METODE BEL MENINGKATKAN PENGUASAAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA ANAK TK B1 SURABAYAN SURABAYA


DINAMIKA SOSIAL
Volume 7 || Nomor 1 || April 2008 || ISSN: 1411-6383
Penerbit : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Airlangga

Penulis  : Retno Danu Rusmawati

PDF

ABSTRACT

Study of child in the early age requires particular method which orienting of child’s requirement. Public phenomenon most claiming child after passing kindergarten should be able to read, writes, and matemathic. Most of Elementary School also does the same thing to child which graduated from kindergarten, they require the existence of admission test SD as one of condition, even governmental targets is obliged to learn mine years.

Unconsciously this thing has disregarded reqirement of fundamental child of early age, it is including child of age kindergarten that is playing. Child of kindergarten is forced [by] learning with situasion of strained, depress, not balmy, teacher creativity kindergarten need to innovate. Area of child, school, public, a lot exploration or exploited without having to releases much cost. Study method in kindergarten is not finding must be new, by allying rious the methods and reqirement base of child fundamental, that is playing, of course makes child of happy kindergarten, fun, blithe, independences, ready to learn as great as playin, with “BEL” method, Acronym of bermain explorasi lingkungan, or “EEG” Exsploration Envircnment Game.

Area of child of maximized its the utilization, as supporting facilities for learning full of playing, causing creates happiness, cheerfulness, fun, freedom of child’s expression, any unstressed become capital child of kindergarten to grow and rounds into august mankind and with quality, dare to lay open desire, can receive message, can communicate with teacher, friend humanity, and or others.

Keywords: method, BEL, kosakata, Indonesia Language, Child of kindergarten


PENDAHULUAN

Pembelajaran Taman Kanak-Kanak (TK) merupakan gerbang awal pembelajaran formal yang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi di Lingkungan TK. Kedudukan bahasa Indonesia di Taman Kanak-Kanak adalah bahasa kedua setelah bahasa ibu, hal ini perlu cara tersendiri untuk membelajarkan anak di TK menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi di kelas dan di luar kelas. Untuk melatih anak berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Guru dituntut kreatif melakukan kegiatan pembelajaran yang memungkinkan anak dapat berinteraksi dengan teman dan orang lain sebagai sarana mengungkapkan ide, perasaan, dan emosinya (Suyanto,2005:172). Kegiatan pembelajaran di TK tentu sama dengan kegiatan pembelajaran dejenjang yang lainnya yaitu memerlukan metode. Metode yang dipilih untuk pemebelajaran TK harus memperhatikan karakteristik tujuan kegiatan dan karakteristik anak yang diajar. Karakteristik tujuan kegiatan adalah pengembangan kreativitas, pengembangan bahasa, pengembangan emosi, pengembangan motorik, dan pengembangan nilai, serta pengembangan sikap dan nilai. Khusus untuk pengembangan bahasa anak, Guru menggunakan metode yang dapat meningkatkan kemampuan berbicara, mendengar, membaca, dan menulis. Disini Guru member kesempatan anak memperoleh pengalaman yang luas dalam mendengarkan dan berbicara. Disamping hal tersebut karakteristik anak didik ikut menentukan. Anak TK pada umumnya adalah anak yang selalu bergerak, mempunyai rasa ingin tahu yang kuat, senang bereksperimen dan menguji, mampu meng-ekspresikan diri secara kreatif, punya imajinasi, dan senang berbicara (Moeslichatoen,2005:10).

Berdasarkan hasil wawancara dengan Guru TK B1 Surabayan Surabaya yang bernama Siti Fatimah dan Kepala TK Surabayan Surabaya yang bernama Lies Shofia, S.Pd diperoleh informasi bahwa dalam proses pembelajaran masih banyak permasalahan yang dihadapinya. Salah satu permasalahan yang dihadapi adalah berkaitan dengan kemampuan anak berkomunikasi bahasa Indonesia khususnya penguasaan kosakata bahasa Indonesia. Rumusan hasil diskusi terindetifikasi beberapa masalah yang berkaitan dengan penguasaan kosakata bahasa Indonesia anak TK B1 Surabayan Surabaya, masalah-masalah tersebut diantaranya sebagai berikut (1) anak belum maksimal mengutarakan keinginannya, (2) anak belum mampu menyampaikan pendapatnya, (3) anak belum maksimal mendengarkan dan memahami perintah, (4) anak belum mampu berkomunikasi aktif sesama teman dan orang lain. Asumsi munculnya permasalahan tersebut disebabkan oleh (1) anak belum mampu mengidentifikasi kosakata bahasa Indonesia, (2) anak belum mampu menyerap banyak perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia, (3) anak belum mampu memahami perintah dengan kosakata bahasa Indonesia, (4) anak belum mampu berkomunikasi dengan kosakata bahasa Indonesia dengan lancer, (5) pembelajaran yang kurang memaksimalkan bermain.

