung dengan badan dan jiwa, individu dan masyarakat dengan linbgkungan alam dan dunia spritualnya. Jadi kecerdasan atau intellegensi berakar pada potensi spiritual dan berujung pada integritas moral, berupa perilaku etis. Akhirnya Suparlan menyimpulkan bahwa istilah cerdas menunjukkan kemampuan seseorang dalam memahami dan menghayati segala persoalan yang timbul dari kehidupan secara cepat, mudah. Berdasarkan pemahanan itu, dengan cakap dan terampil seseorang dapat segera menemukan jalan keluar untuk kemudian mampu mempertanggungjawabkan di dalam praktek pelaksanaan. Sehingga orang cerdas adalah manusia terintegrasi mampu menyatu dengan hidup dan kehidupannya.

 

BANGUNAN SEKOLAH CERDAS SEBAGAI DASAR PENDIDIKAN BERKARAKTER BANGSA

  1. Penjejangan Pendidikan

Sesuai dengan perkembangan intellegasi anak menurut usia, maka pendidikan sekolah perlu penjenjangan, yaitu pendidikan dasar 9 tahun yang diawali dengan penjenjangan sekolah dasar 6 tahun, bisa melalui pendidikan pra-sekolah (taman kana-kanak) yang bproses pembelajarannya diarahkan pada sasaran penguatan potensi social dan emosional. Kegiatan menari dan menyanyi adalah dasar-dasar pembinaan kemampuan social emosional seperti percaya diri, independensi, inisiatif, bergaul dan keberanian. Pada jenjang sekolah dasar, materi pendidikan dikelola dan dikembangkan secara lebih terstruktur. Sasaran utama pembelajarannya adalah mendorong potensi membaca, menulis, dan berhitung. Dilanjutkan tingkat satuan pendidikan sekolah lanjutan pertama (SLP 3 Tahun). Pada jenjang pendidikan ini sasaran proses pembelajaran berupa pembinaan potensi analisis. Jenjang sekolah lanjutan atas (SLA 3 Tahun) berdasarkan hasil evaluasi akhir SLP, jenjang SLA dibelah menjadi dua, yaitu sekolah menengah atas kejuruan (SMK) dan sekolah menengah umum (SMU). SMU sasran utamanya adalah pembinaan SDM dengan kecakapan analisis untuk menyusun suatu perencanaan dan program menurut konsep atau teori yang di buat (skillful analyst ). SMK sasaran utamanya adalah pembinaan SDM dengan kecakapan dan keterampilan dalam mengerjakan suatu bagian pekerjaan yang telah ditentukan atau diprogramkan (skillful workers). Pendidikan tinggi (universitas) proses pembelajaran dititik-sentralkan pada penguasaan teori keilmuan. Yaitu bagaimana membangun konsep untuk kemudian mampu mengambil suatu keputusan. Pendidikan tinggi ini juga dipilah menjadi dua jalur:

a). Universitas yaitu program lanjutan SMU. Sasaran utamanya adalah pembinaan SDM yang cerdas dalam menuyusun suatu konsep dan atau teori berdasrkan pada kaidah-kaidah ilmu pengetahuan secara filosofis dari konsep dan teori inilah sebuah perencanaan disusun.

b). Akademi atau Institute, yaitu program lanjutan dari SMK sasaran utamanya adalah pembinaan SDM yang cerdas, cakap dan terampil (creative planners) dalam menyusun rencana dan program –program.

 

Menurut Suhartono (2010:18) memperhatikan penjenjangan pendidikan sekolah itu, maka pendirian system sekolah cerdas lebih ditekankan pada jenjang pendidikan dasar (SD) sampai SMP. Dengan asumsi bahwa jika pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar secara actual. Berorientasi pencerdasan holistic, maka jenjang-jenjang pendidikan berikutnya tinggal melanjutkan perluasan dan penajamannya.