Permaslahan yang penting dari TK B1 Surabayan Surabaya adalah penguasaan kosakata bahasa Indonesia sangat rendah. Kosakata merupakan bentuk dasar bahasa, dan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi dalam proses pembelajaran, karena pentingnya kosakata yang harus dikuasai anak, perlu segera mendapatkan tindakan penyelesaian agar pemebelajaran berjalan lancar dan tujuan pembelajaran berhasil maksimal.

Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2004 untuk TK terdapat standar kompetensi dasar yang berhubungan dengan perbendaharaan kata yang diperlukan untuk berkomunikasi sehari-hari. Standar kompetensi tersebut yaitu anak mampu mendengarkan, berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharaan kata, dan mengenal simbol-simbol yang melambangkannya untuk persiapan membaca dan menulis.

Berdasarkan hasil diskusi peneliti dengan dua orang Guru TK Surabayan Surabaya disepakati untuk mengatasi permasalahan tersebut dilakukan penelitian tindakan kelas dengan berkolaborasi untuk bermain mengeksplorasi lingkungan sekolah. Adapun tindakan pemecahan masalah yang dipilih adalah menerapkan metode “BEL”, yang merupakan singkatan dari “Bemain Eksplorasi Lingkungan” merupakan akronim bermain yang diadopsi dari konsep (Gordon & Browne) melalui kegiatan bermain anak dapat melatih kemampuan bahasanya dengan cara mendengarkan beraneka bunyi, mengucapkan kosakata atau kata, memperluas kosakata, berbicara sesuai dengan tata bahasa Indonesia. Eksplorasi Lingkungan merupakan akronim pemberdayaan sekeliling anak yang mengadopsi konsep pembelajaran untuk anak TK (Suyanto,2006:172-174) tentang kegiatan untuk melatih anak berkomunikasi adalah (1) dramatic play (bermain drama) seperti bermain dokter-pasien, bermain keluarga, bermain jula-beli. (2) show and tell (menunjukkan dan menceritakan) setiap hari, secara bergilir, Guru menyuruh satu-dua anak untuk bercerita tentang pengalamannya. Pengalaman tersebut meliputi berbagai hal yang menurut anak perlu dicerikatan. (3) parallel and cooperative play (bermain parallel dan kooperatif) bermain dengan pasir, air, dan balok dimana anak-anak bermain sendiri-sendiri ditempat yang sama dengan media yang sama akan memungkinkan anak bermain paralel. Dipilih metode ini karena secara teoritis “BEL” terbukti mampu membantu anak TK fun dalam pembelajaran dan tujuan pembelajaran tercapai maksimal.

Penerapan metode yang inovatif tidak harus baru dan mahal, tetapi kecerdasan Guru mengeksplorasi lingkungan, media, metode yang ada disekeliling anak seraya bermain dalam proses pembelajaran dapat menciptakan situasi lingkungan anak yang menstimulasi bahasa. Sejak tahun 1981 Hirsh-Pasek (2005:39) mengadakan penelitian tentang anak prasekolah telah banyak kehilangan waktu bermain tinggal 40%, pada tahun 1997 waktu untuk bermain anak juga menyusut lagi tinggal 25%, berarti waktu anak bermain telah hilang sebesar 75%, oleh sebab itu diperlukan usaha yang pas dalam pembelajaran anak TK khususnya dalam hal ini adalah untuk meningkatkan kemampuan kosakata bahasa Indonesia dengan penerapan metode “BEL” kepanjangan dari Bermain Eksplorasi Lingkungan.

Masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: “Apakah penerapan metode “BEL” dapat meningkatkan pengusaan kosakata Bahasa Indonesia Anak TK B1 Surabayan Surabaya?”

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, yang mengadosi dari aplikasi tindakan kelas (Soedarsono,2005).

Tahap Pertama

Peneliti melakukan penjajakan (assessment) menentukan masalah yaitu penguasaan kosakata sangat minim di TK B1 Surabayan Surabaya selama ini. Pada tahap ini peneliti menimbang dan mengidentifikasi masalah-masalah dalam praktek pembelajaran (memfokuskan masalah) kemudian melakukan analisis dan merumuskan masalahnya tersebut.

Tahap ke dua

Pada tahap kedua, berdasarkan masalahnya itu, peneliti menyusun rencana berupa scenario tindakan atau aksi untuk melakukan perbaikan, peningkatan atau perubahan kea rah yang lebih baik dari praktek pembelajaran yang dilakukan untuk mencapai hasil yang optimal atau memuaskan.

Tahap ke tiga

Kegiatan tahap ketiga melakukan implementasi rencana atau scenario tindakan. Peneliti bersama-sama kolaborator atau partisipan (yaitu: guru dan siswa TK B1 Surabayan Surabaya) melaksanakan kegiatan sebagaimana yang tertulis dalam scenario. Pemantau atau monoitoring dilakukan segera setelah kegiatan dimulai (on going process monoitoring). Semua kejadian dan perubahan direkam denagn alat dan cara sesuai situasi kondisi kelas.

Tahap ke empat

Pada tahap ke empat, menganalisis data dari monitoring sebagai bahan acuan untuk mengevaluasi apakah tujuan yang dirumuskan telah tercapai. Jika belum memuaskan maka dilakukan revisi atau modifikasi dan perencanaan ulang untuk memperbaiki tindakan pada siklus sebelumnya. Proses daur ulang diakhiri apabila peneliti puas terhadap hasil dari tindakan yang dilakukan sesuai dengan rencana.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik anak TK B1 Surabayan Surabaya

Karakteristik anak TK B1 Surabayan Surabaya termasuk dalam karakteristik masyarakat kuarng mampu. Dengan sebagian besar anak TK B1 Surabayan Surabaya dari keluarga berpenghasilan pekerjaan tidak tetap, seperti orang tua: sopir angkit, pembantu rumah tangga, pedagang kecil yaitu jual kelontong atau makanan, dan ada 2 siswa yang orang tuanya TNI AL, serta 1 siswa orang tuanya pegawai pemkot, jumlah ini apabila diprosentasikan adalah sebagai berikut: anak dari keluarga mampu sekitar 80%, 19,88% berkemampuan diatasnya sedikit dari yang kurang mampu, sedangkan 0,12% orang tua TNI AL dan Pegawai Pemkot dari jumlah 25 anak TK B1 Surabayan Surabaya.

 

Karakteristik Guru TK B1 Surabayan Surabaya

Karakteristik guru TK B1 Surabayan Surabaya termasuk seorang guru kelas tunggal, dan dari lulusan SMK, mengajar karena kebiasaan yang sudah lama berkecimpung di TK, profesionalismeny sebagai pembelajar anak TK perlu peningkatan dan pengembangan tersendiri. Ibu Siti sebagai guru TK B1 Surabayan Surabaya sudah mengabdi lama lebih dari 20 tahun di TK tersebut, dalam paparan lisannya menyebutkan bahwa mengajar di TK khususnya TK Surabayan Surabaya diperlukan pendisiplinan yang cenderung menggunakan bahasa Surabayan (bahasa daerah surabaya) seperti teguran guru kepada siswanya sebagai berikut: // he rek menenga sik ta la // , // rame terus ae rek !// dan dengan intonasi tinggi serta keras, apabila hal itu tidak dilakukan anak-anak TK nya tidak mau mendengarkan, dan sulit konsentrasi ke guru dalam pembelajaran.

 

Karakteristik Kepala TK Surabayan Surabaya

Karakteristik Kepala TK Surabayan Surabaya, adalah seorang tokoh yang dipercaya guru-guru TK se-Surabaya menjadi ketua Ikatan Guru Taman Kanak-kanak, dari lulusan sarjana pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah dari Universitas PGRI Adi Buana Surabaya (UNIPA Surabaya). Bernama lengkap Lies Sofia, SPd. Mengajar di TK tersebut sudah lebih dari 25 tahun, dan sering menggantikan posisi guru di kelas yang dipimpinnya apabila guru-gurunya berhalangan hadir karena sakit atau hal lainnya.

 

Karakteristik TK Surabayan Surabaya

            Secara geografis letak TK Surabayan Surabaya di tengah perkampungan lama kota Surabaya, di gang sempit dikelilingi rumah penduduk yang padat, sekolah tersebut tidak memiliki halaman sekolah TK, diseberang gang ada Sekolah Dasar Negeri yang dapat dieksplorasi halamannya untuk bermain anak TK pada saat tidak dipergunakan SDN sendiri. Alat bermain diletakkan di dalam ruang bersebelahan dengan kelas. Jika dilihat dari fisik dan kondisi sekolahTK kurang memadai untuk pembelajaran seraya bermain usia anak TK. Secara administrasi Sekolah, taat pada kurikulum, proses pembelajarannya kurang maksimal dikarenakan situasi atau kondisi ruang kelas tembok luarnya langsung gang, alat permainan kurang mendukung, dan halaman sekolah yang tidak dimiliki.

 

Kegiatan Tahap Pertama

Tahap pertama, melakukan pejajagan (assessment) di kelas TK B1 Surabayan Surabaya dengan mempersiapkan tema pembelajaran “Aku dan Keluargaku”. Pada gilirannya siswa secara acak dimotivasi maju kedepan agar berani mengungkapkan diantaranya: siapa namanya, berapa umurnya, tanggal bulan tahun berapa dia lahir, apa cita-citanya, anak nomer berapa, nama ayah nama ibu, dimana alamat rumahnya, punya kakak atau punya adik dan namanya siapa, hobi apa, makanan kesukaannya apa, pekerjaan orang tuanya apa, benda-benda apa saja yang ada dirumahnya dan sebagainya apa yang tidak disukai.