 

  1. Kurikulum

Tentang Kurikulum

Materi pembelajaran apa yang patut (appropriate) dan layak (suitable) diberikan pada setiap jenjang pendidikan. Berdasarkan pada tujuan pendidikan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, maka kurikulum pendidikan sekolah cerdas setepatnya adalah kurikulum berbasis kompetensi (KBK: competent based curriculum) menjadi orientasinya. Karena itu, sekolah cerdas mempersiapkan peserta didik menjadi SDM yang kompeten, yaitu dengan sasaran mengembangkan seluruh potensi peserta didik secara holistic, agar menjadi mausia cerdas, spoiritual, moral, mandiri, kreatif, cakap, dan terampil dalam kehidupan baik personal maupun social. Pada dasarnya KBK adalah dasar kegiatan pemeblajaran di sekolah sebagai acuan guru untuk menghasilkan tamatan yang kompeten pada bidang tertentu, sesuai standart yangditetapkannya. Pelaksanaan KBK ditentukan oleh kemampuan sekolah dalam hal ini guru sesuai potensi, minat dan kebutuhan peserta didik. Lebih dari itu potensi daerah lingkungan sekolah dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum, agar apa yang dipelajari oleh peserta didik bermanfaat bagi daerah setempat.

 

  1. Metode Pembelajaran

Dalam mengembangkan metode pembelajaran sekolah cerdas perlu mempertimbangkan 4 (empat) komponen kerangka inti KBK seperti yang dimajukan megawangi dalam pendidikan holistic:2005 dalam Suhartono:2010 antara lain sebagai berikut:

a). kurikulum dan hasil belajar, KBK bercirikan: menitik beratkan pada pencapaian  target kompetensi daripada penguasaan materi, lebih mengakomodir keragaman kebutuhan dan sumberdaya pendidikan yang tersedia, memberikan kebebasan yang lebih luas kepada pelaksana pendidikan di lapangan untuk mengembangkan dan melaksanakan program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan.

b). penilaian berbasis kelas, dengan orientasi pada peserta didik. Penilaian holistic, mencakup aspek kognitif, afektif, psikomotor. Lebih mengacu pada kompetensi beragam dari peserta didik dengan penekanan kemampuan afeksi-psikomotorik dan aplikasi penegetahuan agar bermanfaat bagi kehidupan nyata.

c). kegiatan belajar mengajar, efektivitas dalam pencapaian kompetensi. Kegiatan belajar mengajar lebih berpusat pada siswa, belajar dengan langsung mengalami, dengan mengembangkan keterampilan social-emosional dan mendorong siswa untuk menjadi pembelajar sejati.

d). pengelolaan kurikulum berbasis sekolah. Sesuai prinsip Manajemen Berbasis  Sekolah (MBS), sekolah diberi kewenangan untuk mengelola kurikulum sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan. Dalam rangka pengembangan kurikulum sekolah perlu meningkatkan sumberdaya guru dan lainnya, dan sekolah perlu mengembangkan perangkat kurikulum (silabus) dengan membangun kerja sama dengan sekolah lainnya, secara hirarkis kurikulum dari tingkat pendidikan dasar, menengah sampai tingkat pendidikan tinggi, pada dasarnya mengacu pada target kompetensi pembinaan sumber daya manusia (SDM). Ada tiga jenis sasaran pembinaan SDM yaitu pekerja terampil (skillful workers), perencanaan kreatif (creative plenners), dan pemikir yang bijaksana (wise thingkers). Oleh karena itu dengan KBK pendidikan sekolah cerdas didorong untuk bisa mandiri dan otonom dalam menyelenggarakan proses pembelajaran. Ada beberapa sasaran pemeblajaran yang dapat dirumuskan sebagai berikut:

(1) membangun wawasan hidup, menanamkan watak lifelong leaner

(2) membentuk kepribadian terintregasi kepribadian holistic

(3) membentuk kreativitas, kecakapan, keterampilan, hidup dan etos kerja

(4) membangun sikap dan perilaku adil

Konsekuensi lebih lanjut sekolah cerdas adalah aktualisasi guru yang professional yang perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  • Memposisikan potensi siswa sebagai acuan untuk menentukan materi pembelajaran sebagai bahan pembinaan kompetensi
  • Berorientasi pada proses dan hasil pembelajaran secara berkelanjutan
  • Menggunakan berbagai jenis metode, strategi, teknik pembelajaran.