Analisis hasil observasi awal dan informasi dari Guru menunjukkan bahwa kemampuan kosakata bahasa Indonesia anak masih rendah. Dari hasil observasi pembelajaran dikelas terdata bahwa kosakata rerata anak TK B1 Surabayan Surabaya per sepuluh menit hanya 14-24 kosakata, sedangkan minimal yang harus dicapai anak per jam adalah 616 kata (Hirsh-Pasek,2005:151) jika dihitung persepuluh menit rerata anak usia TK B seharusnya adalah 102 kosakata. Kenyataannya yang terjadi di TK B1 Surabayan Surabaya per sepuluh menit hanya mencapai 14-24 kosakata.

 

Kegiatan Tahap Kedua

Membuat rencana belajar (Learning Plan) yang merupakan penjabaran kurikulum ke dalam kegiatan belajar TK. Rencana Belajar memiliki keunikan, dimana setiap pembelajaran tidak berisi satu kegiatan  belajar dari satu bidang studi, tetapi merupakan rangkaian tema yang terintegrasi (Elkin,1982 dalam Slamet Suyanto,2005:145).

Kondisi pembelajaran di TK B1 Surabayan Surabaya belum maksimal mengeksplorasi lingkungan dan bermain karena itu peneliti mencoba menggunakan metode “BEL” untuk meningkatkan penguasaan kosakataTK B1 Surabayan Surabaya. Bermain menurut  Schinkedanz,at.al (1990) dalam Solehuddin (1997:79) memungkinkan anak untuk membangun suatu penegtahuan baru, mengembangkan keterampilan social, mengembangkan kecakapan untuk mengatasi kesulitan, mengembangkan rasa untuk memiliki kemampuan, dan dapat mengembangkan keterampilan-keterampilan motorik. Sependapat dengan mereka, Maxim (1985) juga meyakini bahwa bermain membantu anak dalam mengembangkan banyak aspek fundamental dari perkembangan anak-fisik, intelektual, social, dan emosional.

Eksplorasi meruapakan kegiatan menggali lebih dalam dan memanfaatkan lingkungan sekeliling anak didik di dalam maupun di luar kelas (Hirsh-Pasek) karena itu terpadunya bebrapa metode mendukung pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan anak sehingga dapat menciptakan situasi kondisi pembelajaran untuk menstimulasi bahasa.

Eksplorasi lingkungan suatu kegiatan mendayagunakan, memanfaatkan situasi kondisi sekeliling anak di dalam dan di luar kelas sehingga menstimulasi bahasa. Penerapan metode bermain eksplorasi lingkungan merupakan gabungan dari bebrapa metode yang dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk proses pembelajaran dan diharapkan dapat menstimulasi bahasa agar tujuan pemebelajaran berhasil maksimal.

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK TK/ RA, Tahun 2004) pengembangan kemampuan dasar berbahasa bertujuan agar anak mampu mendengarkan, berkomunikasi secara lisan, memiliki pembendaharaan kata dan mengenali simbol yang melambangkannya untuk persiapan membaca dan menulis. GBPKB (Garis-garis Besar Progam Kegiatan Belajar) TK tahun 1998, pengembangan kemampuan berbahasa di TK bertujuan agar anak didik mampu berkomunikasi secara lisan dengan lingkungannya. Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan disekitar anak yang dapat menstimulasi bahasa.

Depdikbud (1998, 7, 8, 9) menetapkan Sembilan prinsip kemampuan berbahasa, agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan sebagai berikut: a). Bahan latihan, percakapan, diambil dari tema atau lingkungan anak, b). Kegiatan belajar mengajar berorientasi pada kemampuan yang hendak dicapai dan sedapat mungkin dikaitkan dengan tema, c). Anak diberi kebebasan dalam menyatakan pikiran dan perasaan serta ditekankan pada spontanitas, d). Guru menguasai metode/teknik pelaksanaan, e). Komunikasi antar guru dan anak dilaksanakan secara akrab, f). Guru member contoh/teladan dalam cara menggunakan bahasa, g). Bahan mengandung isi untuk pengembangan intelektual, emosional, serta sesuai dengan taraf perkembangan anak dan lingkungannya, h). Tidak dibenarkan memberikan huruf beserta bunyinya secara stu per satu (per huruf), melainkan melalui kata yang didalamnya mengandung huruf yang akan diperkenalkan, i). Tidak diberikan pelajaran membaca dan menulis seperti pelajaran di sekolah dasar.

Pelaksanaan pembelajaran pengembangan kemampuan berbahasa dapat menggunakan metode mengajar sebagai berikut : a) bercerita, b) pemainan bahasa, c) sandiwara boneka, d) bercakap-cakap, e) Tanya jawab, f) dramatisasi, g) mengucap syair, h) bermain peran, i) karyawisata.

Dalam menggunakan metode tersebut, guru dapat memilih salah satu atau gabungan dari beberapa metode yang sesuai dengan kemampuan yang ingin dicapai, fasilitas, kegiatan belajar mengajar yang disajikan, dan disesuaikan pula dengan bahan pengembangan dan kebutuhan minat, kemampuan anak serta lingkungannya, hal ini sebagai dasarperpaduan pelaksanaan “BEL” (Hirsh-Pasek, Kathy, 2005:110, 111, 115).

Interaksi sehari-hari yang umum, biasa dan sederhana dengan anak adalah hal yang diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan bahasa yang baik, juga percakapan sehari-hari memberikan motivasi kepada anak dan penyediaan waktu bagi mereka untuk menanggapinya karena saat anak berinteraksi dengan orang lain dengan konteks social anak termotivasi untuk mengungkapkan kebutuhannya, pemikirannya, perasaannya. Guru dan pengasuh di lingkungan sekolah perlu sering berbicara dengan anak-anak berbagai aktifitas narasi, mengajukan pertanyaan dan membaca buku sebagai bentuk penyediaan lingkungan stimulasi bahasa dan tingkat tahapan yang cerdas.

Berdasarkan “BEL” merupakan metode yang cocok untuk pembelajaran di TK karena “BEL” mengajak anak-anak bermain main dan memnfaatkan lingkungan sekeliling anak untuk mengayaan kosakata sebagaiman kegiatan bermain Moeslichatoen (2004:60-63) yang perlu dipersiapkan dalam kegiatan bermain adalah 1) menentukan tujuan dan tema  kegiatan bermain, 2) menentukan macam kegiatan bermain, 3) menentukan tempat dan ruang bermain, 4) menentukan bahan dan peralatan bermain, 5) menentukan urutan langkah bermain yang dibagi menjadi (a) kegiatan pra bermain, (b) kegiatan bermain, (c) kegiatan penutup., 6) evaluasi kegiatan bermain.

Dalam kegiatan pengenalan bahasa yaitu berkomunikasi dengan lisan yang perlu diperhatikan guru adalah melakukan kegiatan yang memungkinkan anak berinteraksi dengan teman dan orang lain, anak mudah untuk mengungkapkan ide, perasaan dan emosinya. Kegiatan untuk melatih komunikasi diantaranya adalah (1) bermain drama (dramatic play) bermain pura-pura, (2) menunjukkan dan menceritakan (show and tell) bermain paralel dan kooperatif (parallel and cooperative play).

Sebagai contoh pertama di tahap kedua ini menata kelas secara fleksibel sehingga mudah diubah-ubah sesuai tema, dinding dipenuhi gambar-gambar dan tulisan warna-warni yang menarik, di atas papan tulis diberi huruf abjad yang berukuran besar agar siswa mulai mengenal huruf, abjad, sehingga kelas dibuat sebagai lingkungan belajar, artinya pandangan aktivitas anak kemanapun adalah belajar.

Langkah kedua adalah diadakan kesepakatan antara pihak sekolah dengan orang tua untuk, 1) menggunakan bahasa Indonesia di lingkungan rumah, sekolah, atau melaksanakan kegiatan apapun menggunakan bahasa Indonesia. 2) gerakan kolaborasi intensif dua minggu penuh, dimaksudkan untuk bekerjasama yang disepakati dua minggu penuh secara keseluruhan orang tua siswa dengan guru TK B1 Surabayan Surabaya agar memotivasi, mencurahkan segenap perhatian, waktu, kasih saying, hanya untuk anak mengajak berbincang-bincang, bermain-main, mendengarkan anak berbicara sungguh-sungguh selama dua minggu penuh.

Langkah ketiga adalah sekolah melaksanakan pembelajaran rutin terpadu dengan tema dasar yang telah ditentukan TK dikenal dengan Tematik unit berorientasi pada kebutuhan siswa dan Guru harus mampu merkomunikasi akrab dengan siswa. Pembelajaran diawali doa belajar sebelum melaksanakan gerakan fisik yang menyenangkan (bernyanyi, senam berirama, baris-berbaris, upacara bendera, atau aktivitas lain yang membuat siswa fun) dilanjutkan dengan kegiatan inti : memadukan bidang studi yang ada dalam rangkaian tema, pelaksanaan kegiatan inti diawali dengan bermain sepenuhnya melaksanakan pembelajaran inti, bentuk permainan disesuaikan tema dan alat permainan dibawa pulang siswa dengan jangka waktu dua minggu untuk belajar siswa di rumah, setelah dilihat ada perubahan perilaku siswa yaitu, adanya peningkatan kosakata selama membawa alat permainan TK maka alat permainan diminta dikembalikan di sekolah. Kegiatan selanjutnya siswa diistirahatkan dan makan ringan.

Langkah keempat adalah aktivitas yang membuat anak tenang (menggambar, mewarnai, mengkopi daun diatas kertas gambar, melipat kertas dengan berbagai bentuk sesuai tema) dan memajang hasil karya siswa di kelas, penutup usai belajar siswa diajak berdoa dan berjabat tangan dengan guru dan sesama siswa.

Kegiatan rutin ini disusun secara variatif antar hari, dan berulang secara mingguan. Kegiatan rutin dituangkan dalam jadwal rutin TK B1 Surabayan Surabaya.

 

Kegiatan Tahap Ketiga

Pada tahap ketiga adalah tahap pelaksanaan tindakan, yaitu menerapkan metode “BEL” bermain eksplorasi lingkungan untuk meningkatkan kosakata anak TK, pelaksanaan kegiatan pembelajaran di TK B1 Surabayan Surabaya selama dua minggu mengikuti kegiatan rutin TK B1 Surabayan Surabaya yang sudah direncanakan.

Metode adalah cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan kegiatan (Moeslichatoen,2004:9). Metode merupakan bagian dari strategi kegiatan. Metode dipilih berdasarkan strategi kegiatan yang sudah dipilih dan ditetapkan. Metode merupakan cara yang dalam bekerjanya merupakan alat untuk mencapai tujuan kegiatan. Untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak dengan menggunakan metode yang dapat meningkatkan perkembangan kemampuan berbicara, mendengar, membaca, dan menulis. Anak diberi kesempatan yang luas untuk memperoleh pengalaman dalam mendengar dan berbicara.

Metode bermain merupakan keharusan dalam pembelajaran di Taman Kanak-kanak (KBK TK/RA Tahun 2004). Dengan bermain anak akan memperoleh kesempatan memilih kegiatan yang disukainya, bereksperimen dengan bermacam alat dan bahan, berimajinasi, memecahkan masalah dan bercakap-cakap secara bebas, berperan dalam kelompok bekerja sama dalam kelompok, dan memperoleh pengalaman yang menyenangkan. Moeslichatoen (2004, 33). Bermain merupakan kegiatan dengan segala aspek yang membuat anak didik senang, bergembira, tertarik, dapat membuat peserta didik aktif, ekspresif, atraktif.

Kosakata adalah alat peramal paling akurat untuk kemampuan membaca literarur dikemudian hari, cara terbaik membangun kosakata adalah dengan bicara, bicara-bicara yang lebih banyak lagi. (Hirsh-Pasek, 2005, 169).

Kosakata sebagai dasar-dasar membaca, membacakan cerita sadar fonologi, dan memecahkan kode tertulis, terpenting menciptakan suasana yang menyenangkan saat membaca – bukan suasana kerja. (Hirsh-Pasek,2005,153).

Membaca tidak terjadi begitu saja anak masuk sekolah tetapi banyak pengalaman kemampuan membaca mendorong anak untuk mulai membaca. 20 persen anak-anak mengalami masalah dalam membaca cenderung dari lingkungan yang miskin karena orang tua tidak cukup sering membacakan buku kepada mereka. Masalah membaca dapat teratasi jika ada pemberian pengalaman konteks dan kemampuan membaca tinggi terhadap anak-anak di lingkungan miskin. Saat guru menyediakan sebuah model kepada anak-anak untuk menggunakan bahasa dalam berkomunikasi dari dapat dipahami, dan saat guru/ orang tua / pengasuh membacakan buku pada anak-anak dan mendiskusikan isi buku tersebut, mereka telah menuangkan resep untuk kesuksesan dalam membaca. Newman dan Dickinson dala (Hirsh-Pasek, 2005, 166-168).

Penguasaan kosakata pada peserta didik usia TK (5-6 tahun) menurut Carey dalam (Suyanto,2005,162) sehingga pada prinsipnya anak sudah dapat berkomunikasi dengan baik dan benar. Hart dan Risley dalam (Hirsh-Pasek,2005,151) memiliki data bahwa seorang anak dari keluarga miskin rata-rata mendengar 616 kata setiap jamnya, sementara anak dari keluarga yang bekerja mendengar 1.251 kata dan anak-anak dari keluarga professional mendengar rata-rata 2.153 kata setiap jamnya, karena orang tua keluarga miskin jarang berbicara kepada anak-anaknya dibandingkan dengan orang tua golongan menengah atau orang tua professional. Jika dihitung angka tersebt dalam setahun, angka tersebut menjadi : 3 juta kata dari pengalaman berbahasa bagi anak-anak miskin, 6 juta kata bagi anak keluarga menengah, dan 11 juta bagi anak-anak dari keluarga professional.

Tahap implementasi, pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas dengan tema “gigi sehat putih dan kuat”, sebagai berikut : 1) guru mengatur kursi anak membentuk formasi setengah lingkaran di dalam kelas, dan kursi guru ada di depan tengah. 2) guru mengajak anak bersama-sama memperlihatkan gigi. 3) guru berdialog dengan anak memperbincangkan gigi, apa warnanya, berapa jumlahnya, ada gigi yang lubang atau tidak, ada yang gigis berwarna hitam atau warna lain, pertnyaannya berkembang, ada yang pernah merasakan sakit gigi? Bagaimana rasanya, megajak anak didik yang pernah sakit gigi untuk mengekspresikan, anak dimotivasi untuk dapat mengungkapkan rasa sakit. 4) guru menunjukkan gambar-gambar gigi yang sehat, bertanya ke anak, maukah memiliki gigi sehat, putih, dan kuat? 5) bagaimana caranya memiliki gigi sehat, putih, dan kuat  bertanya ke peserta didik, dan direspon dengan reaksinya. 6) guru membagikan sikat gigi ke siswa, sambil menyebutkan benda ini adalah “sikat” gunanya untuk apa? Ditanyakan ke anak, anak ditanya warna sikat yang dipegang masing-masing untuk menyebutkan warnanya, menjelaskan bagaimana cara memegang dan menggunakannya, begitu pula tapal ggi dijelaskan kegunaannya dan dikembangkan kosakata yang digali dari anak. 7) anak diajak berpura-pura untuk mempratekkan orang yang akan menggosok gigi, berkumur, dan dijelaskan tentang gerakan menyikat gigi yang benar, kegunaan menyikat gigi dengan benar adalah merawat gigi sehat putih dan kuat. 8) guru mengajak siswa terfokus mendengarkan cerita tentang gigi sehat, anak mau? 9) guru bercerita tentang gigi sehat putih dan kuat dengan menggunakan ilustrasi gambar berbagai jenis gigi manusia, membacakan buku-buku tentang gigi. 10) dengan gigi sehat putih kuat membuat badan sehat, manfaatnya adalah : kelak jika anak lulus SMA yang ingin menjadi POLRI, AD, AL, AU, Astronot, penerjung paying, dan lain sebagainya yang salah satu syaratnya adalah memiliki gigi yang sehat, gigi yang bias sehat putih dan kuat harus rajin dirawat dengan : menggosok gigi pagi, sore, dan selesai makan, menjauhi makanan manis (permen), makanan panas atau dingin, jika gigi sakit harus berobat ke dokter gigi, periksa gigi secara rutin setiap enam bulan sekali ke dokter gigi sebelum sakit gigi menyerang adalah perbuatan mulia menjaga kesehatan gigi. 11) guru mendemonstrasikan menyikat gigi dengan baik dan benar. 12) guru mengajak anak menyikat gigi dengan baik dan benar dalam bentuk kelompok tiap kelompok terdiri lima anak, demonstrasi ini dilakukan di tempat yang sudah disiapkan di luar kelas, anak yang belum mendapat giliran mendemonstrasikan menyikat gigi, tetap didalam kelas dibimbing dan diarahkan guru lainnya, dengan kegiatan anak diberi kesempatan memainkan peran berpura-pura menyikat gigi. 13)siswa diarahkan guru untuk bermain drama memerankan dokter dan pasien secara berkelompok. 14) guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan merawat gigi agar sehat putih dan kuat serta memotivasi anak untuk bersikap merawat gigi dan dapat berkomunikasikan kembali bagaimana merawat gigi agar sehat putih dan kuat. Tempat kegatan yang ada di dalam kelas dan di luar kelas.

Media yang digunakan : ilustrasi gambar-gambar gigi, ilustrasi langkah-langkah menggosok gigi, buku-buku cerita tentang gigi, cermin untuk melihat gigi masing-masing siswa : bahan dan alat yang perlu dipersiapkan adalah: (1) materi pembelajaran tentang merawat gigi, agar gigi sehat kuat untuk satu siklus empat kali pertemuan, (2) sikat gigi, (3) tapal gigi, (4)gayung air, (5)air, (6) air bersih dan sehat, (7) serbet atau tisu.

 

Kegiatan Tahap Keempat

            Pada tahap keempat, menganalisis data dari hasil monitoring sebagai bahan acuan untuk mengevaluasi apakah tujuan yang dirumuskan telah tercapai, jika belum memuaskan maka dilakukan revisi ataumodifikasi dan perencanaan ulang untuk memperbaiki tindakan pada siklus sebelumnya. Proses daur ulang diakhiri apabila peneliti puas terhadap hasil dari tindakan yang dilakukan sesuai dengan rencana.

Data diperoleh dari 25 siswa TK B1 Surabayan Surabaya setelah tindakan adalah sebagai berikut : 10 siswa mampu berkosakata 102 kosakata, 5 siswa mampu berkosakata 60 kosakata, 5 siswa mampu berkosakata 50 kosakata, 5 siswa mampu berkosakata 40 kosakata, prosentase pencapaian keberhasilan adalah sebagai berikut: 40% siswa telah mampu mencapai 100% kosakata batas minimal yang diacu Hirsh-Pasek (2005,151) bahwa keharusan anak berkosakata untuk kelurga miskin adalah 616 kosakata dalam satu jam, karena itu jika dihitung penguasaan koskata siswa TK B1 Surabayan Surabaya per sepuluh menit adalah 102 kata dikalikan 60 menit adalah 616 koskata. 20% siswa yang mencapai prosentase 58,82% kosakata batas minimal 20% siswa mencapai prosentase 49,09% kosakata batas minimal dan 20% siswa mencapai 39,21% kosakata batas minimal.

Perlu diketahui bahwa peneliti menggunakan kata batas minimal karena yang diacu adalah kosakata anak dari keluarga miskin setiap jamnya. Anak dari keluarga bekerja mampu berkosakata 1.251 anak dari golongan menengah atau orang tua profesional mampu berkosakata 2.153. peneliti yakin bahwa pembelajaran TK yang terus menerus menggunakan metode BEL memudahkan anak meningkatkan penguasaan bahasa Indonesia.

 

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

            Pembiasaan menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi adalah media menyimak anak yang baik sehingga anak dengan mudah meningkatkan kosakata bahasa Indonesia.

Pembelajaran di TK penuh dengan metode bermain dan alat permainannya dibawa pulang, membuat anak senang, bahagia, membuat anak nyaman mudah berkomunikasi, mampu berimajinasi, mengekspresikan keinginan dan mampu menerima informasi guru, teman sebaya atau orang lain, hal ini memudahkan peningkatan kemampuan kosakata.

Mengeksplorasikan lingkungan merupakan kegiatan mudah dan murah namun menuntut kreativitas guru untuk mampu memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah seperti misalnya bekerjasama dengan orang tua siswa dalam membina komunikasi menggunakan bahasa Indonesia, hal ini efektif meningkatkan kosakata siswa dan orang  tua serta guru.

Bentuk eksplorasi lingkungan tidak hanya berkolaborasi dengan orang tua siswa, dapat pula dengan tokoh-tokoh masyarakat sekitar yang mendukung, bentuk eksplorasi  yang lain adalah memanfaatkan lingkungan sekitar, benda-benda, kebiasaan, social, gedung, halaman, alam, peralatan dan lain sebagainya, apa saja yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran TK tentu saja memudahkan siswa mengakses kosakata dan menggunakannya.

 

Saran

            Pembelajaran anak TK B1 Surabayan Surabaya mengikuti kurikulum KBK 2004, tetapi ada beberapa kendala diantaranya: media berkomunikasi berbahasa campuran daerah Surabaya, Madura, dan bahasa Indonesia. Oleh karena itu diperlukan kesepakatan orang tua siswa dengan guru untuk menggunakan bahasa Indonesia disemua kesempatan agar perbendaharaan kosa-kata bahasa Indonesia siswa meningkat.

Semua kegiatan pembelajaran hendaknya menggunakan metode bermain, kerana metode bermain banyak ragamnya dan guru tinggal berkreasi menggunakannya sesuai dengan tema pembelajaran. Yang perlu diingat guru adalah masa TK merupakan masa emas dalam pertumbuhan dan perkembangan menjadi manusia seutuhnya, anak membutuhkan bermain penuh walaupun pembelajaran.

Guru harus berkreasi mengeksplorasi lingkungan, agar pembelajaran mudah murah berdaya guna tinggi mampu mencapai target pembelajaran yang memuaskan tanpa harus mengurangi hak anak untuk bermain.

 

DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Zaenal. (2006). Penelitian Tindakan Kelas Bagi Pengembangan Profesi Guru. Bandung: Yrama Widya.

Depdikbud. (1998). Metodik Khusus Pengembangan Kemampuan Berbahasa di Taman Kanak-kanak. Jakarta: Depdikbud.

Depdiknas. (2004). Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK TK/RA Th 2004): Matriks Hubungan Kompetensi Dasar, Hasil Belajar, Indikator dalam tema kelompok B. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. (2002). Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia: Metode Pembelajaran. Jakarta: Depdiknas.

 Depdiknas. (2004). Spinder Web Satuan Kegiatan Mingguan Semester I kelompok B. Jakarta: Depdiknas.

Hirsh-Pasek dkk. (2005). Einstein Never Used Flash Cards: Bagaimana Sesungguhnya Anak-anak dan Mengapa Mereka harus Banyak Bermain dan Sedikit Mengahafal. Bandung: Kaifa. Cet 1.

MenPenNas. (2006). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22, 23, dan 24 tahun 2006 untuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI). Semarang: Bina Cendekia. Cet. 1

Moeslichatoen. (2004). Metode Pengajaran Di Taman Kanak-kanak. Jakarta: Rineka Cipta

Solehuddin,M. (1997). Konsep Dasar Pendidikan Prasekolah. Bandung: FKIP-IKIP Bandung

Sudarsono,FX. (2005). Aplikasi Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Depdiknas-Dirjen Dikti

Suyanto. (2005). Pembelajaran untuk Anak TK. Jakarta: Depdiknas.

Suyanto, Slamet. (2005). Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Depdiknas-Dirjen Dikti.