Berdasarkan pada karakteristik KBK, pendekatan pembelajaran yang digunakan antara lain:

a). inquiry based learning, yaitu dengan proses pembelajaran berbasis rasa keingintahuan peserta didik, mengubah orientasi tradisi pembelajaran berpusat pada guru (teacher-centered) menjadikan pembelajaran berpusat pada peserta didik (student-centered) Guru memfasilitasi dorongan ingin tahu peserta didik dalam mencari pengetahuan yang lebih luas dan benar. Jadi peserta didik unutuk mengajukan pertanyaan dan mendorong keinginan untuk membuat suatu eksperimen. Jadi oeserta didik didorong menjdi “inquirer” (pencari tahu).

b). collaborative and cooperative learning,  yaitu metode yang menekankan pada proses pembelajaran dengan melibatkan pembelajar bekerja dalam team atau kelompok. Pembelajaran kolaboratif mendorong pemeblajar dalam diskusi untuk menemukan solusi masalah yang sedang dipelajari. Metode pembelajaran kooperatif adalah sub-sistem dari metode kolaboartif. Dalam hal ini pembelajar bekerja bersama-sama dalam kelompok lebih  kecil dan melakukan tugas yang sudah terstruktur. Jadi, cooperative learning prosesnya lebih relevan. Metode pembeajaran kooperatif perlu dikembangkan sejak dini, mulai dari tingkat pendidikan pra-sekolah bahkan mengingat bekerja dalam kelompok (team work) Belum membudayakan sejak dari keluarga. Metode kolaboratif perlu ditanamkan nilai kemanfaatan yang dapat diharapkan gdari keunggulan metode ini antara lain, setiap kontribusi pembelajar mendapat penghargaan sehingga mereka masng-masing akan lebih percaya diri dan kreatif setiap individu pembelajaran bisa semakin terdorong untuk mengerjakan tugas dan pertanyaan yang diberikan, pembelajar mendapat pembelajaran tentang kemampuan bermusyawarah ketika terjadi perbedaan pendapat, pembelajaran mendapat kesempatan secara lebih leluasa untuk mempelajari perspektif atau alternative yang lebih lengkap dalam menemukan solusi. Intergrated learning  atau pembelajaran terpadu adalah pembelajaran dengan mengitegrasikan berbagai materi dalam satu sajian pembelajaran. Sasaran utama pembelajaran terintegrasi ini adalah agar pembelajar memahami keterkaitan antara materi satu denngan yang lain, selanjutnya antara mata pelajaran yang satu dengan lainnya. Dengan sasaran itu, pembelajar akan memnelajarkan diri untuk memandang dan menilai segala sesuatu secara utuh.

  1. Evaluasi Pembelajaran

Tahap akhir dari proses pembelajaran adalah penilaian. Mengukur kemampuan pembelajar  adalah sentral penilaian. Secara klasik, kemampuan hanya tes pilihan ganda dan model pertanyaan tertutup. System ini dinilai tidak obyektif karena hanya menilai kemampuan ingatan atau hafalan saja. padahal di dalam diri peserta didik sedang tumbuh kecerdasan majemuk, kecerdasan multidimensional. Sesuai dengan prinsip dan tujuan KBK maka system evaluasi harus merupakan pengukur obyektif kompetensi peserta didik atau penilaian akhir pembelajaran dilakukan secara obyektif sesuai dengan kemampuan yang dapat diraih oleh peserta pembelajar. Kemampuan menganalisis, mensintesiskan, dan mengevaluasi kemungkinan pengetahuan kognitifnya dapat diaplikasikan ke dalam kehidupan nyata, seharusnya dijadikan ukuran kompetensi.

 

KESIMPULAN

Sebagai titik puncak dari seluruh pemikiran tentang proses pendidikan adalah berupa pendidikan karakter bangsa yang menuntut adanya sebuah model yaitu diantaranya system sekolah cerdas. Namun perlu disadari bahwa model sekolah cerdas ini oleh Suhartono (2010:26) merupakan system manajemen pembelajaran di sekolah dengan sasaran pencerdasan bukan pencerdikan. Dan yang menjadi konsekuensi logis system cerdas adalah system kehidupan bermasyarakat dan berbangsa yang cerdas untuk mencapai cita-cita seluruh bangsa Indonesia. Untuk mewujudkan tujuan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa maka system sekolah cerdas sebagai strategi pendidikan berkarakter bangsa dipandang perlu untuk diposisikan dan difungsikan sebagai motivasi penataan kembali system pendidikan nasional. Didalam kehidupan masyarakat dipenuhi berbagai macam jenis bentuk dan perilaku manusia sebagai individu ataupun social. Keduanya berkembang sesuai kualitas pengetahuan, ilmu, dan mungkin juga tingkat keyakinan keagamaan. Dari perkembangan jenis dan bentuk perilaku maka terbentuklah pluralitas filosofi hidup, sikap, dan perilaku hidup yang menjadikan beragam kehidupan masyarakat menjadi multikultur di masyarakat. Sesungguhnya realitas multikultur adalah masalah special pendidikan secara konkrit ruang kelas berisisebuah komunitas dengan latar belakang individu dan kebudayaan yang plural, karena itu pendidikan harus mengelola dan menfasilitasi setiap perbedaan kepribadian dan kebudayaan agar bisa berkembang. Setiap perbedaan terkandung potensi perkembangan hidup. Semakin beraneka ragam sifat kepribadian dan kebudayaan  peserta didik maka semakin leluasa kesempatan pengembangan kehidupan. Pendidikan berkarakter bangsa dengan model system sekolah cerdas setiap individu warga masyarakat diposisikan dan difunsikan sebgai pembelajar sejati. System dan cara berkomunikasi baik individual maupun social dibangun dan dikembangkan menurut spririt hubungan saling belajar. Maksudnya semua pihak berperan sebagai subyek otonom pencari pengetahuan baru yang lebih benar yang jika diterapkan bisa lebih bernilai baik, bermanfaat bagi keseluruhan sehingga kehidupan masyarakat menjadi makin indah (adil, makmur, tenteram, dan damai). Jadi semua jenis dan bentuk kebijakan social harus ditentukan dan dilaksanakan menurut spririt kependidikan yang mencakup semua bidang ekonomi, politik, hokum, kesehatan, keamanan, teknologi informatika, dsb. Harus bersifat mendidik agar berkembang dan mebuahkan kemanfaatan bagi siapapun sesuai kemampuan dan tanggungjawab masing-masing. Berdasarkan tujuan pendidikan nasional pencerdasan kehidupan bangsa, melalui pendidikan berkarajter bangsa dengan model system sekolah cerdas sebagai kunci sukses pemertahanan multicultural di Era Global, maka dapat disimpulkan ada 3 kewajiban pendidikan sekolah yaitu membina peserta didik agar menjadi:

  1. SDM yang terampil bekerja (skillful workers) sasran ini menjadi tanggungjawab SMK
  2. SDM yang kreatif dalam menyusun perencanaan (creative planners) sasaran ini menjadi tanggungjawab akademi/pendidikan tinggi
  3. SDM pemikir yang bijak (wised thingkers)

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Darmaningtyas. 2010. Membangun Pendidikan Yang Berkarakter Budaya Nasional. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya

Mulyasa E. 2006. Kurikulum Yang Disempuranakan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Soeharto. Karti.2010. Membangun Pendidikan Berkarakter Bangsa. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya

Suhartono, Suparlan.2010. System Sekolah Cerdas. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya

Suwanto.2010. Kebijakan Dalam Pengembangan Pendidikan Karakter Bangsa Di Provinsi Jawa Timur. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya